NovelToon NovelToon
Teror Arwah Ci Sepi

Teror Arwah Ci Sepi

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Balas Dendam
Popularitas:507
Nilai: 5
Nama Author: Soobin Chan

Sekuel keempat dari buku Sebelumnya: 'Cinderela Ubi Rebus, Kutukan Mbah Golok Sakti dan Skandal Jus Jeruk: Istri Sang CEO'.

Menghadapi operasi bedah jantung? dr. Rahsya ahlinya. Tapi dipaksa jadi bidan sapi persalinan tengah malam oleh preman kampung berkolor tali rafia? Itu bencana!

Liburan tenang Rahsya di Desa Ci Sepi berubah total menjadi arena pawai hantu sejak ia menolong seorang anak kecil bernama Nathan.

Di tengah kekacauan mistis dan hilangnya para warga secara tragis, hadir Amel—gadis berisik yang selalu merepotkan namun berhasil mengacaukan detak jantung dokternya. Bisakah sang dokter rasional bertahan hidup, atau jiwanya akan tertinggal di dimensi lain telaga?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11. HELM KEBESARAN

"Kenapa sih, kamu selalu bisa cari cara buat bikin saya susah? Merepotkan saja kerjaannya."

Amel yang masih terduduk di atas tanah mengerucutkan bibirnya kesal. Sambil meringis pelan menahan sakit di pergelangan tangannya, ia bangkit berdiri dan menepuk-nepuk celana jinsnya yang kini kotor tertutup tanah dan dedaunan kering.

"Kak Rahsya datang ke sini sebenarnya niat mau menolong atau cuma mau marah-marah, sih?" tanya Amel dengan suara serak, mencoba menutupi rasa takut yang sebenarnya belum hilang sepenuhnya dari dadanya.

"Ck. Sudah, jangan banyak protes. Mendingan kita pulang sekarang. Masih syukur saya mau datang menolong," timpal Rahsya sambil memutar tubuhnya, melangkah pergi dengan kaki jenjangnya yang lebar.

"Cepat jalannya! Sebelum saya berubah pikiran dan meninggalkan kamu di sini sendirian biar diurus sama mereka lagi!"

Tanpa berani membalas perkataan sang dokter lagi, Amel setengah berlari mencoba mengimbangi langkah pria setinggi gapura itu.

Meskipun hatinya dongkol karena sikap Rahsya yang tidak ada manis-manisnya setelah kejadian traumatis tadi, ia tetap mengekor di belakang. Sisi hatinya merasa jauh lebih aman berada di bawah bayang-bayang punggung kaku dokter galak itu.

"Nih, pakai," ucap Rahsya singkat seraya menyodorkan helm fullface miliknya yang terasa berat ke pelukan Amel setibanya mereka di area parkir.

Amel tertegun sejenak, menatap helm hitam besar itu lalu beralih menatap Rahsya. "Terus, Kakak pakai apa? Helmnya kan cuma satu?"

"Sudah, pakai saja. Jangan banyak tanya," potong Rahsya telak. Suaranya terdengar agak teredam deru napasnya yang masih sedikit tidak teratur akibat sisa perkelahian tadi.

"Mau saya pakai helm atau tidak, itu bukan urusan kamu."

Tanpa menunggu balasan dari Amel, Rahsya langsung melompat naik ke atas motor sport-nya. Mesin berkapasitas besar itu menggeram garang saat ia memutar kunci kontak. Melalui kaca spion, ia melirik Amel yang masih mematung di samping motor, tampak kepayahan bergelut dengan helm yang ukurannya terlalu besar untuk kepala kecilnya.

"Ck. Bisa pakainya tidak, sih?" desis Rahsya tidak sabar. Amel hanya bisa menggeleng pasrah di balik kaca helm yang sudah turun setengah akibat longgar.

Rahsya menghela napas panjang, lalu memberikan isyarat dengan kepalanya. "Sini, mendekat."

Amel melangkah ragu hingga jarak mereka hanya terpaut beberapa sentimeter. Rahsya membungkuk sedikit ke depan. Jemarinya yang panjang dan terampil—jari-jari yang biasa memegang pisau bedah di ruang operasi—kini bergerak lincah menarik tali pengaman helm Amel.

Klik!

Bunyi pengunci itu terdengar tepat di bawah dagu Amel. Amel refleks menahan napasnya; aroma parfum maskulin bercampur wangi jaket kulit Rahsya seketika menyerbu indra penciumannya, membuat jantungnya berdebar jauh lebih kencang daripada saat menghadapi kepungan geng motor tadi.

"Nah, sudah. Cepat naik," perintah Rahsya datar. Ia kembali ke posisi berkendaranya tanpa menyadari perubahan rona merah di wajah Amel yang tertutup helm.

Amel segera naik ke boncengan motor. Namun, alih-alih memeluk pinggang Rahsya seperti gadis-gadis di dalam novel romantis, ia memilih mencengkeram erat behel besi di bagian belakang motor dengan buku jari yang memutih. Begitu dirasa Amel sudah siap, Rahsya langsung menarik tuas gas dalam-dalam.

Motor sport itu melesat membelah jalanan malam Desa Ci Sepi bak orang kesetanan. Angin kencang menerpa wajah Rahsya yang sama sekali tidak terlindung oleh helm, namun ia seolah tidak memedulikannya.

Di belakangnya, Amel hanya bisa memejamkan mata rapat-rapat. Ia mencoba bertahan dari guncangan angin dan kecepatan yang gila itu, sambil merutuki hatinya yang masih saja berdegup kencang untuk pria jutek yang baru saja memarahinya habis-habisan.

Ciiiiitttt!

Ban motor sport itu berdecit nyaring saat Rahsya menghentikan laju motornya secara mendadak tepat di depan pintu garasi vila keluarga. Hukum fisika tentu tidak bisa dihindari dalam kecepatan tinggi; tubuh Amel terdorong kuat ke depan akibat rem mendadak itu, membuat helm fullface yang keras dan kebesaran tersebut menubruk punggung serta bagian belakang kepala Rahsya dengan bunyi benturan yang cukup keras.

Duk!

"Aduh! Kamu ngapain main tubruk saja? Mau bikin saya geger otak?" semprot Rahsya sambil meringis. Satu tangannya refleks mengusap bagian belakang kepala yang terkena benturan cukup keras.

Amel segera turun dari boncengan motor dengan gerakan yang sedikit limbung. Ia menaikkan kaca helmnya, lalu menatap Rahsya dengan tatapan yang tidak kalah tajam.

"Suruh siapa mengerem mendadak begitu!" balasnya ketus.

Rasa kesalnya pada sikap diktator Rahsya sepanjang jalan dari hutan jati tadi masih membekas nyata di dadanya. Sambil mengerucutkan bibir, Amel mencoba menarik tali pengait helm di bawah dagunya. Namun, jari-jarinya yang gemetar justru membuat simpul pengunci itu terasa semakin erat dan terjepit. Gerakannya menjadi kaku karena dilanda kepanikan kecil.

"Susah, Kak... bisa tolong bukakan enggak?"

Amel akhirnya menyerah. Ia mendongak, menatap Rahsya sambil cengengesan malu, mencoba mencairkan suasana tegang yang menyelimuti mereka berdua di depan garasi.

Rahsya mendengus keras, lalu menyandarkan motor sport-nya dengan agak kasar menggunakan standar samping.

"Bisanya cuma menyusahkan saja terus," gerutunya. Meskipun mulutnya terus-menerus mengomel, ia tetap melangkah mendekat.

Tangannya kembali bekerja; jari-jarinya yang dingin menyentuh kulit dagu Amel dengan lembut namun sangat cekatan.

Amel mematung di tempatnya, menatap lurus ke arah sepasang mata Rahsya yang sedang fokus pada pengait helm. Sepertinya, Amel memang tidak bisa benar-benar marah pada pria jutek ini. Bagi Amel, rasa cintanya yang keras kepala selalu berhasil mengalahkan rasa kesal, seberapa pun seringnya Rahsya bersikap kasar padanya.

"Hehe, makasih ya, Kak," bisik Amel pelan setelah helm hitam besar itu berhasil terlepas, memberikan senyum terbaiknya meski wajahnya masih tampak agak pucat.

Rahsya hanya memutar bola matanya malas, lalu berjalan masuk menuju ke dalam vila tanpa membalas senyuman manis itu.

****

Sementara itu, di tengah hiruk-pikuk pasar malam yang sudah mulai menyepi, Rehan keluar dari tempat persembunyiannya dengan langkah yang gontai. Kepalanya masih terasa sangat berat akibat sisa pengaruh alkohol murahan yang ia tenggak tadi sore. Ia berjalan kembali ke area pohon jati tempat perkelahian tadi, namun tempat itu kini sudah kosong melompong.

Teman-temannya telah pergi mengevakuasi Regan, meninggalkannya sendirian dalam kegelapan malam yang kian pekat.

"Sial, mereka benar-benar ninggalin gue," gumam Rehan masygul.

Ia berniat berjalan kembali ke arah parkiran, namun langkah kakinya mendadak terhenti saat sesosok wanita berambut sebahu muncul dari balik remang cahaya stan permainan yang sudah tutup. Wanita itu berjalan dengan sangat anggun menghampirinya, mengenakan dress tipis berwarna hitam yang tampak berkibar lembut tertiup angin malam.

"Neng? Sendirian saja?" sapa Rehan.

Insting hidung belangnya langsung bangkit seketika, mengabaikan rasa takut yang sempat menghampiri hatinya saat melihat Rahsya menghajar komplotannya tadi.

Wanita itu tersenyum sangat manis, namun sorot matanya tampak kosong tanpa binar kehidupan.

"Iya, Kang. Saya sendirian. Kalau Akang?"

"Saya juga baru ditinggal teman. Mau ke mana malam-malam begini? Ke pasar malam?" tanya Rehan sambil melangkah lebih dekat, mencoba menghirup aroma tubuh wanita misterius itu.

"Bukan, Kang. Saya mau pulang. Tapi jalanan menuju rumah saya sepi sekali," jawabnya dengan nada malu-malu, sementara jemarinya yang pucat tampak memilin ujung rambut.

"Mau diantarkan? Kebetulan saya bawa motor," tawar Rehan cepat, merasa mendapat durian runtuh.

Tanpa menaruh rasa curiga sedikit pun, ia segera membonceng wanita yang mengaku bernama Kinan itu. Motor bebeknya melaju membelah aspal jalanan desa yang sunyi, hanya diterangi oleh lampu-lampu jalan yang remang-remang.

Saat tiba di tepian pematang sawah yang terletak tidak jauh dari vila keluarga Rahsya, Kinan menepuk bahu Rehan dengan pelan.

"Kang, berhenti di sini. Rumah saya masuk ke sana, lewat pematang sawah."

Rehan mengerem motornya mendadak. Setelah menitipkan sepeda motornya di salah satu pekarangan rumah warga yang ia kenal, ia menyalakan fitur senter ponselnya dan berjalan mengikuti langkah Kinan dari belakang.

Langkah kaki mereka membelah pematang sawah yang basah dan becek, lalu mulai memasuki kerimbunan ladang jagung yang daun-daunnya bergesekan menimbulkan suara srek... srek... yang terdengar sangat ganjil di telinga.

"Nama kamu cantik, Kinan. Cocok sama orangnya,"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!