Satu malam mengubah hidup Keyla selamanya.
Dijebak oleh ibu tirinya sendiri, Keyla kehilangan kehormatan dan masa depannya. Pria yang bersamanya malam itu bukan pria sembarangan—Dominic, mafia berbahaya yang tak pernah tersentuh hukum.
Bagi Dominic, wanita hanyalah alat. Kecuali istri yang amat sangat ia cintai.
Namun tekanan dari ibunya memaksanya mencari seorang pewaris, sementara istrinya menolak memberinya anak.
Saat Keyla muncul dalam hidupnya, sebuah keputusan kejam diambil Dom terpaksa menjadikannya istri kedua.
Tapi siapa sangka, hubungan yang diawali dengan paksaan justru menumbuhkan rasa yang sulit dikendalikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35 Lepaskan Saja Di Depanku
"Aku harus pergi kemana sekarang?" gumam Clara dengan suara parau.
Clara berdiri mematung di depan gerbang rumah keluarganya yang kini tertutup rapat. Sebuah rantai besar melilit pegangan pintu, lengkap dengan segel kuning yang menyatakan bahwa aset tersebut telah disita oleh bank.
Clara luntang-lantung seperti gembel, menyeret kopernya yang berat dengan sisa tenaga yang ada. Ia pulang dengan harapan bisa berlindung di pelukan orang tuanya, tapi rumah mewah itu kini telah mati.
Ayahnya, ibunya, bahkan para pelayan yang biasanya menyambutnya dengan tundukan hormat, lenyap tanpa jejak.
"Ibu, ayah?!" Clara mencoba menelepon ponsel ibunya untuk yang keseratus kali, tapi hanya suara operator yang menyambutnya. "Sialan! Kemana kalian semua pergi di saat aku hancur begini?!"
Clara akhirnya terduduk lemas di bangku sebuah halte bus yang sepi. Air matanya merembes, merusak riasan mahal yang kini nampak berantakan di wajahnya.
"Aku benar-benar hancur... hiks... Dominic benar-benar mematikan jalanku," isaknya sembari merenungi nasib.
Pikiran untuk menemui Damian sempat melintas. Sayangnya, ego dan rasa malunya jauh lebih besar.
"Mau ditaruh di mana wajahku jika Damian tahu Dominic menceraikan ku tanpa membawa harta sepeser pun? Dia pasti akan merendahkan ku," bisiknya.
Clara membuka aplikasi perbankan di ponselnya dengan tangan gemetar. Matanya membelalak melihat saldo yang tersisa.
"Sepuluh juta? Hanya tinggal ini?!" pekiknya frustrasi. "Ini bahkan tidak cukup untuk membeli satu tas desainer! Bagaimana aku bisa bertahan hidup beberapa bulan ke depan jika apartemen pun aku tidak punya?"
"Argh! Kenapa semua jadi begini sih?! Kemewahan, harta, dan semuanya hilang dalam sekejap! Aku benci takdirku!" teriak Clara sembari mengacak-acak rambutnya dengan brutal.
Beberapa orang yang lewat menatapnya heran, mengira wanita cantik berbaju mahal itu sudah kehilangan kewarasannya.
Ting!
Sebuah notifikasi pesan masuk ke ponselnya. Clara membukanya dengan malas.
[Minggu depan ada acara pesta besar di kediaman Alfred. Sebagai model eksklusif di bawah naunganku, kau harus datang mendampingiku. Jangan telat dan pastikan penampilanmu sempurna]
Clara mendengus sinis, melempar ponselnya ke dalam koper yang terbuka. "Cih! Pesta apalagi sih?! Keluarga Alfred?" gerutunya.
"Jangan-jangan si botak hanya ingin memanfaatkanku karena istrinya yang membosankan itu tidak mau ikut datang. Dasar pria hidung belang."
Di tengah kemarahannya, sebuah akal bulus muncul. Pesta keluarga Alfred adalah tempat berkumpulnya para konglomerat. Jika ia bisa menarik perhatian salah satu dari mereka, mungkin nasibnya bisa berbalik.
"Aku harus bertahan," ucapnya sembari menghapus air mata dengan kasar menggunakan punggung tangan. "Malam ini aku tidak mau tidur di pinggir jalan seperti gelandangan. Aku harus mencari hotel murah atau apa pun yang irit kantong. Setidaknya sampai pesta itu tiba."
Dengan sisa harga diri yang masih tercecer, Clara kembali menyeret kopernya mencari penginapan.
*****
"Ma, Zoey ada dimana? Tadi aku lihat kamarnya sudah sepi," tanya Keyla sembari merapikan sisa alat makan di dapur.
Elise yang sedang menyesap tehnya menoleh. "Oh, Zoey sudah dijemput orang tuanya tadi siang, Sayang. Mereka ada jeda sebentar sebelum harus kembali melakukan perjalanan bisnis ke luar negeri. Jadi mereka ingin menghabiskan waktu bersama Zoey."
Keyla hanya mengangguk pelan, ada sedikit rasa sepi yang menyelinap karena tidak ada lagi suara cempreng bocah itu yang menghiasi rumah.
"Kalau begitu, Keyla pamit ke atas dulu ya, mau istirahat sebentar."
"Iya, istirahatlah. Wajahmu kelihatan lelah," balas Elise lembut.
Keyla melangkah menaiki tangga menuju kamarnya.
Malam itu udara terasa sangat menyesakkan dan gerah, membuat keringat tipis membasahi tengkuknya.
Sesampainya di kamar, Keyla langsung menuju kamar mandi. Ia memutuskan untuk berendam air hangat guna meluruhkan penat yang menggelayuti pikirannya sejak kejadian dengan Damian tadi pagi.
Hampir satu jam Keyla menghabiskan waktu di dalam sana. Ia keluar dengan hanya mengenakan handuk mandi yang diikat kencang di pinggangnya, memperlihatkan bahu putihnya yang masih lembap dan beruap.
Rambut panjangnya yang basah ia lilit dengan handuk kecil.
Langkah Keyla mendadak terkunci di depan pintu kamar mandi. Matanya membelalak melihat sesosok pria sudah duduk tenang di sofa pojok ruangan.
"Astaga, Tuan?! Sejak kapan kau ada di sini?" tanya Keyla gugup. Jantungnya berdegup dua kali lebih cepat dari sebelumnya.
Dominic tidak langsung menjawab. Pria itu menyilangkan kaki, tangannya memegang segelas whiskey yang esnya sudah setengah mencair.
Pria itu menatap Keyla dengan intens, tatapan gelap yang seolah bisa menembus handuk yang dikenakan gadis itu.
"Baru saja. Kamarmu tidak dikunci, jadi aku masuk," jawab Dom dengan suara yang terdengar lebih berat dari biasanya.
Keyla merapatkan ikatan handuknya, merasa sangat tidak nyaman di bawah pengamatan tajam sang suami. "Kenapa tidak mengetuk dulu?" gerutunya. "Em, bisakah kau keluar sebentar? Aku harus berganti pakaian."
Bukannya pergi, Dom malah meneguk minumannya hingga tandas lalu meletakkan gelas itu di meja dengan denting yang pelan. Ia bangkit, lalu melangkah perlahan mendekati Keyla.
Aura intimidasi terpancar kuat dari tubuh tegapnya.
"Kenapa aku harus keluar?" tanya Dom, tepat berada di depan wajah Keyla.
"Karena aku mau ganti baju! Tidak sopan melihat orang berganti pakaian," sahut Keyla, mencoba tetap tegas meski kakinya mulai terasa lemas seperti jelly.
Dominic menyeringai tipis, sebuah seringai yang terlihat menyebalkan di mata Keyla. Ia mengulurkan tangan, jemarinya yang dingin menyentuh helai rambut basah Keyla yang menjuntai di bahu.
"Lepaskan saja di depanku. Tidak perlu malu," ucap Dom dingin dan penuh penekanan.
"A–apa yang kau bicarakan?!" Keyla mundur selangkah, wajahnya memerah padam sampai ke telinga.
"Aku sudah pernah melihat semuanya, tanpa terkecuali. Setiap jengkal kulitmu, setiap lekuk tubuhmu. Aku sudah menghafalnya di luar kepala sejak malam itu. Jadi, apa gunanya bersembunyi sekarang?" Dom kembali maju, memangkas jarak hingga Keyla terdesak ke pintu kamar mandi yang tertutup.
Keyla membelalak, napasnya memburu. "Itu... itu kan karena kecelakaan! Aku sedang tidak sadar!"
"Tapi aku sadar sepenuhnya," bisik Dom tepat di telinga Keyla, membuat bulu kuduk gadis itu meremang. "Dan aku tidak keberatan jika harus menyaksikannya lagi sekarang. Secara perlahan."
Tangan Dominic perlahan turun, menyentuh simpul handuk Keyla.
Keyla menahan napas. Dengan gemetar, ia mencoba menepis tangan Dominic, namun pria itu justru mencengkeram pinggangnya dengan posesif, mengunci pergerakan Keyla sepenuhnya di antara tubuh kokohnya dan pintu di belakangnya.
"Apa dia sedang kesambet? Kenapa jadi mengerikan begini?!" gerutunya dalam hati.
Ruangan itu mendadak terasa jauh lebih panas daripada udara di luar sana.
pamanya Valery yg meninggal
Valery hanyalah korban keserakahan Clara