Valeska Aurelia punya tiga prinsip hidup: habiskan uang, tabrak aturan, dan jangan pernah dengarkan orang lain.
Sebagai putri tunggal konglomerat ternama, Valeska terbiasa hidup bak ratu yang tak tersentuh hukum. Pesta malam, mobil sport, dan deretan kartu kredit tanpa limit adalah makanan sehari-harinya.
Sampai dalam semalam, sebuah skandal besar menghancurkan bisnis keluarganya. Ayahnya dipenjara, aset disita, dan semua kartu kreditnya diblokir. Valeska yang kemarin dipuja-puja kini terdepak dari istananya dan terpaksa angkat kaki hanya dengan membawa satu koper berisi barang-barang tak berguna.
Dari kamar seluas lapangan basket ke kontrakan sempit yang airnya sering mati, Valeska dipaksa menghadapi kenyataan pahit: dia tidak tahu cara menyapu, kaget melihat harga mi instan, dan harus mencari uang sendiri.
Mampukah si Nona Muda yang ugal-ugalan ini bertahan hidup tanpa uang sepeser pun, atau gengsi setinggi langitnya justru bikin hidupnya makin berantakan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BUNGA LYONA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
14. Kenyataan Pahit
"Ma..." panggil Valeska pelan begitu motor Elang menghilang di balik belokan gang. matanya masih menatap lurus ke arah jalanan becek. "Kok bisa Papa nyuruh Si Elang? Dan kok Si Elang mau-mauan nganterin aku?"
Mamanya menghela napas panjang, mengusap bahu Valeska yang agak basah terkena gerimis. "Mama juga kurang tahu pasti, Val... Tapi seingat Mama, Papa kamu pernah cerita sepintas waktu itu. Papa yang bantu mengurus rekomendasi beasiswa penuh Elang waktu dia masuk SMA Nusantara."
Valeska mendongak kaget, matanya membelalak. "Papa... yang bantu dia?"
"Iya," angguk Mamanya dengan suara parau. "Mungkin karena itu Elang masih merasa hormat sama Papa kamu, makanya dia mau bantu jaga kamu hari ini. Udah yuk, masuk dulu, dingin di luar."
Valeska melangkah masuk ke dalam kontrakan kecil itu. Bau lembap dan ruangan sempit berukuran tak lebih dari beberapa meter langsung menyambutnya. Hanya ada satu kasur kapuk tipis di lantai, beberapa tumpukan kardus barang, dan sebuah kamar mandi kecil di pojok.
Mata Valeska memerah lagi. Dia memegangi kepalanya yang mendadak pusing melihat tempat tinggal barunya.
"Ma... apa kita bakal terus tinggal di tempat kayak begini?" bisik Valeska, suaranya bergetar menahan tangis dan mual. "Tempatnya kumuh... sempit banget, Ma... Aku enggak bisa tidur di sini!"
"Valeska, tolong... Mama juga bingung," potong Mamanya pasrah, duduk menghempaskan diri di tepi kasur kapuk dengan wajah lelah. "Kita udah enggak punya uang dingin sama sekali. Ini kontrakan paling murah yang bisa Mama bayar pakai sisa uang tunai di dompet Mama."
Valeska mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan yang berantakan, lalu menyadari satu hal yang hilang.
"Kemana Bi Sumi, Ma? Pak Joko mana? Mbak Marni kemana?" cecar Valeska panik, menyebutkan nama-nama asisten rumah tangga dan supir yang selama ini melayaninya dari kecil.
"Jelas udah Mama pecat semuanya, Val," sahut Mamanya lirih. "Rumah kita disita, rekening diblokir, Mama bayar gaji mereka pakai apa lagi?"
"Kenapa dipecat, Ma?!" jerit Valeska histeris, air matanya menetes lagi kencang-kencang. "Kalau enggak ada mereka gimana aku nanti?! Siapa yang mau cuci baju aku? Siapa yang mau masak makanan aku? Kalau Bi Sumi enggak ada, siapa yang mau bantuin aku kalau aku kesusahan?!"
Mamanya menatap Valeska dengan pandangan campur aduk—kesal, sedih, sekaligus sangat kasihan melihat kelakuan anak tunggalnya yang belum siap menerima kenyataan pahit.
"Buka mata kamu, Valeska!" seru Mamanya pelan namun tegas. "Keluarga kita udah bangkrut! Papa kamu dipenjara! Kamu bukan putri raja lagi yang bisa nyuruh-nyuruh orang seenaknya! Mulai sekarang, enggak ada Bi Sumi, enggak ada Pak Joko, enggak ada siapa-siapa! Kamu harus belajar ngerjain semuanya sendiri!"
Kata-kata Mamanya menggema di dalam ruangan sempit itu, membungkam mulut Valeska seketika. Valeska terduduk lemas di atas lantai semen yang dingin, menutup wajahnya dengan kedua tangan, dan menangis sejadi-jadinya di tengah kegelapan kontrakan kecil mereka.
Tangis Valeska makin pecah, suaranya teredam di balik telapak tangannya yang gemetaran. Dinding tembok kontrakan yang mengelupas dan aroma udara lembap serasa makin mencengkeram dadanya. Tidak ada lagi kamar luas ber-AC, tidak ada Bi Sumi yang sigap membawakan segelas susu hangat saat dia menangis, dan tidak ada Papa yang selalu memberinya kartu kredit tanpa limit.
Mamanya memejamkan mata erat-erat, ikut meneteskan air mata. Rasa bersalah karena terlalu memanjakan Valeska kini berbalik menjadi pukulan telak yang amat menyakitkan. Mamanya berlutut di lantai semen yang dingin, lalu merengkuh bahu Valeska yang berguncang hebat.
"Maafin Mama ya, Val..." bisik Mamanya dengan suara parau dan patah-patah. "Mama tahu ini berat banget buat kamu. Tapi kita enggak punya pilihan lain... Mama juga takut, Val. Tapi kalau bukan kita yang saling menguatkan, siapa lagi?"
Valeska tidak menjawab. Dia memeluk Mamanya erat-erat, meluapkan seluruh rasa takut, malu, dan kehilangan yang menumpuk sejak pagi. Di dalam pelukan yang dingin itu, Valeska menyadari betapa ringkihnya kehidupan yang selama ini dia bangga-banggakan.
***
Malam makin larut. Hujan di luar Gang Mawar perlahan mereda, menyisakan suara tetesan air dari atap seng kontrakan yang bocor di beberapa titik.
Valeska berbaring di atas kasur kapuk tipis berselimut kain seadanya. Badannya terasa pegal-pegal, kepalanya berat, dan matanya bengkak. Setiap kali menutup mata, bayangan sorot mata mengejek dari Giselle, bisik-bisik teman sekelasnya, hingga wajah tenang Elang yang menyodorkan susu cokelat terus berputar di kepalanya.
“Dunia lo yang dulu emang udah hancur... Tapi kalau lo tetep egois dan ngandelin gengsi sampah lo itu, lo bakal makin hancur.”
Kalimat tajam dari Elang itu terus terngiang, menusuk kedalaman batinnya. Sekarang, Valeska tidak bisa membantah tuduhan itu. Keangkuhannya tidak lagi bisa menyembunyikan kenyataan bahwa kini dia berada di titik paling bawah.
Di sudut ruangan, Mamanya sudah tertidur pulas karena kelelahan secara fisik dan mental. Valeska bangkit perlahan dari kasur, melangkah mendekati tumpukan koper dan dus pakaian mewahnya.
Dia mengambil salah satu gaun pesta mahal yang biasa dia pakai ke acara megah, menatap kain sutra itu di bawah remang-remang lampu bohlam kuning. Kain itu kini terasa tidak ada harganya sama sekali—tidak bisa dibeli untuk semangkuk bakso, tidak bisa dipakai untuk membayar sewa kontrakan, dan tidak bisa mengembalikan Papanya dari penjara.
Dengan napas tumpah-tumpah, Valeska melipat gaun itu kembali, lalu memasukkannya ke dalam dus paling bawah. Dia mengambil seragam sekolahnya yang agak basah, menggantungnya di paku dinding dengan tangan sendiri—sebuah hal kecil yang belum pernah dia lakukan seumur hidupnya.
Sambil menatap seragamnya yang menggantung kaku, Valeska mengepalkan jemarinya erat-erat. Dugaannya tentang hari esok terasa begitu menakutkan, tapi di tengah kegelapan kontrakan kecil itu, ada sesuatu yang perlahan bergeser di dalam dirinya.
***
Keesokan paginya, Valeska terbangun saat sinar matahari menerobos celah ventilasi udara kontrakan yang berdebu. Tubuhnya terasa kaku dan pegal akibat tidur di atas kasur kapuk yang tipis. Di sudut ruangan, Mamanya sedang memanaskan air di kompor gas portable kecil yang dipinjam dari pemilik kontrakan.
"Val, bangun..." panggil Mamanya pelan dengan raut wajah lelah. "Airnya udah mendidih kalau kamu mau cuci muka. Maaf ya, hari ini Mama cuma bisa bikin teh manis hangat."
Valeska diam sejenak, menatap cangkir seng berisi teh manis yang ditaruh Mamanya di atas lantai. Rasa gengsinya masih terasa mengganjal di tenggorokan, tapi melihat lingkaran hitam di bawah mata Mamanya yang makin menebal, Valeska tak sanggup untuk mengeluh lagi.
"Iya, Ma," sahut Valeska parau.
Dia berdiri, merapikan seragamnya yang digantung di paku semalam. Tanpa Bi Sumi yang biasa menyiapkan sepatu dan tas mewahnya, Valeska memakai sepatunya sendiri, mengikat talinya dengan jemari yang masih agak gemetar.
Saat tiba di gerbang SMA Nusantara, suasana dingin langsung menyambutnya. Valeska berjalan menunduk, berusaha menutup telinga dari bisik-bisik pedas yang makin gencar berkumandang di sepanjang koridor.
"Eh, lihat deh, si anak koruptor datang lagi."
"Baju seragamnya kok kayak lecek gitu ya? Sekarang nyuci sendiri kali ya, enggak punya ART lagi."
"Lagian sok-sok masuk sekolah elit, mending pindah ke sekolah pinggiran aja kagak sih?"
Valeska mengepalkan tangannya di balik saku rok, menahan panas di matanya. Saat dia berbelok ke arah tangga menuju kelas XI-1, dia berpapasan dengan Giselle yang sedang berjalan bersama beberapa anak cewek populer lainnya.
Giselle menghentikan langkahnya, menyilangkan tangan di dada sambil memasang senyum mengejek. "Aduh, kasihan banget ya... Udah enggak naik mobil Porsche lagi nih sekarang? Tadi naik angkot nomor berapa, Val?"
Teman-teman di sekitar Giselle langsung tertawa geli. Valeska menghentikan langkahnya, menatap Giselle dalam-dalam. Dulu, kata-kata seperti itu pasti langsung dibalas Valeska dengan jambakan atau makian. Tapi sekarang, Valeska cuma bisa mengepalkan tangan sampai kuku-kukunya melukai telapak tangannya sendiri.
"Kenapa diam aja? Bisu lo sekarang gara-gara bangkrut?" cerca Giselle lagi dengan nada merendahkan.
"Udah puas lo ngetawain gue, Selle?" potong Valeska dengan suara bergetar tapi terdengar menahan emosi yang besar. "Gue tahu keluarga gue lagi hancur. Tapi minimal gue tahu, siapa teman yang beneran dan siapa musang berbulu domba kayak lo."
Giselle tersentak, raut mukanya mendadak berubah kesal. "Apa lo bilang?! Sok suci banget lo—"
"Ada apa ini riuh-riuh?"
Sebuah suara berat memotong perdebatan itu. Elang berjalan dari arah perpustakaan membawa tumpukan buku pelajaran. Cowok itu melangkah santai, lalu berhenti tepat di tengah-tengah antara Valeska dan Giselle.
Giselle yang melihat Elang langsung mendengus malas. "Ngapain sih lo ikut campur? Urus aja tuh beasiswa lo yang pas-pasan!"
Elang menatap Giselle datar tanpa ekspresi. "Gue enggak ikut campur. Tapi kalau lo berdua mau rebutan gelar cewek paling berisik di sekolah ini, mending ke lapangan basket aja. Jangan di depan tangga, ngahalangin jalan."
Giselle memutar bola matanya tajam. "Dih, gajelas!" cetusnya lalu mengajak geng barunya pergi melangkah naik ke lantai atas.
Setelah koridor agak sepi, Elang melirik Valeska yang masih berdiri membatu di samping tangga dengan muka memerah menahan malu dan amarah.
"Masih punya mulut ternyata," pangkas Elang datar sambil merapikan tumpukan buku di tangannya. "Bagus deh. Daripada kemarin cuma bisa nangis di pojokan kelas."
Valeska menoleh tajam ke arah Elang, bibirnya ditekuk rapat. "Gue enggak butuh dibela sama lo, Elang."
"Siapa yang ngebela lo?" balas Elang santai, sudut bibirnya terangkat tipis. "Gue cuma males dengar suara lengkingan si Giselle pagi-pagi. Masuk kelas sana, sebentar lagi bel."