Hari pernikahan adalah momen paling membahagiakan bagi seorang wanita.
Setidaknya, itulah yang selalu kupercaya.
Aku menikah dengan pria yang kupikir telah kupahami.
Ia baik, bertanggung jawab, dan tidak pernah menyakitiku.
Namun sejak malam pertama, ada jarak yang tak mampu kujelaskan.
Kami berbagi rumah, berbagi meja makan, bahkan berbagi ranjang—
tetapi tidak pernah benar-benar berbagi kedekatan.
Ia tidak pernah bersikap kasar.
Ia hanya. terlalu hati-hati.
Terlalu jauh.
Dalam diam, aku mulai bertanya:
apakah aku istrinya,
atau hanya teman hidup yang kebetulan ia nikahi?
Dan ketika pernikahan ini hampir kehilangan maknanya,
ia harus memutuskan—
tetap berjalan setengah hati,
atau belajar mencinta dengan utuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AkeilanaTZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertama kalinya tidak Kecewa
Tangannya akhirnya menyentuh pipiku.
Sentuhannya sangat lembut.
Terlalu lembut bahkan.
Seolah-olah aku sesuatu yang sangat rapuh.
Aku memejamkan mata sebentar.
Hangat.
Itu kata pertama yang muncul di kepalaku.
"Ashar."
"Iya?"
"Kamu boleh lebih percaya diri sedikit."
Dia tertawa kecil.
"Aku sedang belajar."
"Bagus."
Aku membuka mata lagi.
Kami saling menatap beberapa detik.
Dan kemudian dia mendekat.
Sangat pelan.
Begitu pelan sampai aku sempat berpikir dia mungkin akan berubah pikiran.
Tapi tidak.
Bibirnya akhirnya menyentuh bibirku.
Ciuman itu singkat.
Agak canggung.
Dan jujur saja…
Tidak seperti yang sering digambarkan dalam cerita romantis.
Ketika wajah kami menjauh, aku tidak bisa menahan senyum.
"Kita benar-benar pemula."
Ashar mengusap tengkuknya.
"Kelihatan banget ya?"
"Banget."
Namun aku tidak menjauh.
Sebaliknya aku meraih tangannya.
"Ayo."
Dia berkedip.
"Ayo?"
Aku menariknya berdiri.
Menuju kamar.
Langkah kami terasa lambat.
Seolah-olah setiap langkah memiliki arti yang jauh lebih besar dari biasanya.
Ketika pintu kamar tertutup di belakang kami…
Aku baru sadar jantungku benar-benar berdetak keras.
Ashar berdiri di tengah kamar.
Terlihat… kebingungan.
Aku hampir tertawa melihat ekspresinya.
Seperti teknisi yang tiba-tiba harus memperbaiki mesin yang belum pernah dia lihat sebelumnya.
Aku duduk di tepi tempat tidur.
"Kamu kelihatan seperti orang yang baru pertama kali melihat sesuatu yang sangat rumit."
Dia tertawa gugup.
"Kurang lebih begitu."
"Bedanya…"
Aku menatapnya.
"...ini bukan mesin."
"Aku tahu."
Aku berdiri lagi.
Lalu berjalan mendekatinya.
Sekarang jarak kami hanya beberapa langkah.
"Ashar."
"Iya?"
"Kamu boleh menyentuhku."
Dia menarik napas panjang.
Tangannya bergerak.
Kali ini lebih berani.
Dia menyentuh bahuku.
Lalu perlahan menarikku mendekat.
Tubuh kami akhirnya saling bersandar.
Hangat.
Itu lagi-lagi kata yang muncul di kepalaku.
Aku bisa merasakan detak jantungnya melalui dada kami yang hampir bersentuhan.
Dan jujur saja…
Dia terdengar jauh lebih gugup dariku.
Aku memeluk pinggangnya.
Dia langsung kaku.
Aku mengangkat wajahku.
"Ashar?"
"Iya?"
"Kamu kaku sekali."
"Aku sedang berusaha tidak salah."
Aku tersenyum.
"Kalau kamu terus takut salah… kamu nggak akan pernah bergerak."
Dia menghela napas.
Lalu akhirnya memelukku kembali.
Pelukan itu pelan.
Tapi kali ini terasa lebih yakin.
Dia mencium keningku.
Lalu pipiku.
Lalu bibirku lagi.
Ciuman kedua kami lebih lama.
Lebih hangat.
Tangannya bergerak di punggungku.
Namun tiba-tiba…
Tubuhnya menegang.
Dia berhenti.
Aku membuka mata.
"Ashar?"
Dia mundur sedikit.
Napasnya terlihat tidak teratur.
"Aku…"
Dia menutup mata sebentar.
"Maaf."
Aku benar-benar bingung sekarang.
"Kenapa?"
Dia menatapku.
"Aku takut."
"Takut apa?"
"Aku takut menyakitimu."
Aku terdiam.
Dia menunduk.
"Aku tidak tahu batasnya."
"Tidak tahu kapan harus berhenti."
"Aku takut kalau aku terlalu jauh…"
Dia tidak menyelesaikan kalimatnya.
Tapi aku mengerti.
Aku berjalan mendekat lagi.
Lalu memegang tangannya.
"Kalau kamu takut menyakitiku…"
Aku menggenggam tangannya lebih erat.
"...itu berarti kamu tidak akan menyakitiku."
Dia masih terlihat ragu.
Aku tersenyum kecil.
"Kita belajar pelan-pelan."
"Tidak perlu sempurna."
"Tidak perlu buru-buru."
Dia menatapku lama.
Kemudian akhirnya mengangguk.
Namun malam itu…
Kami tidak melangkah lebih jauh.
Ashar duduk di tepi tempat tidur.
Aku bersandar di bahunya.
Lampu kamar diredupkan.
Suasana terasa tenang.
"Ashar?"
"Iya?"
"Kita hampir berhasil."
Dia tertawa kecil.
"Iya."
Aku memejamkan mata.
"Besok kita coba lagi."
Dia tidak menjawab.
Tapi tangannya menggenggam tanganku dengan lembut.
Dan entah kenapa…
Untuk pertama kalinya sejak kami menikah…
Aku tidak merasa kecewa.
Justru terasa seperti sesuatu yang perlahan tumbuh di antara kami.
Sesuatu yang tidak terburu-buru.
Namun nyata.
Meskipun…
Di sudut kecil pikiranku…
Masih ada satu pertanyaan yang belum bisa kujawab.
Kenapa Ashar terlihat begitu takut?
Takut yang terasa… lebih dalam dari sekadar takut menyakitiku.
Dan aku belum tahu…
Bahwa mungkin suatu hari nanti…
Aku akan menemukan jawabannya.