NovelToon NovelToon
Cegil Merajut Luka Hatinya

Cegil Merajut Luka Hatinya

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Romantis / Balas Dendam
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Rofiwan

"Aku mengejarmu karena mengira kamu adalah malaikat penyelamatku. Ternyata, kamu hanyalah luka paling berdarah yang sengaja aku pelihara."

Selama dua tahun di SMA Taruna Bakti, Rian Pratama rela menjadi budak cinta demi Keysha Mariela, sang kapten cheerleader. Rian tulus, ia hanya ingin membalas budak kebaikan gadis yang ia kira telah menolongnya di malam ibunya meninggal dunia. Namun, ketulusan Rian dibanting hancur di pesta ulang tahun Keysha. Di depan ratusan mata, Keysha menolaknya mentah-mentah demi Marvel, cowok idaman sekolah, sambil menertawakan kemiskinan Rian.

Di titik terendah saat Rian ingin mengakhiri segalanya, Ziva Zakiyah datang. Cewek genius, manipulatif, dan terkenal 'cegil' (cewek gila) ini membawa satu misi: balas dendam.

Ziva tahu rahasia besar yang disembunyikan Keysha, dan dia siap mengubah Rian yang polos menjadi pangeran berdarah dingin untuk menghancurkan Keysha dan Marvel.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14. Ziva Terdiam, (Revisi)

Suara ketukan penggaris besi Bu Lastri di papan tulis menjadi akhir dari perdebatan di kelas. Keputusan mutlak: Ziva tidak bisa diganggu gugat, dan Keysha akhirnya dilempar ke kelompok lain yang kekurangan orang.

Ziva menang telak secara ego, tapi kalah secara realitas. Dia harus menanggung beban tugas maket sosiologi berukuran satu meter sendirian, karena Rian masih terbaring di rumah sakit akibat ulah Marvel dan gengnya kemarin.

Sore itu, langit Jakarta berwarna abu-abu pekat, sewarna dengan suasana hati Ziva saat melangkah menyusuri gang sempit di daerah pemukiman padat penduduk.

Alamat yang diberikan wali kelas membawanya ke sebuah rumah petak berpagar kayu yang sudah lapuk.

Ziva mengembuskan napas panjang, membenarkan letak tali tas ranselnya yang terasa berat penuh dengan bahan maket, lalu mengetuk pintu.

"Permisi..."

Pintu terbuka, memunculkan sosok wanita paruh baya dengan guratan lelah yang mendalam di wajahnya. Wanita itu adalah Ibu tiri Rian, yang menyambut Ziva dengan senyum canggung namun ramah setelah Ziva memperkenalkan diri sebagai teman sekelas Rian.

"Masuk, Nduk. Maaf ya, rumahnya berantakan," ujar wanita itu, buru-buru merapikan tumpukan kain jahitan di sudut ruang tamu yang merangkap ruang keluarga. "Rian baru pulang dari rumah sakit tadi siang. Masih lemas, tapi dia maksa mau ikut ngerjain tugas katanya."

"Enggak apa-apa, Tante. Harusnya Rian istirahat aja, biar saya yang cicil," jawab Ziva sesopan mungkin. Aura defensif yang biasanya dia pasang di sekolah agak melunak melihat kondisi rumah ini. Rian benar-benar hidup di dunia yang berbeda seratus delapan puluh derajat dari Marvel atau Keysha yang serba kecukupan.

Ziva dipersilakan masuk ke kamar Rian. Kamar itu kecil, hanya muat satu kasur busa tanpa ranjang, sebuah lemari pakaian plastik, dan meja belajar kayu yang catnya sudah mengelupas.

Rian sedang bersandar di dinding, kepalanya masih dibalut perban, dan sudut bibirnya biru keunguan akibat latih tanding bersama Zegan.

"Ziv... sorry ya, malah ngerepotin lo ke sini," suara Rian terdengar parau. Ada kilat bersalah di matanya. Dia tahu betul bagaimana posisi mereka di sekolah—selalu jadi target empuk karena tidak punya kuasa.

"Gak usah banyak omong. Lo napas aja udah syukur," potong Ziva, langsung duduk bersila di lantai semen yang dilapisi karpet plastik. Dia mengeluarkan cutter, lem tembak, dan sterofoam. "Gue sengaja gak mau Keysha ikut. Gue gak butuh kasihan dari orang-orang kayak mereka."

Rian tersenyum tipis, sangat tipis hingga hampir tak kelihatan. "Keysha beda, Ziv. Dia gak tahu apa-apa soal yang dilakukan Marvel."

"Sama aja. Di mata gue, orang yang diam saat kejahatan terjadi itu sama buruknya dengan pelaku," tukas Ziva dingin. Tangannya bergerak cekatan memotong sterofoam, menyalurkan seluruh kekesalan yang dia tahan sejak tadi pagi.

Kerja kelompok itu berlangsung hening namun produktif. Rian membantu menempel bagian-bagian kecil yang tidak butuh banyak energi fisik.

Di sela-sela waktu, Ibu tiri Rian masuk mengantarkan dua gelas teh manis hangat dan sepiring singkong goreng.

"Diminum, Nduk. Tante tinggal ke depan ya, mau lanjutin jahitan," pamit wanita itu.

Ziva mengangguk santai. Namun, saat tangannya hendak meraih gelas teh manis, sikunya tidak sengaja menyenggol tumpukan buku pelajaran di ujung meja Rian.

Beberapa buku terjatuh ke lantai, menyebarkan lembaran-lembaran kertas tugas dan sebuah bingkai foto kecil yang tadinya tersembunyi di balik tumpukan.

"Eh, sorry!" Ziva refleks membungkuk untuk memungutnya.

"Gak apa-apa, Ziv, biar gue—" Rian hendak bergerak turun dari kasur, tapi ringisan pelan lolos dari bibirnya saat luka di perutnya menegang.

"Diem di tempat," perintah Ziva tegas.

Ziva memungut bingkai foto kayu yang kaca permukaannya sudah agak buram. Dia berniat meletakkannya kembali ke atas meja, namun gerakannya mendadak terkunci.

Sepasang matanya terpaku pada gambar di dalam bingkai tersebut.

Itu adalah sebuah foto lama yang sudah agak menguning di bagian tepi.

Foto seorang anak laki-laki kurus yang sedang duduk di ranjang rumah sakit dengan selang infus menempel di punggung tangannya.

Anak itu memakai seragam pasien berwarna biru muda, wajahnya pucat pasi, matanya kosong—menatap kamera tanpa binar kehidupan sama sekali.

Ziva tahu jelas itu adalah Rian saat masih SMP. Karakter Rian yang penakut, ringkih, dan mudah diintimidasi tampaknya sudah terbentuk sejak masa-masa sulit itu.

Namun, bukan figur Rian yang membuat napas Ziva mendadak tercekat.

Melainkan latar belakang dari foto tersebut.

Di belakang Rian, terdapat jendela besar rumah sakit yang menampilkan koridor luar. Di balik kaca jendela itu, samar-samar terlihat sebuah tiang infusan dan sudut pembatas ranjang lain. Dan di sana, terikat pada salah satu besi penyangga ranjang di koridor, ada sesuatu yang sangat kontras dengan atmosfer rumah sakit yang suram.

Sebuah pita kain berwarna merah menyala, terikat dengan simpul mati yang rapi.

Jantung Ziva berdegup dua kali lebih cepat.

Pupil matanya melebar saat memindai sudut demi sudut latar belakang foto tersebut.

Struktur bangunan koridornya, warna cat dindingnya yang hijau pupus, hingga model pegangan pintu besi yang khas.

Semua detail itu... terasa begitu familier.

Terlalu familier hingga menimbulkan rasa ngilu yang mendadak di dada Ziva.

Di dalam kepalanya, memori lama yang sudah tiga tahun dia kubur dalam-dalam mendadak berputar ulang seperti proyektor rusak.

Bayangan tentang lorong rumah sakit yang dingin, bau obat-obatan yang menyengat, dan rasa kehilangan yang teramat sangat.

Ziva meremas pinggiran bingkai foto itu hingga ujung jarinya memutih. Pandangannya terkunci pada pita merah di dalam foto.

Pita itu...

Rumah sakit itu...

"Ziv? Ada yang salah?" suara Rian memecah keheningan, membuyarkan badai pikiran yang baru saja menghantam Ziva. Rian menatap temannya dengan dahi berkerut bingung melihat perubahan ekspresi Ziva yang mendadak pucat.

Ziva tidak langsung menjawab. Dia perlahan mendongak, menatap Rian yang duduk di kasur dengan wajah polosnya.

Cowok lemah yang selama ini dia bela di sekolah karena dia benci melihat penindasan, cowok yang hancur setelah kehilangan ibu kandungnya tiga tahun lalu.

Ziva menelan ludah dengan susah payah, tenggorokannya mendadak terasa kering terlilit kenyataan yang tak sengaja dia temukan.

"Rian..." Suara Ziva bergetar, nyaris berupa bisikan yang tertElan udara sore. "Foto ini... diambil di Rumah Sakit Medika Utama, kan? Tiga tahun yang lalu?"

Rian tertegun, matanya membelalak kaget. "Lo... kok lo bisa tahu?"

......................

...****************...

Tbc,

1
falea sezi
🤣🤣 Riyan ttep. bego uda lah ziv g usa dket cowok plin plan kayak riyan🤭 gk tau diri
Luna
GK salah sih marven dapat cewek lain dia kaya duit banyak,,,kalo ada yg lebih baik dari kamu yh GK mungkin lah di lewat kan , sedangkan Rian dia udah capek banget di PHP in terus ada cewek yg ngasih dia perhatian yh GK mungkin dilewatkan Rian ,,, sekarang elu sendiri GK dapat dua duanya,
Luna
untung si Marvel atau marven sudah putus sama nih cewek,,,,🤣🤣🤣🤣🤣🤣 semoga ada cewek gila lain untuk mantan Keysa 🤣🤣🤣🤣🤣
falea sezi
awas aja lu rian oleng🤣 Ziva gue suruh pindah sekolah
falea sezi
jauhin aja ziv laki gk tau diri🤣 uda ma kesya aja cocok😒 sampah sama sampah
Luna
dalam mimpi sya,,,,,🤣🤣🤣
Luna
Marvel sebelas dua belas sama si Naya yh Thor🤣🤣🤣🤣🤣🤣,agak gila ,,,,gituloh
Rofiwan: Naya versi lanang
total 1 replies
Luna
Rian ,,,, kayaknya yg nolongin kamu bukan Keysa deh ,,,, orang kek dajal gitu nolongin orang kayaknya enggak deh,kaya tapi miskin etika🤣🤣🤣🤣
falea sezi
buat Riyan tegas donk🤣 jangan kayak. kerupuk. melempem
falea sezi
buang waktu aja 🤣 cowok ngemis kayak gini g ada harga dirinya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!