Rasa yang tidak seharusnya ada itu kian tumbuh pada Carol, dari sebuah kekaguman berubah menjadi cinta. Carol mengubur semua itu dalam-dalam karena cinta itu tidak akan pernah bisa dia gapai. Sampai suatu hari dimana ternyata semesta seperti memberinya sebuah kesempatan. Dan Carol tidak mau menyia-nyiakannya, dia berjuang mendapatkan sesuatu yang sebelumnya terasa sangat mustahil itu. Dia mengambilnya meski harus menghadapi banyaknya sudut pandang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MeNickname, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Carol menutup pintu apartemennya dengan lega saat Helena dan Calie pergi dari apartemennya.
Awalnya mereka ingin menginap tapi karena malam ini Carol akan flight ke luar kota jadi mereka memutuskan untuk pulang saja.
Namun sebelum pulang Helena meminta Carol dan Andrew untuk berkunjung setelah urusan mereka selesai.
"Kami akan datang." begitulah jawaban Andrew tadi.
"Baiklah, aku harus segera bersiap."
Beruntung dari semalam dia sudah menyiapkan barang-barang yang hendak dibawa, jadi sekarang dia hanya perlu ganti baju dan berdandan saja.
Carol mengambil sebuah baju dari dalam lemari dan memakainya, kemudian dia duduk di depan meja rias dan memoles make up tipis.
Ponsel yang tergeletak di atas kasur terdengar berdering. Sebuah panggilan masuk dari Andrew.
"Aku di bawah. Apa Nyonya Helena dan Calie sudah pergi?"
"Udah kok. Sekitar dua puluh menit yang lalu."
"Baiklah, aku naik sekarang."
"Oke."
Carol menutup teleponnya, dia kembali duduk di depan meja rias untuk menyempurnakan make up-nya.
Terdengar suara pintu terbuka dari luar tapi Carol tetap anteng dengan kuas make up-nya. Dia kemudian tersenyum saat Andrew muncul memasuki kamarnya.
"Hai.."
"Aku masih tidak bisa membayangkan bagaimana jika tidak ada Sean tadi."
"Cepat atau lambat mereka pasti akan tahu, kan?"
"Ya, aku tahu. Tapi rasanya aku belum siap."
Carol menghela nafas, "Sean tahu hubungan kita?"
"Dia sudah curiga sejak awal."
Carol menutup pouch make up-nya kemudian berdiri mendekati kekasih hatinya itu.
"Sudahlah, tidak perlu dipikirkan. Kita harus berangkat sekarang nanti telat."
Mereka keluar bersama dari apartemen dengan sebelah tangan Andrew yang menggeret koper milik Carol sementara sebelah lagi dia gunakan untuk menggandeng tangan gadis itu.
Mereka turun menggunakan lift menuju ke lobi, dimana sebuah mobil sudah menunggu keduanya datang.
Sang sopir terlihat menghampiri Andrew dan membantu pria itu untuk membawakan koper kemudian memasukannya ke dalam bagasi.
Sementara Andrew terlihat membukakan pintu belakang mobil untuk kekasihnya.
"Thank you."
Carol tersenyum centil sambil mengedipkan sebelah matanya. Gadis itu memang tiada habis menggodanya.
Malam ini mereka akan flight menggunakan helikopter pribadi milik Andrew sendiri.
Saat tiba di bandara, Heli itu ternyata sudah siap menunggu kedatangan Tuannya. Dengan genggaman tangan yang tidak pernah terlepas, Andrew membantu Carol naik. Ini adalah perjalanan udara pertama mereka.
Mereka duduk bersampingan, tak lupa Andrew juga memasang earphone dan seatbelt Carol lebih dulu.
cup.
"Thank you."
Andrew melotot kaget, Carol ini memang sering menyerang tiba-tiba dan parahnya kali ini dia malah lebih berani karena tidak melihat tempat.
Untung saja pilot yang bertugas di depan tidak melihat apapun yang terjadi di belakang.
"Carl!" tegurnya.
"Apa, hm?" suara manja itu lagi.
Andrew hanya menggelengkan kepalanya pelan. Gadis ini memang selalu seperti itu.
Carol terlihat takjub sekali saat alat transportasi berbentuk capung itu mulai mengudara. Pemandangan kota di malam hari bisa dia lihat dari atas sana.
Namun saat Carol tersenyum senang, tiba-tiba dia mengingat sesuatu. Ekspresi wajahnya berubah datar.
"Apa j4lang itu juga sering dibuat takjub seperti ini olehmu?"
"Apa?" tanya Andrew bingung.
"Ya, kau mengajaknya ke luar kota menggunakan heli. Kemudian kau buat dia tersenyum dengan pemandangan di bawah sana sambil duduk bersampingan denganmu seperti ini?"
"Carol, itu.."
"Aku tidak mau mendengar apapun. Cukup katakan ya atau tidak."
Andrew menghela nafas, kenapa pula mood Carol mendadak berubah seperti ini.
...----------------...
Sementara itu di salah satu belahan bumi, orang yang tengah Carol maksud sedang bernegosiasi dengan seseorang yang juga pernah Carol temui.
"Bagaimana dengan penawaran saya?"
"Hubungan antara mantan adik dan kakak ipar?"
"Ya, Tuan. Bukankah itu akan menjadi sebuah konflik jika sampai dikonsumsi oleh publik? Anda pasti bisa membayangkan bagaimana tanggapan mereka semua tentang ini."
"Baiklah, saya setuju. Saya juga ingin sedikit bersenang-senang setelah Andrew Lawson mengakibatkan banyak perusahaan mundur dari kerja sama kami!"
Wanita itu tersenyum licik, selain mendapatkan pekerjaan kembali dia juga mendapat dukungan untuk menghancurkan Andrew dan Carol.