"Kurang ajar! Beraninya kalian mengotori rumah tangga kita!" bentak Sandra dengan suara bergetar hebat, air matanya akhirnya tumpah membasahi pipi.
Sebelum Sandra bisa memberikan pelajaran lebih jauh kepada wanita itu, sebuah benturan keras mendarat di pipi kirinya.
Plak!
Tamparan itu begitu kuat hingga kepala Sandra terpelanting ke samping. Rasa perih langsung menjalar di pipinya, meninggalkan sensasi panas yang membakar. Pelaku pemukulan itu tidak lain adalah Anton sendiri. Suami yang selama empat tahun ini ia layani dengan sepenuh hati, kini berdiri tegak dengan mata melotot dan tangan mengepal.
"Seharusnya kamu sadar, kamu wanita lusuh, jelek, tidak bisa menjaga tubuhmu, aku muak denganmu!" teriak Anton dengan suara menggelegar, melampiaskan seluruh kebencian yang selama ini ia pendam.
Kata-kata itu menghujam jantung Sandra jauh lebih tajam daripada pisau bermata dua. Wanita lusuh? Jelek? Selama ini ia mengorbankan waktu istirahatnya demi mengurus rumah, sementara Anton
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perjanjian di Atas Meja Kerja
Sinar matahari pagi menembus jendela-jendela kaca besar di koridor lantai dua, membiaskan cahaya keemasan yang hangat di atas lantai marmer. Sandra melangkah keluar dari kamarnya yang berada persis di sebelah kamar Elzard. Rasa nyeri di lutut dan telapak tangannya sudah jauh berkurang berkat obat yang diberikan dokter semalam.
Sesuai instruksi yang disampaikan Pak Biworo pagi ini, Sandra melangkah menunju ruang kerja Dante yang terletak di ujung lorong lantai bawah. Dengan gaun kasual sederhana namun anggun yang disiapkan oleh pelayan, Sandra menghentikan langkahnya di depan pintu kayu mahoni tebal yang tertutup rapat.
Ia mengetuk pintu dua kali dengan perlahan.
"Masuk," suara berat dan dingin dari dalam ruangan terdengar memberi izin.
Sandra mendorong pintu kayu itu pelan-pelan. Aroma kayu cendana, kertas mahal, dan seduhan kopi hitam pekat langsung menyeruak menyapa indra penciumannya. Ruang kerja itu sangat luas, didominasi oleh rak-rak buku raksasa yang menjulang hingga ke langit-langit serta meja kerja kayu solid yang amat megah di tengah ruangan.
Di balik meja kerja tersebut, hanya ada Dante seorang diri. Pria itu mengenakan kemeja hitam yang lengannya tergulung rapi hingga siku, memperlihatkan jam tangan mewah dan lengan berototnya. Sorot matanya yang tajam menatap lurus ke arah Sandra begitu wanita itu melangkah masuk.
"Duduklah," ucap Dante singkat tanpa basa-basi, menunjuk kursi kulit empuk di hadapan mejanya.
Sandra mengangguk sopan dan melangkah mendekat. Ia menarik kursi kayu berlapis kulit itu perlahan, lalu duduk dengan posisi tubuh yang tegap dan jemari saling bertautan erat di pangkuannya. Udara di dalam ruangan terasa begitu intens, dipenuhi oleh wibawa mutlak dari pria yang duduk di depannya.
Dante mengamati ekspresi wajah Sandra yang tenang meski menyiratkan sedikit ketegangan. Ia memajukan tubuhnya, menopang kedua siku di atas meja kayu yang dilapisi map dokumen tebal.
"Aku bukan tipe orang yang suka membuang waktu," buka Dante dengan nada suara yang dalam dan mantap. "Elzard sudah memilihmu, dan aku menghargai keputusan putraku. Tapi sebelum kita melangkah lebih jauh, aku perlu tahu siapa kamu sebenarnya dan bagaimana seorang wanita bisa berkeliaran di tengah badai malam dengan luka-luka seperti yang kulihat semalam."
Sandra menghela napas pelan. Ia tahu pertanyaan ini pasti akan datang. Tidak ada seorang pemilik mansion berkuasa yang akan membiarkan orang asing tinggal bersama anaknya tanpa kejelasan latar belakang.
"Nama saya Sandra, Tuan," ujar Sandra dengan suara yang lembut namun terdengar mantap, tanpa ada kepalsuan di dalamnya. "Malam semalam... adalah malam ulang tahun pernikahan saya yang keempat. Namun, saya menemukan suami saya berselingkuh di rumah kami sendiri."
Dante tetap diam, menyimak setiap kata yang meluncur dari bibir Sandra dengan sorot mata yang semakin tajam.
"Ketika saya menuntut keadilan, suami saya menampar saya, menghina saya, dan menyeret saya keluar dari rumah sebelum akhirnya menjatuhkan talak," lanjut Sandra, menahan gejolak emosi yang sempat timbul di dadanya. "Saya tidak punya tempat tinggal malam itu. Di halte bus, saya melihat pengumuman pencarian ibu baru untuk Tuan Muda Elzard, dan saya memutuskan untuk mengambil kesempatan itu."
Dante menatap lurus ke dalam manik mata Sandra, mencari celah kebohongan atau rekayasa dalam cerita tersebut. Namun, yang ia temukan hanyalah kejujuran yang murni, luka yang dalam, dan ketegaran yang luar biasa dari seorang wanita yang baru saja melewati neraka kehidupan.
"Suamimu... dia membuang wanita sepertimu?" bisik Dante dengan nada dingin yang menyiratkan keheranan sekaligus ejekan terselubung untuk mantan suami Sandra. "Pria itu pasti sangat bodoh."
tapi cocok sih, laki-laki pengecut seperti kamu punya istri pelacur murahan yang ga tahu diri 🤣🤣😂😂 dan kalian berdua siap-siap mati