Demi menyelamatkan nyawa ibunya, Aira Kirana terpaksa menerima tawaran nikah kontrak dari Devan Mahendra. CEO dingin yang membutuhkan istri formalitas demi posisinya di Mahendra Group. Bagi Devan, Aira hanyalah transaksi yang bisa dibeli dengan uang.
Namun, Aira menolak tunduk. Di tengah intrik dan hinaan keluarga Mahendra, ia berdiri tegap mempertahankan harga diri dan ketulusannya sebagai perajin tenun.
Saat benih kepedulian Devan mulai tumbuh, bayang-bayang masa lalu bernama Clara kembali hadir, membawa ujian baru bagi hubungan mereka.
Mampukah Devan meruntuhkan egonya demi mempertahankan Aira? Ataukah Aira memilih pergi, membuktikan bahwa ketulusan tak pernah bisa dibeli?
Sebuah kisah tentang harga diri, penyesalan suami, dan kekuatan ketulusan yang meluluhkan hati yang beku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fabdul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Awal Kehidupan Baru
Fajar mulai menyingsing di Desa Kalimurni ketika sebuah ambulans swasta berhenti di halaman rumah Aira. Dua petugas medis turun dan segera menyiapkan tandu untuk membawa ibunya ke rumah sakit.
“Aira, kita mau ke mana, Nduk?” tanya ibunya lirih.
“Kita ke rumah sakit, Bu. Ibu akan mendapat perawatan di sana.”
“Bukannya biaya rumah sakit mahal?”
Aira menggeleng pelan. “Ibu tidak perlu memikirkan itu. Semuanya sudah diurus. Ibu fokus berobat saja, ya.”
Ibunya mengangguk lemah. Setelah petugas medis selesai menyiapkan tandu, Aira membantu membawa ibunya ke dalam ambulans.
Sebelum menyusul, ia menghampiri ketiga adiknya yang berdiri di teras.
“Mbak berangkat dulu, ya. Kalian baik-baik di rumah. Jaga diri dan jangan bertengkar.”
“Iya, Mbak. Hati-hati di jalan,” jawab Ratih.
Aira mengusap kepala Maya, lalu menatap Bima.
“Mbak titip rumah, ya.”
“Iya, Kak,” jawab Bima.
Aira memeluk ketiga adiknya secara bergantian sebelum masuk ke ambulans. Tak lama kemudian, kendaraan itu meninggalkan halaman rumah menuju rumah sakit.
Setibanya di rumah sakit, ibu Aira langsung dibawa ke ruang pemeriksaan. Setelah diperiksa dokter, ia dipindahkan ke kamar perawatan khusus yang telah disiapkan. Dua perawat juga ditugaskan untuk membantunya selama menjalani perawatan.
Aira mengucapkan terima kasih kepada mereka sebelum duduk di sisi tempat tidur ibunya.
“Bagaimana perasaan Ibu sekarang?” tanyanya.
“Sedikit lebih baik, Nduk.” Ibunya menatap sekeliling kamar. “Apa kita akan dirawat di sini?”
Aira mengangguk. “Iya, Bu. Ibu akan mendapat perawatan yang lebih baik di sini. Jadi, Ibu tidak perlu khawatir.”
Ibunya mengangguk pelan. Sesaat kemudian, Aira menggenggam tangannya.
“Bu, ada yang ingin Aira sampaikan.”
“Apa itu, Nduk?”
“Sore nanti Aira harus pergi ke Jakarta, Bu." Aira berusaha tersenyum. “Aira sudah menerima tawaran pekerjaan di sana. Jadi, selama Ibu dirawat, Aira tidak bisa menemani Ibu."
Ibunya terdiam. Tatapannya beralih ke wajah Aira, seolah sedang mencoba memahami sesuatu.
“Kenapa mendadak sekali, Nduk?"
Aira terdiam sesaat sebelum menjawab, “Ada urusan pekerjaan yang harus Aira selesaikan di Jakarta, Bu.”
“Pekerjaan apa?”
Aira meremas jemari ibunya pelan. “Nanti Aira ceritakan kalau waktunya sudah tepat.”
Ibunya menghela napas. Ia mengenal putrinya dengan baik. Dari cara Aira menjawab dan menghindari tatapannya, ia tahu ada sesuatu yang belum ingin diceritakan gadis itu.
“Kamu sedang menyembunyikan sesuatu dari Ibu, ya?”
Aira tertegun. Ia mengangkat wajah, tetapi tak segera menemukan jawaban.
“Bukan begitu, Bu....”
Ibunya tersenyum tipis, lalu mengusap punggung tangan Aira.
“Kalau kamu belum siap bercerita, Ibu tidak akan memaksamu. Tapi, apa pun yang terjadi, jangan sampai kamu menanggung semuanya sendirian.”
Aira menunduk. Perkataan ibunya membuat dadanya terasa sesak. Ia ingin menceritakan semuanya, tetapi belum sanggup mengungkapkan bahwa kepergiannya ke Jakarta bukan sekadar untuk bekerja.
“Iya, Bu.”
“Pergilah kalau memang ada urusan yang harus kamu selesaikan. Ibu akan baik-baik saja di sini. Kamu hanya perlu menjaga dirimu selama di Jakarta.”
Aira mengangguk, lalu menggenggam tangan ibunya lebih erat.
“Aira akan baik-baik saja, Bu.”
Ibunya membalas genggaman itu tanpa bertanya lebih jauh.
Menjelang pukul empat sore, Arga tiba di rumah sakit. Ia mengetuk pintu sebelum masuk dan mendapati Aira sedang duduk di samping tempat tidur ibunya.
“Maaf mengganggu, Nona Aira. Mobil sudah menunggu. Kita harus segera berangkat ke bandara,” ujar Arga.
Aira mengangguk, kemudian berdiri.
“Baik, Pak Arga. Saya pamit sebentar.”
Ia membenarkan selimut ibunya sebelum menggenggam tangan perempuan itu.
“Bu, Aira berangkat dulu, ya.”
Ibunya membuka mata. “Hati-hati di jalan, Nduk.”
“Iya, Bu. Ibu juga harus menjaga kesehatan dan mengikuti saran dokter.”
Ibunya tersenyum tipis. “Kamu tidak perlu khawatirkan Ibu. Pergilah dengan tenang.”
Aira mengangguk. Ia mencium tangan ibunya, lalu melangkah menuju pintu. Meski berat meninggalkan perempuan itu, ia tahu dirinya harus segera berangkat.
Sebelum meninggalkan rumah sakit, Aira mengirimkan pesan kepada Ratih berisi nomor kontak perawat yang merawat ibu mereka. Ia juga memberi tahu bahwa Ratih boleh menghubungi perawat tersebut atau datang menjenguk Ibu mereka jika diperlukan.
Setelah berpamitan kepada kedua perawat, Aira mengikuti Arga menuju mobil.
Sepanjang perjalanan menuju bandara, Aira lebih banyak diam. Ia memandangi jalanan dari balik jendela, sementara Arga sesekali memeriksa jadwal penerbangan mereka.
“Sesampainya di Jakarta, kita akan langsung menuju kediaman Tuan Devan. Tuan Devan sudah menunggu,” ujar Arga.
Ia kemudian melanjutkan penjelasannya. “Besok pukul sembilan pagi, Nona akan menjalani proses pencatatan pernikahan bersama Tuan Devan. Setelah itu, Nona akan tinggal di penthouse miliknya.”
Aira mengangguk pelan. “Baik, saya mengerti.”
Aira terdiam sejenak, lalu bertanya, “Kalau saya ingin mengunjungi ibu saya, apakah diperbolehkan?”
“Boleh, selama Tuan Devan menyetujuinya.”
Aira mengangguk. Setidaknya, ia masih memiliki kesempatan untuk menjenguk ibunya.
Arga melanjutkan penjelasannya, “Ada satu hal lagi yang perlu Nona pahami. Pernikahan ini merupakan kesepakatan antara Nona dan Tuan Devan. Karena itu, saya harap Nona bisa menjaga batasan dan tidak mencampuri urusan pribadi maupun pekerjaan beliau.”
“Tenang saja, Pak Arga. Saya memahami posisi saya.”
Arga mengangguk kecil dan kembali fokus menyetir mobil.
Aira kembali menatap jalanan. Ia tidak berniat mencampuri kehidupan Devan. Baginya, pernikahan itu adalah jalan yang harus ditempuh untuk membantu keluarganya, sedangkan bagi Devan, pernikahan tersebut memiliki kepentingannya sendiri.
Selama keduanya menjalankan kesepakatan masing-masing, seharusnya tidak ada masalah.
Setelah tiba di bandara, Aira dan Arga menyelesaikan proses keberangkatan sebelum menunggu di ruang tunggu. Tak lama kemudian, panggilan untuk penumpang terdengar.
“Nona, kita sudah bisa naik,” kata Arga.
Aira bangkit dan mengikutinya menuju pesawat.
Setelah menemukan tempat duduknya, ia memasang sabuk pengaman dan memandang keluar jendela. Beberapa saat kemudian, pesawat mulai bergerak meninggalkan landasan.
Aira menarik napas panjang.
Besok pagi, ia akan resmi menjadi istri Devan Mahendra. Setelah itu, ia harus tinggal bersama pria yang sejak awal memandangnya sebagai bagian dari sebuah transaksi.
Ia belum tahu seperti apa kehidupannya nanti. Namun, ia sudah mengambil keputusan dan harus menjalaninya.
Demi ibunya dan masa depan adik-adiknya, Aira akan berusaha bertahan.
Pesawat terus membumbung tinggi, membawanya menjauh dari Desa Kalimurni menuju kehidupan baru yang menantinya di Jakarta.
Bersambung...
semoga aj si Clara gx jdi ulet bulu di tengah2 Aira dan Devan ,,
meski pernikahan mereka di dasari Krn kesepakatan bisnis semata ,,