"aku terima syaratmu, tapi terima juga syaratku, kael.."
mahiya melotot kesal,pria dingin itu hanya mengangguk datar.
"okeyyy..deal"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ewie_srt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
09
Mahiya yang tadi gugup nggak karuan, melihat kehangatan keluarga kael, keluarga kaya dan konglomerat, tapi tidak sombong sama sekali jujur hatinya menghangat.
Pelukan oma nurmala, dan ramahnya ibunda dan kakak ipar kael, mencairkan kegugupannya, mahiya lebih nyaman dan santai.
"jadi kapan kami bisa ke rumah, mahi?"
Pertanyaan oma, saat mereka duduk di ruang keluarga, membuat semua mata menatap mahiya.
Mahiya yang ditatap, kebingungan. Ia menoleh ke arah kael, yang langsung paham.
"kael ketemu orangtua mahiya dulu oma, meminta ijin mereka dan kesediaan mereka menerima keluarga kita"
Oma nurmala manggut-manggut paham,
"orangtua mahiya tidak tahu kalau kami pacaran, jadi kael akan langsung meminta ijin mereka untuk menikahi mahiya"
Mama kael, nyonya sandrina mengernyitkan keningnya heran.
"kok bisa?kalian backstreet yah?"
Kael mengangguk, mahiya sampai melongo melihat pria itu begitu percaya diri menjalankan sandiwara kebohongannya ini dengan sangat sempurna.
"keluarga mahiya tidak membolehkan anak-anaknya pacaran mom"
Tuan adrian, ayah kael menatap mahiya dan kael bergantian. Pria itu seakan ingin bertanya, tapi urung, dia hanya mengamati bahasa tubuh kael yang terlihat sangat percaya diri.
"emangnya mahiya punya berapa saudara, kael?" tanya mommynya lagi, perempuan cantik itu, menatap putra bungsunya penasaran.
Kael sedikit tersentak, wajah tampannya berubah sesaat.
'mampus, aku nggak tahu'
"aku punya seorang adik laki-laki, tante!" sahut mahiya cepat, dia melirik sekilas kael yang terlihat menarik nafas lega.
"masih duduk di kelas 1 SMA"
Nyonya sandrina terlihat mengangguk paham, dan kembali tersenyum manis.
"mahiya stop panggil tante yah sayang, mulai panggil mommy juga yah, kan bakalan jadi menantu"
Mahiya mengangguk malu, ternyata mamanya kael itu baik sekali, dan juga sangat ramah. Berbeda dengan tuan adrian, walau ramah tapi irit bicara.
Sepertinya pria di keluarga kael, emang sedikit irit bicara, tapi ibu dan neneknya sangat rame.
"oma tunggu berita baik dari kamu mahiya, maaf kalau kami sedikit memaksa, kael sudah tak layak lagi untuk berpacaran.."
Tawa nyonya sandrina pecah seketika,
"benar itu mama, kael sudah kadaluarsa"
Lagi-lagi tawa pecah di ruangan itu, walau para pria hanya tersenyum mendengar banyolan itu.
"iya mahiya, aku saja menikah dengan kak gerard saat usia kak gerard 30 tahun, sudah 5 tahun yang lalu, ini kael sekarang sudah 32 tahun, emang udah lumayan sih berumurnya"
Sahut irene dengan suara merdunya, yang kembali memancing tawa. Kael yang sedang diroasting terlihat cuek, matanya melirik arloji di tangannya, memberi kode pada mahiya.
"sudah setengah 9, sayang!, besok shift pagi kan?"
Mahiya mengangguk,mata indahnya menatap ke seluruh penghuni rumah, dengan wajah tak enak hati.
Nyonya sandrina yang paham, mungkin anak dan calon menantunya itu ingin berduaan, tersenyum paham.
"kami tahu kael, kamu pengen berduaan dengan mahiya kan?, heummm"
Mata mommynya terlihat menggoda kael yang nyengir, pria itu sangat lihai berbohong. Bisa-bisanya dia bisa begitu sempurna memerankan pria yang sedang kasmaran.
Mahiya menatap kagum kael, pria itu benar-benar sukses malam itu, bermain peran.
"ayo sayang!"
Kael mengulurkan tangannya, mengajak mahiya. Mereka masih bergandengan, sampai ke dalam mobil, karena semuanya ikut mengantarkan mahiya keluar.
"hufffttt..." hembusan lega keluar dari mulut mahiya, wajahnya langsung cerah.
"pak kael keren deh, bisa ngibulin semuanya, keluarga bapak ternyata sepercaya itu ama bapak yah"
Kael menoleh jengah, di puji untuk keahliannya berbohong kok kurang enak yah, mata pria itu masih menatap mahiya gemas.
"mahiya, kamu jangan panggil bapak terus deh, ntar kebiasaan."
"kan sekarang hanya tinggal kita berdua pak"
"no..no.." geleng kael tetap nggak terima
"kalau kamu plin plan kek gini, suatu saat pasti ketahuan, sekarang ada nggak ada orang, dimanapun kita berada, kita tetap harus menjalani kesepakatan kita"
"iya deh..." sahut mahiya singkat, walau wajahnya masih kelihatan keberatan, tapi semua yang kael bilang barusan emang benar.
"besok malam, aku bisa jumpain orangtua kamu kan?"
Mahiya tersentak kaget,
"kenapa buru-buru amat sih pak?"
Kael terlihat menghembuskan nafasnya,ia melirik mahiya yang bertanya.
"bulan depan, oma akan mengumumkan siapa pemilik rumah sakit, aku mau kita menikah sebelum itu"
"apaaaa?" mata mahiya mendelik kaget, bulan depan, nih cowok waras nggak sih.
"kalau aku nikah seburu-buru itu, ntar orang pikir aku hamil di luar nikah lagi!" mahiya protes tak terima.
"agak aneh, tahu?"
"apanya yang aneh?" tanya kael tak terima,
"kan yang menikah pria dan perempuan, anehnya dimana?"
"aneh dong, setahu orang kita pacaran baru 2 hari, ehhh langsung main nikah aja"
"yang tahu baru 2 hari kan kita berdua, orang lain tahunya kita sudah 6 bulan dan baru go publik 2 hari ini, aku rasa normal-normal aja"
"hhhhhhh..." mahiya mendesah kesal, kepalanya sakit lagi, gimana caranya coba menjelaskan ke abi dan umminya.
"kamu nggak perlu ngomong ke orangtuamu mahi, biarkan aku yang bicara"
Mahiya menoleh jengkel, wajah kael yang terlihat begitu percaya diri, bikin kesal.
"tetap aja aku harus ngomong, ngasih aba-aba, kan nggak mungkin juga kamu langsung ngelamar aku, bisa-bisa orangtuaku kalau nggak pingsan yah, aku di hajar habis-habisan"
Kael terdiam, pikirannya mengembara. Terbayang betapa strictnya orang tua mahiya. Tapi kok bisa anak gadisnya nggak ada kalem-kalemnya sama sekali, seperti didikan orangtua yang keras.
"abi dan ummi bukan voc.." ujar mahiya, mata gadis itu melirik, ia tahu isi hati kael.
"tapi benar mereka memang strict parent, apalagi urusan yang berhubungan dengan lawan jenis"
Kael mengangguk-angguk paham,
"mereka juga lebih senang kalau aku menikah daripada kuliah, kuliah yang kujalani saat ini, adalah ijin yang harus aku jalani dengan penuh tanggung jawab"
Kael menatap mahiya lekat, nada suara gadis itu sedikit berubah.
"kami bukan orang kaya, pak. Uang kuliah yang harus orangtuaku sediakan itu dari gaji abi sebagai guru, makanya aku sedikit keberatan rencana pernikahan ini.."
"mahi.." panggil kael lembut, wajah pria itu terlihat tenang.
"aku janji, jika kamu menikah denganku, aku akan mendukung cita-citamu, dan bukankah itu lebih baik, paling tidak sedikit meringankan beban abimu.."
Mata mahiya mendelik sewot, dikatain beban oleh kael. Tapi benar juga, jika dia menikah dengan kael, tentu biaya kuliah dan hidupnya akan di tanggung pria itu.
"aku akan coba bicara dengan abi dan ummi dulu, setelah mereka memberi lampu hijau, baru bapak boleh datang"
Kael tersenyum puas, wajah tampannya terlihat sangat lega
"tapi jangan kelamaan yah, heummm dan satu lagi mahiya, kakak, sekali kakak, bukan bapak"
Kael mengingatkan lagi, mahiya hanya tertawa dan mengangguk-angguk
"siap pak, eehhh kak"
Bersambung...