Clara Nagendra, siswi berprestasi dengan senyum tempelan sempurna, hidup dalam rumah dingin yang hanya memuja adiknya, Thea. Di balik nilai 98 dan piala emas, ia menyembunyikan gagal ginjal kronis stadium 4 dalam diary biru lusuhnya. Hanya Nenek Kamila dan tiga sahabatnya yang melihat lukanya. Pertemuannya dengan Kim Seokjin, ketua geng motor yang ditakuti, mengubah segalanya. Dari musuh jadi rumah. Dari taman belakang yang bersih hingga janji rumah kecil bernomor 7 di Lembang, Clara akhirnya menemukan tempat pulang — bukan gedung, melainkan pelukan yang tidak menuntutnya sempurna. Sebuah kisah tentang luka yang tak terlihat, cinta yang menjadi tempat istirahat, dan rumah yang tertinggal namun tetap menyala.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja Juliani Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30 — Aku Ingin Pulang
Koridor masih sunyi setelah Dokter Risa ngomong "Maaf, Clara gak berhasil kami selamatkan" tadi.
Kalimat itu masih ngegantung di udara. Gak ada yang berani ngomong setelahnya. AC koridor yang dingin jadi kerasa lebih dingin lagi.
Jeritan Mama Vania masih ada di dalem UGD.
"CLARAAAA!"
Suaranya pecah. Bukan teriakan marah kayak biasanya pas marahin Clara karena nilai 98. Ini teriakan ibu yang kehilangan anaknya beneran. Sampai perawat di dalem aja gak berani nyuruh pelan.
Nenek Kamila duduk di lantai. Punggungnya nyender ke tembok koridor yang catnya udah agak ngelupas. Gantungan kunci rumah kecil yang dari pagi dia genggam masih ada di tangannya. Yang kayu bentuk rumah, yang ada tulisan RUMAH CLARA & SEOKJIN — LULUS 2025. Sekarang ada noda merah kecil di sisinya. Darah Clara yang tadi rembes dari perban pas jatuh di aula.
Nenek gak ngelap. Dibiariin aja.
Mutiara duduk dua meter dari Nenek. Meluk diary biru Clara erat banget di dada. Gak nangis kenceng. Gak sesenggukan kayak Diana sama Safira yang udah sesenggukan di pojokan. Air matanya aja yang terus jatuh, netes ke sampul diary yang udah dilapisi plastik bening. Sampul yang ada bercak darah kecil juga.
Papa Faizan di pojokan paling ujung koridor, gendong Thea. Thea nangis pelan, mukanya ditempelin ke bahu Papa. Papa diem. Mukanya kosong. Papa yang biasanya paling tegang kalau ada masalah, yang biasanya langsung nelpon dokter, sekarang cuma diem. Tangannya yang gendong Thea gemeter.
Dan di depan pintu UGD yang ketutup lagi, Seokjin masih berdiri.
Kaosnya berantakan. Rambutnya berantakan abis lari dari sekolah ke RS naik motor tanpa helm. Napasnya masih berat.
"CLARA! BUKA!"
Suaranya serak.
Suga sama Jhope langsung narik lengannya dari belakang.
"Jin, udah! Jin, jangan!" kata Suga, suaranya juga udah merah.
"LEPAS!"
Seokjin ngeronta. Tenaganya masih gede walaupun kakinya udah lemes. Jhope yang badannya gede aja hampir ketarik.
Gak ada yang bisa nahan lama. Pintu UGD kebuka sedikit karena perawat keluar-masuk bawa alat.
Celah itu cukup.
Seokjin nerobos masuk.
Di dalem UGD, lampunya masih terang banget. Bau obat sama bau antiseptik nyengat. Tapi ranjang yang tadi dipake Clara...
Kosong.
Selimut putih masih kelipet setengah, bekas badan Clara masih ada. Alat monitor di samping udah dimatiin. Gak ada lagi suara Tit... tit... tit... yang dari tadi siang bunyi pelan. Kabel-kabel infus udah digulung rapi di atas meja.
"Clara?"
Gak ada jawaban. Cuma suara AC.
Seorang perawat yang lagi beresin alat, yang tadi bantuin pasang perban baru, natap Seokjin dengan mata merah. Maskernya masih setengah turun.
"Maaf, Mas... pasiennya sudah dipindahkan."
Seokjin napasnya berhenti sebentar.
"Ke mana?"
Perawat itu diem sebentar. Dia tau cowok di depannya ini pacarnya. Dari tadi nungguin di luar gak beranjak.
"Kamar jenazah," jawabnya pelan. Hampir gak kedengeran.
Dua kata itu.
Kamar jenazah.
Kata itu bikin kaki Seokjin ilang tenaganya detik itu juga. Lututnya lemes kayak gak ada tulang.
Dia jatuh duduk, punggung nyender ke dinding UGD yang dingin. Kepalanya ke belakang, napasnya ngos-ngosan.
Tangannya masih ada noda darah kering Clara dari siang tadi. Waktu dia neken perban Clara di aula yang pecah, darahnya kena ke telapak tangannya. Belum sempat dicuci.
Dia natap tangannya lama. Darah itu udah kering, jadi coklat kehitaman.
Terus air matanya jatuh. Satu. Dua. Langsung pecah. Bahunya naik turun. Dia nunduk, tangannya nutupin muka, nangis kenceng. Gak peduli gengnya ada di belakang, gak peduli perawat liat, gak peduli dia ketua geng motor yang ditakutin satu sekolah.
Untuk pertama kalinya Suga, Jhope, Namjoon, Jimin, Taehyung, Jungkook liat Kim Seokjin nangis tanpa ditutupin. Tanpa jaim. Tanpa pura-pura dingin.
Jhope jongkok depan dia, matanya juga merah banget dari tadi nahan.
"Jin..."
Suga jongkok juga di sebelahnya. Gak ngomong. Cuma taruh tangan di bahu Seokjin.
Namjoon yang paling pinter ngomong di geng mereka, kali ini gak bisa ngomong apa-apa. Cuma berdiri, ngeliatin ranjang kosong itu.
Seokjin ngomong di sela-sela nangisnya, suaranya patah-patah.
"Dia bilang... gue rumahnya... Kenapa rumahnya malah pergi?"
Gak ada yang bisa jawab. Karena semua orang di koridor juga nanya hal yang sama.
Kenapa Clara yang dari pagi pengen lulus, yang udah pake kebaya biru, yang udah dapet piala, malah pergi di hari kelulusannya sendiri?
Di luar UGD, pintu kebuka lagi. Mutiara masuk pelan-pelan, masih meluk diary biru. Dia liat Seokjin duduk di lantai nangis, langsung jongkok di sebelahnya.
"Jin..."
Seokjin noleh. Matanya merah.
"Dia janji mau ke rumah kecil, Mut. Dia janji mau pelihara Kopi sama Susu. Dia tulis di diary."
Mutiara angguk sambil nangis. "Gue tau, Jin."
Mutiara buka diary biru pelan-pelan. Halaman terakhir yang tulisannya belum selesai.
Buat Seokjin... makasih udah jadi rumah—
Tulisannya berhenti. Tinta agak bleber kena air mata Clara pas nulis malam sebelum kelulusan.
Di saku belakang diary, ada kertas kecil dilipet rapi jadi empat. Mutiara baru sadar kertas itu jatuh tadi pas diary kelepas dari pelukannya di koridor.
Dia pungut. Buka pelan.
Tulisan tangan Clara, rapi banget. Beda sama tulisan diary yang kadang berantakan.
Di atasnya tertulis gede:
SURAT BUAT SEOKJIN
JANGAN DIBUKA SEBELUM GUE PERGI.
Tangan Mutiara gemeter pas ngasih kertas itu ke Seokjin.
"Ini... ini dari Clara. Buat lo."
Seokjin ngambil kertas itu dengan tangan yang masih ada darah kering. Tangannya gemeter lebih parah dari Mutiara.
"Dia udah siapin dari lama?" bisik Seokjin.
Mutiara angguk. "Kayaknya iya. Dia tau hari ini bakal berat."
Seokjin gak langsung buka. Dia lipet lagi, masukin ke saku hoodie-nya, deket dada. Disimpen.
"Gue bacanya nanti di rumah kecil aja," katanya pelan. "Biar dia... biar dia yang bacain."
Dari dalem UGD yang lebih dalem, suara Mama Vania masih kedengeran pelan. Sekarang udah gak teriak, cuma nangis pelan sambil ngomong.
"Clara, bangun Nak... Mama di sini... Mama tunggu kamu kayak tadi di aula..."
Nenek yang di koridor denger itu, langsung nutup muka. Gantungan kunci rumah kecil digenggam makin erat sampe buku jarinya putih.
Papa Faizan yang dari tadi diem di pojokan, akhirnya jalan pelan ke pintu UGD. Gendong Thea yang udah ketiduran karena capek nangis.
Dia liat Seokjin di lantai.
"Jin..." panggil Papa pelan.
Seokjin noleh. Matanya masih basah.
Papa Faizan, untuk pertama kalinya, jongkok di depan Seokjin. Bukan di depan Clara. Di depan pacar anaknya.
"Makasih ya... udah jagain Clara selama ini. Papa baru tau... ternyata selama ini yang jadi rumahnya bukan kami."
Seokjin geleng. Air matanya netes lagi.
"Jangan ngomong gitu, Om. Clara sayang banget sama Om sama Tante. Dia cuma... capek aja ngomongnya."
Papa angguk. Nangis juga akhirnya. Papa yang jarang nangis.
Di koridor, jam dinding nunjukin jam 6 sore. Lampu koridor RS mulai nyala lebih terang karena di luar udah mulai gelap.
Mutiara berdiri, bantuin Seokjin berdiri juga. Kaki Seokjin masih lemes.
"Jin, kita pulang dulu ya? Ke rumah kecil? Nenek udah nunggu di sana katanya."
Seokjin angguk. Dia liat ranjang kosong sekali lagi. Selimut putih itu. Bekas Clara.
"Gue... gue pengen pulang," bisiknya. Suaranya kecil banget. "Aku ingin pulang."
Kata yang sama yang pernah Clara tulis di diary: Aku ingin pulang.
Mutiara rangkul Seokjin. Suga sama Jhope bantu papah dari belakang.
Mereka keluar dari UGD. Meninggalkan ranjang kosong itu.
Di saku Seokjin, ada kepingan pecahan piala emas yang dia pungut di aula tadi, ada kertas surat yang belum dibuka, dan ada noda darah kering Clara di tangannya yang belum dia cuci.
Karena buat Seokjin, hari ini bukan cuma Clara yang pergi.
Rumahnya juga ikut pergi.
Dan dia harus belajar gimana caranya pulang ke rumah kecil itu sendirian, tanpa Clara.