NovelToon NovelToon
Cinta Yang Tergadai

Cinta Yang Tergadai

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintamanis / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:477
Nilai: 5
Nama Author: Aksara Senada

Ini tentang Anin yang berusaha menjaga api cinta dalam rumah tangganya agar tetap menyala kala badai datang menggoyahkan–menguji cinta dan keutuhan rumah tangganya dengan Harsa yang telah banyak memberi bahagia. Haruskah ia gadaikan cinta mereka dengan perasaan sesaat?
....
Kamu adalah cinta yang datang layaknya hujan, membasahi saat aku merasa paling gersang. Namun, sayangnya kamu pergi bagai puing yang belum pernah sempat kugenggam.
~Sekala Bumi
....
Aku pernah tersesat diantara persimpangan gelap, kamu hadir menemukanku diantara pekatnya malam yang hampir menelan. Sayangnya diantara ribuan pilihan kau malah meninggalkanku sendirian tanpa pernah kau perjuangkan.

Kini ... aku tak lagi sama. Ragaku telah bertuan, walau pada kenyataannya separuh hatiku masih ingin menggenggammu.
~Anindyaswari

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Senada, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

11. HarNes Endgame

Harsa dan Anin tampak tengah menikmati sore sambil menonton tv dengan damai setelah sebelumnya berkelahi layaknya Tom and Jerry. Demikianlah kehidupan berumahtangga mereka yang selalu dihiasi dengan berbagai macam hal, sesaat mereka senang, sesaat lagi berdebat mempermasalahkan hal sepele lalu kembali baikan, dan harmonis. Siklusnya memang terus berputar seperti itu. Entah siapa yang memulai dan bagaimana mereka berdebat pasti ujungnya tetap akan berbaikan.

“Tadi siapa yang nelepon?” tanya Harsa pada istrinya yang tengah duduk dan paha Anin yang ia jadikan bantal untuk berbaring. “Mamak?” lanjutnya lagi saat Anin yang sibuk mengunyah buah apel belum menjawab tapi malah ia jawab sendiri pertanyaannya.

Anin mengangguk seraya terus memerhatikan adegan di layar tv, di mana kali ini mereka tengah menonton film pilihan Harsa yang bergenre action. Tadinya Anin ingin nonton drakor, hitung-hitungan sambil menikmati waktu pacaran saat anak sedang tidur. Tapi sayangnya Harsa tolak karena katanya kali ini ia mau Anin juga sesekali mengikuti keinginannya.

“Katanya mertua kamu lagi di Semarang,” lanjut Anin memberitahu.

“Siapa?”

Dan celetukan Harsa itu tak disangka malah jadi awal mula terjadinya peperangan lagi, Anin jelas akan memperkara jawaban yang terkesan mengesalkan di telinganya itu.

“Siapa?” ulang Anin tak habis pikir seraya menatap sosok yang tengah berbaring di pangkuannya itu dengan wajah tak percaya. “Emangnya kamu punya mertua lain, kah?” lanjut Anin dengan nada sinis.

“Pertanyaannya ada-ada aja. Jaksa tapi kok pertanyaannya gak berbobot banget.” Sungguh Anin paling ahli soal meng-counter suaminya. Pertanyaan itu membuat Harsa memutar mata malas sembari menghembuskan napas pelan. “Gini ya kalau kamu nanya ke pelaku?” tanya Anin lagi sinis.

“Ya, nggaklah!” sergah Harsa menjawab cepat dengan wajah melengos. Sungguh congor istrinya sangat menohok dan mematikan. “Maksud aku tuh mertua yang mana, Mamak atau si Bapak?” Harsa memperjelas ucapannya agar Anin tak makin menggila. “Kan tadi lagi bahas Mamak, kali aja dia yang dateng.”

“Tapi yang ke luar dari mulutku malah kata, siapa.” Sungguh, Harsa tak berdusta atas apa yang ia katakan.

Kalian tentu pernah berada di posisi otak dan mulut tak singkron, bukan? Saat otak sudah merencanakan apa yang ingin dikatakan, tapi mulut malah memproses kata lain sehingga membuat semua seakan terjadi miss komunikasi dan itulah yang terjadi padanya barusan.

Sayangnya Anin malah lebih tertarik mempermasalahkan hal itu dan tak mau menerima alasannya. “Ah, bilang aja kamu lagi ingat mantan kamu, kan?”

“Kamu masih ngarep kan kalau yang jadi mertua kamu tuh orang tua dia tapi kenyataannya malah orang tua aku yang jadi mertua kamu, makanya kamu sampai nanya ’Siapa?'.” Anin mengulang pertanyaan Harsa dengan meniru gaya bicara suaminya itu. Membuat Harsa hanya bisa mendesah frustasi.

Kenapa Anin tak bisa membiarkannya hidup tenang meski barang sekejap? Kenapa Anin selalu mempermasalahkan hal-hal kecil yang tak masuk akal begini? Harsa meringis dalam hati. Ditatapnya sang istri dengan wajah datar yang membuat wanita itu malah ketawa sembari mengacak-acak wajahnya dengan gemas.

“Ngaku aja kamu, mas. Gak usah bohong!”

Sementara Anin memperlakukannya sesuka Hati, Harsa masih setia berbaring di pangkuannya seraya menatap wajah puas yang tengah meledeknya itu dengan tatapan heran, ia tak habis pikir.

“Kamu pasti kepikiran kan sama dia, apalagi tadi abis liat mantan teridnah kamu itu di rumah sakit. Aih, pantas aja kamu sampai gak konek gitu, pakai nanya mertua kamu yang mana.”

“Nin!” seru Harsa dengan tatapan tak habis pikir. Anin selalu melabelinya pandai memanipulasi keadaan padahal aslinya malah Anin yan lebih ahli, ia bahkan ahli memprovokasi dan itu membuat Harsa yang tadi memilih untuk tetap diam jadi semakin terpancing untuk bersuara dan membela diri.

“Bener-bener ya, lu!” Kesal, akhirnya Harsa tak kuasa lagi menahan diri untuk mengata-ngatai istrinya.

“Apa?” balas Anin dengan wajah menantang, ia tampak terkekeh puas melihat ekspresi ayah Zura ini.

“Dasar betina!” sergah Harsa lagi saat Anin akhirnya meraup wajahnya, mendekapnya lalu memberi kecupan dan laki-laki itu hanya bisa menghela napas melihat kelakuan jahil istrinya.

“Papa Zura ganteng banget ih kalau lagi ngambek gini,” goda Anin. Ia masih menoel wajah Harsa yang kembali sibuk dengan tontonannya. “Makin sayang aku tuh. Udah lah mateng banget, pengertian, sayang keluarga, bapakable banget lah, pokoknya,” lanjutnya serius tapi dikemas dengan nada candaan.

“Bapakable, bapakable. Kamu tuh bocilable, labil gak jelas.” Harsa berceletuk dengan nada mengejek meniru ucapan Anin. Sungguh ia geram sekali dengan wanita satu ini.

“Ya, namanya juga anak-anak, mas. Kamu gak boleh marah sama anak-anak.” Anin beralibi membela diri membuat Harsa menoleh dengan tatapan jengah, entah kenapa Anin punya banyak sekali stok kata-kata untuk menyanggahnya.

Ia yang juga tak mau kalah pun dengan cepat menyambar, “kalau gitu kamu juga harusnya gak boleh membantah kalau dikasih tau sama suami kamu. Gak boleh lawan orang yang lebih tua, durhaka!”

Dan kini balas Anin yang memutar mata sambil mencebik. Ia terdiam bukan karena kalah, tapi memikirkan cara untuk cari perkara lain untuk melawan Harsa. Sungguh hubungan yang teramat penuh warna bukan? Mereka begitu saling melengkapi.

“Nama mantan kamu tadi tuh siapa sih, Mas? Aku lupa?”

Dan benar saja, pertanyaan Anin yang ini jelas sangat menohok. Membuat Harsa yang baru menyuap kripik pisang ke mulutnya langsung terbatuk. Ia tak bisa berkata-kata saat Anin malah lanjut cari perkara part dua dengan membahas mantannya.

“Apa sih!?" Harsa menyentak tak suka, ia bangun dari pangkuan Anin lalu meneguk air untuk melegakan tenggorokan yang terasa tertusuk karena tersedak. “Harusnya aku cari tahu juga nama mantan kamu, biar bisa aku gunain buat ngecounter balik kalau kamu cari gara-gara gini.”

Anin menampakkan ekspresi bangga karena merasa menang dan tak berminat meladeni ucapan Harsa. “Siapa namanya, Mas?” tanyanya yang kebih tertarik menanyakan soal mantan suami. Walau kadangkala ia merasa sakit juga tapi entah mengapa cari perkara soal mantan tuh semenyenangkkan itu, Anin suka.

Dengan ekspresi dibuat-buat ia tampak berusaha mengingat nama mantan suaminya.

“Vanes? Ehm,” jemari Anin mengetuk -ngetuk dagu dengan kening yang nampak mengkerut karena berusaha berpikir keras.

“Siapa Mas? Lupa aku tuh. Ganesa? Mahesa? Ada Esa-Esanya kan, ya? ”

“Nessa. Sanessa!” sergah Harsa dengan ekspresi datar. Ia sengaja. Biar saja, jika Anin ingin tahu maka akan ia perjelas saja. Tidak ada salahnya bukan balik mengerjai istrinya yang begitu kurang kerjaan ini.

Ia sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menghindari pembahasan sensitif, tapi apa? Anin malah sengaja memancing hanya untuk menjahilinya. Jadi, mari biarkan ia memasak untuk Anin kali ini. Ah, Harsa mengikuti istilah gaul itu, ’memasak' alias let him cook' dalam situasi tertentu bukan berarti tengah melakukan proses memasak di dapur, melainkan istilah yang merujuk pada seseorang yang dibiarkan melakukan sesuatu yang ia kuasai untuk memanasi seseorang atau membuat targetnya kena mental.

“Puas?” tanya Harsa penuh selidik.

Namun, jelas bukan istrinya namanya jika dia mudah menyerah. Harsa nyari meringis saat Anin malah kian menyudutkannya.

"Cieee, inget banget dong ya, sampai dibenerin gitu. Gak rela ya pasti nama mantan terindah diplesetin.”

Hell, No! Harsa melongo geram. Anin ... Selalu menganiayanya. Harsa merasa terzolimi.

“ Ya, kan tadi ibu Anin yang nanya. Jadi saya jawab.” Ia menghela napas pasrah.

“Nanya bukan berarti harus kamu jawab secepat itu juga Pak Harsa. Kayak orang yang lagi kepikiran aja, hmm”

Arghhh! Sungguh Harsa bisa saja gangguan mental saat ini juga. Rasanya ia ingin mengacak-acak dunia karena kelakuan Anin. Siapa pun, tolong bawa ia ke psikolog! Ia terlalu tertekan sekarang. Namun, bukannya berhenti, Anin malah makin menggila.

“Mas, kalau kamu jadi sama dia, nama anak kalian kira-kira apa, ya, kalau pakai singkatan seperti nama Zura?”

“Apaan, gak usah ngadi-ngadi deh. Gak usah aneh-aneh kamu, ya!” Harsa memperingatkan dengan wajah serius. Dengan wajah pasrahnya ia meringis dalam hati. Anin, benar-benar sungguh keterlaluan! Rasanya ia ingin tepuk jidat melihat Anin yang begitu berlebihan.

“Sa-Sa?”

Kini Anin telah mulai dengan eksperimen singkatan nama anak jika saja Harsa jadi dengan Sanessa waktu itu. Wanita itu berdecak, “tepung bumbu dong, ah.” Lalu ia terbahak-bahak setelahnya. Nampak puas mengerjai Harsa tanpa memedulikan perasaan sang korban.

“Har-sa? Eh, Jadi nama kamu sendiri ”

“Sa-Nes? Ini malah jadi nama panggilan dia, ya kali nama anak sama ibunya sama.”

“Har-Nes?” Dan makin gongnya Anin malah kian tertawa, tak menghiraukan tatapan Harsa yang siap menerkam. “Apaan, gak estetik banget,” katanya lagi seraya menepis-nepis angin, merasa semua eksperimen nama yang ia buat begitu menggelitik.

“Apa sih, Nin? Gak jelas banget, tau!” sentak Harsa tak suka dan mulai menarik Anin dalam dekapan, lalu ia piting tanpa ampun.

“Emang udah paling bener kamu sama aku, nama anak kita jadi estetik karena kamu nikah sama aku, mas.” Anin masih banyak bicara meski dalam dekapan Harsa yang tampak kesal setengah mati. Meski agak kewalahan tapi congornya malah kian tak terkendali.

“Azura Pelita Harsani, langit biru pelita, langit biru cahaya penerang buat Harsa dan Anin.

Harsa baru bisa bernapas lega saat perdebatan yang tidak berfaedah itu akhirnya berakhir atas bantuan Zura. Rengekan yang terdengar dari mulut anaknya itu membuat Harsa terselamatkan dari penganiayaan nonverbal yang Anin lakukan. Istrinya itu langsung melipir ke kamar begitu mendengar Zura menangis.

Kini Harsa bisa berbaring lega tanpa tekanan. Ia nampak menghembuskan napas sembari melanjutkan tontonannya yang hampir selesai.

.

.

Waktu berlalu sangat cepat, kini mentari kembali menyapa dengan hari yang baru dan Harsa sudah harus kembali bekerja lagi, padahal ia masih ingin menghabiskan hari di rumah bersama anak istrinya seperti kemarin. Ya, walau bersama Anin penuh tekanan, tapi sungguh ia tetap bahagia. Tiada dusta soal itu.

“Oh iya, mas. Mbak Gita dan tetangga yang lain ngajak liburan ke Bogor.” Anin yang baru turun sambil menggendong Zura tiba-tiba berceletuk saat teringat rencana para tetangganya dan ia baru sempat menyampaikan pada suaminya sekarang.

Harsa yang sudah siap berangkat kerja dan tengah mengunyah makanan itu menoleh pada istri dan anaknya. Ia tersenyum seraya menyapa Zura terlebih dulu, senang melihat anaknya sudah mulai pulih dan tak lagi demam. Sementara istrinya, wanita dengan daster polos itu tetap cantik di matanya meski tanpa polesan apa pun–natural khas bangun tidur.

Ah ... Harsa mengutuk diri saat merasa tubuhnya tiba-tiba menegang hanya karena melihat garis dada Anin dan ia malah membayangkan mencumbunya. Kalau waktu tidak mepet mungkin ia akan langsung mendekapnya. Harsa dan pikiran mesumnya di pagi hari memang agak lain.

“Kapan?” tanyanya seraya menyuap kembali sarapannya. Membuang jauh-jauh pikiran kotor yang muncul karena memandang pasangan halalnya yang terlalu menggoda.

“Berangkat sabtu, nginep sampai minggu,” ujar Anin yang tengah mendudukkan Zura di kursinya, bersiap untuk menyuap sang anak. Zura mulai berceloteh, bayi yang dua hari kemarin tak berselera makan itu kini telah mendapatkan kembali selera makannya, ia tampak antusias melihat makanan yang Anin siapkan.

“Kamu mau ikut?” tanya Harsa yang sesekali tampak mengajak Zura bermain dari tempat duduknya.

Anin nampak berpikir, tangan ibu rumah tangga itu kini sibuk mengambil piring dan menyendok makanan untuk dirinya sendiri. Ia memilih duduk melantai hanya agar bisa mengawasi Zura yang sengaja ia biasakan makan sendiri semenjak dua bulan lalu.

“Dari kamu aja sih sebenarnya, kalau sempat ya ayo. Kalau gak ada waktu ya nggak apa-apa. Aku gak mungkin maksa.” Anin berkata sebagaimana yang pernah terjadi sebelumnya. Ia tak ingin memaksa dan mengajak Harsa pergi liburan jika sedang sibuk atau bukan keinginan suaminya itu sendiri yang mengiyakan, sebab hanya akan membuat mereka terlibat cekcok kecil lagi. Ia malas membuang energi hanya untuk hal seperti itu.

Harsa yang paham maksud Anin pun tersenyum, menampakkan cekungan di kedua pipinya. Ia paham kenapa istrinya itu memilih demikian. Harsa pun ingat, terakhir kali Anin mendesak dan memaksanya untuk liburan tapi malah berujung pertengkaran karena ia yang saat itu terlalu lelah dan hanya ingin menghabiskan waktu di rumah malah Anin desak terus hingga akhirnya mereka pun bertengkar, bahkan saat ia terpaksa menuruti pun suasananya tetap tak sama karena pergi dalam keadaan suasana hubungan buruk ternyata tak bagus.

“Aku gak janji, tapi aku usahain kita ikut, ya.” Harsa pun memutuskan. Laki-laki itu turun membawa makanannya dan ikut duduk di samping Anin. Yang mana membuat Anin lantas tersenyum. Wanita itu senang sekaligus terharu mendengar jawaban sederhana Harsa yang kedengarannya sangat menyejukkan hati.

..........

1
kalea rizuky
klo harsa selingkuh cerai nin harsa ini g bs move on kayaknya dr mantannnya
kalea rizuky: orang pendiem itu malah yg rawan selingkuh kak /Curse//Curse/
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!