Siang hari, aku cuma Maxy — pegawai biasa yang diam-diam mencintaimu.
Malam tiba, aku berubah jadi Roxy — sosok percaya diri yang berani berdiri di hadapanmu.
Kamu tersenyum pada Roxy, tapi tak pernah tahu kalau dia itu aku.
Sampai kapan aku harus menyembunyikan siapa diriku?
Dan nanti… saat kamu akhirnya memilih, siapa yang akan kamu pilih?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kenzy Elbarra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
Jam tepat menunjukkan pukul lima sore. Maxy masih duduk di mejanya, menatap pesan dari Shella yang baru saja ia baca ulang untuk kesekian kalinya.
"Malam ini aku ke restoran yang sama lagi. Kalau kebetulan lewat, boleh mampir. Aku mau cerita lebih lanjut."
Aku menyimpan ponsel, merapikan berkas terakhir, lalu berjalan keluar menuju parkiran. Mobil tua itu menyala setelah dua kali percobaan.
Seperti biasa, Aku menyetir memutar dulu, memastikan tidak ada rekan kerja yang mengikuti, sebelum menuju rumah.
Sesampainya di sana, Aku memarkir mobil tua di garasi samping, lalu masuk ke rumah. Langkah kakinya terasa lebih mantap dari kemarin, meski keraguan masih ada. Tepat saat jarum jam menunjuk angka enam sore, getaran halus menyapu seluruh tubuhnya.
DING!
FASE BERGANTI
Mode malam dimulai.
Akses dana sistem tersedia.
Ia berdiri di depan cermin. Wajah yang tadinya terlihat biasa dan lelah kini berubah — tajam, tenang, memancarkan aura yang membuat orang lain merasa nyaman sekaligus segan. Ia adalah Roxy.
DING!
Metrik kedekatan hubungan terintegrasi.
Hubungan kedekatan dengan Shella: 12%
(Keterangan: 0% \= asing, 50% \= akrab/percaya, 100% \= hubungan emosional mendalam)
Catatan: Perkembangan dihitung dari interaksi kedua identitas.
Roxy menatap angka itu, tertegun sedikit. 12%. Angka kecil, tapi artinya ada kemajuan. Bukan nol. Aku menyimpan informasi itu dalam hati, lalu berjalan ke garasi utama, masuk ke mobil mewahnya, dan menyalakan mesin.
Sesampainya di restoran, Aku melihat Shella sudah duduk di meja yang sama seperti kemarin. Tatapannya terlihat lebih tenang, tidak ada kerutan di dahi.
Saat Aku melangkah masuk, mata Shella menyambut sebelum ia sempat menyapa.
"Kamu datang," ucap Shella, senyumnya melebar — lebih terbuka dari kemarin. "Aku kira kamu nggak bisa."
"Kalau ada yang butuh didengarkan, saya akan selalu usahakan datang," jawab Roxy pelan, lalu duduk di hadapannya.
Shella tertawa kecil, suara lembut dan ringan. "Kamu ngomongnya... kayak orang yang selalu ada buat orang lain. Padahal kita baru kenal kemarin."
"Kadang orang yang baru dikenal bisa lebih aman buat cerita," jawab Roxy tenang. "Tidak ada prasangka, tidak ada ekspektasi yang sudah terlanjur terbentuk."
Shella menunduk sejenak, memainkan ujung serbet di meja. "Mungkin itu alasannya. Soalnya... aku udah cerita ke banyak orang di kantor, tapi nggak ada yang bener-bener ngerti posisiku. Mereka cuma minta keputusan, tapi nggak mau tahu konsekuensinya."
Ia mengangkat wajah, menatap mata Roxy lekat-lekat. "Kamu tahu? Kadang aku ngerasa sendirian di tengah keramaian. Padahal tiap hari ketemu banyak orang."
DING!
Kedekatan dengan Shella naik.
Sekarang: 14% (+2%)
Sumber: Keterbukaan emosional dari Shella.
Roxy menahan diri agar tidak menoleh ke arah mana pun. Angka itu hanya ia yang bisa lihat. Tapi yang lebih penting dari angka itu adalah tatapan Shella — matanya terbuka, percaya, tidak ada dinding yang menahan.
"Kamu nggak sendirian," ucap Roxy lembut. "Keputusan berat terasa lebih ringan kalau dibagi bebannya. Bukan berarti kamu jadi lemah, tapi berarti kamu manusia biasa yang butuh sandaran sesekali."
Shella terdiam, lalu mengangguk pelan. Matanya sedikit berkaca-kaca, tapi ia menahannya. "Makasih. Rasanya... lega banget bisa denger jawaban kayak gitu. Bukan disuruh cepet-cepet ambil keputusan, bukan disuruh mikir sendiri."
Mereka mengobrol hampir dua jam. Tentang tekanan di kantor, tentang mimpi yang sempat tertunda karena terlalu sibuk, tentang hal-hal kecil yang sering terlewatkan. Roxy mendengarkan, sesekali memberi pandangan yang tidak memihak, tidak menekan. Dan setiap kali Shella tertawa, atau menghela napas lega, ia merasakan ada yang berubah di antara mereka.
DING!
Kedekatan dengan Shella naik.
Sekarang: 16% (+2%)
Sumber: Ketenangan emosional yang ditimbulkan.
"Kamu sering dengerin orang kayak gini?" tanya Shella tiba-tiba, saat mereka berhenti bicara sejenak.
Roxy tersenyum tipis. "Saya belajar memperhatikan orang. Banyak yang cuma butuh didengarkan, bukan diberi nasihat."
Shella menatapnya lama, seolah mencari sesuatu di wajahnya. "Kamu inget Maxy? Rekan kerjaku yang pernah aku sebutin?"
Jantung Roxy berdetak lebih cepat. "Iya, Aku ingat. Kenapa?"
"Gak tau... kadang aku ngerasa ada kesamaan cara pandang kalian. Maksudku... cara lihat sesuatu, cara dengerin orang. Padahal kalian pasti nggak kenal kan?" Shella menatapnya, menunggu jawaban.
Roxy menjaga suaranya tetap tenang. "Dunia ini sempit. Bukan hal aneh kalau ada orang yang punya pemikiran mirip, meski belum pernah bertemu."
Shella mengangguk pelan, seolah menerima jawaban itu. Tapi matanya masih menyelidik sedikit.
Jam menunjukkan pukul sepuluh malam. Masih lama sampai fase pagi, tapi ia tahu ia tidak boleh berlama-lama. Setiap menit yang ia habiskan sebagai Roxy menambah beban yang suatu hari nanti harus ia hadapi.
"Saya harus pulang," ucapnya pelan.
Shella mengangguk, sedikit kecewa tapi tetap tersenyum. "Aku juga. Terima kasih ya, Roxy. Malam ini bener-bener ngebantu aku."
"Sama-sama. Kalau butuh didengarkan lagi, saya ada di sini," jawabnya tulus.
Mereka berjalan keluar bersama. Udara malam terasa sejuk. Shella berhenti di dekat pintu mobilnya, lalu menoleh kembali.
"Besok... atau kapan pun. Boleh kita ketemu lagi? Aku belum selesai cerita," ucapnya, sedikit ragu tapi matanya memohon persetujuan.
"Aku akan usahakan," jawab Roxy.
Shella tersenyum lebar, lalu masuk ke mobil dan melaju pergi. Roxy berdiri sejenak, menatap mobilnya yang menjauh.
DING!
Kedekatan dengan Shella naik.
Sekarang: 18% (+2%)
Sumber: Undangan bertemu kembali.
Catatan: Perhatikan pola interaksi di fase siang sebagai Maxy.
Roxy masuk ke mobil, menyetir perlahan. Angka 18% itu terlihat kecil, tapi setiap kenaikannya bukti bahwa hubungan ini tumbuh. Tapi pertanyaan besarnya tetap sama — Shella menaikkan angka itu untuk siapa? Roxy? Atau ada bagian kecil yang juga untuk Maxy?
Ia sampai di rumah, memarkir mobil, lalu duduk sejenak di tepi ranjang.
Besok pagi ia kembali jadi Maxy. Dan ia harus tahu — apakah kedekatan ini juga bertahan saat ia bukan sosok yang karismatik dan penuh jawaban?
Jam menunjukkan pukul enam kurang sepuluh menit pagi. Ia menunggu.
DING!
FASE BERGANTI
Mode malam berakhir. Mode siang dimulai.
Akses dana sistem ditutup.
Penampilan kembali ke wujud asli.
Kedekatan dengan Shella tetap tercatat. Sekarang: 18%.
Maxy menghela napas, lalu bangkit bersiap ke kantor. Kali ini ia akan tahu — apakah angka 18% itu nyata, atau cuma berlaku untuk Roxy saja.
Sesampainya di kantor, ia berjalan menuju mejanya. Beberapa menit kemudian, Shella lewat. Ia berhenti sejenak di samping meja Maxy.
"Pagi, Maxy."
"Pagi, Shella," jawabnya, berusaha tenang.
Shella menatapnya sejenak, senyumnya lebih lembut dari biasanya. "Kamu kelihatan... lebih segar hari ini. Tidur cukup ya?"
"Ah, iya. Lumayan," jawabnya, jantungnya berdebar.
"Bagus deh. Kalau nanti siang, kita makan bareng lagi ya? Aku traktir," ucap Shella sebelum melangkah pergi.
Maxy menatap punggungnya yang menjauh, tertegun.
DING!
Kedekatan dengan Shella naik.
Sekarang: 20% (+2%)
Sumber: Inisiatif interaksi di fase siang.
Maxy menahan senyum yang hampir muncul di wajahnya. Angka itu naik — sebagai Maxy. Bukan cuma sebagai Roxy.
Artinya... ada harapan. Bukan cuma untuk sosok yang ia ciptakan. Tapi untuk dirinya juga.
Tapi 20% masih jauh dari cukup. Dan semakin tinggi angkanya, semakin berat kalau rahasia ini terbongkar sebelum waktunya.
Aku harus berhati-hati. Setiap langkah, setiap kata, setiap pertemuan — semuanya berpengaruh. Dan ia belum tahu berapa persen yang dibutuhkan supaya kebenaran bisa diterima tanpa menghancurkan semuanya..