"Rin mau kemana? kenapa diam-diam membawa koper begitu?" Tanya Aga merasa curiga pada istrinya, mendadak istrinya pamit pergi, padahal dia baru saja pulang dari pasar. Arin diam saja dan tetap memasukkan kopernya ke dalam bagasi mobil. "Rin aku nanya sama kamu? Kalau mau pergi, aku antar" "Tidak perlu mas, di dalam masih ada tamu" "Tamu Istimewa" Imbuh Arin dalam hati. Arin menyerah. Sejak kecil dia sudah mengabdi di keluarga suaminya karena mereka telah di jodohkan sejak kecil. Arin kira pengorbanan dan kesabarannya akan membuat suaminya luluh, namun dia salah. Suaminya bahkan membawa wanita idamannya ke dalam rumah. Arin sudah tidak tahu apa yang ingin dia pertahankan di rumah ini, bahkan setelah satu tahun menikah, tak sekalipun dia di sentuh. "Tunggu aku sebentar, keluarkan kopermu. Masukkan ke mobil ku, aku akan mengantarmu" Pinta Aga, namun Arin sudah mati rasa, dia langsung meminta supir melajukan mobilnya.Arin tak memperdulikan Aga yang berteriak sambil berlari mengejarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ibah Ibah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21
POV Aga
Kawan-kawan ku begitu bahagia dan bersemangat untuk pulang setiap kali kami Liburan. Namun tidak dengan ku, aku malas sekali untuk pulang, bukan karena aku tidak rindu ibuku, tapi karena ada satu wanita yang sangat aku benci.
Sejak dia datang ke rumah ku, aku merasa dia selalu jadi saingan ku. Dia selalu dapat nilai terbaik, membuat aku selalu di diceramahi setiap ibu mengambil rapor untuk kami. Dia adalah masalah yang membuatku di banding-bandingkan. Apalagi malam itu saat aku akan masuk bangku SMA, malam saat kami pulang dari rumah saudara, keadaan hujan lebat, Ibu teringat dia yang berada di rumah sendirian, hingga papa menerjang hujan hanya untuk pulang lebih awal.
Malam itu karena dia, mobil kami kecelakaan, aku kehilangan ayah ku, tapi Ibu justru ingin menikah kan aku dengan dia. Wanita yang sudah membuat ayahku tiada. Aku membencinya, bicara saja aku tak mau. Aku sengaja minta pindah sekolah, alasanku ingin meneruskan perjuangan ayah yang jadi abdi negara, padahal aku sama sekali tidak tertarik dalam bidang itu. Aku terpaksa membohongi ibu agar aku tidak bertemu dia tiap hari.
Sejak awal dia menolong ku, dia selalu meminta imbalan, pertama dia datang sebagai anak angkat, dan setelah membuat ayah ku tiada, dia meminta ku jadi suaminya, dia benar-benar ingin mengambil semua dari ku, bahkan hidupku hanya karena dia sudah mendonorkan satu kantung darahnya padaku,
Aku tidak Sudi.
Aku tidak pernah setuju dengan perjodohan ini, tapi keadaan ibu terpaksa membuat aku menerima dia. Jadi akan memutuskan membuat dia menderita.
Jika saja aku tidak memikirkan ibu, aku pasti memilih di tugaskan di luar kota. Jauh dari wanita yang saat ini sudah jadi istriku, dia adalah Arin, wanita yang paling aku benci di dunia ini.
Aku sangat membencinya, bahkan saat malam pertama kami, aku sengaja menceritakan Rahma keponakan Ibu, sebagai kekasih ku. Rahma kerabat jauh kami, aku sengaja meminta bantuannya agar dia berpura-pura jadi kekasihku.
Malam pertama kami, aku mengusir nya dari ranjang, aku tidak mau berbagi dengan nya, bukan hanya ranjang, bahkan lemari saja aku tidak izinkan dia memakainya. Dialah yang membuat ayah tiada, aku tidak akan membiarkan dia mengatur ataupun menguasai ku. Aku sudah bertekad membuat dia menderita, jadi aku memuji-muji Rahma di depan nya. Dia pasti sakit hati, aku bahkan tak mau melihat wajahnya, inilah pernikahan yang dia inginkan. Dia sendiri yang meminta ini, jadi dia juga yang harus menanggung semuanya.
Aku biarkan dia menangis semalaman, aku tersenyum, dia memang pantas mendapatkan ini. Jangan harap dia akan bahagia di pernikahan ini, itu tidak akan terjadi.
Aku kehilangan waktu bahagiaku bersama ibu, aku tidak bisa tiap hari bertemu ibu, hanya karena aku tidak mau lihat dia. Harusnya dia pergi dari rumah. Dia tidak akan membuatku menahan rindu pada ibuku. Tapi sialnya tidak tidak pernah pulang.
Setelah aku berhasil, Aku dan Rahma membuka restoran, aku yang mengelolanya dan dia dan ayahnya yang memberi modal. Dia sangat membantu, apalagi dia setiap malam selalu mau aku jadikan alat untuk memanas-manasi Arin.
Suatu hari Restoran kami kebakaran, aku butuh dana besar untuk mengembalikan restoran ku agar kembali beroperasi seperti semula. Pelanggan kami sudah lumayan banyak, sayang sekali jika Restoran yang aku rintis harus gulung tikar.
Aku memutuskan meminta ibu berhenti membuat kue, biar aku saja yang menghidupi Ibu, tapi Ibu menolak keras. Dia tidak mau toko di jual, apalagi mengizinkan aku membuka Restoran itu. Di situ aku semakin kesal karena Arin menghalangi ku menjualnya. Untung saja ayah Rahma memberi saran padaku agar aku meminjam di bank saja. Aku langsung setuju.
Namun Ibu terlanjur marah, dia bahkan enggan bicara padaku. Aku sungguh merindukan dia.
Ibu bicara saat dia memintaku menikahi Arin, tentu saja aku kesal bukan main, aku menolak dan berakhir ibu masuk rumah sakit.
kamipun akhirnya sepakat menikah dan anehnya aku mengucapkan ijab itu dengan begitu lancarnya. Ibu sempat meminta kami bulan madu, tapi aku menolak dengan alasan banyak tugas. Toh ibu juga masih sakit, jadi ibu tak lagi memaksa kami.
Aku sengaja tidak memperkenalkan Arin pada teman-teman ku, aku bahkan bilang kalau dia adik angkat, jadi setiap dia ke markas ku, dia selalu di goda lelaki lain. Aku tidak sedih, justru aku senang, jika ada di antara mereka yang suka, aku bisa buat alasan ke ibu kalau dia selingkuh. Tapi dia benar' wanita yang kaku, dia hanya datang, memberikan makanan dan pergi. Aku tidak punya kesempatan untuk membuang dia pergi dari hidupku. Dia juga sepertinya tidak mau pergi dari ku meski aku sering sekali membentak dan terang-terangan berselingkuh dengan Rahma. YA walau kami pura-pura, tapi wanita mana yang kuat di madu? Sayangnya Arin berbeda. Dia tetap diam meski aku sudah memanggil Rahma dengan sebutan sayang. Bahkan kontaknya aku ganti dengan nama Bidadari ku. Tapi dia tetap tidak pernah mengajukan perpisahan. Aku akui dia wanita kuat yang tidak mudah menyerah.
Aku harus membuat dia kesal, hingga dia memilih pergi dari sini, aku selalu mencari sela hingga suatu hari, dia memindahkan barang-barang ku dari tempatnya. Ini kesempatan bagus untuk membuatnya tidak betah di sini.
"Kemana pakaian dalam ku! "
Aku membentaknya hanya karena hal sepele ini, aku memang sengaja, meski dia membeli lemari baru untukku, dan memakai lemari lamaku untuk dia pakai, aku tetap marah. Dia ketakutan, aku yakin dia menahan tangis tapi aku harus tega, aku mau dia pergi dari ini, dari kamar ku, dari rumah ku dan juga dari hidupku.
Tapi bukannya dia melawan, dia justru langsung memindahkan lagi barang-barang ku ke tempat semula.
Aku kesal, kenapa dia tidak marah? Kalau begini, bagaimana dia akan pergi?
Aku tidak menyentuhnya, aku bahkan membiarkan dia tidur di sofa yang keras, dia bahkan tidak aku izinkan memakai lemariku, aku sudah meminta Rahma berpura-pura jadi kekasihku. Tapi dia tetap bertahan, dia bahkan tidak bicara pada ibu, dia tidak mengadu. Dia tetap melayani ku, tetap menjadi istri yang baik dan patuh. Sebenarnya hatinya di buat dari apa? kenapa dia bisa sekuat ini? Aku sungguh sudah kehabisan cara untuk membuatnya bercerai dengan ku. Apa lagi yang harus aku lakukan? Aku tidak mau selamanya bersama dia. Aku ingin dia pergi dari hidupku.
Aku tidak ingin hidup dengan orang yang sudah membuat Ayahku tiada.
ku kirim ☕☕ biar semangat...
krna slm ini aga brusaha keras untuk mmbuat arin prgi dri hidupnya... krna arin istri yg sangat" dia benci...