Randy, mahasiswa Teknik Mesin semester dua, punya segalanya: tinggi menjulang, senyum manis, motor Kawasaki Ninja yang gagah, dan kamera DSLR yang setia menemaninya berburu foto di sudut-sudut kota. Tapi di balik pesona itu, Randy tetap jomblo—lebih suka memotret penjual cilok atau suasana kumuh daripada nongkrong romantis. Cewek-cewek kampus gemas, tapi Randy selalu jaim, seolah menutup pintu hatinya.
Suatu malam, hidupnya berubah. Dalam mimpi yang terasa terlalu nyata, ia bertemu Ki Suromenggolo—kakek buyut tabib sakti yang mewariskan ilmu penyembuhan legendaris. Randy bangun dengan dada hangat dan perasaan aneh, seakan membawa kekuatan baru.
Di tengah hiruk-pikuk kota, persahabatan, godaan cinta, dan bahaya yang mengintai, Randy akan belajar bahwa menjadi “tabib tampan” bukan sekadar gelar. Ini adalah perjalanan tentang keberanian, tanggung jawab, dan hati yang selalu diuji oleh banyak perempuan yang diam-diam jatuh hati padanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jeffc, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kartu As Suwanto
“Pacar?” kata Suwanto sambil senyum. “Cakep juga, kenalin dong.”
“Eh bukan, temen kampus doang,” jawab Randy gugup. “Pengin ikut lihat-lihat Tanah Abang.”
“O, gitu,” kata Suwanto sambil tersenyum penuh arti.
“Omong-omong ngapain ke sini?” tanya Randy penasaran.
“Gua cuma penasaran aja,” jawab Suwanto. “Katanya dukun ini sakti bisa nggandain uang segala.”
Randy pengin ngasih tahu itu kabarnya dukun palsu, tapi dia nggak enak karena ada beberapa anak buah Mbah Sembur Geni di sekitar situ.
“Gua jalan dulu, ya, Wan,” kata Randy, mau ambil foto-foto menarik di sekitar sini. “Kapan-kapan kita lanjutin ngobrolnya.”
Lalu Randy dan Tatia melanjutkan jalan mereka di Tanah Abang untuk menemukan sesuatu yang unik. Tatia menggamit lengan Randy, namun Randy menepisnya. “Jangan, Tat, kamu nggak ada hubungan apa-apa sama aku, nanti orang salah sangka.”
“Kenapa sih? Aku kurang cantik?” tanya Tatia sambil menampilkan wajah cemberutnya.
“Bukan gitu, nggak enak aja.” Randy menarik napas panjang dengan kelakuan Tatia ini.
Suwanto mengamati Randy dan Tatia sampai hilang dari pandangan, baru dia menstarter motornya untuk meninggalkan tempat itu.
“Rod, hoki lu, Rod. Kartu Randy udah kebongkar,” kata Suwanto dalam hati sambil tersenyum kecil yang culas.
Randy dan Tatia melanjutkan jalan kaki, sampai akhirnya ketemu sebuah bangunan tua ala Cina yang didominasi warna merah. Randy mengambil foto bangunan tua itu dari segala sudut.
“Bangunan apa ini, Rand?” tanya Tatia penasaran.
“Ini namanya Rumah Merah Kapitan Lim,” jelas Randy ke Tatia dengan sabar. “Dibangun tahun 1850-an, dulunya vihara, sekarang jadi kafe dan museum.”
“Oh, menarik juga,” kata Tatia.
“Yuk kita masuk sebentar sambil istirahat,” ajak Randy. “Aku juga belum pernah masuk, penasaran juga dalamnya kayak apa.”
Di dalam Rumah Merah itu ternyata menarik, terdapat banyak lampion berwarna merah khas China dan aroma kopi sangat terasa begitu menggoda hidung. Randy tak melewatkan kesempatan dan mengambil beberapa foto di dalam kafe itu.
“Aku minum kopi dan makan yang ringan-ringan saja,” kata Randy setelah puas mengambil foto-foto di restoran itu. “Belum terlalu sore, belum terlalu lapar.”
“Sama, Mas,” kata Tatia kepada pelayan yang segera berlalu setelah mencatat pesanan mereka.
Sambil menantikan pesanan, Randy mengirimkan pesan WhatsApp kepada Mulan:
“Besok aku ke rumah kamu ya, anterin jalan-jalan lagi sekitar Petak Sembilan, mau ambil foto-foto unik lagi. Mumpung malam minggu.”
Tak lama datang balasan dari Mulan:
“Siap, apa sih yang nggak siap buat Randy?”
Randy tersenyum sendiri membaca balasan Mulan yang membikin Tatia penasaran. “Kenapa sih senyum-senyum sendiri? Kayak ada yang kurang.”
“Nggak, cuma bercanda sama temen,” jawab Randy pelan. Dan tak lama kemudian pesanan mereka datang, dan mereka lalu menyeruput kopi dan singkong goreng itu.
Sudah cukup lama mereka beristirahat di kafe itu, dan mereka akhirnya pulang setelah Randy menyelesaikan pembayaran. Randy dan Tatia lalu berjalan lagi untuk mengambil motornya yang diparkir di rumah Mat Pelor.
“Bagaimana, Rand, banyak foto-foto yang lu ambil?” tanya Mat Pelor yang sudah pulih.
“Bagus-bagus, Mat,” jawab Randy.
“Romantis amat, jalan-jalan di Tanah Abang,” goda Mbak Ratih, istri Mat Pelor. “Baru sekali nih ngajak gandengan ke Tanah Abang.”
“Ini bukan pacar saya, Mbak,” kata Randy buru-buru menjelaskan. “Dia temen kampus, katanya pengin lihat-lihat Tanah Abang.”
Muka Tatia sedikit berubah mendengar itu. Sepertinya dia kurang suka Randy menyebut bukan pacarnya, tapi dia tetap tersenyum menimpali candaan Mbak Ratih.
“Dibilang pacar juga nggak apa-apa, kok,” tukas Mbak Ratih. “Kalian serasi kok, yang satu ganteng, yang satu cantik. Cocok, deh.”
“Jangan begitu, Mbak, nggak enak sama Tatia,” balas Randy nggak tahu harus ngomong apa. “Nanti yang punya marah, lho.”
“Belum ada yang punya kok,” jawab Tatia. “Jadi nggak ada yang marah.”
Mat Pelor dan istrinya tertawa pelan mendengar jawaban Tatia yang penuh arti itu. “Nah tuh, Rand, nggak ada yang marah katanya.”
Randy hanya tersenyum kecut lalu pamit pulang kepada Mat Pelor dan istrinya. “Iya deh, Rand. Pegangan yang kenceng ya, Mbak, nanti jatuh.”
Randy diam saja, dalam hati dia berkata bisa buyar rencana mau PDKT sama Mulan gara-gara Tatia. Apalagi tadi ketemu Suwanto.
Mat Pelor dan Mbak Ratih melihat motor Randy yang memboncengkan Tatia sampai nggak kelihatan.
Di saat yang sama, di sudut kota Jakarta yang lain, tepatnya di Petak Sembilan, Suwanto tiba di rumahnya. Sendirian saja.
“Kok sendirian, Ko?” sapa Mulan.
“Ya tadi si Asiong sudah turun deket rumahnya, dekat pengkolan sana,” jawab Suwanto. “Omong-omong, tadi gua ketemu sama Randy di Tanah Abang.”
“Randy?” tanya Mulan sambil mengernyitkan dahi. “Ngapain di Tanah Abang?”
“Gua sih biasa jalan-jalan aja,” sahut Suwanto mulai keluar sifat manipulatifnya. “Kalau Randy sih nggak tahu ngapain dia, yang jelas sama ceweknya.”
“Sama cewek?” Hati Mulan langsung terasa perih mendengar penuturan kakaknya. “Dia nggak pernah cerita kalau sudah punya cewek.”
“Nih, kalau nggak percaya,” kata Suwanto lalu mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan foto Randy yang sedang memboncengkan Tatia di Tanah Abang sambil berpegangan tangan.
Bagaikan geledek yang mendadak menyambar tanpa ada hujan dan angin, Mulan langsung balik badan tanpa bicara sepatah kata pun, dan dia segera berlari masuk kamar dan menangis di atas kasur. Suwanto tampak tersenyum gembira melihatnya karena merasa sudah sedikit lagi berhasil melunasi utangnya kepada Rody.
“Sekarang berhasil nggaknya dapetin adik gua tergantung usaha lu, Rod,” ujar Suwanto dalam hati. “Pintu sudah gua buka lebar.”
“Mulan, kenapa nangis begini?” kata Mama yang heran dengan tangisan Mulan yang tiba-tiba itu. “Bukain pintu, jangan dikunci.”
Dengan mata sembab, Mulan berjalan perlahan membuka pintu kamarnya lalu kembali ke tempat tidurnya dan menangis lagi.
“Ayo, Lan, cerita ke Mama, ada apa,” bujuk Mama Mulan. “Barangkali Mama bisa bantu.”
Mulan diam saja dan masih membenamkan mukanya ke bantal di tempat tidurnya tanpa menjawab pertanyaan mamanya.
“Aku memang bukan apa-apa sama Randy,” kata Mulan dalam hati sambil meneruskan menangis. “Tapi foto itu sungguh bikin sakit.”
“Lan, ceritalah sama Mama,” desak Mama Mulan.
“Nggak, Ma, nggak ada masalah, Mulan cuma kaget aja,” jawab Mulan sambil terus menangis.
“Ini pasti ada hubungannya sama si Suwanto yang tadi menunjukkan sesuatu dari ponselnya,” kata Mama Mulan dalam hati. “Mulan langsung berlari ke kamarnya dan nangis setelah ditunjukin sesuatu di ponselnya sama Suwanto.”
“Ya sudah, Lan, kalau nggak mau cerita,” kata Mama Mulan sambil keluar kamar. “Kalau mau cerita, cerita aja. Mama siap dengerin.”
Lalu Mama Mulan mendekati Suwanto dan berbisik kepada anak sulungnya itu, “tadi apa yang lu tunjukkin sampai Mulan nangis gitu, Wan?”
“Wanto cuma cerita tadi ketemu Randy di Tanah Abang sama ceweknya, Ma,” bisik Suwanto menjawab pertanyaan mamanya sambil nunjukkin foto di ponselnya Randy sedang berboncengan sambil pegangan pinggang sama seorang cewek cakep di Tanah Abang.
Mamanya langsung paham, dan segera masuk kembali ke kamar Mulan dan menjumpai Mulan yang masih menangis itu.
Suwanto hanya tersenyum kecil penuh kemenangan, lalu mengambil ponselnya dan menulis pesan kepada Rody: “tugas gua membuka pintu sudah beres, Rod. Sekarang tergantung elu bagaimana ngerebut hati adik gua.”