menikahi musuh? itu biasa.
menikahi sahabat masa kecil karena takut sial? itu baru bencana.
Baffin yang dingin dan serba rapi sangat membenci segala bentuk kekacauan. Sialnya, hidupnya selalu diacak-acak oleh Silva, sahabat masa kecilnya yang super ceroboh dan pembawa bencana.
Tepat di hari ulang tahun mereka yang ke-17, keduanya mendapat kejutan tak terduga: mereka dipaksa bertunangan karena sebuah mitos kuno. Konon, karena lahir di hari dan jam yang sama, menolak perjodohan ini akan mendatangkan kutukan kesialan seumur hidup.
Baffin tentu saja menolak mentah-mentah takhayul itu. Namun, Silva yang ketakutan setengah mati justru bertekad melakukan segala cara agar cincin pertunangan itu terpasang di jari Baffin—meski ia harus memecahkan lebih banyak piring dan terjungkir dari kursi demi mengejarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon whimsy quinn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Drama Queen Di Bawah Konter
"Ayo masak," ajak Baffin, memecah keheningan di antara mereka.
Silva menoleh, menatap pemuda itu dengan kening berkerut. "Bunda sama ayah kamu di mana?"
"Bunda di kamar. Ayah belum pulang," jawab Baffin singkat.
Mendengar situasi aman, Silva akhirnya mengangguk. Mereka berdua melangkah ke dapur yang bersih dan rapi. Pandangan Silva langsung menyapu sekeliling, mencari bahan utama yang bisa diolah dengan cepat.
"Ada nasi, kan?" tanya Silva.
Baffin tidak menjawab lewat kata-kata. Jari telunjuknya mengarah pada sebuah magic com di sudut konter dapur. Langkahnya mendekat, lalu membuka tutup rice cooker tersebut untuk memperlihatkan isinya pada Silva.
Namun, Baffin menyipitkan mata saat menyadari Silva justru terdiam sambil menatap nasi itu dengan pandangan menilai yang intens.
"Kenapa?" tanya Baffin bingung.
"Mau lihat, nasinya cocok buat bikin nasi goreng atau enggak," gumam Silva pelan.
Baffin menaikkan sebelah alisnya. "Emang yang cocok kayak gimana?"
"Yang teksturnya agak kering. Atau kalau enggak, nasi sisa kemarin."
"Hah?" Baffin melongo kecil, baru tahu ada teori seperti itu.
Silva mendengus melihat reaksi tunangan dadakannya itu. "Iya, beneran. Kalau nasinya terlalu lembek, nanti nasi gorengnya jadi menggumpal dan enggak enak."
Baffin memperhatikan nasi di dalam wadah sekali lagi. "Jadi, ini cocok enggak?"
Silva mengambil sendok nasi, lalu mengaduk-aduknya perlahan untuk merasakan teksturnya. "Cocok. Ini kamu mau seberapa banyak?"
Baffin melangkah mendekat, berdiri cukup dekat di samping Silva. "Masak semua aja. Kalau enggak habis, nanti bisa dikasih ke ayah kamu."
Mendengar itu, Silva langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Jangan! Kalau dikasih ke ayahku, nanti bunda bisa tahu kalau aku habis masak di rumah orang lain."
Baffin hanya berdecak pasrah. "Ya sudah, terserah kamu saja."
"Semua aja kali, ya? Biar puas," gumam Silva bertekad.
Baffin kembali berdecak, tapi sudut bibirnya kedutan menahan senyum melihat tingkah gadis di depannya.
Proses memasak pun dimulai. Silva mendadak menjadi sangat berhati-hati. Pergerakannya melambat dan penuh perhitungan.
Sangat kontras dengan kebiasaan aslinya jika memasak di rumah sendiri—yang biasanya super chaos, grasak-grusuk, hingga membuat minyak dan kecap tumpah ke mana-mana.
Sambil memegang spatula, sesekali Silva menunjuk barang-barang atau wadah bumbu yang sudah tidak ia pakai menggunakan dagunya. "Apin, tolong kembalikan itu ke rak." Atau, "Apin, tolong sekalian cuci mangkuk yang itu, ya."
Baffin menurut tanpa protes. Meskipun cowok itu sibuk membereskan dapur dan mencuci peralatan yang kotor, pandangannya tidak pernah benar-benar lepas dari Silva. Ia terus memperhatikan bagaimana gadis itu bergerak.
Rambut Silva yang dicepol asal-asalan menggunakan jedai, menyisakan beberapa anak rambut yang membingkai wajah polosnya. Ditambah celemek berukuran agak besar yang membungkus tubuh mungil gadis itu.
Manis? Iya! Cantik? Iya! Eh-
Baffin tersentak, lalu menggelengkan kepalanya dengan kuat. Ngapain juga malah bengong merhatiin tunangan dadakan kayak dia? Baffin merutuki pikirannya sendiri.
Setelah nasi gorengnya matang dan mengeluarkan aroma gurih yang menggugah selera, Silva beralih menceplok telur sebagai pelengkap. "ambil dua piring," perintah Silva tanpa menoleh.
Namun, tepat saat nasi goreng siap disajikan, keheningan rumah itu pecah. Terdengar suara pintu depan terbuka, disusul suara langkah kaki yang anggun menuruni anak tangga.
Jantung Silva berdegup kencang. Tamat sudah. Itu pasti suara Ayah dan Bundanya Baffin!
Tanpa berpikir dua kali, dalam mode panik tingkat dewa, Silva langsung melompat dan menyelinap masuk ke dalam lemari penyimpanan bawah konter dapur yang cukup besar.
Baffin tertegun. Ia menatap lemari itu dengan pandangan tidak percaya sekaligus bingung. Belum sempat ia menarik Silva keluar, dua suara berbeda sudah terdengar memasuki area dapur.
"Tumben kamu di rumah, Fin?"
"Wah, masak apa ini? Wanginya enak banget!" Ujar Gilda mencium aroma yang begitu menggugah selera. Bahkan mungkin bisa membangunkan orang tidur.
Gilda, Ibunda Baffin, menoleh ke arah suaminya sambil terkekeh karena ucapan mereka saling bertabrakan. "Eh, Ayah sudah pulang. Sudah makan belum?"
Raymon, sang Ayah, menggelengkan kepalanya sambil melepas jas kerja. Matanya langsung tertuju pada piring di atas konter. "Kamu makan apa? Bagi Ayah lah."
Raymon menghampiri putranya yang masih berdiri mematung. "Nasi goreng," gumam Raymon. Tanpa meminta izin lebih lanjut, ia langsung mengambil sendok dan mencicipi suapan pertama.
Pada kunyahan ketiga, mata Raymon tiba-tiba membola sempurna. Ia menatap Baffin dengan pandangan menyelidik. "Kamu yang masak ini, Fin?"
Dengan wajah sedatar tripleks dan ekspresi enteng, Baffin mengangguk. "He-eh."
Dari celah kecil lemari yang sengaja dibikin terbuka sedikit untuk jalur udara, Silva membelalakkan mata. Jari-jarinya meremas spatula yang masih dipegangnya erat. Dasar cowok pencuri resep! batin Silva berteriak kesal.
"Tuh, kalau Ayah mau, masih banyak di wajan," lanjut Baffin santai sambil menunjuk ke arah kompor.
Baffin kemudian membawa piringnya menuju meja makan.
Sebelum duduk, ia sempat melirik sekilas ke arah lemari bawah yang gelap. Baffin tidak bisa melihat wajah Silva, tetapi ia bisa merasakan hawa kemarahan dan tatapan penuh harap dari dalam sana. Silva pasti berharap Baffin akan segera menyingkirkan orang tuanya agar dia bisa keluar.
Alih-alih membantu, Baffin justru melempar senyum miring nan mengejek, seolah memberi kode lewat tatapan mata: Lagian, siapa suruh ngumpet di situ? Rasain.
Gilda berjalan mendekati suaminya yang masih asyik mengunyah. "Enak nasi gorengnya, Yah?"
Raymon mengangguk dengan tegas tanpa ragu. "Enak. Enak banget! Tapi... ini beneran kamu yang masak, Fin?"
Gilda langsung mendengus mendengar pertanyaan suaminya. "Sejak kapan anakmu itu bisa masak, Yah? Ini aromanya mirip banget sama nasi goreng yang pernah Silva kasih ke kamu waktu itu. Pasti Silva yang masak, kan?"
Baffin hanya mengedikkan bahunya acuh tak acuh. Ia duduk dan mulai menyuap nasi goreng ke dalam mulutnya.
Setelah beberapa kunyahan, mata Baffin sendiri sedikit membola. Ini adalah kali ketiga ia memakan masakan Silva, dan lagi-lagi ia harus mengakui dalam hati bahwa rasa makanan gadis itu benar-benar mewah dan tidak murahan.
"Terus, kalau ini Silva yang masak, anaknya mana sekarang?" tanya Raymon penasaran, lalu membawa piring nasi gorengnya ke meja makan untuk bergabung dengan putranya.
Gilda yang semakin penasaran akhirnya ikut mengambil piring, menyendok sedikit nasi goreng Silva dari wajan, dan ikut duduk di meja makan. Begitu suapan pertama masuk ke mulutnya, mata Gilda ikut membola. "Mmmh! Enak banget!"
"Ini beneran Silva yang bikin, Fin? Mana dia?" tanya Raymon lagi, masih tidak percaya anak kulkasnya bisa menghasilkan makanan sekelas restoran.
"Itu Bunda yang bilang, bukan aku," sahut Baffin retoris.
Gilda menimpali, "Sudah pasti Silva yang masak, Yah. Enggak mungkin Baffin. Selain nasi goreng ini, dia bisa masak apa lagi?"
"Ini doang," jawab Baffin datar. "Itu juga gak boleh masak sama bundanya. Soalnya kalau masak pasti chaos. Makanya masak disini."
"Berarti bener dia yang masak! Kamu dari tadi ditanyain malah diam aja," gerutu Raymon kesal, rasanya ingin menjitak kepala anaknya yang super irit bicara itu.
Mereka bertiga akhirnya makan dengan santai sambil mengobrol ringan. Di sisi lain dapur, dalam lemari yang sempit dan pengap, Silva terus menatap Baffin penuh harap lewat celah kecil. Usir orang tua kamu, Apin! Please! jerit Silva dalam hati.
Namun, Baffin yang menyadari tatapan itu hanya melirik sesekali sambil menahan tawa mengejek. Benar-benar menyebalkan!
Karena Gilda hanya mengambil porsi sedikit, wanita itu menjadi orang pertama yang selesai makan. Ia beranjak berdiri untuk mencuci piringnya di wastafel. Saat berbalik, matanya melirik ke arah wajan yang isinya masih cukup banyak.
"Ini Silvanya sudah makan belum, Fin?" tanya Gilda.
"Nanti aku anterin ke rumahnya," jawab Baffin santai.
"Sekarang ajalah. Biar Bunda yang anterin langsung ke rumah sebelah," cetus Gilda bersemangat.
Mendengar kalimat itu, Silva yang berada di dalam lemari langsung mendelik panik. JANGAN! Kalau Tante Gilda yang mengantar, pasti bundanya Silva yang akan membukakan pintu.
Kalau sampai bundanya tahu Silva habis masak di rumah Baffin, rahasianya bisa terbongkar dan ia pasti akan diomeli habis-habisan. Enggak bisa! Ini enggak bisa dibiarin!
Silva melirik Baffin, berharap cowok itu melarang bundanya. Namun, Baffin justru diam saja dan tampak menikmati kepanikan Silva dari jauh. Cowok menyebalkan itu jelas tahu apa yang ada di otak Silva saat ini.
"Jangaaan!"
"Eh, monyet! Eh, monyet!" jerit Gilda spontan karena terkejut setengah mati.
Piring yang dipegangnya hampir saja meluncur jatuh. Bagaimana tidak? Secara tiba-tiba, lemari bawah konter dapur terbuka dengan gebrakan keras, dan Silva merangkak keluar dari sana sambil berteriak.
Gadis itu berdiri tegak, masih mengenakan celemek besar dengan tangan kanan yang memegang spatula erat-erat seperti prajurit siap perang.
Raymon yang sedang asyik mengunyah bahkan sampai tersedak saking kagetnya melihat kemunculan Silva yang seperti hantu dapur.
Wajah Silva langsung berubah polos tanpa dosa dalam sekejap. Gilda terdiam cukup lama, matanya berkedip beberapa kali, mencoba mencerna situasi absurd yang baru saja terjadi di dapurnya.
Setelah kesadarannya kembali penuh, baru wanita itu membuka suara. "Silva... kok kamu bisa ada di dalam situ, Sayang?"
Tanpa rasa bersalah sama sekali, jari mungil Silva yang bebas langsung menunjuk lurus ke arah Baffin. "Dia yang maksa, Tante."
UHUK!
Sekarang gantian Baffin yang tersedak nasi gorengnya sendiri sampai wajahnya memerah.
Gilda langsung memutar tubuhnya, menatap putranya dengan pandangan tajam penuh kilat kemarahan. "Kenapa kamu nyuruh Silva sembunyi di tempat sempit dan gelap kayak gitu, Baffin?!" nadanya meninggi, jelas merasa gusar.
Sebelum Baffin sempat membela diri, Silva sudah memotong dengan suara yang dibuat selembut dan setertindas mungkin. "Katanya... kalau Om sama Tante lihat dapurnya berantakan dan tahu itu Silva yang bikin, Silva bakal dimarahin habis-habisan. Terus katanya, nanti pertunangan kami bakal dibatalin. Silva kan enggak mau sial, jadi Silva nurut aja masuk ke dalam sana."
Baffin menatap Silva dengan pandangan tidak percaya. Rahangnya hampir jatuh. Gadis ini benar-benar pintar mengarang cerita! batin Baffin syok.
Dan ternyata, drama Silva belum berakhir. Gadis itu menundukkan kepalanya dalam-dalam, meremas ujung celemeknya dengan gestur tubuh yang sangat meyakinkan. "Tapi... kayaknya sebenarnya Baffin sengaja lakuin itu biar Silva kesal, terus Silva sendiri yang minta tunangannya dibatalin. Tante kan tahu sendiri, Baffin dari awal enggak mau tunangan sama Silva..."
"Dia bohong, Bunda!" elak Baffin cepat dengan suara serak karena emosi dan sisa tersedak tadi.
Namun, Silva justru memasang ekspresi semakin sedih. Ia mengerucutkan bibirnya sedikit, seolah-olah ia adalah korban penindasan yang paling malang di dunia ini. Baffin benar-benar tidak percaya dengan apa yang sedang disaksikannya. Di balik wajahnya yang polos dan kelakuannya yang ajaib, ternyata Silva adalah seorang drama queen kelas kakap!
Gilda yang melihat ekspresi sedih Silva langsung merasa hatinya tersentuh dan luluh. Ia segera melangkah mendekati Silva, mengelus rambut gadis itu dengan penuh kasih sayang untuk menenangkannya. "Tante minta maaf ya, Sayang... Maaf karena Baffin sudah nyusahin dan jahat sama kamu. Tante janji, setelah ini Tante bakal hukum dia."
Silva tersenyum tipis dalam tundukannya. Menang telak.
Gilda kemudian membalikkan badannya dengan emosi yang masih meluap, siap memberikan omelan maut pada putranya. "Baffin, kamu itu benar-benar—lah? Mana anaknya, Yah?" Kalimat Gilda terputus saat melihat kursi di meja makan sudah kosong melompong.
Raymon yang sejak tadi hanya menonton drama itu dengan mulut setengah terbuka, mengerjapkan mata. "Eh?" Pemuda es itu ternyata sudah kabur menyelamatkan diri tanpa suara sebelum amukan sang bunda meledak.
Gilda menghela napas panjang, lalu kembali menatap Silva dengan senyuman hangat. Ia menarik tangan Silva dengan lembut menuju meja makan. "Ya sudah, lupakan anak nakal itu. Sekarang kamu duduk di sini, kita makan bareng-bareng."
Gilda dan Raymon bergantian memuji bakat memasak Silva. "Nasi goreng kamu ini benar-benar enak banget, Silva. Kamu punya bakat besar," puji Gilda tulus.
"Mulai sekarang, kamu boleh masak sesuka hati kamu di rumah ini. Tante malah senang. Sayang banget kalau bakat masak sekeren ini disia-siakan di rumah karena dilarang bundamu."
Silva tersenyum lebar, menikmati kemenangan manisnya hari ini. Setidaknya, penderitaannya di dalam lemari gelap tadi terbayar tuntas dengan izin memasak gratis dan tambahan poin untuk membuat Baffin menderita.