NovelToon NovelToon
KETIKA ANGAN MENJADI NYATA

KETIKA ANGAN MENJADI NYATA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Romansa Fantasi / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:323
Nilai: 5
Nama Author: Nura_thequeen

Bagi Shavia Aurelien (Via), dunia nyata adalah tempat yang abu-abu, bising, dan melelahkan. Itulah mengapa dia memilih menjadi arsitek di dalam kepalanya sendiri—menciptakan sebuah dunia khayalan yang sempurna. Di balik pelupuk mata yang terpejam, Via menganyam kisah cinta yang utuh bersama seorang pria tampan yang selalu dia panggil "Sayang". Sosok sempurna tanpa cela yang selalu memperlakukannya dengan penuh kehangatan.

Namun, dunia yang indah itu mendadak retak saat sang pria membawa Via masuk lebih jauh untuk menemui orang tuanya di alam mimpi. Sebuah penolakan dingin dari sang ibu seketika menghancurkan segalanya. Hubungan mereka tidak direstui karena adanya batas dimensi yang memisahkan. Sejak malam yang menyakitkan itu, sosok "Sayang" lenyap tanpa aba-aba, dan dunia khayalan Via perlahan mulai memudar kehilangan warnanya.

Disaat keputusaan itu melanda, jalan takdir mulai menunjukan arah warna nyata untuk hidup via, membuatnya beralih merangkai kisah indah di dunia nyata.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nura_thequeen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dari Dapur Subuh Menuju Meja Makan

Pagi ini, udara terasa jauh lebih bersahabat. Alarm ponselku berbunyi tepat pukul setengah empat subuh, dan seperti biasa, aku langsung melompat dari kasur dengan energi yang meluap-luap. Dapur kecil kosanku kembali sibuk menjadi saksi bisu perjuangan ku memasak untuk pangeran es ku.

Hari ini aku akan memasak menu yang sangat simpel namun padat gizi yaitu, nasi tim ayam jamur gurih non-pedas, dilengkapi dengan potongan buah melon segar yang manis.

Setelah semua sudah tertata rapih di kotak bekal, jam sudah menunjukan jam 6 pagi, akupun beranjak bergegas ke kamar mandi untuk segera membersihkan diri agar tidak lambat untuk dandan yang cantik, karena hari ini aku kembali di jemput Arga.

Benar saja, tepat pukul tujuh pagi, klakson mobil hitam Arga kembali berbunyi di depan pagar kosku. untungnya aku sudah selesai bersiap, aku buru-buru menyambar tas kainku, mengunci pintu kos, lalu melangkah lebar dengan senyuman yang sudah merekah sejak menapakkan kaki di pekarangan.

"Pagi, Arga!" sapaku ceria begitu mendudukkan diri di kursi penumpang depan. Aroma maskulin yang familier kembali menyapa indra penciumanku.

"Pagi, Shavia," sahut Arga. Suara baritonnya terdengar begitu tenang. Pria itu mengulas senyuman tipis sebelum melajukan mobilnya membelah jalanan pagi yang mulai ramai.

Aku buru-buru merogoh tas kainku, mengeluarkan sebuah kotak bekal berwarna hijau toska yang masih terasa hangat di telapak tangan, kemudian menyodorkannya tepat di depan wajah tampan Arga dengan binar mata yang berapi-api.

"Nih! Aku bawain bekal lagi buat kamu. Tebak hari ini menunya apa?"

Arga melirik kotak bekal itu sekilas, lalu kembali fokus pada jalanan di depan. "Gak tahu. Apaan?"

"Nasi tim ayam jamur buatan tangan aku sendiri!" seruku antusias, memeluk kotak bekal itu kembali ke dada dengan wajah berbunga-bunga.

"Kamu harus tahu ya, Ga. Perjuangan bikin menu ini tuh luar biasa banget. Aku udah bangun dari jam setengah empat subuh tahu. Mana pas numis ayam jamurnya, kecap manisnya hampir aja tumpah semua karena aku setengah melamun. Tapi untungnya insting masak aku kuat, jadi rasanya dijamin pas, gurih, manis, dan pastinya gak ada ranjau cabai sama sekali. Aku masaknya pakai cinta yang melimpah khusus buat nemenin jam istirahat kamu nanti siang!"

Aku mengoceh tanpa henti dengan nada suara yang menggebu-gebu, mengekspresikan seluruh rasa bahagiaku karena bisa memasak untuknya lagi. Sifat manjaku yang biasanya tertahan, kini keluar begitu saja tanpa permisi.

Arga mendengarkan seluruh ceritaku dalam diam, namun, alih-alih mendengus atau memasang wajah kaku, seulas senyuman tulus yang sangat manis perlahan terukir di sudut bibir tampannya.

Pria itu menghembuskan napas panjang melalui hidung, menepuk pucuk kepalaku pelan dengan tangan kanannya yang bebas dari setir.

"Shavia," panggil Arga pelan, suaranya terdengar begitu rendah dan lembut.

"Iya, Arga. Kenapa?" tanyaku, menopang dagu dengan kedua tangan sambil menatap profil samping wajahnya.

"Mulai besok... lu gak usah masakin gue bekal lagi ya," ujar Arga tenang.

Deg.

Kalimat singkat Arga bagai hantaman gondam yang seketika membekukan senyuman di wajahku, peganganku pada kotak bekal di pangkuan mendadak melemas. Sisa rasa bahagia yang sejak subuh tadi membakar dadaku mendadak menguap, digantikan oleh rasa sesak dan ketakutan yang luar biasa.

Dia... dia gak mau aku masakin bekal lagi, Kenapa? Apa dia mulai bosan? Atau rasanya yang kemarin menurut dia gak enak tapi dia gengsi buat bilang langsung?

Berbagai pikiran buruk langsung berkecamuk di dalam kepalaku, membuat mataku mendadak berkaca-kaca menahan perih.

"Kenapa, Ga...?" bisikku parau, suaraku bergetar menahan tangis yang hampir pecah. Aku memalingkan wajahku menatap jendela luar, enggan memperlihatkan kerapuhanku.

"Masakanku... rasanya aneh ya, Atau kamu merasa risih karena aku terus-terusan kirim bekal ke kampus kamu?"

Mendengar perubahan nada suaraku yang mendadak terdengar parau, membuat Arga terkejut. Dia tiba-tiba menepikan mobilnya ke tepi jalan yang agak lengang. Pria itu menghentikan mobilnya, memutar seluruh tubuhnya menghadap ke arahku.

Kedua telapak tangannya yang besar dan hangat mendadak menangkup kedua pipiku dengan sangat lembut, memaksaku untuk memutar wajah dan menatap lurus ke dalam sepasang mata tajamnya yang pagi ini memancarkan binar panik yang kentara.

"Shavia, dengar gue dulu. Lu salah paham," potong Arga cepat, ibu jarinya bergerak perlahan mengusap sudut mataku yang mulai basah dengan kelembutan yang nyata.

"Gue gak pernah bilang masakan lu aneh. Malah sebaliknya, katsu sama daging tumis kemarin itu enak banget, gue suka."

"Terus kenapa kamu larang aku, masak lagi?" tanyaku sesenggukan, menatapnya dengan bibir yang mengerucut kesal.

Arga menghembuskan napas panjang, menatapku lekat-lekat dengan helaan napas yang sarat akan rasa bersalah sekaligus perhatian yang mendalam.

"Aku cuma gak mau, kamu merepotkan diri sendiri, Shavia. Aku mendengarakn cerita kamu tadi. Bangun jam setengah empat subuh setiap hari, itu mengikis waktu tidur kamu, cuma untuk membuatkan bekal untukku, Aku hanya merasa gak tega, Shavia. Aku gak mau kamu kecapekan atau sakit."

Aku tertegun seribu bahasa mendengar penjelasan jujurnya yang berubah penyebutannya menjadi 'aku, kamu'. Rasa perih di dadaku seketika menguap tanpa sisa, digantikan oleh debaran manis yang berkali-kali lipat lebih kencang dari sebelumnya. Jadi... dia melarangku bukan karena bosan, melainkan karena dia mengkhawatirkan kesehatan dan jam tidurku?

"Aku punya ide yang lebih baik," lanjut Arga lagi, nadanya perlahan kembali tenang namun terdengar sangat hangat.

Dia melepaskan tangannya dari pipiku, lalu menggenggam erat jemari tanganku di atas pangkuan.

"Daripada kamu repot bangun subuh buat masak bekal, mending mulai besok, setiap jam istirahat siang... Kita makan bareng di luar. Itu jauh lebih baik, kan?"

Mendengar tawaran dari mulut sang gunung es, mataku langsung membelalak sempurna karena terkejut sekaligus tidak percaya. Mulutku setengah terbuka.

"Kamu... mau kita makan siang bareng di luar setiap hari?"

"Ya. Kalau lu mau," jawab Arga cepat, kembali memunculkan sifat diktatornya yang justru terdengar sangat manis di telingaku.

"Daripada gue makan bekal sendirian di basecamp, mending kita makan bersama kan. Lagian, itu malah bikin kita bisa terus menghabiskan waktu bersama di dunia nyata, kan?"

Seluruh pertahanan hatiku seketika runtuh seutuhnya . Air mata haru yang sempat tertahan kini benar-benar menetes membasahi pipi, namun kali ini diiringi oleh senyuman lebar yang merekah.

Perkataan Arga ada benernya, dan taktik barunya ini justru menjadi keuntungan terbesar bagiku untuk bisa terus berada di dekatnya secara nyata.

"Iya, Arga. Aku mau banget!" jawabku dengan anggukan heboh, membuat seulas senyuman tulus muncul kembali diwajah tampan sang kapten basket.

Arga kembali melajukan mobil mewahnya dengan perlahan membelah kemacetan pagi kota. Suasana di dalam kabin mobil yang tadinya sempat tegang kini berubah menjadi terasa hangat dan dipenuhi oleh sejuta harapan baru.

Tanpa terasa, mobil hitam milik Arga sudah berhenti dengan mulus tepat di depan gerbang utama kampusku.

"Udah sampai," ujar Arga, membuka kunci pintu otomatis.

Pria itu menoleh menatapku dengan tatapan lembut. "Inget ya janji kita tadi. Mulai besok gak ada drama bangun jam tiga subuh lagi."

"Siap dilaksanakan, Kapten Arga!" seruku riang, mengambil tas kainku.

Sebelum membuka pintu mobil, aku berbalik sepenuhnya menatap wajah tampannya, dengan senyuman paling manis yang kupunya.

"Semangat ya buat kuliah dan latihan basketnya hari ini. Jangan lupa habisin nasi tim ayam jamur buatanku nanti siang, oke?! Semangat, Arga!"

Arga sempat tertegun sejenak mendengar untaian kalimat penyemangatku yang heboh, sebelum akhirnya dia terkekeh pelan dan mengangguk.

"Ya. Makasih, Shavia. Lu juga semangat kelasnya."

"Dadah, Arga!" aku melangkah turun dari mobil, menutup pintu dengan pelan, lalu berdiri sambil melambaikan tangan dengan heboh sampai mobil hitam mewah Arga perlahan bergerak menjauh membelah jalanan raya.

Setelah mobil Arga benar-benar menghilang di belokan jalan, aku berbalik badan untuk berjalan masuk ke dalam area kampus.

Senyum manis yang merekah lebar di bibirku sama sekali belum surut sejak tadi. Langkah kakiku terasa begitu ringan, aku melompat-lompat kecil dengan perasaan yang melambung tinggi ke awan.

Namun, baru saja aku melangkah beberapa meter melewati gerbang utama, seseorang mendadak mengadang jalanku dengan kedua tangan terlipat di dada.

Sahabatku itu rupanya sudah memperhatikan gerak-gerikku dari kejauhan sejak mobil Arga pertama kali merapat di tepi jalan tadi.

"Shavia Aurelien. Sumpah ya, muka lo itu lho, kondisikan!" seru Rara langsung mencecar begitu jarak kami tinggal selangkah.

Dia menarik lenganku, menatapku dengan mata yang membelalak penuh rasa kepo tingkat dewa.

"Dari pas turun mobil, senyum lo gak ilang-ilang, kaya abis menang undian aja. Ada kemajuan dahsyat apa lagi sih, pagi-pagi begini antara lo sama si pangeran gunung es?!"

Aku langsung tertawa renyah, merangkul lengan Rara dengan erat lalu menariknya berjalan terburu-buru menuju bangku taman kampus yang sepi.

"Raraaa!!! Aku seneng banget hari ini, tau gak!"

"Iya, gue tahu lo seneng. Kelihatan dari muka lo yang udah kayak adonan donat mengembang!" cibir Rara gemas, mendudukkan dirinya di sampingku dengan tidak sabar.

Dia memajukan tubuhnya, menatapku lurus ke dalam mata. "Buruan cerita, Via. Jangan dipotong-potong, apa aja yang terjadi di dalam mobil tadi. Tadi gue sempat lihat dari jauh mobilnya sempat berhenti lama di pinggir jalan sebelum sampai gerbang. Lo berdua ngapain aja di dalam, hah?!"

Melihat rentetan pertanyaan dari Rara yang bejibun, rasa bahagiaku yang sejak tadi kutahan di dalam dada akhirnya tumpah sepenuhnya tanpa sisa. Aku memeluk tas kainku dengan erat, mataku berbinar-binar saat mulai menceritakan setiap detail isi percakapan kami yang luar biasa manis pagi tadi.

"Ra... lo harus tahu. Tadi pagi kan aku pamer bekal nasi tim ayam jamur buatanku untuknya, terus cerita kalau aku udah bela-belain bangun jam setengah empat subuh," ujarku dengan nada suara yang menggebu-gebu.

"Eh, tiba-tiba si Arga bilang kalau mulai besok aku gak usah masakin dia bekal lagi!"

Rara langsung membelalakkan matanya sempurna, mulutnya setengah terbuka karena terkejut. "Hah?! Dia dilarang lo masak bekal lagi. Sumpah, kok gitu, Apa dia mulai risih atau ngerasa masakan lo aneh?"

"Nah. Aku juga awalnya mikir gitu, Ra. Aku udah sempat mau nangis bombay di dalam mobilnya tadi karena salah paham," jawabku sambil menyengir lebar, mengingat betapa paniknya wajah Arga tadi.

"Tapi ternyata... dia dilarang aku masak bukan karena gak suka, Ra. Dia melarang karena dia gak tega liat aku harus selalu bangun subuh cuma buat masakin dia bekal. Dia takut aku kecapekan atau sakit!"

Rara tertegun seribu bahasa mendengarnya, ekspresi jengkel di wajahnya perlahan mencair, berganti dengan binar takjub yang tulus. "Astaga, Via... si gunung es yang kaku itu bisa mikir sampai sejauh itu buat kenyamanan lo?"

"Belum selesai, Rara sayang. Ada yang lebih epik lagi!" aku menjeda kalimatku, menikmati wajah penasaran sahabatku itu.

"Sebagai gantinya, Arga ngajak dari mulai besok setiap jam istirahat siang, kita berdua harus makan bareng di restoran atau rumah makan di luar"

Rara langsung menepuk dahinya sendiri agak keras, menghembuskan napas panjang sarat akan rasa baper yang ikut tertular. Dia menggeleng-gelengkan kepala dengan sisa-sisa rasa tidak percaya melihat keberhasilan sahabat terbaiknya ini.

"Wah... gila sih, Via. Padahal kontrak satu bulan kalian baru berjalan kurang dari dua minggu, tapi dia udah bergerak se-agresif ini buat minta jatah makan siang bareng setiap hari."

"Iya, Rara sayang. Aku aja sampai sekarang masih merasa bahwa ini mimpi, tapi ini nyata seratus persen nyata di dunia nyata!" ujarku dengan tawa renyah yang tidak bisa kubendung lagi, menyandarkan kepala ke bahu Rara dengan perasaan yang luar biasa puas.

Hari ke sepuluh dari masa taruhan satu bulan kami telah dilewati dengan sebuah pencapaian yang sangat besar. Skenario "makan siang bareng" resmi menjadi rutinitas baru kami mulai besok, dan di bawah langit pagi kampus yang cerah ini, aku tahu pasti bahwa pangeran yang dulu hanya ku ciptakan mencintaiku di khayalan dan mimpi, kini telah seutuhnya menjelma menjadi realitasku yang paling indah bersama Arga Wijaya.

1
falea sezi
😒 Arga php bgt meluk belom di tembak
zru!
baguss kak
Nura_thequeen: terimakasih ♥️🙏
total 1 replies
falea sezi
q kirim bunga lagi🤭
falea sezi
lanjut q kirim bunga lagi 👍
falea sezi: siap thor🤭 rajin up nanti q rajin kasih hadiah
total 2 replies
falea sezi
😕 ga jangan sakitin. via atau php ya 😓bisa. gila anak orang ga
Nura_thequeen: iya ni. moga aja Arga gak gitu ya. bisa-bisa via balik lagi kesetelan halunya🤣
total 1 replies
falea sezi
moga aja Arga gk php ya🤣
falea sezi
🤣 sweet nya mas kulkas
falea sezi
akirnya rara jujur😕
falea sezi
👍 q kirim hdiah tp buat via jangan terlalu ngemis ya😓
Nura_thequeen: wihhh, terimakasih besti. gak kok tenang via gak ngemis. cuma agak cegil sedikit aja.... haha
total 1 replies
falea sezi
malu maluin mbk🤣 ngemis ngemis lu halu di bawa ke ngata
falea sezi
🤣🤣 kebanyakan halu ya gini
Nura_thequeen: begitulah🤣🤣🤣
total 1 replies
falea sezi
moga bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!