Hao Qi hanyalah seorang mahasiswa yatim piatu miskin yang tercekik hutang rentenir dan selalu dipandang sebelah mata oleh orang-orang di sekitarnya.
Namun, nasibnya berubah drastis ketika ia tanpa sengaja mengaktifkan Sistem Toko Sepuluh Ribu Alam di ponsel bututnya. Melalui sistem rahasia ini, Hao Qi bisa menjual barang-barang murah sehari-hari seperti mi instan dan korek api gas ke berbagai dimensi lain dengan bayaran selangit berupa koin sistem, emas batangan, pil penempa tubuh, hingga teknik bela diri kuno.
Sambil menyembunyikan identitas dan kekuatan barunya, Hao Qi mulai melunasi hutangnya, menyadari keberadaan energi Qi di dunia modern, dan melangkah naik untuk menghancurkan para orang sombong yang dulu meremehkannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Pria muda berjas abu-abu itu berhenti dan menatap Hao Qi dengan pandangan merendahkan.
"Hati-hati kalau jalan, Mata Empat," ucapnya dingin.
Wanita berbaju hitam itu menatap Hao Qi lekat-lekat selama tiga detik. Matanya memindai seluruh tubuh Hao Qi, mencoba mencari reaksi refleks dari seorang ahli bela diri. Namun yang ia lihat hanyalah seorang pemuda lemah yang bahkan tidak bisa menjaga keseimbangannya saat tersenggol pelan. Nafasnya pendek, detak jantungnya cepat karena panik, dan tidak ada aliran energi sedikit pun di meridiannya.
"Cih. Hanya sampah yang lemah. Ayo kita pergi, Kakak Senior. Jangan buang waktu di sini," wanita itu mendengus pelan, kehilangan minat sepenuhnya.
"Ya. Target kita seharusnya adalah seseorang yang bisa meremukkan lengan Gao. Tidak mungkin tikus-tikus ini pelakunya," balas pria itu.
Mereka berdua kembali melanjutkan langkah, meninggalkan Hao Qi yang masih berjongkok memunguti bukunya.
"Wush..."
Zhou Ming langsung menghela napas lega dan berlari membantu Hao Qi.
"Hah... gila! Kau lihat tatapan wanita tadi, Hao Qi? Rasanya seperti dia mau membunuh mu! Kau tidak apa-apa?"
Hao Qi berdiri dan menepuk debu dari celananya. Senyum cerianya kembali mengembang, kali ini dengan sedikit kilatan geli di matanya.
"Hahaha! Aku tidak apa-apa, Zhou Ming. Cuma tersenggol sedikit. Ayo, Profesor Wang pasti sudah menunggu di kelas."
Satu jam kemudian, di dalam ruang kelas Ekonomi Bisnis.
Profesor Wang sedang menjelaskan teori kurva penawaran dan permintaan di depan papan tulis. Sebagian besar mahasiswa tampak mengantuk.
Hao Qi duduk di barisan tengah. Di atas mejanya, ia tidak sedang mencatat pelajaran. Ia membuka aplikasi pasar saham dan portal real estat Jiangjing di ponselnya.
Dengan otaknya yang telah diperkuat oleh Pil Pencerahan Akal Budi, deretan angka, grafik fluktuasi saham, dan data properti yang dulunya membuat kepalanya pusing, kini terlihat seperti permainan teka-teki anak TK.
"Pertumbuhan sektor teknologi kota ini akan naik 15% bulan depan karena kebijakan walikota yang baru. Saham Perusahaan Induk Naga Hijau sedang anjlok hari ini karena rumor palsu, tapi fundamental mereka sangat kuat. Ini titik terendah semu. Jika aku memasukkan dua juta Yuan hari ini, aku bisa menariknya bulan depan dengan keuntungan bersih empat puluh persen."
Hao Qi bergumam di dalam hatinya. Matanya bergerak sangat cepat membaca ribuan baris data dalam hitungan detik. Jari-jarinya menari di atas layar ponsel, memindahkan sebagian dari lima juta Yuan miliknya ke berbagai portofolio saham dengan presisi seorang dewa judi yang tahu kartu lawan.
"Lalu, untuk masalah tempat penyimpanan..."
Hao Qi membuka portal real estat swasta. Ia tidak bisa terus-terusan memarkir truk boks sewaan di lahan kosong untuk masuk ke Sistem. Ia butuh sebuah markas yang aman, luas, dan memiliki sistem keamanan tinggi untuk menutupi aktivitas gaibnya.
Matanya tertuju pada sebuah iklan properti yang baru saja diunggah pagi ini.
"Vila Terbengkalai di Puncak Bukit Naga. Luas tanah 2000 meter persegi. Fasilitas gudang bawah tanah eks-pabrik anggur. Dijual cepat dan sangat murah, butuh tunai Tiga Juta Yuan."
Hao Qi menyipitkan matanya. Otak supernya langsung bekerja.
"Bukit Naga adalah kawasan elit, tapi vila ini dijual terlalu murah. Pasti ada masalah sengketa lahan atau... ini adalah aset gelap yang sedang dicuci terburu-buru. Dan melihat siapa yang sedang panik di Jiangjing saat ini, ini pasti ulah Bos Zhao yang sedang mengumpulkan uang tunai untuk menenangkan para petinggi di Ibukota."
Hao Qi tersenyum lebar. Ia mengeluarkan sebuah ponsel prabayar sekali pakai yang ia beli tadi malam. Ia menutupi mulutnya dengan buku agar tidak terlihat oleh Profesor Wang, lalu menekan sebuah nomor.
"Tuuut... Tuuut..."
Hanya pada dering kedua, panggilan itu langsung diangkat.
"H-halo? Tuan Hao?" Suara Bos Zhao terdengar sangat serak dan penuh ketakutan dari seberang telepon.
"Pagi, Bos Zhao! Kudengar pagi ini cuaca sangat bagus, ya?" sapa Hao Qi dengan nada yang sangat ramah dan ceria.
"T-Tuan Hao... Anda harus berhati-hati. Orang-orang dari Sekte Awan Hitam di Ibukota sudah tiba di Jiangjing pagi ini. Mereka adalah pihak yang mendukung operasi KTV-ku. Mereka sedang mencari siapa yang melumpuhkan Gao dan pengawalku. Mereka adalah monster sungguhan!" Bos Zhao berbisik panik. Ia jelas sedang bersembunyi.
"Hahaha! Monster? Aku baru saja menabrak salah satu dari mereka di lorong kampusku. Mereka tidak terlihat menakutkan, kok. Hanya kurang sopan saja," jawab Hao Qi santai.
Terdengar suara Bos Zhao menelan ludah dengan keras di telepon. Ia tidak habis pikir bagaimana pemuda ini bisa tertawa saat sedang diburu oleh sekte pembunuh.
"Lupakan soal mereka, Bos Zhao. Aku menelponmu karena ada urusan bisnis. Aku melihat vila di Bukit Naga sedang dijual cepat seharga tiga juta Yuan. Itu asetmu, kan?"
"B-benar, Tuan Hao. Saya butuh uang tunai cepat untuk menyogok beberapa mulut di pusat agar mereka tidak mengusut lebih jauh ke arah saya..."
"Sempurna. Aku yang akan membelinya. Gunakan jaringan bersihmu. Buat agar kepemilikan vila itu jatuh ke tangan sebuah perusahaan cangkang atas nama fiktif yang akan kuberikan datanya padamu. Uangnya akan kutransfer ke rekening luar negerimu dalam sepuluh menit."
"A-apa? Anda yang mau membelinya? Tapi tempat itu sudah diawasi oleh beberapa preman lokal yang ingin merebut aset saya, Tuan Hao!"
"Bos Zhao..."
Nada suara Hao Qi tiba-tiba berubah, dari yang ceria menjadi sangat datar dan dingin, membuat suhu di sekitar mejanya seolah turun beberapa derajat.
"Apakah aku terdengar seperti orang yang peduli dengan preman lokal? Urus surat-suratnya sebelum jam dua belas siang, bersihkan tempat itu dari tikus-tikus pengganggu, dan letakkan kuncinya di kotak pos. Atau aku harus mampir lagi ke KTV Naga Emas malam ini untuk mengingatkanmu siapa yang memegang nyawamu?"
"T-tidak perlu, Tuan Hao! Saya mengerti! Akan saya urus sekarang juga! Jam dua belas siang, kuncinya sudah ada di tangan Anda!" Bos Zhao langsung menyanggupi dengan suara gemetar.
"Bip."
Hao Qi memutus panggilan itu. Ia memutar-mutar ponsel prabayarnya di atas meja, senyum kembali menghiasi wajahnya.
"Sistem, sepertinya kita akan pindah rumah akhir pekan ini. Sebuah markas besar untuk Toko Sepuluh Ribu Alam di dunia nyata."
Otaknya yang sangat cerdas kini bukan hanya memikirkan cara bertahan hidup, melainkan cara memanipulasi papan catur kota Jiangjing tanpa pernah terlihat oleh musuh-musuhnya. Para elit Ibukota itu mungkin sedang mencari seekor singa yang mengamuk, namun Hao Qi memilih untuk menjadi bayangan yang mengendalikan segalanya dari balik senyum polos seorang mahasiswa.