Takdir mempertemukan Andien, gadis desa polos, dengan Carlo, pewaris konglomerat yang sekarat akibat pengkhianatan. Usai merawatnya hingga pulih, Andien dinikahi Carlo secara rahasia di desa—tanpa tahu bahwa di kota, Carlo sudah memiliki istri sah bernama Laras, seorang dokter muda berprestasi dengan karier yang gemilang.
Kehidupan Andien seketika berubah menjadi neraka saat Carlo membawanya ke kota dan menyembunyikannya sebagai "orang luar". Di balik kemewahan, Andien harus menelan pahitnya dituduh sebagai pengganggu, sementara Carlo bersikap dingin di depan publik demi menjaga nama baik dan posisinya di mata Laras. Namun, saat Laras yang cerdas mulai mencium aroma pengkhianatan di rumah tangganya, permainan rahasia Carlo terancam hancur. Akankah ketulusan Andien menang, atau ia hanya menjadi bayangan di tengah ambisi dan pernikahan megah Carlo?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon christinsenia seranica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14 Nama yang Diucapkan Lantang
Anak-anak Karang Sewu lebih dulu berlari ke ujung jalan.
Mereka sudah hafal pemandangan ini: mobil hitam mengilap di antara motor tua dan gerobak sapi. Tetapi kali ini, mereka berhenti beberapa langkah dari mobil itu, tiba-tiba segan, ketika pintunya terbuka dan seorang pria turun dengan lengan kiri tergantung di kain gendong.
Carlo tak memakai jas. Hanya kemeja putih sederhana yang digulung di siku kanan, dan celana kain yang sudah kusut oleh perjalanan empat jam. Wajahnya masih pucat, tulang pipinya lebih menonjol dari terakhir kali. Tak ada sopir. Tak ada barang bawaan. Tak ada karung beras atau amplop tebal.
Ia berdiri sebentar, menarik napas, lalu berjalan kaki menyusuri jalan desa.
Para petani yang pulang dari sawah berhenti. Ibu-ibu di depan warung Mbok Darmi berhenti menumbuk. Beberapa tetangga yang dulu hadir di pernikahan sederhana itu saling melirik dan berbisik.
Carlo tak mempercepat langkah. Ia tak menunduk. Ia menyapa satu per satu dengan anggukan kecil, seperti orang yang sedang membayar utang dengan cara paling sederhana: menunjukkan wajahnya.
---
Andien melihatnya dari bale-bale. Pisau kecil di tangannya berhenti di atas singkong.
"Ibu."
"Ibu lihat." Bu Rukmini meletakkan sendok jamunya perlahan. "Mau Ibu suruh pergi?"
"Tidak." Andien meletakkan pisau, mengelap tangan di kain jarit, dan berdiri. Lututnya terasa lemas, tetapi suaranya mengejutkan dirinya sendiri dengan ketenangannya. "Dien mau dengar dulu."
Carlo berhenti di depan pagar bambu yang rendah. Dari dekat, Andien bisa melihat betapa lelahnya mata itu, dan betapa jujur ketakutan di dalamnya.
"Selamat sore, Bu Rukmini," katanya lebih dulu, membungkuk dalam. "Dien."
"Mas."
"Boleh saya masuk?"
Andien menoleh pada ibunya. Bu Rukmini hanya mengangkat bahu kecil. "Pintu ini selalu terbuka. Tapi itu bukan berarti kamu boleh duduk sebelum bicara."
Carlo tersenyum tipis, seperti menerima hukuman yang pantas. Ia membuka pagar, melangkah ke halaman tanah, dan tidak duduk.
"Saya datang bukan membawa apa-apa," katanya. "Saya pikir, sudah terlalu banyak barang yang saya bawa ke rumah ini untuk menutupi hal yang sebenarnya."
"Mas datang sendiri?"
"Sendiri. Dokter melarang saya menyetir, jadi saya naik kereta dan bus dari kota. Dua kali tersasar." Ada nada malu yang halus. "Saya lupa bagaimana rasanya tidak diantar."
Seseorang di belakang pagar terkekeh pelan, lalu buru-buru berhenti.
Carlo menarik napas. Ia menoleh ke belakang, ke arah tetangga-tetangga yang berkerumun di tepi jalan, lalu kembali menatap Andien. Dan di bawah tatapan puluhan orang itu, ia berbicara dengan suara yang cukup keras untuk didengar semua.
"Nama saya Carlo Prasetia. Saya menikahi Andien binti Suparman di rumah ini beberapa bulan lalu, di depan penghulu dan dua saksi dari desa ini. Pernikahan itu sah. Dan hari itu, saya tidak memberi tahu Andien bahwa saya sudah beristri."
Kerumunan hening seketika.
"Saya berbohong pada dia. Saya berbohong pada ibunya. Saya menyembunyikannya di kota seperti sesuatu yang memalukan, padahal satu-satunya yang memalukan adalah saya." Suaranya sedikit pecah, tetapi ia melanjutkan. "Saya tidak datang meminta maaf supaya dimaafkan. Saya datang supaya semua orang yang pernah melihat dia berdiri di sini sebagai pengantin tahu bahwa kesalahan itu bukan miliknya."
Andien merasa tenggorokannya menyempit. Di belakang Carlo, Mbok Darmi menutup mulut dengan ujung kerudung. Seorang bapak tua yang dulu menjadi saksi menunduk dalam-dalam.
"Dan satu lagi," lanjut Carlo. "Saya tidak akan pernah lagi meminta Andien untuk menjadi rahasia. Apa pun yang ia putuskan hari ini, namanya akan saya sebut di depan siapa pun yang bertanya, dengan hormat."
Keheningan menggantung, panjang dan penuh.
---
Bu Rukmini yang pertama kali bergerak. Ia turun dari bale-bale, mendekat sampai berdiri tepat di depan Carlo, tubuhnya yang kecil terlihat jauh lebih tinggi dari biasanya.
"Nak Carlo."
"Iya, Bu."
"Dulu kamu bilang, tidak akan mempermainkan perasaan anak saya."
"Saya ingat, Bu."
"Kamu ingat, tapi tetap melakukannya."
"Iya, Bu."
Bu Rukmi menatapnya lama. Lalu tanpa peringatan, tangannya yang kasar dan hangat terangkat dan menepuk pipi Carlo, bukan tamparan, tetapi tepukan keras, seperti seorang ibu yang menegur anak. Carlo tak mengelak.
"Itu untuk kebohonganmu," kata Bu Rukmi pelan. "Dan ini..." Ia menurunkan tangannya dan menggenggam tangan kanan Carlo yang bebas. "Ini untuk nyawa anak saya yang kamu selamatkan di rumah tua itu. Laras meneleponku semalam. Dia cerita semuanya."
Mata Carlo membelalak. "Bu Laras menelepon Ibu?"
"Perempuan yang sopan sekali. Lebih sopan dari kamu." Bu Rukmini mendengus, tetapi sudut bibirnya bergerak. "Sekarang, minggir. Ibu mau masuk. Biar anak Ibu yang memutuskan sisanya."
Ia melenggang masuk ke gubuk tanpa menoleh lagi. Pintu anyaman berderit menutup, menyisakan Andien dan Carlo di halaman, ditonton separuh desa.
---
"Kita bicara di belakang saja," kata Andien akhirnya. "Telinga di sini terlalu banyak."
Mereka berjalan melewati kebun sayur yang kini rimbun. Kangkung dan bayam tumbuh lebat, hijau pekat di bawah langit jingga. Carlo berhenti memandanginya.
"Kamu masih menyiram pagi-pagi."
"Mas yang mengajari."
"Dan hasilnya dua kali lipat."
"Tiga kali lipat," koreksi Andien, dan hampir tersenyum sebelum teringat bahwa ia seharusnya marah.
Mereka duduk di pematang kecil di tepi kebun. Angin sore membawa bau tanah dan asap kayu bakar dari dapur tetangga. Beberapa saat tak ada yang bicara.
"Bagaimana Bu Laras?" tanya Andien.
"Di rumah orang tuanya. Dia belum memutuskan apa pun, dan aku tidak berhak menekannya." Carlo menatap lurus ke depan. "Dien, aku tidak datang untuk memintamu menunggu. Aku tidak punya hak untuk itu. Dan aku tidak tahu bagaimana ini akan berakhir, apakah Laras akan memaafkan, apakah dia akan pergi, atau apakah..." Ia berhenti. "Aku hanya tahu satu hal. Aku tidak mau lagi memutuskan sesuatu tentangmu tanpa kamu."
"Itu terdengar seperti janji."
"Bukan janji." Carlo merogoh saku celananya dan mengeluarkan sesuatu yang membuat Andien menahan napas. Dua lembar tiket kereta, lecek dan sedikit berlipat. "Ini undangan. Kamu boleh menolak."
Andien menerima lembaran itu dengan jari gemetar. Tujuan di tiket: sebuah stasiun di pesisir selatan. Tanggal keberangkatan: Sabtu depan. Dua kursi, kelas ekonomi.
"Mas..."
"Aku tidak membeli kelas bisnis," buru-buru Carlo menambahkan. "Aku ingin kamu tahu bahwa aku tidak mencoba membeli apa pun. Satu untukmu, satu untuk Bu Rukmini. Aku akan naik bus terpisah, kalau kalian tidak ingin aku ikut."
"Kenapa laut?"
"Karena kamu bilang, malam itu, kamu belum pernah melihatnya." Suara Carlo rendah. "Aku sudah memikirkannya sejak hari itu. Aku bilang pada diriku sendiri, suatu hari aku akan membawamu. Dan sejak itu aku melakukan segalanya kecuali menepati itu."
Andien menunduk, menatap tiket di tangannya. Air matanya jatuh tepat di atas angka kursi, membuat tinta sedikit memudar.
"Mas," bisiknya. "Saya masih marah."
"Aku tahu."
"Saya masih sakit hati."
"Aku tahu."
"Dan saya belum tahu apakah saya masih mau jadi istri Mas, atau apakah saya mau jadi apa pun yang melibatkan Mas."
"Kamu tidak perlu tahu sekarang." Carlo menoleh, menatapnya penuh. "Kamu hanya perlu memutuskan apakah kamu mau melihat laut."
Andien tertawa, terisak, tertawa lagi, suara yang campur aduk antara marah, sedih, dan sesuatu yang lain yang tak ia mau beri nama.
"Mas licik."
"Aku belajar dari yang terbaik." Carlo tersenyum kecil. "Dari gadis yang menolong orang asing di tengah badai dan tidak menanyakan apa pun."
Andien menyeka matanya dengan punggung tangan. Ia menatap hamparan sawah yang mulai gelap, lalu langit yang menyala jingga di ujung cakrawala. Di suatu tempat jauh di selatan, ada laut yang belum pernah ia lihat, ombak yang katanya bisa menenangkan hati.
"Saya akan ikut," katanya akhirnya. "Dengan Ibu. Tapi di kursi sebelah saya, Ibu yang duduk. Mas di gerbong lain."
"Setuju."
"Dan Mas tidak boleh bicara soal pernikahan, soal Bu Laras, atau soal masa depan. Hanya laut."
"Hanya laut."
"Dan kalau di sana saya memutuskan untuk pulang sendirian, Mas tidak boleh mengejar."
Carlo menarik napas dalam, lalu mengangguk pelan, sangat pelan.
"Aku tidak akan mengejar."
Andien memandangnya lama. Di bawah cahaya senja, wajah pria itu tampak lebih jujur daripada yang pernah ia lihat, tanpa jas, tanpa sopir, tanpa topeng. Hanya seorang pria dengan bahu terluka yang berani berdiri di halaman rumah yang pernah ia permalukan.
Ia melipat tiket itu dan menyelipkannya ke kantong jaritnya.
"Kalau begitu, istirahatlah dulu, Mas. Tidur di bale-bale depan. Besok pagi saya ajari Mas menyiram kebun lagi."
Carlo tersenyum, dan kali ini senyum itu sampai ke matanya.
Dari balik dinding anyaman gubuk, Bu Rukmini, yang tentu saja mendengar semuanya, mengusap matanya dengan ujung kain, lalu berpura-pura sibuk mengaduk jamu.
---
*Bersambung ke Bab 15...*
mampir juga di karyaku "Rotinya Manis, Rin! ya