NovelToon NovelToon
Istri Cadangan Sang Mayor

Istri Cadangan Sang Mayor

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Menikahi tentara / Ibu Tiri
Popularitas:274.8k
Nilai: 5
Nama Author: Mommy Ghina

"Tante Kei, mau nggak jadi mamanya Rafka?"
"What!! Berarti jadi Ibu Persit dong? Dan jadi bini Mayor kaku kayak kanebo?"

Mayor Satria Pramudya, 33 tahun, sudah lima tahun menduda, keluarganya sudah mendesaknya untuk menikah lagi. Sementara, Rafka, anaknya sejak lahir sudah dekat dengan adik istrinya–Keisa Azzura, 21 tahun.

"Dek, kamu yakin Kakak boleh nikah lagi?"
"Ya, boleh lah, masa dilarang. Nanti ularnya bisa karatan loh ... lama-lama menduda. Lagian, Rafka juga butuh sosok ibu."
"Kalau begitu Kakak boleh melamar Adek?"
"Eh, Apa! Maksud Kak Satria gimana?

Keisa tak menyangka kakak iparnya meminang, sedangkan ia sudah punya cowok incaran. Apalagi Satria tidak pernah mengucapkan kata cinta dan ada sesuatu...

Bagaimanakah rumah tangga Satria yang kaku menghadapi Keisha yang barbar? Belum lagi ada rahasia Satria yang tiba-tiba...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy Ghina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30. Perjanjian Dua Hari

Keisha duduk dengan posisi sekaku patung lilin, meremas ujung dasternya sendiri di bawah kolong meja. Ia melirik tajam ke arah Satria, mengirimkan sinyal protes lewat tatapan matanya yang seolah berkata, 'Kakak beneran gila ya jam sembilan pagi bawa rombongan begini?!'. Namun, Satria tetaplah Satria. Pria itu hanya membalas tatapan Keisha dengan ketenangan mutlak yang tak tergoyahkan.

Suasana di dalam ruang tamu itu mendadak berubah menjadi sangat padat ketika Ayah Isa membetulkan posisi duduknya, meletakkan cangkir tehnya secara perlahan di atas meja kaca. Wajah santai paruh bayanya kini berubah menjadi sangat berwibawa, menandakan dimulainya agenda utama kedatangan mereka.

"Mas Farrel, Jeng Dania ...," buka Ayah Isa, suaranya yang berat terdengar memenuhi seluruh penjuru ruangan yang mendadak hening senyap. "Kedatangan kami sekeluarga jam sembilan pagi ini, selain untuk menyambung tali silaturahmi yang tidak boleh putus setelah almarhumah Vania tiada ... juga membawa sebuah amanah dan niat yang teramat suci dari anak laki-laki saya, Satria."

Keisha menahan napasnya rapat-rapat, jantungnya serasa berhenti berdetak selama beberapa detik.

Ayah Isa melirik ke arah Satria yang memberikan anggukan kecil yang sangat tegas penuh keyakinan, lalu kembali menatar orang tua Keisha. "Semalam, Satria sudah menyampaikan kepada kami secara terbuka mengenai isi hatinya. Dan pagi ini, di hadapan Mas Farrel dan Jeng Dania secara resmi ... kami selaku orang tua ingin melamar anak bungsu kalian, Keisha, untuk menjadi istri dari anak kami, Satria, sekaligus menjadi ibu baru yang sah bagi cucu kita, Rafka."

Bleg.

Dunia Keisha rasanya bener-bener runtuh dan berputar balik seketika mendengar kalimat lamaran resmi yang meluncur lancar dari mulut ayah kandung Satria di depan seluruh pasang mata. Fungsi otaknya resmi korslet total tingkat nasional.

Keisha yang merasa dirinya disudutkan langsung membuka mulutnya, bersiap untuk melayangkan protes barbarnya demi menyelamatkan kebebasannya. "Tapi Ayah, Bapak ... Keisha kan kemarin udah bilang kalau—"

Belum sempat kalimat penolakan Keisha selesai meluncur, sepasang mata hitam pekat milik Mayor Satria langsung memicing tajam ke arahnya. Tatapan mata pria itu begitu intens, pekat, dan memancarkan aura komando mutlak yang seolah mengunci seluruh pita suara Keisha dalam hitungan detik. Keheningan dingin yang keluar dari tubuh tegap berseragam Mayor itu seolah memberi peringatan tak kasat mata agar Keisha tidak membuat keributan di depan para tetua.

Keisha menelan ludah dengan susah payah, giginya bergelatuk gemas karena mati kutu di bawah kendali ketenangan sang Mayor.

***

Detak jam dinding di ruang tamu kediaman keluarga Farrel seolah berdentang dua kali lebih keras di tengah keheningan yang mencekam. Kalimat lamaran dari Ayah Isa masih menggantung di udara, menyisakan Keisha yang duduk mematung dengan otak yang benar-benar korslet total. Tatapan mata Satria yang tajam dan pekat menguncinya, membuat bantahan yang sudah di ujung lidah terpaksa tertelan kembali ke tenggorokan.

Ayah Farrel berdeham pelan, memecah ketegangan. Ia melirik anak bungsunya yang wajahnya sudah merah padam antara malu dan kesal, lalu beralih menatap mantan besannya dengan senyum bijak.

"Mas Isa, Jeng Reni," buka Ayah Farrel dengan suara beratnya yang tenang. "Jujur saja, sebagai orang tua, saya dan Jeng Dania tentu merasa sangat terhormat dengan niat baik Satria dan kehadiran rombongan resmi pagi ini. Satria sudah kami anggap seperti anak sendiri. Tapi, seperti yang saya sampaikan pada Satria kemarin sore, keputusan akhir tetap berada di tangan Keisha. Bagaimanapun, dia yang akan menjalani lembaran hidup baru ini."

Bu Reni mengangguk maklum, senyum keibuannya merekah teduh. "Tentu, Mas Farrel. Kami sangat paham. Menikah dengan seorang prajurit itu bukan perkara mudah, apalagi untuk anak muda seperti Keisha. Kami tidak akan memaksanya memberikan jawaban detik ini juga."

Ayah Isa ikut menimpali, "Benar. Kami sepakat memberikan waktu dua hari untuk Keisha berpikir dengan tenang. Dua hari dari sekarang, kami akan datang kembali untuk mendengarkan keputusan resminya. Bagaimana, Keisha?"

Semua pasang mata di ruangan itu kembali tertuju pada Keisha. Merasa diberi ruang napas, Keisha buru-buru menegakkan punggungnya. Sebelum matanya tidak sengaja bentrok lagi dengan tatapan mengintimidasi milik Satria, ia langsung mengangguk cepat.

"I-iya, Bapak. Dua hari. Keisha minta waktu dua hari buat ... buat mikir," jawab Keisha dengan nada suara yang diusahakan se-normal mungkin, meski jiwanya di dalam hati sedang menjerit absurd.

"Ya sudah, kalau begitu urusan resmi kita kunci dulu sampai lusa," ucap Ayah Farrel lega. "Sekarang, mari dinikmati beberapa kudapan, pisang goreng dan teh hangatnya."

Di tengah riuhnya obrolan para orang tua yang mulai mencair membahas masa lalu, Keisha merasa dadanya kian sesak. Suasana di ruang tamu itu mendadak terasa terlalu padat untuk kewarasannya. Apalagi, ia bisa merasakan sepasang mata milik Ingrid—yang hari ini tampil anggun dengan blus sopan—sesekali meliriknya dengan tatapan penuh selidik dari atas sampai bawah.

"Ayah, Ibu, Bapak, Ibu Reni ... Keisha izin ke belakang sebentar ya, mau ... mau bantu Bibi menyiapkan camilan tambahan," pamit Keisha dengan senyum yang dipaksakan.

Tanpa menunggu jawaban, gadis itu langsung bangkit dari sofa dan melangkah cepat menuju area dapur belakang. Begitu kakinya menapak di ubin dapur yang sejuk dan tersembunyi dari pandangan ruang tamu, Keisha langsung bersandar pada konter kompor, memegangi dadanya yang berdegup ugal-ugalan.

"Gila! Beneran gila si Mayor es balok! Bisa-biasanya dia membawa rombongan lengkap pagi-pagi begini!" gerutu Keisha setengah berbisik sembari mengacak rambut cepolannya dengan absurd. "Dua hari? Mana cukup buat mencuci otak gue yang udah telanjur korslet!"

Baru saja Keisha hendak mengambil napas dalam-dalam untuk menenangkan diri, suara ketukan alas kaki yang halus terdengar melangkah masuk ke area dapur. Keisha menoleh cepat. Ingrid berdiri di ambang pintu dapur, membawa dua gelas kosong di atas nampan kecil, melangkah masuk dengan gerakan yang teramat tertata rapi.

"Permisi, Keisha," sapa Ingrid dengan nada suara yang teramat lembut, mendayu-dayu, dan dipenuhi kesopanan yang tampak sangat terlatih. "Ini saya antarkan gelas kosong ke belakang sekalian mau membantu."

Keisha menyengir kikuk, sifat barbarnya mendadak memasang mode waspada. "Eh, iya, taruh di meja situ aja, Mbak. Enggak usah repot-repot, ada Bibi kok."

Ingrid meletakkan nampannya perlahan, lalu membalikkan tubuh menghadap Keisha. Ia tidak langsung pergi, melainkan menyandarkan tangannya di pinggiran meja dapur, menatap Keisha dengan senyuman manis yang anehnya tidak sampai ke matanya. Sepasang mata indah Ingrid berkilat tajam, memancarkan sinyal rivalitas tak kasat mata.

"Wah, rumah ini asri sekali ya, Keisha. Sangat hangat," puji Ingrid berbasa-basi, sebelum nadanya berubah menjadi lebih personal. "Oh iya, omong-omong ... mungkin Bude Reni belum sempat cerita kepadamu. Mulai kemarin sore, saya sudah resmi tinggal di rumah pribadi Kak Satria."

Keisha mengerutkan keningnya heran. "Tinggal di rumah Kak Satria?"

Bersambung...

1
Dina Okta
waalaikumsalam wah ini genre terbaru mommy gina😁
yuni ati
Inggid gigit jari🤭
yuni ati
Satria luar biasa👍
Teh Euis Tea
syukurinnnnn udah ga ada celah buat km ingrid bu reni udah berpuhak sm keusha
Zalmah Adiwi
👍👍👏👏sdh dpt sekutu dr mertua..🥰🥰🥰
Zalmah Adiwi
si ular berbisa bikin ulah lg..🤣🤣
Ruwi Yah
ditunggu bab selanjutnya
Ruwi Yah
mungkin kecebong satria udah tumbuh di rahim keisha
Nar Sih
kasihan ingrid🤣🤣sdh di tolak mentah,,oleh ibu nya satria jht sih
Nar Sih
sip 👍👍satria ,ditunggu pulang nya stlh selesai tugas negara cpt cri tau biang kerok yg sdh bikin istri kecil mu nangis
Nar Sih
sedih ya satria ,mesti nahan rindu berat ,sama,,kangen rsa nya pasti tersiksa,sabarr ya
Mutaharotin Rotin
🌹🌹🌹
Engkar Sukarsih
kacau... kacau....silampir🤣🤣🤣
Engkar Sukarsih
jangan di dengerin Mak Lampir Inggrid ngomong Keysa,anggap aja angin lalu 🙄🙄🙄
Engkar Sukarsih
rindu aku.. rindu kamu...cinta kita Keysa 🥰🥰🥰🥰
Mutaharotin Rotin
🥰🥰🥰 laaannjjuut Mak ghin
Mutaharotin Rotin
🤭🤭🤭🤭🤣🤣 Ayam gosong
Lilis Suryani
siap mommy 👍
Mutaharotin Rotin
😭😭😭😭😭
Mutaharotin Rotin
jangan percaya SM racunnya si ular betina key🥰🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!