NovelToon NovelToon
Kebangkitan Kera Putih

Kebangkitan Kera Putih

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mengubah Takdir / Perperangan
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: Fery Oktavian

Ketika langit di atas pinggiran Kekaisaran Yanling tiba-tiba terkoyak oleh invasi mendadak monster binatang, ilusi kedamaian hancur dalam semalam. Di tengah kepanikan para kultivator muda elit yang formasinya porak-poranda, Lin Juan—seorang yatim piatu bermarga Lin yang selalu dicaci karena Jiwa Rohnya yang cacat—menjadi satu-satunya yang menolak mundur. Tanpa pancaran energi spiritual yang mewah, ia mengandalkan insting murni dan tubuh yang ditempa penderitaan untuk bertahan hidup. Di tengah genangan darah dan keputusasaan, sebuah jiwa purba yang tertidur di kedalaman nadinya, Roh Kera Putih yang legendaris, akhirnya membuka mata, merespons panggilan kematian dengan raungan yang mengguncang surga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fery Oktavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KEBOCORAN INFORMASI

Pagi belum sepenuhnya terang ketika kabut es dari perbatasan kembali mengepung kompleks Benteng Tembok Besi. Di dalam barak usang Unit 9, aroma uap teh akar pahit bercampur dengan bau kertas perkamen tua yang lembap.

Di atas meja kayu yang beralaskan kain kusam, terbentang tiga gulungan peta perbatasan beserta buku catatan log patroli tiga bulan terakhir. Shi Tou baru saja kembali dari markas logistik, membawa gulungan-gulungan itu setelah menyogok penjaga arsip menggunakan dua keping batu energi sisa perburuan kemarin.

"Arsiparis tua itu bilang, buku catatan ini cuma rincian rute rutin yang tidak rahasia," Kata Shi Tou seraya menggosok-gosok tangannya yang kebas akibat hawa dingin. "Tapi aku harus memutar otak setengah jam untuk membual kalau Kapten ingin mempelajari medan Ngarai Gagak lebih dalam."

Lu Chen yang bersandar di tiang kayu menyunggingkan senyum tipis. "Bagus, Shi Tou. Sekarang tinggal melihat apakah apa yang tertulis di kertas ini sama bersihnya dengan bualan para perwira tinggi di markas utama."

Lin Yuan duduk bersila di depan meja. Jari-jarinya yang kasar mengusut lembar demi lembar catatan tanggal, waktu keberangkatan, serta jumlah korban jiwa dari tiap-tiap unit patroli. Mata hitamnya yang sekelam malam menyapu deretan angka tanpa terlewat satu baris pun.

Ah Xiu melangkah mendekat, meletakkan cawan teh hangat di samping Lin Yuan sebelum membungkuk mengamati peta. "Apa yang kau cari di dalam catatan tua itu, Lin Yuan?"

"Pola," Jawab Lin Yuan pendek, suaranya membumi dan tenang.

Lin Yuan mengetuk satu titik di bagian selatan Hutan Bayangan Kematian—lokasi tempat Unit 9 dikurung oleh Ratu Laba-Laba Bayangan beberapa malam lalu.

"Lihat di sini," Ucap Lin Yuan seraya menggeser jarinya ke catatan dua minggu sebelumnya. "Tiga minggu lalu, Unit Lima dikirim berpatroli ke sektor ini. Laporan resmi mereka mencatat area itu bersih dari monster kelas tiga. Namun empat hari kemudian, ketika Unit Sembilan lama dikirim ke sana, mereka dihantam oleh koloni Laba-Laba Malam dalam hitungan dua jam setelah melintasi gerbang."

Lu Chen memicingkan matanya, mendekat ke meja. Ia mencabut belati kecilnya dan menggunakan ujung pisau itu sebagai penunjuk di atas kertas.

"Bukan cuma itu," Kata Lu Chen dengan nada suara yang berubah sangat serius. "Lihat tanggal patroli Ngarai Gagak. Setiap kali Unit Satu atau unit elit lainnya berpatroli di sana, mereka hanya bertemu dengan kawanan Serigala Duri kecil kelas satu. Tapi setiap kali unit buangan—seperti Unit Tujuh atau Unit Sembilan—masuk ke sektor yang sama, populasi monster mendadak melonjak tiga kali lipat. Bahkan ada Serigala Mutasi Kelas Tiga yang sudah bersiaga di celah sempit."

Ah Xiu mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Wajahnya yang tertutup bekas luka bakar menegang hebat.

"Dua bulan lalu... saat seluruh rekan tim lamaku tewas," Bisik Ah Xiu dengan suara bergetar halus oleh ingatan pahit. "Kami ditugaskan berpatroli di Pos Perimeter Empat. Perwira piket memberi tahu kami bahwa jalur itu aman dan hanya patroli pemantauan biasa. Tapi begitu kami tiba di celah bukit, tiga ekor monster tipe es sudah menunggu di celah batu, seolah-olah mereka tahu persis jam berapa kami akan melintas."

Shi Tou yang berdiri di dekat perapian langsung terbelalak kaget. "Tunggu dulu... maksud kalian, semua penyergapan ini bukan kebetulan?"

"Mana ada kebetulan yang berulang belasan kali dalam tiga bulan, Si Bodoh?" Dengus Lu Chen seraya menancapkan belatinya pelan ke atas meja kayu. "Pola ini terlalu rapi. Rute patroli unit buangan selalu disesuaikan dengan posisi sarang monster yang sedang mengamuk, sementara rute unit elit selalu dibersihkan atau diarahkan ke area yang aman."

"Atau lebih buruk dari itu," Ucap Lin Yuan datar, matanya berkilat emas tipis sebelum kembali menjadi hitam pekat. "Ada seseorang di dalam Benteng Tembok Besi yang secara sengaja membocorkan jadwal patroli dan jalur pergerakan pasukan kepada pihak luar."

Hening seketika menyergap barak tua itu. Suara gemertak kayu bakar di perapian terdengar mendominasi udara dingin.

Shi Tou menelan ludahnya yang terasa kering, melangkah mendekat ke meja dengan wajah pucat. "Membocorkan informasi pada monster? Mana mungkin monster binatang bisa membaca perkamen logistik?"

"Monster binatang biasa tidak bisa," Balas Lin Yuan seraya bersandar pada dinding kayu. "Tapi bagaimana dengan monster mutasi tingkat tinggi yang punya kecerdasan? Atau... bagaimana jika informasi ini dibocorkan kepada pihak ketiga yang mengendalikan monster-monster itu dari balik layar?"

Lu Chen mengepalkan tangannya di atas meja. Sebagai mantan bangsawan dari Ibukota Emas, ia sudah sangat terbiasa dengan kebusukan politik dan konspirasi berdarah.

"Di Ibukota," Ucap Lu Chen dengan suara merendah dan tajam. "Klan-klan tua sering menggunakan monster di perbatasan untuk membuang musuh politik atau prajurit yang tidak mereka sukai. Kalau ada prajurit yang mati di luar tembok karena serangan monster, tidak akan ada yang melakukan penyelidikan. Itu dianggap kematian wajar dalam tugas."

Ah Xiu menatap Lin Yuan dengan sepasang mata gelapnya yang memancarkan kebencian murni. "Siapa pun orangnya... dia memperlakukan nyawa prajurit buangan seperti pakan ternak."

Lin Yuan memandang ketiga rekannya satu per satu. Ia bisa merasakan perubahan riak emosi di dalam ruangan. Kaget, marah, namun tidak ada lagi keputusasaan. Rasa saling percaya yang telah menempa Unit 9 membuat mereka tidak lagi bertindak seperti domba yang pasrah digiring ke rumah jagal.

"Kita tidak bisa memercayai rute patroli resmi secara mentah-mentah lagi," Ucap Lin Yuan dengan suara membumi namun dipenuhi otoritas yang tak terbantahkan. "Mulai hari ini, setiap kali kita menerima perintah patroli dari perwira piket, kita akan menganggap jalur itu adalah jebakan."

"Lalu bagaimana kita bertindak, Kapten?" Tanya Shi Tou seraya mengikat kembali pelindung lengannya dengan kencang. "Kita tidak bisa menolak perintah patroli. Kalau membangkang, Komandan Zhao akan memenggal kepala kita atas tuduhan desersi."

"Kita tetap keluar gerbang," Jawab Lin Yuan seraya menggulung kembali peta perbatasan dan memasukkannya ke dalam saku jubahnya. "Tapi kita akan mengubah taktik. Kita tidak akan mengikuti rute yang tertulis di kertas logistik. Kita akan membuat rute kita sendiri di lapangan."

Lin Yuan menatap keluar celah jendela barak. Udara pagi semakin dingin, dan awan kelabu tebal berarak rendah di atas puncak-puncak pegunungan es utara. Tanda-tanda badai salju besar pertama musim ini mulai membayangi perbatasan.

"Lu Chen," Panggil Lin Yuan.

"Iya, Kapten?" Jawab Lu Chen mendongak.

"Manfaatkan koneksimu di pasar gelap benteng barat," Perintah Lin Yuan. "Cari tahu siapa perwira di bagian perencana rute yang paling sering berhubungan dengan Unit Satu dan utusan dari ibukota. Tapi lakukan secara halus. Jangan sampai memicu kecurigaan."

Lu Chen menyunggingkan senyum tipis yang amat berbahaya. "Serahkan padaku. Di pasar gelap, informasi murah harganya kalau kau tahu cangkir mana yang harus diisi arak."

Lin Yuan beralih menatap Ah Xiu dan Shi Tou. "Shi Tou, perbaiki perisaimu dan siapkan pasokan batu energi tambahan. Ah Xiu, periksa setiap anak panahmu. Badai salju akan segera datang, dan dalam jarak pandang nol, musuh kita bukan cuma monster di luar tembok, tapi juga bayangan di belakang kita."

"Dimengerti, Kapten!" Sahut Shi Tou dan Ah Xiu bersamaan, suara mereka mantap dan penuh kepatuhan murni.

Lin Yuan berdiri tegak di tengah barak. Di dalam dadanya, Kera Putih mengembuskan hawa panas yang mengalir lembut di sepanjang garis meridiannya. Ia tahu, lingkaran konspirasi di Benteng Tembok Besi jauh lebih busuk daripada yang ia bayangkan. Namun di tengah hujan darah dan pengkhianatan ini, Unit 9 bukan lagi mangsa yang bisa diatur dengan mudah.

Suara angin utara berhembus kencang menabrak dinding barak, membawa kristal-kristal es pertama yang menandakan dimulainya gelombang dingin di perbatasan utara.

1
Nurita Saf
biasanya naga
Fery Oktavian: karena ini tidak sama dengan novel biasanya 🤣
total 1 replies
Cukstaw
🔥🤙🏻
Fery Oktavian
🔥
Iskandar Muda
mantap
Fery Oktavian: semoga suka dengan ceritanya 👍🙏
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!