Di mata dunia, Theodore hanyalah "menantu benalu" yang bisanya mencuci piring, mengepel lantai, dan menelan setiap hinaan dari keluarga istrinya tanpa perlawanan. Namun, tidak ada yang tahu bahwa di balik celemek kusamnya, ia adalah Dewa Perang yang ditakuti, Raja Mafia terkuat, dan miliarder pemilik perusahaan raksasa yang sengaja memalsukan kematiannya. Ia menahan semua caci maki hanya demi Yevone, satu-satunya wanita yang setia membelanya di tengah keluarga yang kejam. Namun, ketika keserakahan keluarga mertuanya dan Keluarga Z melewati batas hingga mengancam keselamatan Yevone, Theodore memutuskan sudah waktunya melepas penyamarannya. Dengan sebuah cincin naga hitam usang di jarinya, Theodore bersiap menunjukkan kepada mereka bahwa kemiskinan yang absolut adalah hukuman yang jauh lebih mengerikan daripada kematian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fery Oktavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RDBMB 21
Lampu kristal raksasa yang menggantung di atap ballroom Hotel Grand Palace memancarkan cahaya keemasan yang menyilaukan. Suasana pesta ulang tahun ke-75 Kakek Surya terasa begitu megah dan mewah. Deretan meja perjamuan dilapisi kain sutra merah, dipenuhi dengan hidangan kelas atas dan anggur mahal. Para pengusaha terpandang, pejabat lokal, dan keluarga besar Mahendra berkumpul dengan setelan jas dan gaun malam yang berkilauan.
Di sudut utama panggung, Kakek Surya duduk di kursi kebesaran yang diukir indah. Wajahnya berseri-seri penuh kebanggaan menerima giliran penghormatan dari para tamu.
"Selamat ulang tahun yang ke-75, Kek! Ini dari Kevin, jam tangan Rolex edisi terbatas seharga tiga ratus juta rupiah," Kevin maju dengan gaya angkuh, menyerahkan sebuah kotak beludru hitam.
"Bagus, bagus sekali! Terima kasih, Kevin," Kakek Surya mengangguk puas, memamerkan jam tangan itu ke para tamu yang bertepuk tangan riuh.
Tak lama kemudian, Zico melangkah maju dengan pakaian jas kustom impor dan kacamata hitam yang disematkan di kantong jasnya. Di belakangnya, dua pengawal membawa sebuah kotak berlapis kain sutra emas.
"Kakek Surya, sebagai calon cucu menantu, saya persembahkan patung ukiran giok asli dari Tiongkok seharga delapan ratus juta rupiah," Zico berucap dengan nada menyombongkan diri, melirik ke arah Yevone yang duduk canggung di meja keluarga. "Semoga Kakek panjang umur dan selalu sehat."
"Luar biasa! Tuan Muda Zico memang tiada tandingannya! Terima kasih banyak!" Kakek Surya tertawa lebar, merasa sangat terhormat.
Martha yang berdiri di sebelah Kakek Surya langsung menyenggol lengan Yevone dengan kasar. "Lihat itu, Yev! Tuan Muda Zico ngasih kado nyaris satu miliar! Mana ada laki-laki di kota ini yang sehebat dan semurah hati dia?"
Yevone hanya diam, memalingkan wajahnya dengan cemas. Tangannya yang memegang piala anggur bergetar pelan. Ia terus melirik ke arah pintu masuk ballroom. Sepanjang sore tadi, Theodore tidak kelihatan di rumah. Yevone takut suaminya nekat datang dan menjadi bahan celaan keluarga di tempat semewah ini.
Bisik-bisik kagum para tamu yang tadinya memuji hadiah Zico mendadak terhenti seketika.
Pintu ganda ballroom yang terbuat dari kayu jati berukir mendadak terbuka. Seseorang melangkah masuk dengan tenang menembus kerumunan tamu.
Seluruh mata di ruangan itu serentak tertuju ke arah pintu. Suasana ballroom yang tadinya hangat mendadak sunyi.
Theodore berjalan santai menyusuri karpet merah. Berbeda jauh dengan para tamu yang mengenakan jas tuksedo dan gaun berhias permata, Theodore hanya mengenakan kemeja putih polos yang sudah agak kusam, celana bahan hitam sederhana, dan sepatu pantofel murah yang ujungnya mulai terkelupas.
Di tangan kanannya, ia memegang sebuah kotak kayu kecil berwarna cokelat tua tanpa ukiran atau hiasan apa pun, dibungkus ikatan tali rami yang tampak sangat kumuh.
"Astaga... itu kan si gembel benalu?" bisik seorang wanita bergaun biru di barisan meja depan.
"Beneran dia! Kok orang kayak gitu bisa lolos masuk ke hotel bintang lima sih? Petugas keamanannya pada tidur apa gimana?" sahut pria berkacamata di sebelahnya sambil tertawa mengejek.
Martha yang melihat kedatangan menantunya langsung berdiri dari kursinya. Wajahnya memerah padam menahan malu yang luar biasa di depan ratusan tamu terpandang.
"Ngapain kamu ke sini, gembel?!" maki Martha dengan suara melengking, menunjuk-nunjuk wajah Theodore tanpa peduli etika. "Siapa yang ngizinin kamu masuk ke pesta megah ini, hah?!"
Theodore menghentikan langkahnya tepat di depan panggung utama, berdiri beberapa meter dari Kakek Surya. Wajahnya tenang tanpa riak ketakutan.
"Hari ini ulang tahun Kakek. Sebagai cucu menantu, tentu saja aku datang untuk memberikan selamat dan membawa hadiah," jawab Theodore datar, suaranya terdengar jelas memecah keheningan ruangan.
Gelak tawa langsung meledak dari seluruh penjuru ballroom. Para tamu saling pandang sambil menunjuk-nunjuk Theodore seolah baru saja melihat pertunjukan topeng monyet.
"Hadiah? Hahaha! Dengarkan itu!" Kevin tertawa terbahak-bahak sampai memegangi perutnya. "Benalu jalanan mau ngasih hadiah ke Kakek! Paling isinya baju bekas pasar kaget atau roti basi sisa tadi pagi!"
Zico maju dua langkah, bersedekap dada sambil menatap Theodore dengan pandangan menjijikkan.
"Bahkan pelayan yang melayani minum di hotel ini aja bajunya lebih mahal dari seluruh pakaian yang ada di tubuhmu, Theodore," cibir Zico disambut sorak-sorai tawa dari rekan-rekan bisnisnya. "Nggak punya malu banget kamu datang membawa kotak kayu rongsokan itu di depan kado giok delapan ratus jutaku!"
Yevone yang tidak tahan melihat suaminya dihina habis-habisan di depan umum langsung berdiri dari mejanya. Ia berlari kecil menghampiri Theodore, mencoba menarik lengan suaminya.
"Theo, udah... ayo kita pulang aja," bisik Yevone dengan mata berkaca-kaca, suaranya bergetar menahan tangis. "Kamu nggak perlu buktiin apa-apa ke mereka. Ayo kita pergi dari sini."
Theodore tidak bergeming. Ia membalas genggaman tangan Yevone dengan lembut, memberinya tatapan tenang yang seolah mengatakan bahwa semuanya ada di dalam kendalinya.
Kakek Surya menggebrak pegangan kursi kayunya dengan amat keras. Matanya melotot tajam, menatap Theodore seperti melihat seonggok kotoran yang mengotori karpet mewahnya.
"Cukup!" teriak Kakek Surya dengan suara serak nan murka. "Kamu sengaja datang ke sini cuma buat bikin malu keluarga Mahendra di depan seluruh relasi bisnisku, kan?! Dasar benalu tak tahu diri!"
"Aku datang bawa hadiah yang tulus untuk kesehatan Kakek," balas Theodore tenang, tetap menggenggam kotak kayu polos di tangannya.
"Kesehatan matamu!" maki Martha yang ikut maju, berdiri di samping Kakek Surya. "Kado giok Tuan Muda Zico dan jam tangan Kevin itu baru dinamakan hadiah berkelas! Sedangkan kotak kayu loakmu itu cuma sampah yang bikin pengap ruangan ini!"
"Seret dia keluar sekarang juga!" raung Kakek Surya memberi perintah ke arah petugas sekuriti hotel yang mulai berdatangan. "Jangan biarkan sampah ini merusak malam bahagiaku!"
Di tengah gelak tawa, cemoohan, dan tatapan hina dari ratusan tamu kelas atas yang memandang Theodore bagai serangga, Sang Dewa Perang hanya berdiri tegak. Ia mengelus lembut kotak kayu kecil di tangannya, menyimpan rahasia besar yang sebentar lagi akan membungkam seluruh mulut sombong di ruangan itu.