-
Aini Zahra Wijaya, seorang dokter muda yang baru lulus, memulai masa koasnya di rumah sakit megah milik keluarga besar Wigunadi. Berharap fokus mengabdi, takdir justru mempertemukannya dengan Dr. Ivandra Arya Wigunadi—spesialis bedah saraf yang jenius, dikenal paling dingin, dan tak tersentuh.
-
Meski Ainu berusaha keras menghindari pria kejam itu, sebuah rahasia keluarga dan ikatan takdir memaksa mereka bersatu dalam ikatan pernikahan. Di balik dinding rumah sakit yang dingin, hubungan penuh ketegangan, batasan, dan emosi yang terpendam pun dimulai.
_
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 15
****
Sinar matahari pagi telah menyapu bersih sisa-sisa embun di pelataran RS Utama Wigunadi. Aini melangkah masuk melalui pintu kaca utama dengan napas yang teratur, merapikan kembali posisi papan jalan dan jas putih yang melekat di tubuhnya. Usai menempuh perjalanan berjalan kaki dari ruko tempat Ivandra menutunkan dirinya, Aini langsung membaur di tengah riuhnya koridor lantai tiga.
Begitu sampai di stasiun perawat Departemen Anestesiologi, Aini menyeburkan diri dalam tumpukan berkas observasi pasien.
"Aini!"
Sebuah teguran setengah berbisik membuat Aini menoleh. Nina, sahabatnya yang juga sedang menjalani stase di lantai yang sama, berjalan mendekat sembari membawa dua cangkir teh hangat. Nina menyipitkan matanya, menatap Aini dengan raut penuh selidik.
"Kamu tadi berangkat naik apa, Ni? Aku tadi pas turun dari angkot di depan gerbang, lihat kamu lagi jalan kaki dari arah ruko depan," tanya Nina penasaran, menyodorkan satu cangkir teh ke tangan Aini. "Mobil kamu ke mana? Biasanya kan bawa mobil sendiri?"
Aini tertegun sejenak, namun jemari lentiknya dengan tenang menerima cangkir tersebut. "Oh, itu... mobilku lagi masuk bengkel buat servis rutin, Nin. Jadi tadi diantar teman sampai persimpangan depan, terus aku lanjut jalan kaki deh biar sekalian olahraga pagi."
"Ooh, gitu... Kirain kamu diantar pacar rahasia," goda Nina terkekeh pelan.
Belum sempat Aini membalas gurauan itu, riuh rendah percakapan di stasiun perawat mendadak reda serentak. Derap langkah kaki yang tegas dan berirama gaung terdengar menyusuri lorong.
Ivandra melangkah penuh wibawa di barisan paling depan rombongan visite gabungan para dokter spesialis senior dan konsultan. Jas klinis putihnya melambai pelan seiring langkah kakinya yang lebar. Wajah tampannya terpasang kokoh—dingin, angkuh, dan tak tersentuh oleh siapa pun.
Nina mendadak menyenggol lengan Aini cukup keras, berbisik dengan nada yang heboh namun ditahan. "Aduh, Ni... lihat deh. Dokter Iblis lewat lagi. Sumpah ya, makin hari mukanya makin kayak es batu di freezer. Nggak ada ramah-ramahnya sama sekali jadi manusia!"
Aini refleks mengangkat pandangannya. Tepat pada detik itu, manik mata elang milik Ivandra yang tajam bergulir datar ke arah stasiun perawat, terkunci lurus pada figur Aini yang berdiri tegap di sebelah Nina.
Atmosfer di koridor itu serasa membeku seketika.
Selama tiga detik yang amat menegangkan, mata mereka beradu. Tidak ada binar kehangatan, tidak ada raut pengenalan, dan tidak ada sedikit pun gestur yang menandakan bahwa beberapa jam lalu mereka baru saja menyantap sarapan di meja makan yang sama. Ivandra menatap Aini dengan sorot mata yang amat formal dan berjarak—persis seperti menatap mahasiswa koas biasa pada umumnya.
Aini pun menahan napasnya, membalas tatapan itu dengan tundukan kepala yang sangat sopan dan profesional. Sebuah ujian pertahanan pertama untuk menguji seberapa kokoh mereka memegang janji kerahasiaan pernikahan di depan umum.
Ivandra mengalihkan pandangannya kembali ke depan tanpa menghentikan langkah sedikit pun, berlalu pergi membawa rombongannya menuju ruang perawatan intermediate.
Nina menghembuskan napas lega yang panjang sembari memegang dadanya. "Haf... merinding aku ditatap sebentar aja sama beliau. Untung stase kita bukan di Bedah Saraf lagi ya, Ni!"
Aini hanya tersenyum karir—sebuah senyuman tipis dan rapi yang menyembunyikan rahasia besar di balik status barunya sebagai istri sah dari sang Dokter Iblis.
**
Siang harinya, suasana kantin utama rumah sakit tampak begitu ramai oleh lalu lalang staf medis, perawat, dan mahasiswa koas yang memanfaatkan waktu istirahat.
Aini dan Nina duduk di sebuah meja kayu dekat area taman dalam kantin. Di depan mereka tersedia dua piring soto ayam hangat. Saat mereka baru saja hendak menyantap makanan, sebuah bayangan jangkung menghalangi pendar cahaya matahari di meja mereka.
"Boleh bergabung di sini?"
Aini dan Nina mendongak bersamaan. dr. Farhan berdiri di sana dengan senyum hangatnya yang khas. Pria itu membawa nampan berisi makan siangnya sendiri dan dua kaleng minuman vitamin dingin.
"Eh, Dokter Farhan! Boleh banget, Dokter, silakan duduk!" jawab Nina heboh sembari menggeser posisi duduknya.
Farhan mendudukkan dirinya di seberang Aini, menyerahkan satu kaleng minuman dingin itu tepat di samping piring Aini. "Nih, buat kamu, Aini. Vitamin supaya tetep segar pas sif sore nanti."
Aini menatap minuman itu, lalu menatap Farhan dengan sungkan. "Dokter Farhan... terima kasih banyak ya. Tapi Dokter jadi repot terus dari kemarin."
Farhan tertawa renyah, menggelengkan kepalanya pelan. "Sama sekali nggak repot, Aini. Justru saya senang kalau bisa bantu adik koas yang rajin dan pinter kayak kamu. Oh iya, gimana stase Anestesi sejauh ini? Ada kendala?"
"Lancar banget, Dokter. Bimbingan dari Dokter Farhan dan senior lain sangat membantu," sahut Aini lembut, menyunggingkan senyum tulusnya yang manis.
Namun, tanpa mereka sadari, beberapa meja di seberang area kantin bernuansa VIP, sebuah pergerakan mendadak terhenti.
Ivandra sedang duduk bersama jajaran direksi dan komisaris RS Utama Wigunadi untuk makan siang formal. Pria itu baru saja hendak memotong daging steak-nya ketika pandangan mata elangnya menangkap keakraban di meja Aini dari kejauhan.
Ivandra melihat jelas bagaimana Farhan tertawa lepas di depan Aini, dan bagaimana Aini membalas percakapan itu dengan senyuman hangat—senyuman tulus yang sampai detik ini tak pernah diberikan Aini untuknya di dalam apartemen.
Cklek.
Genggaman jemari Ivandra pada pisau dan garpunya mengetat seketika hingga buku-buku jarinya memutih. Rahang tegasnya mengeras rapat, memancarkan aura intimidasi yang sangat pekat hingga direktur medis di sampingnya sempat menghentikan bicaranya karena terkejut melihat perubahan raut muka Ivandra.
"Dokter Ivan ? Ada masalah dengan makanannya?" tanya sang Direktur Medis cemas.
"Tidak ada," sahut Ivandra singkat dengan suara berbariton rendah yang amat dingin.
Manik mata Ivandra menancap lurus pada figur Aini. Ada gejolak cemburu yang teramat panas membakar dadanya. Ia merasa sangat terganggu melihat istrinya bersenda gurau dengan pria lain di tempat umum. Namun, rasa kesal itu tertahan menghimpit di tenggorokannya sendiri—ia terikat mati oleh poin kontrak yang ia susun secara sadar: tidak saling mencampuri urusan pribadi dan menjaga kerahasiaan.
Di meja seberang, Aini yang sedang menyendok kuah soto mendadak merasakan sentakan dingin yang membakar punggungnya.
Aini melirik pelan ke arah area VIP. Manik matanya bertabrakan langsung dengan tatapan tajam membunuh milik Ivandra yang sedang memperhatikannya tanpa berkedip dari seberang ruangan.
Jantung Aini berdegup kencang sejenak karena terkejut. Namun, alih-alih panik atau menunjukkan rasa takut seperti waktu awal koas, Aini menguasai dirinya dengan sangat cepat. Ia mengingat kembali poin kontrak keempat yang ia ajukan: kehidupan profesional dan batas pribadi yang harus dihormati.
Aini tidak menundukkan kepalanya. Ia menatap balik Ivandra dari kejauhan dengan raut muka yang sangat tenang, datar, dan tegar. Tanpa sedikit pun gestur bersalah, Aini kembali mengalihkan pandangannya pada Farhan dan Nina, melanjutkan obrolan makan siang mereka seolah tidak terjadi apa-apa.
Dari mejanya, Ivandra menyandarkan punggungnya kasar pada sandaran kursi kulit. Napasnya terhela berat dan dalam. Keteguhan dan sikap berani yang ditunjukkan Aini justru makin menyulut percikan asing di dalam benaknya—sebuah kesadaran membakar bahwa gadis berhijab yang kini menjadi istrinya itu bukanlah sosok yang bisa ia kendalikan atau intimidasi dengan mudah.
Bersambung...
mampir ya ke novel ku