Nadira menghabiskan empat tahun menunggu suami yang hanya ia temui saat akad nikah. Saat Arga akhirnya pulang, ia datang bersimbah darah ke IGD, dan Nadira sendiri yang mengoperasinya. Tapi Arga tidak pulang sendirian. Ada nama perempuan lain di bibirnya, dan anak kecil yang memanggilnya Papa. Di tengah luka tembak, gugatan cerai, dan rahasia masa lalu yang mulai terkuak, Nadira memilih pergi. Arga baru sadar bahwa istri yang ia tinggalkan bukan sekadar nama di buku nikah. Tapi mengejar Nadira berarti ia harus rela terbakar oleh penyesalan yang selama ini ia hindari. Dan saat dua keluarga, dua rahasia, dan dua nama Alya bertabrakan, siapa sebenarnya cinta sejati Arga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chandria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 35
Bab 35 - Meja yang Salah
Nadira tidak berniat menemui Vania sendirian.
Itu ia ulangi tiga kali pada Arga, Maya, dan dirinya sendiri. Ia bukan tokoh bodoh dalam cerita yang berjalan ke jebakan hanya karena musuh mengirim pesan.
Tapi ketika pesan dari nomor kosong masuk ke ponselnya, tangannya tetap dingin.
Kalau ingin gelangmu kembali, datang ke Warung Nusa sore ini. Bawa pertanyaanmu. Jangan bawa suamimu.
Maya membaca pesan itu dan langsung berkata, "Tentu saja kita bawa suamimu. Tapi kita sembunyikan di radius yang membuatnya tidak terlihat menyebalkan."
Nadira menatapnya. "Kamu serius atau bercanda?"
"Dua-duanya."
Arga berdiri di dekat jendela apartemen serviced tempat Mama Ratih beristirahat. Ia baru kembali dari pertemuan dengan Pak Aditya. Wajahnya lelah, tapi matanya lebih berat dari lelah biasa.
"Pak Aditya setuju tes pembanding," katanya. "Tapi Ibu Retno menolak. Dia bilang Vania sedang rapuh dan tidak boleh ditekan."
Maya mengumpat pelan. "Cepat sekali."
"Dewi ada di sana?"
"Ada," jawab Arga. "Sebagai konsultan pemulihan tidur. Papa Surya hampir mengusirnya, tapi Pak Aditya menahan karena Ibu Retno panik."
Nadira menatap pesan di ponsel. "Berarti Vania ingin aku terlihat menyerang dia."
"Ya."
"Kalau aku tidak datang?"
"Dia akan membuat cerita bahwa kamu takut."
"Kalau aku datang?"
"Dia akan membuat cerita bahwa kamu agresif."
Nadira tersenyum tipis. "Pilihan yang indah."
Arga mendekat setengah langkah, lalu berhenti. "Aku akan ikut, tapi tidak duduk denganmu kalau kamu tidak mau."
"Aku mau kamu ada di dekat. Bukan di meja."
"Baik."
Maya mengangkat tangan. "Aku duduk di meja sebelah sebagai pelanggan lapar."
"Kamu selalu pelanggan lapar."
"Itu penyamaran yang mudah."
Mama Ratih yang sejak tadi diam akhirnya bicara dari sofa. "Mama tidak suka kamu pergi."
Nadira menoleh. "Aku tahu."
"Tapi kalau Mama melarang, itu suara Mama atau suara Dewi?"
Pertanyaan itu membuat ruangan hening.
Nadira duduk di samping ibunya. "Kalau Mama takut, itu suara Mama. Kalau Mama bilang aku harus menurut agar Mama tidak kehilangan aku, mungkin itu suara yang ditanam."
Mama Ratih mengusap dadanya. "Sulit membedakannya."
"Kita bedakan pelan-pelan."
Mama Ratih menggenggam tangan Nadira. "Kalau kamu pergi, pulang lagi."
"Aku pulang."
"Janji sebagai anak, bukan sebagai dokter."
Nadira menelan sesak. "Janji."
Warung Nusa bukan warung kecil. Tempat itu restoran Indonesia modern di kawasan Jakarta Selatan, sering dipakai keluarga pejabat karena ruang privatnya tertutup tapi tidak terlalu mewah. Nadira datang memakai kemeja putih dan celana hitam. Rambutnya diikat. Tidak ada perhiasan.
Maya sudah duduk di meja dekat jendela dengan sepiring tahu gejrot. Arga dan Bima masuk lewat pintu samping, duduk di area yang tidak langsung terlihat dari ruang privat. Aldi menunggu di parkiran.
Vania sudah ada di sana.
Ia tidak datang sendiri.
Di sampingnya duduk Ibu Retno Santoso.
Nadira berhenti di pintu ruang privat.
Vania tersenyum lembut. "Dokter Nadira. Terima kasih sudah datang."
Ibu Retno menatap Nadira dari kepala sampai kaki. Matanya tajam, tapi lelah. Ada sesuatu di wajahnya yang membuat dada Nadira sakit tanpa alasan.
"Jadi kamu perempuan yang terus mengejar Vania?" tanya Ibu Retno.
Nadira masuk dan duduk. "Saya datang karena Vania mengundang saya."
Vania menunduk. "Aku hanya ingin bicara baik-baik."
"Lewat pesan anonim?"
"Aku takut kamu marah."
Nadira hampir tertawa. "Vania, kamu pernah memalsukan video ibuku, mengirim ancaman ke rumah sakit, dan sekarang membawa gelang bayiku ke keluarga Santoso. Jangan mulai dengan takut."
Ibu Retno langsung menegang. "Jaga bicaramu."
Nadira menoleh kepadanya. "Bu, saya tidak ingin menyakiti Ibu. Tapi gelang itu bukan milik Vania."
Vania menggenggam tangan Ibu Retno. "Bu, tidak apa-apa."
Gerakan itu sangat halus. Seolah Vania yang sedang diserang.
"Aku tahu kamu tidak suka aku," kata Vania kepada Nadira. "Sejak awal kamu membuat semua orang berpihak padamu. Arga, Kevin, bahkan keluarga Hartono. Sekarang saat aku menemukan kemungkinan keluargaku sendiri, kamu juga ingin mengambilnya?"
Nadira menatapnya lama.
"Kamu benar-benar berani memakai kata keluargaku."
"Karena mungkin itu benar."
"Kalau benar, kenapa tidak tes resmi?"
Ibu Retno menyela, "Vania belum siap."
"Saya paham takut," kata Nadira. "Saya juga takut. Tapi kebenaran tidak bisa ditentukan dari siapa yang lebih dulu menangis."
Wajah Ibu Retno memucat.
Vania meneteskan air mata. Cepat, indah, tepat waktu.
"Bu, mungkin saya salah datang. Saya pikir Dokter Nadira sebagai sesama anak angkat bisa mengerti."
Nadira menatap air mata itu. "Aku mengerti anak angkat. Aku tidak mengerti pencurian."
Pintu ruang privat terbuka.
Kevin masuk.
Nadira terkejut. "Pak Kevin?"
Kevin menatap Vania dengan marah yang ditahan. "Aku menerima pesan dari Reza bahwa kamu di sini. Aku kira dia berbohong."
Vania langsung berdiri. "Mas Kevin, jangan ikut campur."
"Kamu membawa keluarga Santoso ke drama yang kamu buat sendiri."
Ibu Retno menatap Kevin. "Anda keluarga Hartono?"
"Kevin Hartono. Dan saya minta maaf karena adik saya membuat Ibu terlibat."
"Vania bukan membuat saya terlibat. Dia membawa harapan."
Nadira melihat bagaimana kata harapan mengubah wajah Ibu Retno. Di sana ada luka yang terlalu tua untuk diperdebatkan di meja restoran.
Vania memanfaatkan jeda itu.
"Nadira datang bukan untuk kebenaran, Bu. Dia tidak terima karena Mas Kevin memilih proyek dengannya. Dia selalu begitu. Membuat laki-laki merasa harus membela dia."
Kevin berkata tajam, "Cukup."
"Lihat?" Vania tertawa basah. "Baru satu kalimat, Mas Kevin langsung membela."
Nadira berdiri. "Aku tidak perlu membantah fitnah yang sama berkali-kali."
Ibu Retno juga berdiri. "Kamu tidak boleh pergi setelah menghina Vania."
"Saya menghina pencurian, Bu. Bukan Ibu."
"Kamu tidak tahu rasanya kehilangan anak!"
Kalimat itu membuat Nadira diam.
Ibu Retno melanjutkan, suaranya pecah, "Kalau gelang itu benar milik cucu saya, saya tidak akan membiarkan siapa pun merampas dia lagi."
"Justru karena itu, Ibu harus tes."
Vania menangis lebih keras. "Bu, saya tidak kuat."
Ibu Retno mengangkat tangan untuk menenangkan Vania, tapi gerakannya terlalu cepat. Nadira yang berdiri dekat meja terkena dorongan di bahu. Tubuhnya mundur, pinggulnya menghantam sudut meja.
Arga langsung masuk.
"Nadira."
Nadira menahan napas, sakit menyambar sisi tubuhnya.
Ibu Retno terkejut. "Saya tidak..."
Vania cepat memegang lengan Ibu Retno. "Bu, jangan takut. Dia hanya pura-pura sakit."
Arga menatap Vania.
Untuk pertama kalinya hari itu, Vania mundur setengah langkah.
Nadira menahan lengan Arga sebelum ia bicara. "Jangan."
"Kamu terluka."
"Aku tahu."
Ibu Retno melihat Arga, lalu Nadira, lalu Vania. Wajahnya bingung, seperti orang yang baru bangun di tempat asing.
Dewi tidak ada di ruangan itu, tapi Nadira hampir bisa mendengar suaranya.
Anak yang membawa harapan harus dilindungi.
Nadira menatap Ibu Retno.
"Bu, saya tidak akan merebut siapa pun dari Ibu. Tapi kalau Vania berbohong, dia sedang mencuri duka Ibu."
Ibu Retno menangis. "Keluar."
Nadira mengangguk. "Baik."
Arga membawanya keluar perlahan.
Di luar ruang privat, Maya sudah berdiri dengan ponsel di tangan. Wajahnya pucat.
"Aku rekam suaranya," bisiknya.
Nadira memegang sisi tubuhnya yang sakit.
"Bagus."
Arga menatapnya. "Kita ke klinik."
"Tidak. Kita ke tempat tes."
"Nadira."
"Aku tidak akan membiarkan Vania menjadi cucu orang lain hanya karena dia lebih cepat menangis."
Arga menatapnya lama. "Kalau kita ke tempat tes, kita lakukan resmi. Tidak diam-diam, tidak mengambil sampel orang tanpa izin."
"Aku tahu."
"Aku perlu mendengar kamu bilang itu."
Nadira menghela napas. "Aku tidak akan menjadi seperti Vania hanya untuk mengalahkan Vania."
Maya, yang masih memegang rekaman, berkata, "Kalimat bagus. Aku ingin tepuk tangan, tapi pinggangmu sakit dan Arga sedang mode tegang."
Nadira hampir tertawa. Sakit di pinggangnya tetap ada, tapi setidaknya amarahnya tidak lagi berantakan.
Dan bagi Nadira, amarah yang rapi jauh lebih berguna daripada keberanian yang berisik.
Ia membawanya seperti alat bedah.
Tajam, dingin, dan tidak boleh dipakai sembarangan.