NovelToon NovelToon
Hiraisin: Legenda Pedang Kilat

Hiraisin: Legenda Pedang Kilat

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Action / Penyelamat
Popularitas:180
Nilai: 5
Nama Author: Astrius

Dianggap sampah tanpa bakat. Dikhianati oleh seniornya sendiri. Dan dipaksa menyaksikan kematian sang guru di depan mata.
Hiraisin hanyalah murid terbuang di Sekte Awan Putih yang dianggap tak punya masa depan karena meridian tubuhnya terluka. Namun, di tengah gempuran brutal pasukan Raja Kegelapan, darah Hiraisin menetes di atas hulu pedang patah berkarat—membangunkan rahasia purba yang lama tertidur.
Segel di tubuhnya hancur. Petir dari langit menyambar, membakar meridiannya dan membangkitkan legenda yang telah lama punah: Pedang Kilat.
Kini, dengan luka pengkhianatan di dada dan percikan listrik yang sanggup merobek malam, Hiraisin memulai perjalanan darah. Di hadapannya berdiri jutaan pengikut iblis, para jenderal mengerikan, dan Raja Kegelapan yang menguasai takhta dunia.
Satu tebasan telah lahir. Dan kegelapan tak akan pernah sama lagi.
"Saat dunia dikuasai bayang-bayang, kilat adalah satu-satunya keadilan."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Astrius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Garis Perkasa Ordo Penjaga

Aroma pahit rebusan akar obat menyeruak masuk ke dalam hidung Hiraisin. Kelopak matanya terasa amat berat saat ia berusaha membukanya perlahan.

Sensasi panas seperti ditusuk jutaan jarum membakar seluruh aliran darahnya. Setiap kali ia mencoba menarik napas panjang, tulang rusuknya bergetar hebat menahan rasa ngilu.

Hiraisin mendapati dirinya terbaring di atas pembaringan batu di dalam sebuah gua yang sunyi. Sinar rembulan menerobos masuk melalui celah dinding gua, membiaskan cahaya perak di atas permukaan tanah yang basah.

"Jangan memaksa untuk bergerak," sebuah suara berat dan tenang bergema dari arah sudut gua.

Hiraisin memutar kepalanya dengan susah payah. Di dekat tungku api kecil, pria berjubah abu-abu dari reruntuhan sekte tadi malam sedang mengaduk mangkuk tanah liat.

"Siapa... Anda?" bisik Hiraisin serak. Tenggorokannya terasa sangat kering bagaikan padang pasir.

Pria itu berbalik, melangkah mendekati pembaringan batu sembari membawa mangkuk kayu berisi air jernih. Pria tua itu memiliki janggut tipis berwarna abu-abu dengan sepasang mata cokelat yang dalam dan tenang.

"Minumlah dulu. Tubuhmu kehilangan banyak cairan setelah menampung daya murka langit," ujar pria itu lembut.

Pria berjubah abu-abu itu membantu Hiraisin meneguk air hangat tersebut. Rasa dingin menyejukkan mendadak mengalir perlahan, meredakan dahaga yang membakar tenggorokan pemuda itu.

Hiraisin mencoba mendudukkan tubuhnya, menyenderkan punggungnya pada dinding batu gua yang dingin.

"Di mana... tempat ini?" tanya Hiraisin seraya memandangi sekelilingnya. "Lalu bagaimana dengan jenazah Guruku?"

Pria itu menarik sebuah kursi kayu tua lalu duduk di hadapan Hiraisin. Wajah tuanya tampak berduka sejenak.

"Namaku Kaelen," jawab pria itu pelan. "Mengenai Gurumu, Tetua Shan... aku telah menguburkannya dengan layak di puncak bukit belakang Sekte Awan Putih, menghadap ke arah matahari terbit."

Air mata hangat menetes secara refleks di pipi Hiraisin. Ia mengepalkan tangannya erat-erat hingga buku-buku jarinya memutih.

"Terima kasih, Senior Kaelen..." bisik Hiraisin dengan suara tercekat. "Guru adalah satu-satunya orang yang memperlakukanku seperti manusia di tempat itu."

Master Kaelen menatap tangan kanan Hiraisin yang dipenuhi sisa retakan memar kehitaman. Ia menggelengkan kepalanya pelan.

"Kau beruntung masih hidup, Anak Muda," ucap Kaelen dengan nada serius. "Pelepasan Segel Petir Purba secara mendadak semalam nyaris menghancurkan seluruh meridian dalam tubuhmu."

Hiraisin tertegun mendengarnya. Ia melirik telapak tangannya sendiri yang sesekali masih memercikkan kilat biru tipis.

"Segel Petir Purba? Jadi... meridianku selama ini tidak pernah rusak?" tanya Hiraisin penasaran.

Kaelen tersenyum tipis, menggoyangkan tongkat kayunya yang melingkar di atas tanah.

"Meridianmu dikunci oleh leluhurmu menggunakan teknik segel purba tingkat tinggi," jelas Kaelen. "Ibumu dan ayahmu melakukan itu untuk melindungi keberadaanmu dari incaran Raja Kegelapan."

Jantung Hiraisin berdegup kencang. Nama orang tuanya yang selama ini menjadi misteri mendadak disebut.

"Orang tuaku? Siapa sebenarnya mereka, Senior?" desak Hiraisin dengan mata membelalak.

Kaelen tidak langsung menjawab. Ia berdiri, melangkah menuju mulut gua sembari menatap ke arah langit malam yang dipenuhi bintang.

"Namaku Kaelen, tetua terakhir dari Ordo Penjaga Petir," jawab Kaelen seraya berbalik menatap Hiraisin. "Tugasku selama ratusan tahun adalah menunggu kebangkitan pewaris tunggal Elemen Kilat—yaitu kau, Hiraisin."

Hiraisin tertegun di tempatnya berdiri batin. Beban fakta yang baru saja ia dengar terasa amat berat meremukkan dadanya.

"Tetapi tubuhmu yang sekarang belum siap," sambung Kaelen tegas. "Wadah fisikmu terlalu lemah untuk menampung energi petir yang liar."

Kaelen melemparkan sebuah gulungan kitab kulit tua berwarna cokelat ke pangkuan Hiraisin.

"Itu adalah Mantra Hati Petir Suci," kata Kaelen. "Gunakan kitab itu untuk mengendalikan gejolak energi di pembuluh darahmu. Jika kau memaksa bertarung seperti semalam lagi, meridianmu akan meledak dari dalam."

Hiraisin meraba permukaan kitab kulit tebal itu. Teksturnya terasa hangat di jemarinya.

"Berapa lama waktu yang aku punya untuk menguasai ini?" tanya Hiraisin dengan tatapan tajam.

Kaelen menaikkan sebelah alisnya. "Mengapa kau terburu-buru? Tubuhmu butuh istirahat setidaknya satu bulan."

"Aku tidak punya waktu satu bulan!" tegas Hiraisin. Percikan kilat biru kembali membara di matanya. "Senior Gani... pengkhianat itu kabur membawa pusaka sekte. Aku harus membalas darah Guruku!"

Kaelen menghela napas panjang melihat kemarahan yang membakar jiwa pemuda di hadapannya.

"Aku tahu di mana pengkhianat itu berada," ujar Kaelen pelan.

Hiraisin mendongak cepat. "Di mana dia?"

"Kota Perbatasan—Kota Angin Kelam," jawab Kaelen. "Gani melarikan diri ke sana untuk menjual barang-barang curiannya kepada Sindikat Gagak Hitam, organisasi pasar gelap yang bekerja untuk pengikut Raja Kegelapan."

Hiraisin mengepalkan tangannya. Gigi-giginya bergelut menahan amarah yang membumbung tinggi.

"Kota Angin Kelam..." gumam Hiraisin. "Aku akan pergi ke sana sekarang juga."

"Jangan bodoh!" tegur Kaelen dengan suara menggelegar. Tongkat kayunya dihentakkan ke tanah, memicu gelombang angin lembut yang menahan Hiraisin di tempat. "Kau yang sekarang hanya akan menjadi santapan empuk bagi para pembunuh di sana!"

Hiraisin terhenyak. Ia menyadari kelemahannya sendiri saat rasa sakit di dadanya kembali menusuk tajam.

"Gani tidak bekerja sendirian lagi," tambah Kaelen. "Dia telah berlindung di balik ketiak pasukan kegelapan. Jika kau ingin membunuhnya, kau harus mampu menyembunyikan identitasmu dan menguasai Mantra Hati Petir."

Hiraisin menundukkan kepalanya, menatap gulungan kitab di tangannya. Ia tahu Senior Kaelen mengatakan kebenaran.

"Baiklah," bisik Hiraisin. "Ajari aku cara mengendalikan kekuatan ini."

Selama tiga hari berikutnya di dalam gua tersebut, Hiraisin melatih fokus batinnya tanpa henti. Di bawah bimbingan Kaelen, ia belajar menyerap percikan listrik yang liar dan memadatkannya ke dalam pusat dantian.

Setiap malam, ia merapalkan mantra suci hingga percikan petir biru di kulitnya tidak lagi memancar secara sembarangan, melainkan tersembunyi sempurna di bawah permukaan kulitnya.

Di hari ketiga, Hiraisin berdiri di tengah gua. Ia menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan.

Czzz...

Dengan satu jepitan dua jari, bilah pedang patah berkarat di sampingnya memancarkan segaris kilat ungu tipis yang sangat padat dan tidak bersuara sama sekali.

"Bagus," puji Kaelen dari balik kegelapan gua. "Kau berhasil menyembunyikan aura petirmu. Sekarang kau terlihat seperti pendekar biasa tanpa bakat."

Hiraisin mengikatkan pedang patahnya di punggung menggunakan kain hitam lusuh. Ia mengenakan jubah bertudung abu-abu untuk menutupi wajahnya.

"Terima kasih atas bimbingan Anda, Master Kaelen," ucap Hiraisin seraya membungkuk hormat.

"Pergilah ke Kota Angin Kelam," pesan Kaelen. "Cari petunjuk tentang Artefak Kilat Pertama di sana, dan tuntut balasan atas darah Gurumu. Namun ingat, jangan pernah membongkar identitasmu sebelum waktunya."

Hiraisin mengangguk mantap. Ia berbalik dan melangkah menuju pintu keluar gua yang menghadap ke jalan setapak pegunungan.

Namun, baru tiga langkah Hiraisin meninggalkan ambang gua, hawa dingin yang amat membekukan mendadak menusuk tengkuknya.

Angin malam yang berembus pelan tiba-tiba terhenti secara mendadak. Suara jangkrik dan ungguk malam lenyap seketika, digantikan oleh kesunyian yang mencekam.

Srrrtt...

Sebuah bayangan hitam memanjang meluncur cepat di atas permukaan tanah basah, mengelilingi area luar gua dengan kecepatan tinggi.

Kaelen membelalakkan matanya dari dalam gua. Tongkat kayunya mendadak bergetar hebat.

"Aura ini..." cicit Kaelen dengan wajah memucat. "Pembunuh Bayangan dari Sindikat Gagak Hitam!"

Dari atas dahan pohon tua di hadapan Hiraisin, sosok bertopeng tengkorak berbalut jubah hitam turun tanpa suara. Sepasang belati beracun meliuk di kedua tangannya, memantulkan cahaya bulan yang dingin.

"Gani tidak berbohong," suara pria bertopeng itu terdengar nyaring menyerupai desisan ular. "Ternyata masih ada tikus kecil dari Sekte Awan Putih yang tersisa di sini."

Hiraisin memicingkan matanya. Tangannya bergerak perlahan menuju hulu pedang patah di punggungnya.

"Siapa yang mengirimmu?" tanya Hiraisin dingin.

Pria bertopeng tengkorak itu terkekeh sinis, melangkah mendekat dengan gerakan melayang.

"Tuan Gani membayar kami dengan sangat mahal untuk memastikan kepalamu terpisah dari badanmu, Bocah!"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!