Hanya karena perbedaan gaya hidup yang kini tak lagi sejalan, Tiffany menceraikan suaminya demi menjaga citra sebagai seorang konglomerat.
Ia bahkan melupakan siapa yang telah berjuang bersamanya dari nol hingga mencapai posisi tersebut.
Hans Rinaldi tidak menyimpan dendam. Ia menerima keputusan itu dengan lapang dada.
Namun, setelah perpisahan mereka, Tiffany tetap menyeretnya ke dalam berbagai masalah. Hingga akhirnya, terungkaplah siapa sebenarnya sosok pria sabar yang selama ini telah ia buang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Maureen Wiraningrat
Satu kata itu saja sudah cukup membuat Sarrah terdiam ketakutan. Ia tidak pernah menyangka Hans bisa seseram itu saat marah. Selama ini pria itu selalu bersikap lembut di hadapan mereka. Kini sorot matanya seolah bisa menelannya hidup-hidup.
Begitu tersadar, Sarrah langsung berteriak histeris, "Tolong! Tolong! Dia mau bunuh anakku!"
Tak lama kemudian, para petugas keamanan Emerald Group berdatangan dan mengelilingi mereka.
"Ada apa, Nyonya Rasheed?" Kepala keamanan mengenali Sarrah dan segera berdiri di sisinya.
"Muklis! Tangkap orang ini sekarang juga! Aku mau dia dihukum karena berani mukul anakku!" teriak Sarrah.
"Gila ya? Berani-beraninya bikin keributan di depan Emerald Group. kamu udah gak waras?" Muklis mengayunkan tangan memberi aba-aba. Para petugas keamanan langsung mengepung Hans.
Ini kesempatan mereka untuk mencari muka di hadapan ibu presiden perusahaan. Kalau mereka bertindak sigap, bukan tidak mungkin ada promosi dan kenaikan gaji.
"Ngapain pada bengong? Hajar dia!"
Saat mereka hendak bergerak, sebuah suara terdengar.
"Kalian pikir sedang apa?"
Seorang wanita bertubuh semampai dengan gaun perak menerobos masuk bersama para pengawalnya. Bibirnya dipulas merah menyala, wajahnya cantik mencolok. Setiap langkahnya memancarkan pesona yang sulit diabaikan.
"Astaga, cantik banget ...." Para petugas keamanan menatapnya terpukau. Belum pernah mereka melihat wanita semenarik itu dari dekat.
"Pak Rinaldi, Anda tidak apa-apa?"
Wanita itu mengabaikan tatapan-tatapan tersebut dan langsung menghampiri Hans.
"Kamu siapa?" tanya Hans, matanya menyipit. Amarahnya mulai mereda.
"Salam kenal, nama saya Maureen Wiraningrat. Pak Palumbo yang mengirim saya," katanya sambil tersenyum.
Nama itu langsung memicu bisik-bisik di antara para petugas keamanan.
"Maureen Wiraningrat? Pewaris keluarga Wiraningrat itu?"
"Ya Tuhan, kenapa dia ada di sini?"
Semua orang terkejut. Maureen Wiraningrat adalah nama besar di kota itu. Cantik, berpengaruh, dan cerdas. Di usia dua puluh dua tahun, ia sudah mengambil alih Wiraningrat Group dan dalam lima tahun membangun kerajaan bisnisnya sendiri.
"Oh, jadi kamu." Hans mengangguk pelan.
Ia pernah mendengar tentang Maureen, tetapi tidak menyangka wanita itu memiliki hubungan dengan Andy.
"Pak Rinaldi, silakan tunggu di mobil. Biar saya yang urus di sini."
Maureen menjentikkan jari. Empat pengawal di belakangnya langsung mengeluarkan tongkat dan melangkah maju. Meski hanya empat orang, aura mengintimidasi mereka cukup membuat para petugas keamanan mundur. Semua orang tahu keluarga Wiraningrat hanya mempekerjakan pengawal terlatih.
"Silakan, Pak Rinaldi."
Melihat tak ada lagi yang berani bergerak, Maureen tersenyum dan mengulurkan tangan, mempersilakan Hans menuju mobil.
Tanpa berkata apa pun, Hans memungut pecahan kalungnya, lalu pergi bersama Maureen. Tak seorang pun berani menghalangi.
"Apa-apaan ini? Buat apa aku bayar kalian kalau cuma diam aja? Kenapa kalian biarin mereka pergi?" Sarrah berteriak marah saat menyadari apa yang terjadi.
"Nyonya Rasheed, itu Maureen Wiraningrat. Kami tidak berani menyinggungnya!" keluh kepala keamanan. Tak satu pun dari mereka berani menyentuhnya.
"Sampah gak berguna! Kalian gak berani menyinggung dia, tapi berani menyinggung putriku?" bentak Sarrah.
Para petugas keamanan saling berpandangan tanpa berani menjawab.
"Ada apa ini?"
Tiffany dan Rachel keluar untuk melihat keributan tersebut.
"Tiffany! Kamu datang juga! Lihat, adikmu dipukuli sampai seperti ini!"
Begitu melihat putrinya, Sarrah langsung menangis seolah-olah dialah yang dipukul.
"Apa yang terjadi? Siapa yang melakukan ini?"
Melihat luka di wajah adiknya, ekspresi Tiffany langsung mendingin.
"Siapa lagi? Bajingan Hans itu!" Sarrah menangis. "Barusan kami ketemu dia. Rorry memungut kalung kristal yang dia jatuhkan dan mau mengembalikannya, tapi dia malah menuduh adikmu mencurinya. Setelah berdebat, dia memukul Rorry! Kasihan Rorryku, dia cuma melakukan hal yang menurutnya benar. Apa salahnya sampai diperlakukan begini?"
Tangisnya makin menjadi.
"Hans?" Tiffany mengernyit. "Dia selalu sabar. Kenapa dia memukul Rorry tanpa alasan? Apa yang kalian lakukan?"
"Maksudmu apa?" Sarrah tampak tersinggung. "Kamu gak percaya pada Mamamu sendiri?"
"Aku cuma ingin tahu kebenarannya," kata Tiffany.
Selama tiga tahun pernikahan mereka, ia mengenal sifat Hans dengan baik. Pria itu biasanya tenang dan terkendali, jarang kehilangan emosi. Ia tidak mungkin memukul seseorang tanpa alasan.
"Lihat kondisi adikmu! Bukankah kebenarannya sudah jelas? Kalau kamu tidak percaya, tanya saja petugas keamanan. Mereka melihat semuanya!" Sambil berkata begitu, Sarrah melirik para petugas keamanan.
"Nona Rasheed, ibu Anda benar. Pria itu yang menyerang adik Anda. Kalau bukan karena kami, ibu Anda juga bisa menjadi korban," kata kepala keamanan, menjalankan perannya dengan sempurna.
"Dengar itu? Mama gak memfitnah bajingan itu!" lanjut Sarrah. "Sudah Mama bilang sejak dulu, si Rinaldi itu bukan orang baik. Dia munafik. Lihat saja apa yang dia lakukan begitu kamu menceraikannya. Dia bahkan sudah punya perempuan murahan yang baru!"
Mendengar itu, Tiffany mengernyit. Ia tidak tahu harus berpikir apa. Mungkinkah Hans benar-benar melakukan hal seperti itu?
Mungkin ia marah besar karena perceraian mereka dan ingin melampiaskan dendam melalui adiknya. Jika begitu, ia harus mengakui bahwa selama ini ia telah salah menilainya.