NovelToon NovelToon
Bunga Terakhir

Bunga Terakhir

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Nikahmuda / Rumah Tangga
Popularitas:316
Nilai: 5
Nama Author: Idents

Arhan Hamid harus belajar kehilangan, padahal ia belum pernah siap.

Satu kalimat dari dokter meruntuhkan seluruh dunianya — usia Anya, istrinya, tinggal 30 hari. Karena kanker.

Sejak hari itu, Arhan memilih memikul semuanya sendirian. Di depan Anya, ia tetap menjadi suami yang utuh. Yang tertawa paling keras, yang membuatkan teh paling hangat, yang mencintai lebih dari separuh jiwanya sendiri.

Padahal di dalam dadanya, ia hancur pelan-pelan.

Ia menutupi air mata dengan tawa. Menutupi takut dengan doa-doa yang ia bisikkan diam-diam setiap malam.

Mampukah Arhan tetap kuat ketika waktu terus menghitung mundur?

Dan di antara 30 hari yang tersisa, mungkinkah semesta masih menyisakan satu keajaiban untuk mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Idents, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3

"Han... gimana kondisi Anya kata dokter?"

Pertanyaan itu menggantung di udara ruangan nomor 302.

Anya yang berbaring di ranjang mungkin tidak menyadari betapa beratnya pertanyaan itu. Bagi Anya, itu hanya pertanyaan seorang ibu yang khawatir. Tapi bagi Arhan, pertanyaan yang sama untuk kedua kalinya dalam sepuluh menit itu terasa seperti palu yang menghantam tempat yang sama berulang-ulang.

Arhan terdiam. Beberapa detik yang terasa sangat panjang.

Ia menatap Ibu Soraya. Mata wanita paruh baya itu penuh harap, penuh cemas, menatapnya seolah Arhan adalah satu-satunya sumber jawaban yang bisa menenangkannya.

Di belakang, Anya juga menatapnya. Menunggu.

Arhan menarik napas dalam-dalam. Ia harus mengulang kebohongan yang sama. Kebohongan yang baru saja ia ceritakan kepada istrinya sendiri.

"Sudah stabil, Bu," Arhan akhirnya bersuara, ia memaksakan suaranya terdengar ringan dan tenang.

"Kata Dokter Rendra, kondisi Anya stabil. Jadi... boleh pulang hari ini. Lebih baik rawat jalan di rumah aja, biar Anya lebih nyaman. Biar nggak stres di rumah sakit terus."

Ia melihat wajah Ibu Soraya. Kerutan di dahi wanita itu perlahan mengendur. Bibirnya yang tadi mengatup tegang, kini sedikit terangkat.

"Ya Tuhan, syukurlah," Soraya mengusap dadanya. "Stabil ya? Berarti kemonya berhasil, Han?"

Arhan mengangguk cepat, terlalu cepat.

"Iya, Bu. Dokter bilang begitu. Makanya boleh pulang. Nanti perawatnya yang akan datang ke rumah setiap hari."

Itu cukup. Itu cukup untuk membuat seorang ibu bernapas lega.

"Syukurlah... syukurlah," Soraya berbalik menuju ranjang putrinya, meraih tangan Anya dan mengecup punggungnya lama. "Dengar itu, Sayang? Kamu boleh pulang, Nak. Kamu boleh pulang."

Anya tersenyum mengangguk. "Iya, Ma. Anya juga seneng banget."

Soraya lalu melihat tas besar yang hampir penuh di samping Arhan. Tanpa diminta, ia langsung bergerak membantu.

"Sini, Mama bantuin beresin, Han. Pasti berat."

Arhan dengan lembut menahan tangan mertuanya itu.

"Jangan, Bu. Nggak usah. Biar Arhan aja."

"Lho, nggak apa-apa, Han. Bareng-bareng biar cepet..."

Arhan tersenyum, senyum yang ia buat setulus mungkin. Ia menepuk pelan punggung tangan Ibu Soraya.

"Nggak apa-apa beneran, Bu. Arhan aja yang beresin. Ibu temenin Anya aja di sini ya. Ajak ngobrol. Kasian dia bosen dari tadi di kamar terus. Biar Arhan yang ngurus semua sampai beres."

Nada suaranya lembut, tapi tegas. Ia tidak ingin ada orang lain yang tanpa sengaja membuka map cokelat di dasar tas itu. Map yang berisi surat keterangan dan prognosis yang sebenarnya.

Soraya menatap menantunya itu sejenak. Ada rasa haru melihat betapa cekatan dan bertanggung jawabnya Arhan.

"Han. Kamu ini... suami yang baik banget ya. Anya beruntung punya kamu."

Kata-kata itu seperti sembilu. Arhan hanya bisa menunduk, tak sanggup membalas pujian itu.

Ia kembali menyibukkan diri. Memeriksa kembali barang-barang, lalu menutup resleting tas dengan kuat, memastikan semuanya aman. Ia mengangkat tas jinjing yang cukup berat itu ke pundaknya.

"Aku urus administrasi nya dulu ya, An? Ma?" tanyanya.

"Iya, Han," jawab Anya.

"Ya udah, kalian tunggu di sini dulu ya. Arhan ke bawah sebentar. Ngurus administrasi pulang sama pesen taksi. Sebentar aja, nggak lama."

Anya mengangguk. "Hati-hati ya, Han."

"Iya, sayang."

Arhan keluar dari ruangan itu dengan langkah cepat. Begitu pintu tertutup di belakangnya, punggungnya ia sandarkan ke dinding koridor. Ia memejamkan mata.

Hanya beberapa detik ia memberi dirinya waktu untuk menjadi Arhan yang hancur, sebelum ia kembali menjadi Arhan yang kuat.

Di bagian administrasi lantai satu, prosesnya tidak terlalu lama. Petugas memberikan rincian biaya, Arhan membayar dengan kartu debitnya tanpa banyak bertanya. Lalu seorang perawat menyerahkan sebuah amplop putih kepadanya.

"Ini jadwal kunjungan perawat home care untuk Ibu Anya ya, Pak Arhan. Besok pagi jam delapan perawat kami akan datang ke rumah untuk pertama kali. Ini juga daftar obat-obatan yang harus diminum, dan nomor telepon saya kalau ada keadaan darurat."

Arhan menerima amplop itu. Tangannya sedikit gemetar saat menyimpannya.

"Terima kasih, Suster."

Selesai urusan administrasi, ia memesan taksi online. Taksi akan sampai dalam tujuh menit.

Ia kembali naik ke lantai tiga. Di dalam ruangan, Anya sudah duduk di tepi ranjang dengan bantuan ibunya. Kakinya sudah memakai sandal. Wajahnya terlihat bersemangat, meski napasnya masih sedikit memburu.

"Udah beres, Han?" tanya Soraya.

"Udah, Bu. Taksinya udah di bawah. Kita pelan-pelan aja jalannya ya, An."

"Aku mau jalan kaki aja, Han. Nggak mau pakai kursi roda. Aku kuat kok." Pinta Anya.

Arhan menatap Soraya. Ibu mertuanya itu mengangguk pelan. Tanda untuk menyetujui permintaan Anya.

Arhan meletakkan tasnya, lalu berjongkok di depan Anya. Dengan sangat hati-hati, ia membantu Anya berdiri. Tubuh Anya terasa begitu ringan, hampir tidak ada bobotnya. Soraya membantu dari sisi sebelahnya, memapah lengan Anya.

Mereka bertiga berjalan pelan menyusuri koridor rumah sakit. Langkah Anya pendek dan tertatih. Setiap beberapa langkah ia harus berhenti untuk mengatur napas. Arhan dan Soraya tidak mengeluh, mereka menyesuaikan langkah mereka dengan langkah Anya.

Perjalanan dari ruangan ke lobi, yang biasanya hanya butuh satu menit, kini terasa seperti sepuluh menit.

Taksi sudah menunggu di depan lobi. Sopir taksi yang ramah membantu memasukkan tas ke bagasi.

Arhan membantu Anya masuk ke jok belakang, lalu Soraya duduk di sebelah putrinya. Arhan duduk di depan, di samping sopir.

Sepanjang perjalanan pulang, tidak ada yang banyak bicara. Anya menyandarkan kepalanya di bahu ibunya, menatap keluar jendela. Melihat jalanan sore yang ramai, melihat anak-anak pulang sekolah, melihat penjual makanan di pinggir jalan. Hal-hal biasa yang tiba-tiba terasa sangat dirindukan.

Setelah sekitar dua puluh menit, taksi itu berhenti di depan sebuah rumah kecil dengan pagar hitam dan taman samping yang sedikit berantakan karena beberapa hari tidak dibersihkan.

Rumah mereka.

"Akhirnya, kita sampai," kata Soraya pelan.

Arhan turun, membayar taksi, dan kembali membantu Anya keluar. Dengan dipapah berdua, Anya akhirnya menginjakkan kakinya kembali di teras rumahnya sendiri.

Ia tersenyum. Dalam.

"Akhirnya... pulang."

Arhan membuka kunci pintu. Debu tipis terlihat menari-nari di udara sore yang masuk.

"An, kamu duduk di ruang tamu dulu ya sama Mama. Biar Arhan ke kamar dulu, beresin kasur sama buka jendela. Biar nggak pengap. Sebentar aja."

"Iya, Han," Anya mengangguk patuh. Soraya menuntunnya untuk duduk di sofa ruang tamu yang empuk.

Arhan menarik tasnya dan berjalan cepat menuju kamar tidur utama mereka. Ia membuka pintu kamar.

Kamar itu masih sama seperti saat mereka tinggalkan beberapa hari lalu. Selimut masih sedikit berantakan, ada buku bacaan Anya yang masih terbuka di atas nakas.

Arhan meletakkan tas di lantai. Ia berjalan ke jendela, membukanya lebar-lebar. Angin sore masuk, menggoyangkan gorden.

Ia berbalik menuju kasur. Ia menarik selimut, hendak merapikannya untuk Anya.

Dan di sanalah, di tengah kesunyian kamar mereka, di antara bau guling mereka yang masih tertinggal, pertahanan yang ia bangun dengan susah payah sejak dari ruang dokter tadi, akhirnya runtuh.

Tanpa suara, tanpa isak, air mata Arhan kembali memaksa untuk keluar. Deras. Panas. Mengalir di pipinya dan jatuh ke atas seprai yang hendak ia rapikan untuk istrinya yang hanya punya waktu tiga puluh hari.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!