Luna meninggal tepat di usianya yang masih tergolong muda, percintaan juga kehidupan yang tak pernah memihaknya membuatnya jatuh terperangkap semakin dalam pada dusta.
Tidak ada yang berjalan baik dalam kehidupannya, namun sebuah keajaiban membuatnya memiliki satu kesempatan untuk mengulang segala hal dan merubahnya menjadi lebih baik.
"Aku.... aku masih hidup?" ucap Luna dengan raut wajah yang tak percaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon senja liana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Kediaman keluarga Amera
Setelah ucapannya yang tiba-tiba sebelumnya, Luna nampak melangkahkan kakinya menuju ke arah ruang keluarga. Kali ini niatnya sudah benar-benar bulat, Luna jelas bertekad untuk merubah masa depan dan menikahi Sagara mungkin salah satu kuncinya.
Luna yakin dengan menikahi Sagara, kehidupan kelam yang menimpanya dan juga keluarga Amera mungkin saja akan berubah.
Luna terlihat menarik napasnya perlahan sebelum mulai memutar handel pintu di depannya. Perlahan tapi pasti gadis itu mulai mengambil langkah kaki mantap masuk ke dalamnya dan mulai berbicara dengan kedua orang tuanya.
"Mama Papa...." teriak Luna yang lantas membuat keduanya langsung berbalik dan menatap ke arah sumber suara.
"Hai sayang, tumben banget...apa ada sesuatu nak?" ucap lembut yang berasal dari mulut Zia.
"Emmmm sebenarnya ada sesuatu yang ingin aku katakan dan mungkin saja akan membuat kalian terkejut karenanya." ucap Luna sambil sedikit tersenyum simpul.
Mendengar perkataan putrinya, membuat Lukman dan Zia saling pandang satu sama lain seakan bertanya-tanya apa yang sebenarnya akan dikatakan oleh putrinya.
"Ada apa Lun?" tanya Lukman kemudian.
"Emmmm aku...aku ingin menikah dengan Sagara." ucap Luna pada akhirnya.
"Ah menikah rupanya... Apa? Siapa? Sagara?" pekik Lukman dan juga Zia hampir bersamaan karena saking terkejutnya ketika mendengar perkataan yang keluar dari mulut Luna saat ini.
"I.......ya Sagara, apakah ada yang salah?" tanya Luna dengan raut wajah yang bingung.
Tampak raut wajah gembira terlihat jelas dari wajah Lukman begitu mendengar ucapan putrinya barusan. Hal ini bahkan sudah ia nantikan atau bahkan rencanakan sejak lama, namun karena kedekatan Luna dan Arkan membuat Lukman terpaksa harus menyetujui pilihan putrinya meski terasa begitu berat.
"Tentu sayang, apapun permintaan mu. Papa akan langsung menghubungi om Aditama agar segera mengatur segalanya. Kamu tahu nak Papa senang sekali hari ini... Terima kasih banyak karena sudah menjadi lebih dewasa." ucap Lukman sambil mengecup pucuk kepala putrinya kemudian bergegas pergi dari ruangan tersebut, untuk menghubungi keluarga Aditama perihal pernikahan ini.
Mendapati kepergian suaminya, Zia terlihat menatap ke arah Luna dengan tatapan yang penuh arti. Di tariknya lengan Luna secara perlahan ke arah sebuah sofa yang terletak di sudut ruangan tersebut.
"Mama tahu apa yang terjadi nak, jika kamu terpaksa melakukan hal ini biar Mama yang akan bicara dengan Papa, kamu tidak perlu mengorbankan perasaan mu untuk kami nak." ucap Zia dengan nada yang terdengar begitu teguh.
"Mama tenang saja, Luna sudah memikirkannya secara berulang dan jawabannya tetap sama yaitu Sagara. Dulu Luna memang sempat menyukai Arkan tapi itu dulu Ma, sungguh... Luna kali ini benar-benar telah berubah, Luna sadar jika Arkan bukanlah pemuda yang baik bagi Luna." ucap Luna meyakinkan Zia.
"Mama akan mendukung apapun keputusan mu, jika memang kamu memilih Sagara Mama tidak akan ikut campur dan masuk lebih dalam. Yang terpenting sekarang anak Mama bahagia itu saja tidak lebih." ucap Zia pada akhirnya setelah mendengar jawaban Luna barusan.
"Terima kasih banyak Ma, aku sayang Mama... Sangat sangat menyayangi Mama." ucap Luna sambil memeluk tubuh Zia dengan erat.
***
Setelah permintaannya di setujui Luna nampak merasa begitu lega. Menikahi Sagara adalah langkah awal yang bisa ia ambil untuk menghindari masa depan yang kelam. Luna berharap apa yang terjadi di masa lalu tidak akan terulang.
Luna merebahkan tubuhnya di kasur kesayangannya dan mulai menatap langit-langit kamar. Sampai kemudian lamunannya buyar ketika sebuah suara yang berasal dari ponsel miliknya, lantas menyadarkannya.
"Ada apa?" jawab Luna dengan ketus begitu mengetahui jika penelpon tersebut adalah Rachel.
"Aku ingin bertemu dengan mu, apakah bisa?" ucap Rachel kemudian.
"Bertemu? Untuk apa?" tanya Luna.
"Ini tentang Arkan." jawab Rachel kembali.
"Baiklah, sore ini di tempat biasa." ucap Luna pada akhirnya.
"Tentu saja, aku akan..." ucap Rachel namun langsung di potong begitu saja oleh Luna yang malas mendengar ocehan Rachel kala itu.
Tut tut tut
"Menyebalkan, ada apa lagi sih emangnya?" ucap Luna sambil melempar ponselnya dengan kesal dan kembali merebahkan dirinya di kasur ke sayangannya.
Luna terlihat begitu cemberut setelah mendapat panggilan telpon dari Rachel, sampai kemudian setelah ia mengingat sesuatu yang hampir saja terlupa lantas membuatnya kembali bangkit.
"Ah sial 3% saham! Aku yakin Rachel menelpon ku untuk ini. Ah sial, gara-gara permintaan menikahi Sagara yang tiba-tiba aku jadi melupakan hal ini." ucap Luna sambil menepuk jidatnya dengan spontan.
***
Di salah satu club ternama di Ibukota
Dari sebuah taksi yang baru saja sampai di area lobi club tersebut, Luna terlihat melangkahkan kakinya keluar dari dalam taksi dan masuk ke dalam club.
Suara hiruk pikuk dunia malam terdengar menggema di telinga, menciptakan sebuah suara bising yang di gemari beberapa orang.
Luna membawa langkah kakinya kian masuk ke dalam dan berhenti di salah satu ruangan kelas VVIP yang berada di sudut lorong.
Kriekkkkkkkkk
"Luna!" pekik sebuah suara yang lantas membuat Luna memutar bola matanya jengah begitu memasuki area ruangan VVIP tersebut.
"Apa kalian sudah lama?" tanya Luna kemudian sekedar basa basi sambil menatap ke area sekeliling.
Sesuai prediksinya, ketika Luna mengatakan untuk bertemu di tempat biasa, tanpa bertanya Arkan selalu memesan sebuah tempat kelas satu dengan berbagai minuman dan juga makanan di dalamnya, tidak lupa jika ia akan mengundang beberapa teman dan tentu saja Rachel, yang ujung-ujungnya total tagihan setelahnya akan dibebankan kepada Luna.
"Kali ini aku akan membuat mu mengeluarkan setiap sen yang telah kau ambil dari ku, tidak akan semuanya tapi cukup bisa membuat kehilangan muka di depan yang lainnya." ucap Luna dalam hati sambil tersenyum tipis.
****
Sementara itu di kediaman Aditama
Sagara yang dikejutkan dengan permintaan menikah yang keluar dari mulut Luna sebelumnya, lantas kembali dibuat terbang begitu kembali mendengarnya langsung dari mulut Aditama.
Ditatapnya sebuah tembok dengan dekorasi minimalis berwarna cream pastel di ruang kerjanya dengan senyuman kegirangan khas anak kecil. Apa yang terjadi benar-benar membuatnya terasa seperti sebuah mimpi. Sagara tak menyangka jika Luna sendiri yang malah mengajaknya untuk menikah, padahal semua tahu jika sebelumnya Luna begitu menyukai Arkan dan enggan bersama dengannya.
"Luna Luna... Apakah semua ini benar? Mengapa bagiku terasa seperti sebuah mimpi yang siap membangunkan ku kapan pun juga." ucap Sagara pada diri sendiri.
Sebuah deringan ponsel kemudian terdengar menggema dan membuyarkan lamunannya. Ada satu notifikasi pesan masuk di ponselnya, yang lantas membuat Sagara langsung terdiam seribu bahasa tepat setelah membuka isi pesan tersebut.
"Sialan! Apa aku sudah tertipu?" ucap Sagara dengan manik mata yang kesal.
Bersambung