Kanaka kecewa berat mengetahuinya jika kekasih sekaligus suster pribadinya, meninggalkannya demi uang 1 milyar tawaran dari Ayahnya. Sejak dia buta karena kecelakaan 2 tahun yang lalu, Zea begitu tulus menjaganya hingga ia jatuh cinta. Namun cinta tulusnya, kalah dengan uang 1 milyar.
8 tahun berlalu, saat Naka sudah bisa melihat setelah menjalani operasi kornea mata, ia bertemu dengan seorang wanita bernama Zara. Janda dengan satu anak laki-laki itu, memiliki suara yang mirip sekali dengan Zea. Fakta akhirnya terkuak, ia tahu jika Zara ternyata adalah Zea. Kebencian pada wanita itu, membuat Naka membalas dendam dengan cara memisahkan Zea dengan putranya. Ia ingin Zea merasakan kehilangan seperti apa yang ia rasakan dulu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yutantia 10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5
"Pak, buat apa anda pesan 100 cup es teh, bukannya besok pagi kita sudah harus kembali ke Jakarta?" tanya Rizal dalam perjalanan menuju Surabaya setelah ban diganti.
"Entahlah."
Jawaban yang enteng dan sangat random itu, membuat Rizal auto melongo. Apa ini salah satu cara orang kaya menghabiskan uang? tanyanya dalam hati.
Seperti dugaannya, Naka telat sampai di Surabaya. Beruntung klien tak masalah saat meeting ditunda satu jam. Namun yang jadi masalah, Naka tak bisa fokus sama sekali. Dia terus kepikiran wanita yang baru ia temui tadi, Zara. Zara, Zea, feelingnya sangat kuat jika mereka adalah orang yang sama.
"Bagaimana Pak Naka, apa anda setuju?" tanya Damar, calon kliennya setelah presentasi panjang lebar.
"Hah, apa?" Naka gelagapan. Ibarat ponsel, otaknya sedang nge-lag.
Rizal langsung bertindak, memberi penjelasan singkat pada Naka agar bos nya tersebut bisa segera mengambil keputusan sekaligus agar tak terlihat seperti orang bodoh. Belum pernah selama bekerja 5 tahun bersama Naka, ia mendapati bosnya itu seperti ini. Bahkan biasanya saat kondisinya tidak fit pun, Naka masih bisa fokus.
"Kita kembali ke Jombang," ujar Naka setelah meeting di salah satu hotel di Surabaya itu selesai. Meeting paling amburadul selama ia bekerja.
"Hah!" Rizal dibuat bingung. Perasaan semua urusan di Jombang sudah selesai, sudah pamit juga, dan malam ini rencananya menginap di Surabaya karena lebih dekat dengan bandara. "Bukannya besok pagi kita terbang ke Jakarta?"
"Batalkan!" Naka mengemasi laptop dan yang lainnya.
"Tapi, tiketnya bisa hangus."
Naka berdecak pelan, mengangkat wajah, menatap Rizal tajam.
"Ba, baik Bos," Rizal langsung mengangguk. Padahal ia sudah bilang pada kekasihnya jika besok kembali ke Jakarta, tapi ternyata, harapannya tak sesuai. Dan ini artinya, masa-masa merindunya akan diperpanjang.
Meski badan lelah setelah perjalanan Jombang Surabaya, Rizal terpaksa kembali mengemudi dari Surabaya ke Jombang malam itu. Kembali menginap di hotel semalam hanya karena alasan gak jelas, 100 cup es teh.
Di kamar hotel, hingga tengah malam, Naka tak bisa tidur. Di kepalanya terus dipenuhi sosok Zara. Dulu saat pertama kali ia bisa melihat, tak pernah ada fikiran untuk mencari tahu seperti apa wajah Zea. Ia membenci wanita yang telah meninggalkannya demi 1 milyar tersebut. Menurutnya, tidak tahu wajahnya adalah cara paling efektif untuk bisa lebih cepat melupakannya. Terbukti setelah setahun kepergian Zea, ia mulai bisa melupakannya, namun hari ini, sosok Zara kembali mengingatkannya pada Zea.
Sudah 8 tahun, rekaman CCTV di rumah pasti sudah terhapus. Pekerja juga sudah silih berganti, tak ada yang bisa dia mintai keterangan soal seperti apa wajah Zea. Bima, ya, dia tiba-tiba teringat Bima, mantan asisten pribadinya dulu. Bima tahu seperti apa wajah Zea. Bibirnya mengulum senyum, akhirnya ada yang bisa ia mintai tolong untuk memastikan apakah Zara adalah Zea.
...----------------...
Setelah 100 cup es teh selesai dibuat, Zara istirahat di kursi kebesarannya. Kursi plastik tumpuk di tumpuk dua agar tetap kokoh karena salah satu kakinya sudah patah. Ia melihat jam di ponsel untuk kesekian kalinya. Belum pernah sebelumnya ia melihat jam sesering hari ini. Naka bilang akan mengambil pesanan jam 11 siang, sekarang sudah hampir jam 11, tepatnya kurang 5 menit lagi. Arka pulang sekolah jam 11, dan biasanya pukul 11.15 WIB, ia tiba.Semoga saja Naka sudah mengambil es teh pesanannya sebelum Arka datang.
Ia tak ingin mereka berdua sampai bertemu. Antara ia dan Naka sudah ia anggap tamat, meski sebenarnya ada satu hal penting yang belum terselesaikan, yaitu Arka, anak mereka. Namun ia sudah memutuskan untuk selamanya tidak akan pernah memberi tahu soal siapa ayahnya pada Arka, pun pada Naka, tak akan pernah ia jelaskan soal ini.
Sudah jam 11 lebih 5 menit, tapi Naka belum juga datang. Semoga tidak pernah datang selamanya, itu harapan Zara. Namanya Zeanisa Azahra, dulu dipanggil Zea, namun sejak keluar dari rumah Naka dan memutuskan untuk memulai hidup baru, ia selalu memperkenalkan diri dengan nama panggilan Zara.
Sambil memperhatikan jalan raya yang ramai, fikiran Zara menerawang jauh. Ia teringat kembali hari dimana ia diminta untuk mengambil keputusan yang sulit.
"Ze, kamu dipanggil Tuan Very, diminta ke ruang kerjanya," ujar Bi Sulis.
"Ke ruangan Tuan," ulang Zea dengan wajah pias. Di rumah ini, Tuan Very memang sangat ditakuti. Pria berusia 60 tahun lebih tersebut, dikenal sangat dingin, tak pernah tersenyum, apalagi mengajak ngobrol pekerja di rumah. Ia jarang di rumah, terlalu sibuk, kadang seminggu hanya 2 hari di rumah.
Tuan Very memiliki 3 orang anak, dua perempuan, dan satu laki-laki. Naka adalah anak bungsunya, sementara kedua kakak perempuannya sudah menikah dan menetap di luar negeri. Sebagai satu-satunya putra, sejak kecil Naka disiapkan untuk menjadi penerus bisnis ayahnya.
Sebagai orang yang tak pernah mengobrol dengan pekerja, Tuan Very pasti ada urusan penting saat memanggil seseorang, tak mungkin hanya untuk basa-basi, apalagi memberi kabar baik soal kenaikan gaji.
Dengan sedikit ragu-ragu, Zea mengetuk pintu ruang kerja Tuan Very. Jantungnya berdegup kencang, dan tubuhnya mulai basah karena keringat dingin.
"Masuk."
Suara dingin Tuan Very membuat Zea tremor. "Permisi, Tuan," ia masuk, menunduk sopan lalu menutup pintu kembali.
"Duduk!" titah Tuan Very, menatap Zea penuh intimidasi.
Zea mengangguk, berjalan ke arah kursi yang berada tepat di hadapan meja kerja Tuan Very. Vibes di dalam ruangan itu terasa mencekam, setidaknya itu yang dirasakan Zea. Feelingnya kuat, ini pasti soal hubungannya dengan Naka yang telah terendus.
"Saya tidak mau basa basi," Tuan Very mengambil ponsel di atas meja, membuka sebuah video lalu menggeser ponsel tersebut ke hadapan Zea. "Lihat itu!"
Samar-samar, Zea seperti mendengar suaranya sendiri. Sebenernya video apa itu. Dengan tangan gemetar, ia mengambil ponsel tersebut, melihat video yang dimaksud.
Dunia Zea serasa langsung runtuh detik itu juga. Saking tremornya, ponsel di tangannya sampai terjatuh. Itu video saat dia berhubungan badan dengan Naka. Bagaimana bisa Tuan Very mendapatkan video yang sangat pribadi tersebut, jelas-jelas tak ada CCTV di kamar Naka.
"Kalian sudah terlalu jauh, sudah saatnya dihentikan," ujar Tuan Very dingin, menatap wajah Zea yang pucat pasi. "Kamu bukan level anak saya. Bagai pungguk merindukan bulan, kamu tahukan peribahasa itu?" menyeringai tipis. "Bangun, mimpimu ketinggian."
Zea meremat celananya sambil terus menunduk. Dadanya sesak.
"Salah jika kamu menganggap Naka mencintaimu, " Tuan Very menyeringai tipis. "Kamu hanya mainannya Zea. Kamu hanya pengisi waktu kosongnya saat dunia sedang tak berpihak padanya, dunianya gelap. Tapi nanti, saat Naka sudah bisa melihat kembali, kamu bukan lagi seleranya."
Zea menggigit bibir bawah, menahan agar tidak sampai menangis. Dia bukan tidak tahu diri, ia sadar seberapa tinggi dan kokoh tembok yang membatasi ia dan Naka. Namun logikanya kalah dengan cinta. Naka laki-laki yang membuat ia jatuh cinta untuk pertama kalinya. Ia sudah berusaha sekuat mungkin untuk membatasi diri dengan Naka, mengubur rasa cintanya, namun tanpa ia duga, Naka ternyata juga jatuh cinta padanya. Ketika rasa itu bersambut, ia tak bisa lagi mengelak, dia takluk pada cinta, meski tahu jika sulit bagi mereka untuk bersatu.
"Pergi dari sini, tinggalkan rumah ini dan Kanaka!Terserah kamu mau bersembunyi di lubang semut atau dalam perut hiu, yang penting jangan pernah menampakkan diri dihadapan kami, atau kamu tahu akibatnya."
Very membuka laci, mengambil selembar kertas yang telah ia siapkan lalu melemparkan ke wajah Zea. "Baca!"
Zea menunduk, mengambil selembar kertas yang jatuh di dekat kakinya. Ia mulai membaca tulisan yang ada disana, yang bagian paling atas sendiri dan tercetak tebal, tertulis surat penjanjian. Dalam surat tersebut, tertera jika ia akan menerima kompensasi sebesar 1 milyar asal mau pergi dari kehidupan Naka untuk selamanya.
"Saya rasa, itu lebih dari cukup untuk membeli harga diri kamu yang murahan itu."
Zara menggeleng cepat, meletakkan kembali surat perjanjian itu ke atas meja. Uang 1 milyar memang besar, tapi tak bisa membeli cintanya untuk Naka.
"Hahaha!" Very tertawa kencang. "Sudah saya duga, kamu seserakah itu. Kamu pasti berfikir, kalau berhasil menikah dengan Naka, kamu akan mendapatkan jauh lebih banyak dari 1 milyar kan? Kamu hanya mimpi Zea. Naka tak mungkin mau dengan wanita spek pembantu seperti kamu. Dia mau denganmu karena tak bisa melihat, tapi saat dunianya sudah kembali, sudah bisa melihat wanita-wanita cantik dan setara dengannya di luar sana, kamu hanyalah masa lalu. Jadi, cepat tanda tangan, lalu pergi setelah beri uangnya."
"Tidak, tidak seperti itu," Zea menggeleng cepat. "Ini bukan masalah uang, tapi saya memang tulus mencintai Tuan Naka." Ia tak mungkin menerima uang tersebut, Naka pasti akan sakit hati.
"Bulshitt!" Very menyeringai. "Saya tahu wanita miskin seperti kamu, orientasi hidupnya hanyalah uang. Jangan terlalu cepat mengambil keputusan Zea. Uang 1 milyar itu banyak, kapan lagi kamu bisa mendapatkan uang sebanyak itu. Saya beri kamu waktu 3 hari, fikirkan baik-baik."
o...o'o... kycduk kalian....
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
itu sih Aku ya Ze😄🤣