NovelToon NovelToon
Dendam Putri Yang Tertukar

Dendam Putri Yang Tertukar

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:6.1k
Nilai: 5
Nama Author: Arjunasatria

Sejak bayi, Lin Yuxin ditukar demi kemewahan anak keluarga Chen... Chen Ruoxi. Bertahun-tahun disiksa di rumah orang asing, dia akhirnya kembali ke keluarga kandungnya, hanya untuk difitnah habis-habisan oleh Chen Ruoxi yang iri pada kecantikan Lin Yuxin, apalagi saat Kaisar menjodohkannya dengan Putra Mahkota Li Chen... Sifat iri nya semkin menjadi. Lin Yuxin dituduh wanita murahan sekaligus dalang percobaan racun, Lin Yuxin yang tak mampu membela diri pun dijatuhi hukuman mati... sementara pelayan setianya, Xiao Yan, dibungkam selamanya oleh Chen Ruoxi.

Namun takdir memberinya kesempatan kedua. Lin Yuxin bangkit kembali tepat di hari dia pertama menginjak rumah keluarga aslinya, membawa ingatan penuh tentang kehidupannya yang lalu. Kali ini, dia bersumpah, setiap fitnah akan dibalas, dan Xiao Yan tak akan mati lagi untuknya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arjunasatria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ban 16

Pesta Penyambutan akhirnya tiba.

Hari yang ditunggu akhirnya tiba. Halaman utama kediaman Lin dihiasi lentera merah menggantung di sepanjang koridor, meja-meja panjang berjajar rapi dengan hidangan mewah, dan alunan musik dari alat gesek mengalun pelan di sudut ruangan.

Yuxin berdiri di depan cermin besar di kamarnya, mengenakan hanfu baru berwarna ungu tua bersulam benang emas, hasil jahitan penjahit terbaik yang dipanggil ayahnya. Rambutnya disanggul rapi dengan tusuk konde giok, jauh berbeda dari gadis lusuh yang dulu berdiri di sudut ruangan sambil menahan tatapan mengejek.

"Nona cantik sekali," Xiao Yan berbisik kagum, matanya berkaca-kaca. "Tidak ada yang akan berani menghina Nona malam ini."

Yuxin tersenyum tipis, meski pikirannya sudah melayang pada peringatan yang diucapkan Shen Yifan beberapa hari lalu. Tamu tak terduga. Kalimat itu terus menggema, dan sekarang, dengan titah pertunangan yang sudah turun, dia mulai menduga siapa yang dimaksud.

Tamu-tamu mulai berdatangan sejak matahari terbenam. Para pejabat dan istri mereka, anak-anak bangsawan muda, semuanya mengenakan pakaian terbaik, saling bertukar sapa dan pujian yang terdengar manis namun penuh perhitungan.

Chen Ruoxi menyambut para tamu di sisi Nyonya Su, senyumnya sempurna seperti biasa, meski matanya sesekali melirik tajam ke arah Yuxin yang berdiri anggun menerima ucapan selamat dari satu keluarga ke keluarga lain.

"Jadi kau yang bernama Lin Yuxin?" seorang nyonya tua bertanya, kipas sutra di tangannya bergerak pelan. "Kudengar kau akan segera menghadap istana."

"Itu baru rencana, Nyonya," jawab Yuxin sopan, membungkuk sedikit. "Semua masih bergantung pada keputusan Yang Mulia."

Nyonya itu tersenyum puas mendengar jawaban yang penuh kerendahan hati, lalu berlalu untuk menyapa tamu lain.

Di tengah keramaian itu, seorang pemuda berdiri agak menjauh dari kerumunan utama, sendirian, tenang, seolah tidak terganggu oleh riuhnya pesta di sekitarnya. Jubahnya sederhana, warna biru tua polos tanpa sulaman atau lambang apapun, tapi kainnya jatuh rapi mengikuti tubuhnya yang tegap, jelas bukan buatan sembarang penjahit.

Wajahnya diterangi cahaya lentera dari samping, memperlihatkan garis rahang yang tegas dan hidung mancung yang seimbang dengan sepasang mata tajam berwarna gelap, jenis mata yang membuat orang lain segan menatap terlalu lama tanpa alasan jelas. Rambutnya disanggul rapi ke belakang dengan sederhana, hanya sehelai pita hitam polos yang mengikatnya, jauh dari kebiasaan para bangsawan muda yang gemar berhias tusuk konde berukir mahal. Justru kesederhanaan itu yang membuatnya menonjol di antara semua tamu yang berlomba memamerkan kemewahan.

Yuxin menyadarinya lebih dulu daripada yang lain.

Jantungnya berdegup cepat saat mengenali sosok itu, jubah polos tanpa lambang kebesaran, sikap tenang yang sama seperti saat mereka bertabrakan di pasar. Dia datang tanpa identitas asli, menyamar sebagai tamu biasa di antara ratusan orang yang bahkan tidak menyadari siapa yang sesungguhnya berdiri di tengah mereka.

Yuxin memaksakan diri untuk tidak menatapnya terlalu lama, khawatir seseorang akan menyadari kejanggalan itu. Tapi saat dia melirik sekali lagi, mata mereka bertemu sekilas dari kejauhan, dan pemuda itu tersenyum tipis, seolah menyimpan sebuah rahasia yang hanya diketahui berdua.

Xiao Yan yang berdiri di sampingnya berbisik pelan, "Nona, siapa pria itu? Sepertinya dia tidak dikenal siapapun di sini."

Yuxin menggeleng samar. "Aku juga tidak tahu, Xiao Yan," jawabnya, meski dalam hati dia tahu persis siapa yang sedang menyamar di antara para tamu malam itu, dan bertanya-tanya, kenapa dia memilih datang seperti ini, tanpa gelar, tanpa pengawal, seolah ingin melihat sesuatu yang tidak akan terlihat kalau dia datang sebagai putra mahkota.

Di sisi lain halaman, Ruoxi duduk berkumpul dengan beberapa putri bangsawan sebayanya, cangkir teh di tangan masing-masing, kipas sutra bergoyang pelan menyamarkan bisik-bisik yang keluar dari balik bibir mereka.

"Jadi benar dia baru pulang dari desa?" tanya seorang gadis berhanfu hijau muda, matanya melirik ke arah Yuxin yang berdiri agak jauh, sedang menerima ucapan selamat dari tamu lain.

"Begitulah," Ruoxi menjawab, suaranya direndahkan agar terdengar seperti rahasia yang berat untuk diungkapkan. "Kalian tidak bisa bayangkan bagaimana dulu dia pas datang, penampilannya kumuh sekali, dia juga tidak tahu bagaimana cara pakai sumpit dengan benar, apalagi soal tata krama dia tidak tahu apa-apa."

Seorang gadis lain menutup mulutnya dengan kipas, terkikik pelan. "Tapi sekarang dia terlihat cukup anggun, Ruoxi. Hanfu itu juga indah sekali."

"Tentu saja terlihat anggun kalau sudah dipoles selama tiga hari oleh guru etiket terbaik di kota," sahut Ruoxi, senyumnya manis namun kata-katanya menusuk. "Coba saja kalian ajak bicara soal puisi atau seni lukis. Aku yakin dia hanya akan tersenyum dan mengangguk, karena sebenarnya dia tidak mengerti apa-apa."

"Benarkah dia hampir jadi calon permaisuri?" tanya gadis ketiga, alisnya terangkat penasaran. "Aneh sekali, Yang Mulia memilih seseorang yang baru saja muncul, bukan yang sudah dibesarkan sejak kecil di keluarga bangsawan."

Ruoxi merasakan sesuatu yang hangat menjalar di dadanya mendengar kalimat itu, seolah menemukan sekutu tanpa harus mencarinya. "Aku juga heran," ucapnya, memasang wajah bingung yang dibuat-buat. "Mungkin istana hanya mendengar kabar kepulangannya tanpa tahu bagaimana keadaan sebenarnya. Kalau saja mereka tahu dia dulu dibesarkan di keluarga pedagang kecil, mungkin keputusannya akan berbeda."

Gadis berhanfu hijau muda mencondongkan tubuhnya, suaranya semakin pelan. "Ruoxi, kudengar-dengar, katanya dulu dia juga pernah berurusan dengan pria-pria di pasar tempat dia berjualan. Benarkah itu?"

Mata Ruoxi berkilat sesaat, seperti baru menemukan benih yang bisa dia tanam lebih dalam nanti. "Aku tidak ingin membicarakan hal semacam itu," ucapnya, sengaja membuat suaranya terdengar enggan, seolah menyimpan sesuatu yang lebih besar. "Lagipula, itu bukan urusanku untuk menyebarkannya."

Ucapan itu, dengan segala kepura-puraan enggannya, justru membuat rasa penasaran di antara mereka semakin membara. Salah satu gadis menutup mulutnya, matanya berbinar penuh minat.

"Jangan bilang... dia benar-benar seperti itu?"

Ruoxi hanya tersenyum tipis, tidak menjawab secara langsung, membiarkan keheningan itu berbicara lebih keras daripada kata-kata apapun.

Dari kejauhan, tanpa sepengetahuan mereka, sepasang mata tajam memperhatikan kerumunan kecil itu, pemuda berjubah biru sederhana yang sejak tadi berdiri sendirian, kini melangkah pelan mendekat, seolah tertarik oleh topik pembicaraan yang mulai memanas di antara para gadis bangsawan itu.

1
Yeni Astriani
saya kecewa sama Li cen sbg Putra Mahkota yang tidak mampu melindungi Putri Mahkota dr persengkokolan jahat Permaisuri Xuan terlalu mudah kena tipu daya Gu Yueran
kymlove...
selalu diam dan mengamati, sehingga telat untuk membela diri.... entah kenapa yuxin ini mengamati situasi terlalu lama, seakan berhati-hati sekali, tapi dengan selalu lama dalam mengambil tindakan terkesan membiarkan masalah terlalu terlambat untuk di selesaikan!
Adi Sudiro
perkumpulan wanita culas.... 🤭🤭🤭
Adi Sudiro
lah kan memang bukan putri keluarga lin... lawak nih tuan besar... 🤭🤭
Dessy C: makasih akak komemn nya 🙏🫰
total 1 replies
kymlove...
bagus!! jika ruoxi masih tak tau diri.. dan tetap gak sadar diri...!! emang bener 2 benalu abadi sih ini!!
kymlove...
bilang aja jujur yuxin kalau ruoxi memberi mu hanfu sampah!!!
kymlove...: semangat trz kk🥰
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!