Gara gara terlibat balapan liar berujung skandal di ibu kota, Arkananta Dewangga Tuan muda berusia 25 tahun yang tampan, angku, dan gila hormat. Harus menerima hukuman paling gila dalam hidupnya. Sang ayah membekukan fasilitas mewahnya dan membuangnya ke sebuah desa terpencil. Perintahnya mutlak: "Jangan kembali ke Jakarta sebelum bisa hidup mandiri."
Di Desa Sukmawarna, semua uang dan keangkuhan Arkan tidak berlaku, alih-alih hidup manja. ia harus menghadapi di siplin ketat dari Pak Barkah, yang tidak mempan di sogok. Dirumah pedesaan yang sederhana itu, Arkan di paksa turun ke ladang berlumpur jika tidak ingin kelaparan dan tidur di teras bersama nyamuk kebun.
Di tengah siksaan fisik dan kejutan budaya yang menguras emosi, takdir mempertemukannya dengan Nayla Rahmadania, gadis desa lulusan sarjana yang mandiri dan begitu tegas.
sanggupkah sang tuan muda bertahan melewati ujian berat ini, ataukah ia memilih menyerah dan memilih cara untuk kabur kembali ke kemewahan kota?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sibee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11: Pembelaan Sang Tuan Muda dan Pertemuan di Batas Ladang
Keheningan yang mencekam mencengkeram aula Balai Desa. Ibu-ibu kader desa yang tadi sempat termakan hasutan Ratih kini tertunduk dalam, tidak berani mengangkat wajah mereka di hadapan aura dingin yang memancar dari tubuh tegap Arkan. Sementara Ratih masih berdiri mematung dengan wajah pucat pasi. Kotak plastik di tangannya bergetar hebat, mencerminkan ketakutan yang teramat sangat melihat sepasang manik mata cokelat gelap Arkan yang menatapnya lurus-lurus tanpa berkedip.
Arkan melangkah maju. Setiap ketukan langkah sandalnya di atas lantai keramik terdengar bagai vonis yang mengerikan di telinga Ratih. Pria itu berhenti tepat dua langkah di depan Ratih, menatap gadis itu dengan pandangan meremehkan yang amat sangat.
"Ternyata selain tidak tahu sopan santun dan punya aroma parfum yang memuakkan, mulutmu juga sangat kotor ya, Ratih?" suara berat Arkan memecah keheningan, terdengar begitu dingin dan bergema di dalam aula.
"M-Mas Arkan... itu... Ratih tidak bermaksud..." Ratih terbata-bata, mencoba mencari pembelaan diri dengan mata yang mulai digenangi air mata fiktif.
"Diam. Saya tidak mengizinkanmu menyebut nama saya dengan mulut kotormu itu," potong Arkan tanpa kompromi, telunjuk kirinya mengarah tepat ke wajah Ratih. Arkan kemudian mengalihkan pandangannya, menatap ibu-ibu kader desa satu per satu dengan tatapan tegas.
"Kalian semua, dengar baik-baik. Kemarin siang saya yang terpaksa mampir ke rumah Nayla karena saya hampir pingsan kelaparan dan kehausan akibat tidak becus bekerja di ladang. Dan telapak tangan saya ini..." Arkan mengangkat tangan kanannya yang terbalut kain kasa putih, "...melepuh parah. Nayla mengobatinya secara gratis dengan tanaman liar. Dia bahkan tidak sudi menerima uang seratus ribu terakhir di dompet saya."
Arkan kembali menghujamkan tatapannya pada Ratih yang kini semakin gemetar. "Jadi, kalau ada perempuan kegatelan dan murahan di desa ini yang rela melakukan apa saja demi mengemis perhatian dari pria kota kaya raya, orang itu adalah kamu, Ratih. Bukan Nayla. Mengerti?"
Plak.
Kata-kata tajam Arkan bagaikan tamparan tak kasat mata yang menghancurkan seluruh harga diri Ratih sebagai kembang desa di depan warga. Air mata Ratih yang semula dibuat-buat kini benar-benar tumpah karena rasa malu yang luar biasa luar biasa.
Tepat pada saat itu, pintu ruang arsip terbuka. Nayla melangkah keluar sambil memegang beberapa berkas dokumen kelompok tani. Langkah kakinya terhenti seketika begitu melihat pemandangan di aula terbuka tersebut. Ia menatap Arkan yang masih berdiri dengan sisa amarah di wajahnya, lalu menatap Ratih yang menangis sesenggukan, dan ibu-ibu desa yang hanya bisa terdiam membisu.
"Ada apa ini?" tanya Nayla bingung, beralih menatap Arkan dengan dahi berkerut.
Arkan tidak menjawab pertanyaan Nayla. Pria itu langsung melangkah mendekat, dengan kasar menyambar tumpukan berkas dari tangan Nayla menggunakan tangan kirinya yang sehat. "Pak Barkah menyuruh saya mengambil dokumen ini. Urusanmu di sini sudah selesai, kan? Ayo pergi. Udara di tempat ini mendadak menjadi sangat pengap karena ada orang bermuka dua," ucap Arkan ketus, lalu membalikkan badan dan berjalan mendahului Nayla keluar dari balai desa.
Nayla tertegun sejenak melihat punggung tegap Arkan yang menjauh. Ia melirik Ratih sekilas dengan tatapan heran, namun memutuskan untuk tidak memperpanjang masalah dan segera mengekor di belakang langkah lebar pria kota tersebut.
Sepanjang perjalanan menyusuri jalan setapak menuju area Ladang Timur, keheningan melingkupi keduanya. Arkan berjalan di depan dengan langkah cepat yang dihentak-hentakkan ke tanah basah, mencoba meluapkan sisa emosinya, sementara Nayla berjalan dengan ritme santai di belakangnya. Nayla tahu betul apa yang baru saja terjadi di aula tadi, karena suara bariton Arkan saat membentak Ratih terdengar hingga ke ruang arsip belakang.
"Terima kasih," suara jernih Nayla memecah keheningan setelah mereka berjalan cukup jauh dari balai desa.
Arkan menghentikan langkah kakinya mendadak, membuat kemeja flanel Nayla hampir menabrak punggungnya lagi. Arkan menoleh sedikit, menampilkan profil wajah sampingnya yang masih tampak dongkol. "Terima kasih untuk apa? Jangan geer. Saya melakukan itu bukan untuk membelamu. Saya hanya tidak suka nama saya diseret-seret ke dalam gosip murahan cewek centil itu."
Nayla tersenyum tipis, jenis senyuman maklum yang selalu sukses membuat ego Arkan terusik. "Iya, terserah kamu saja, Pria Kota. Yang penting, terima kasih karena sudah bicara jujur di depan ibu-ibu tadi."
Arkan mendengus kasar, membalikkan badannya untuk kembali berjalan. Namun, baru saja ia hendak mengambil langkah pertama, sesosok pria paruh baya bertubuh tegap dengan garis wajah yang keras namun jujur mendadak muncul dari belokan semak liar di depan mereka. Pria itu mengenakan caping bambu kusam, sebuah handuk kecil melingkar di lehernya yang legam karena terbakar matahari, dan kedua tangannya sedang memikul seikat besar padi yang baru dipanen.
Melihat kehadiran pria tua itu, langkah kaki Nayla langsung melesat maju melewati Arkan dengan wajah yang berubah menjadi sangat cerah dan penuh kerinduan.
"Bapak!" seru Nayla gembira, langsung membantu menyangga ujung pikulan padi ayahnya agar bebannya sedikit berkurang.
Pak Suryo, ayah kandung Nayla, menurunkan pikulan padinya secara perlahan di atas rerumputan kering pembatas ladang. Pria paruh baya yang merupakan salah satu petani paling dihormati di desa itu menyeka keringat di dahinya dengan handuk kecil, lalu melempar senyuman hangat pada anak gadis kesayangannya. Namun, senyuman itu langsung memudar berganti dengan tatapan mata yang sangat tajam dan menyelidik begitu sepasang matanya menangkap sosok Arkan yang berdiri tidak jauh di belakang Nayla.
Pak Suryo meletakkan kedua tangannya di pinggang, berdiri tegap membusungkan dadanya yang bidang di depan Arkan. Sebagai seorang ayah yang memiliki harga diri tinggi dan sangat menjaga kehormatan keluarganya, desas-desus tentang adanya Tuan Muda Jakarta yang menginap di rumah Mbah Harjo dan sempat singgah ke rumahnya kemarin siang tentu sudah sampai ke telinganya.
Arkan yang ditatap dengan pandangan mengintimidasi seperti itu secara refleks memajukan tubuhnya, mencoba mempertahankan wibawa kotanya. Dua pria dari latar belakang dunia yang bertolak belakang itu kini saling melempar pandangan tajam di batas ladang Desa, membangun ketegangan baru yang tidak terduga.
Angin siang bertiup rendah di batas Ladang Timur, menggoyang pucuk-pucuk padi yang mulai menguning di bawah naungan langit yang terik. Namun, sepoi angin dan kesejukan alam pedesaan itu sama sekali tidak mampu mencairkan ketegangan yang mendadak tercipta di antara dua pria yang kini berdiri saling berhadapan. Pak Suryo masih bergeming dengan kedua tangan bertumpu kokoh di pinggang, sementara Arkan menegakkan punggung tegapnya, menolak untuk terlihat lemah atau terintimidasi oleh tatapan menyelidik dari seorang petani desa.
Nayla yang menyadari perubahan atmosfer di sekitarnya mendadak menjadi begitu kaku, langsung mengambil langkah maju. Ia memposisikan dirinya di antara kedua pria tersebut.
"Bapak, ini Arkan. Tamu kota dari Jakarta yang sedang menumpang tinggal di rumah Mbah Harjo. Kemarin siang tangan dia melepuh parah karena ikut Pak Barkah ke ladang, jadi Nayla ajak mampir sebentar untuk diobati pakai daun binahong di teras rumah kita," jelas Nayla, mencoba memberikan alasan logis demi mencairkan kekakuan yang melingkupi mereka.