FOLLOW IG : @LALA_SYALALA13
Demi membiayai pengobatan adiknya yang sakit-sakitan dan melunasi hutang peninggalan orang tuanya, Raina Angela rela melupakan masa lalunya sebagai anak orang kaya dan pergi jauh dari ibu kota.
Lima tahun kemudian dia mendapatkan pekerjaan sebagai pembantu di sebuah rumah mewah ibu kota. Tanpa disadari, mansion tempatnya bekerja adalah milik keluarga Noah Raja Rajendra yaitu mantan kekasih yang terpaksa Raina tinggalkan secara kejam lima tahun lalu dengan alasan orang ketiga, demi menyelamatkan masa depan pria itu.
Pertemuan tak terhindarkan membenturkan kembali rasa bersalah Raina dengan kebencian serta luka mendalam Noah yang telah berubah menjadi manusia es.
Bagaimana kelanjutannya???
Yukkkk baca yaaaa!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lala_syalala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menjemput
Sementara itu di dalam kamar, Nyonya Eleonora duduk di tepi ranjang Raina, menggenggam erat kedua tangan gadis itu.
"Raina," panggil Nyonya Eleonora lembut, menatap tepat ke dalam mata jernih Raina.
"Mulai hari ini, kamu tidak boleh menganggap dirimu cuma seorang pembantu di rumah kami. Kamu dan Lio adalah bagian dari keluarga ini."sahut Nyonya Eleonora.
Raina menatap Nyonya Eleonora dengan mata berkaca-kaca, dadanya dipenuhi rasa haru dan bersalah yang bercampur aduk. Dia tidak pernah membayangkan, di tengah kepahitannya menjadi korban dendam Noah, dia justru menemukan sosok ibu yang begitu hangat di dalam diri wanita yang melahirkan pria tersebut.
Empat hari telah berlalu sejak malam yang mencekam itu. Berkat penanganan medis yang cepat dan perawatan intensif di kamar VVIP, kondisi fisik Raina Angela pulih jauh lebih cepat dari perkiraan dokter. Rona merah perlahan kembali menghiasi pipinya yang semula pucat, dan staminanya mulai bangkit.
Sementara itu, Lio masih harus menjalani perawatan beberapa hari lagi di rumah sakit untuk pemantauan fungsi paru-paru dan terapi uap berkala. Kendati begitu, senyum remaja empat belas tahun itu sudah kembali ceria, membuat beban berat di pundak Raina terangkat cukup banyak.
Pagi itu, aroma antiseptik ruangan menyambut Raina yang sedang memasukkan beberapa pakaian ganti miliknya ke dalam tas kain sederhana.
Sesuai instruksi dokter spesialis tadi pagi, Raina sudah diperbolehkan pulang ke mansion untuk mulai beraktivitas ringan, sementara Lio tetap ditemani oleh seorang perawat khusus yang disewa oleh Nyonya Eleonora.
"Kak Raina beneran nggak apa-apa pulang sendiri naik taksi?" tanya Lio seraya menyandarkan tubuhnya di bantal ranjang, menatap kakaknya dengan cemas.
Raina tersenyum manis, melangkah mendekati ranjang adiknya lalu mengusap rambut Lio dengan lembut.
"Nggak apa-apa, Lio. Kakak udah sehat banget," jawab Raina tenang.
"Lio di sini nurut sama Suster ya? Jangan lupa diminum obatnya. Nanti sore setelah tugas Kakak di mansion selesai, Kakak bakal ke sini lagi jenguk Lio." Raina mencoba menenangkan sang adik.
"Iya, Kak. Tapi Kakak jangan langsung kerja berat-berat ya. Kata Nyonya Eleonora kemarin, Kakak harus banyak istirahat dulu," pesan Lio mengingatkan sang kakak.
Raina terkekeh halus. "Iya, pinter. Kakak tahu kok." balas Raina dengan senyum yang terpancar.
Raina memungut tas kainnya, merapikan apron abu-abu yang sengaja dia lipat di atas meja. Tepat saat tangannya hendak memutar gagang pintu kayu kamar perawatan untuk melangkah keluar mencari taksi di depan rumah sakit, pintu tersebut tiba-tiba terdorong dari luar.
Klek!
Pintu terbuka lebar. Sosok pria tinggi tegap berbalut kemeja hitam yang dibalut jas abu-abu gelap melangkah masuk. Aura ketampanan yang dingin dan maskulin seketika memenuhi seluruh sudut ruangan.
Raina membeku di tempat. Tas kain di tangannya hampir terlepas.
"T-Tuan Muda?" bisik Raina terperanjat, matanya membelalak kaget.
Noah Raja Rajendra berdiri di ambang pintu. Pria itu merapikan kancing jasnya yang terpasang rapi, menatap Raina dari atas ke bawah dengan mata elangnya yang tajam namun tak lagi menyiratkan kilatan amarah sekejam dulu.
"Kamu sudah selesai berkemas?" tanya Noah datar, suaranya berat dan dalam.
Raina menelan ludahnya yang terasa kering, mengangguk canggung. "S-sudah, Tuan Muda. Saya baru mau jalan keluar buat cari taksi ke mansion." jawab Raina.
Noah menaikkan sebelah alisnya, terkekeh sinis dengan nada tipis. "Cari taksi?"
Noah melangkah maju dua langkah, merenggut tas kain lusuh di tangan Raina tanpa permisi, lalu membawanya di tangan kirinya yang bebas.
"Tuan! Biar saya bawa sendiri..." potong Raina panik.
"Diam, Raina," tegur Noah singkat namun tegas, menatap lurus ke dalam manik mata jernih gadis itu. "Aku ke sini bukan untuk menontonmu repot naik taksi. Ayo jalan."
Raina terpaku kaku. "Maksud Tuan Muda... Tuan Muda mau menjemput saya?" tanya Raina dengan terkejut.
"Siapa lagi?" balas Noah santai seraya berbalik membelakangi Raina.
"Mama yang menyuruhku ke sini. Mama tidak mau pembantu barunya pingsan lagi di jalanan gara-gara naik angkutan umum dalam kondisi baru sembuh." balasnya dengan Mama Eleonora sebagai kambing hitam nya.
Raina menundukkan kepalanya. Ada rasa hangat yang aneh berdesir pelan di ulu hatinya, meskipun dia berusaha meyakinkan dirinya bahwa Noah melakukan ini semata-mata karena perintah Nyonya Eleonora.
Noah menolehkan kepalanya sedikit ke arah ranjang Lio. "Lio."
Lio yang menyaksikan interaksi itu mendadak menegakkan posisi duduknya.
"Iya, Tuan Muda?" jawab Lio dengan gugup.
"Istirahat yang benar. Kalau ada butuh apa-apa, bilang ke Suster di luar," pesan Noah singkat.
Lio tersenyum lebar, mengangguk santun. "Baik, Tuan Muda. Terima kasih banyak sudah jemput Kak Raina." ucap remaja itu tak lupa mengucapkan terima kasih.
Noah hanya berdehem pelan sebagai balasan, lalu melirik Raina kembali. "Ikut aku sekarang. Jangan membuatku menunggu."
Noah melangkah lebar keluar dari kamar perawatan. Raina buru-buru berpamitan pada adiknya, lalu berjalan tergesa-gesa mengekor di belakang langkah tegap pria itu.
Di area parkir depan gedung VIP rumah sakit, sebuah mobil sedan Mercedes-Benz hitam yang berkilat bersih sudah terparkir rapi. Nakula tidak tampak di sana; Noah mengendarai mobil itu sendiri pagi ini.
Noah membuka pintu bagasi belakang, memasukkan tas kain lusuh milik Raina ke dalamnya, lalu menutupnya kembali. Pria itu kemudian melangkah membukakan pintu penumpang bagian depan untuk Raina.
Raina yang berdiri di dekat pintu mobil tampak ragu-ragu. Wajahnya merona halus oleh rasa canggung.
"T-Tuan Muda... Saya... saya bisa duduk di kursi belakang saja," bisik Raina pelan, tak berani menatap mata Noah.
"Tidak sopan kalau seorang pembantu duduk di samping majikannya..." ucap Raina merasa canggung dan tidak enak.
Noah menahan pintu mobil yang terbuka, menatap Raina dengan tatapan mata elang yang tidak menerima bantahan.
"Raina," panggil Noah rendah. "Jangan pancing emosiku pagi-pagi begini. Masuk ke kursi depan, atau aku tinggalkan tasmu di sini."
Raina menggigit bibir bawahnya. Menyadari sifat keras kepala mantan kekasihnya itu tidak pernah berubah sejak dulu, Raina akhirnya mengalah. Dia menundukkan kepala dan melangkah masuk ke dalam kursi penumpang depan.
Noah menutup pintu mobil dengan ketukan mantap, lalu melangkah memutari kap mobil dan masuk ke kursi kemudi.
Mesin sedan mewah itu menderu halus saat Noah menyalakannya. Udara sejuk beraroma kayu cendana khas milik Noah langsung mengepul di dalam kabin mobil yang kedap suara.
Noah memindahkan tuas transmisi, dan kendaraan itu melaju mulus meninggalkan pelataran rumah sakit menuju jalan raya ibu kota.
.
.
Cerita Belum Selesai.....
makanya jadi orang jangan digedein s gengsinya...
makan tu gengsi
semangat author yah