"Dunia ini memang nggak adil, Hana. Tapi, malam ini kita yang akan membajak mesinnya."
Kalimat dingin Kaito Fujiwara memecah kesunyian di atap sekolah. Tokyo tahun 2026 telah menjadi penjara bagi mereka yang kalah dalam undian kelahiran. Hana Tanaka, siswi pintar yang menyembunyikan kemiskinannya, harus menghadapi kenyataan pahit saat dana beasiswanya dicuri untuk kampanye politik kotor. Bersama Akane si aktivis digital, Ren sang mantan atlet yang cacat, Yuki si peretas jenius, dan Kaito sang putra politisi yang pemberontak, mereka membentuk aliansi rahasia.
Dari gang gelap Shinjuku hingga pembajakan layar raksasa di persimpangan Shibuya, lima remaja ini mempertaruhkan nyawa untuk meruntuhkan sistem yang bobrok. Di dunia yang diyakini bahwa nasib orang ditentukan sejak lahir, mampukah mereka memutar balik roda takdir? Ataukah mereka hanya akan menjadi tumbal berikutnya dari keserakahan para penguasa? Persahabatan ini adalah satu-satunya senjata mereka dalam melawan ‘gelapnya kota’.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bulan Separuh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 32. Di Bawah Lampu Interogasi
Hana Tanaka berdiri dengan tubuh yang sangat kaku di depan pintu ruang sidang disiplin sekolah yang terbuat dari kayu jati tua. Suara detak jantungnya terasa sangat keras dan juga sangat cepat seperti detakan mesin jam dinding yang rusak.
Dia mencengkeram erat surat panggilan berwarna merah yang sekarang sudah mulai lembap karena keringat dingin dari telapak tangannya. Lorong sekolah di depan ruang kepala sekolah terasa sangat sunyi dan juga terasa sangat dingin pada pagi hari ini. Tidak ada siswa lain yang berani melintas di area ini karena mereka sangat takut akan terkena masalah dengan pihak keamanan.
Cahaya lampu neon di atas kepala Hana berkedip secara tidak teratur dan juga mengeluarkan suara berdengung yang sangat kecil. Hana menarik napas panjang untuk mengumpulkan seluruh keberanian yang dia miliki sebelum dia mengetuk pintu tersebut.
Pintu kayu itu akhirnya terbuka dengan suara decitan yang sangat nyaring dan juga sangat menusuk telinga Hana. Hana melangkah masuk ke dalam ruangan yang memiliki aroma kopi pahit dan juga aroma kertas dokumen yang sudah sangat lama. Di dalam ruangan itu sudah duduk Kepala Sekolah bersama dengan wali kelas Hana dan dua orang petugas kepolisian distrik.
Mereka semua menatap Hana dengan tatapan mata yang sangat tajam dan juga sangat tidak ramah sama sekali. Hana dipersilakan duduk di sebuah kursi besi yang diletakkan tepat di tengah ruangan di bawah sorotan lampu yang sangat terang.
Dia merasa seperti seorang kriminal yang sedang diadili di depan publik tanpa memiliki kesempatan untuk membela dirinya sendiri. Kepala Sekolah mulai membuka sebuah map hitam besar yang berisi beberapa lembar tangkapan layar dari server kementerian pendidikan.
Kepala Sekolah mengatakan bahwa sistem keamanan siber sekolah telah mendeteksi aktivitas akses data ilegal yang berasal dari alamat protokol internet rumah Hana. Mereka menuduh Hana telah mencuri data mengenai anggaran beasiswa nasional untuk kepentingan pribadi atau untuk tujuan sabotase politik.
Hana merasakan tenggorokannya menjadi sangat kering dan dia sangat kesulitan untuk mengeluarkan satu kata pun dari mulutnya. Dia tahu bahwa Yuki Nakamura memang menggunakan koneksi jaringan pribadi untuk menembus server tersebut pada malam sebelumnya. Namun Hana tidak menyangka bahwa pihak sekolah akan bertindak secepat ini dan juga melibatkan pihak kepolisian dalam masalah ini.
Dia merasa ada sebuah pengkhianatan yang terjadi di dalam lingkaran persahabatan mereka yang selama ini dianggap sangat kuat. Pikiran Hana mulai berkelana memikirkan siapa di antara teman-temannya yang mungkin membocorkan informasi rahasia ini kepada pihak sekolah.
Petugas polisi yang bertubuh besar mulai menanyakan detail mengenai keterlibatan teman-teman Hana dalam aksi peretasan tersebut dengan suara yang sangat berat. Dia menunjukkan sebuah foto buram yang memperlihatkan lima orang remaja sedang berkumpul di atap sekolah pada waktu malam hari.
Hana merasa sangat terkejut karena ternyata selama ini gerak-gerik mereka sudah diawasi oleh kamera pengawas yang sangat canggih. Kepala Sekolah menambahkan bahwa tindakan Hana telah mencoreng reputasi sekolah yang selama ini dikenal sangat bersih dan sangat berprestasi.
Mereka memberikan sebuah penawaran yang sangat kejam kepada Hana untuk menyelamatkan masa depan pendidikannya yang sangat berharga. Hana harus menyerahkan nama-nama rekan yang membantunya dan juga menyerahkan seluruh bukti digital yang mereka miliki saat ini.
Hana menatap wajah wali kelasnya yang selama ini terlihat sangat baik namun sekarang hanya bisa diam tanpa memberikan bantuan apa pun. Wali kelas tersebut justru memalingkan wajahnya ke arah lain seolah-olah dia sangat malu memiliki murid seperti Hana Tanaka.
Hana menyadari bahwa di dalam sistem demokrasi perak ini suara remaja tidak akan pernah memiliki kekuatan hukum yang setara. Para penguasa tua akan selalu berusaha untuk melindungi posisi mereka dengan cara menghancurkan siapa pun yang berani melawan. Hana teringat pada ibunya yang sedang bekerja sangat keras di pabrik pengolahan makanan hanya untuk biaya sekolah Hana.
Jika Hana dikeluarkan dari sekolah sekarang maka seluruh harapan ibunya akan hancur menjadi debu yang tidak berguna lagi. Namun Hana juga tidak mungkin mengkhianati Kaito, Ren, Akane, dan juga Yuki yang sudah berjuang bersamanya selama ini.
Interogasi tersebut berlangsung selama hampir tiga jam penuh tanpa ada jeda istirahat sedikit pun bagi Hana. Para petugas tersebut terus melontarkan pertanyaan yang sangat menyudutkan dan juga sangat mengintimidasi mental Hana secara terus menerus.
Mereka menggunakan teknik psikologi yang sangat halus untuk membuat Hana merasa sangat bersalah atas tindakan yang sebenarnya adalah sebuah kejujuran. Hana merasa dunianya mulai berputar dan juga pandangannya mulai menjadi sangat kabur karena dia merasa sangat lelah secara fisik. Dia terus mengepalkan tangannya di bawah meja agar dia tetap fokus dan tidak jatuh pingsan di depan mereka semua.
Dia berjanji di dalam hatinya bahwa dia akan tetap bungkam meskipun dia harus menanggung semua konsekuensi yang sangat berat. Hana Tanaka tidak ingin menjadi seorang pengkhianat hanya karena rasa takut pada ancaman dari orang-orang dewasa tersebut.
Sementara itu di atap sekolah yang sangat sepi Kaito Fujiwara sedang mondar-mandir dengan wajah yang sangat penuh dengan kecemasan. Dia sudah mendengar kabar mengenai penangkapan Hana oleh pihak keamanan sekolah melalui pesan singkat dari salah satu temannya.
Akane Sato duduk di lantai sambil terus mencoba menghubungi ponsel Hana yang ternyata sudah dinonaktifkan oleh pihak sekolah secara paksa. Ren Ishida berdiri di dekat pintu atap sekolah untuk memastikan tidak ada guru atau petugas keamanan yang mendekati posisi mereka.
Yuki Nakamura terlihat sangat panik dan dia terus menyalahkan dirinya sendiri atas kecerobohan sistem enkripsi yang dia buat sebelumnya. Dia tidak menyangka bahwa server kementerian memiliki lapisan keamanan cadangan yang sangat sulit untuk dideteksi oleh peretas amatir.
Kaito menghentikan langkahnya dan dia menatap ke arah teman-temannya dengan sorot mata yang penuh dengan tekad yang sangat membara. Dia menyatakan bahwa mereka harus segera melakukan tindakan balasan sebelum pihak sekolah menyerahkan Hana kepada pihak kepolisian secara resmi.
Akane mengusulkan agar mereka merilis seluruh bukti korupsi anggaran beasiswa ke media sosial sekarang juga sebagai bentuk tekanan publik. Namun Yuki mengingatkan bahwa tindakan tersebut bisa membuat posisi Hana menjadi semakin sulit karena dia akan dianggap sebagai otak utama.
Mereka membutuhkan sebuah rencana yang jauh lebih rapi dan juga sebuah rencana yang melibatkan dukungan dari pihak eksternal. Kaito kemudian teringat pada salah satu asisten ayahnya yang diam-diam merasa sangat kecewa dengan praktik korupsi di dalam pemerintahan.
Mereka berempat mulai menyusun sebuah rencana penyelamatan darurat yang melibatkan pengalihan perhatian di gerbang depan sekolah pada sore hari nanti. Ren berjanji akan mengumpulkan beberapa anggota klub atletik yang juga merasa tidak puas dengan kebijakan sekolah yang baru saat ini.
Mereka ingin menciptakan sebuah aksi protes damai yang sangat besar untuk menghentikan proses interogasi terhadap Hana Tanaka secara paksa. Akane mulai menyusun narasi yang sangat kuat untuk dibagikan ke grup-grup percakapan antar siswa di seluruh distrik Tokyo malam ini.
Mereka ingin menunjukkan bahwa masalah yang dihadapi Hana adalah masalah yang juga dihadapi oleh jutaan remaja lainnya di Jepang. Persahabatan mereka sedang diuji di titik yang paling rendah dan juga di titik yang paling berbahaya selama ini. Mereka tidak boleh gagal karena nasib Hana Tanaka sekarang sepenuhnya berada di tangan mereka berempat yang masih bebas.
Di dalam ruang interogasi Hana Tanaka masih terus bertahan dengan segala sisa tenaga yang dia miliki di dalam tubuhnya. Dia menolak untuk menandatangani surat pengakuan yang sudah disiapkan oleh pihak sekolah sejak awal proses interogasi tadi dimulai.
Kepala Sekolah mulai kehilangan kesabaran dan dia mulai mengancam akan mencabut seluruh catatan prestasi akademik milik Hana Tanaka. Dia mengatakan bahwa Hana tidak akan pernah bisa mendapatkan pekerjaan yang layak di Jepang jika dia memiliki catatan kriminal. Hana hanya bisa tersenyum kecil dengan sangat getir karena dia sudah tahu bahwa sistem ini memang sudah sangat busuk.
Dia merasa bahwa gacha kehidupan ini memang sengaja dirancang untuk membuat orang-orang seperti dia tetap berada di bawah. Keadilan sejati di sekolah ini ternyata hanyalah sebuah barang mewah yang hanya bisa dibeli oleh orang-orang kaya saja.
Tiba-tiba pintu ruang sidang disiplin terbuka dengan sangat keras hingga menabrak dinding di sampingnya dengan suara yang menggelegar. Seorang pria dengan setelan jas rapi dan juga berkacamata hitam masuk ke dalam ruangan tersebut dengan langkah yang sangat tenang.
Pria itu adalah pengacara terkenal yang dikirim secara rahasia oleh Kaito Fujiwara untuk membantu proses hukum Hana Tanaka. Dia segera meletakkan kartu identitasnya di atas meja dan dia meminta agar proses interogasi ini segera dihentikan sekarang juga. Pengacara tersebut menyatakan bahwa tindakan sekolah yang menginterogasi anak di bawah umur tanpa pendampingan hukum adalah sebuah pelanggaran berat.
Kepala Sekolah dan juga para petugas polisi tersebut terlihat sangat terkejut dan juga terlihat sangat bingung menghadapi situasi ini. Hana merasa sedikit lega namun dia tahu bahwa ini barulah awal dari sebuah pertempuran hukum yang sangat panjang dan melelahkan.
Hana Tanaka diizinkan untuk meninggalkan ruangan tersebut sementara waktu sampai jadwal persidangan disiplin berikutnya ditentukan oleh komite sekolah. Dia berjalan keluar dari ruangan itu dengan langkah yang masih sangat gemetar dan juga terasa sangat lemas sekali.
Di luar ruangan dia melihat Kaito dan teman-temannya sedang menunggu dengan wajah yang penuh dengan rasa khawatir yang sangat besar. Hana langsung memeluk Akane dan dia mulai menangis sesenggukan karena rasa takut yang selama ini dia tahan akhirnya pecah juga. Teman-temannya memberikan perlindungan di sekeliling Hana agar dia tidak menjadi pusat perhatian bagi siswa lain yang sedang melintas.
Mereka menyadari bahwa perang melawan demokrasi perak ini sudah masuk ke dalam tahap yang sangat serius dan juga mematikan. Sekarang mereka bukan lagi sekadar melawan kebijakan sekolah namun mereka sedang melawan sebuah sistem negara yang sangat besar.
Sore itu hujan turun dengan sangat deras dan juga sangat lebat membasahi seluruh area sekolah menengah atas tersebut. Hana Tanaka bersama teman-temannya berjalan menuju stasiun kereta bawah tanah dengan menggunakan payung yang sudah mulai robek di bagian pinggirnya.
Mereka berjalan dalam diam karena masing-masing sedang sibuk dengan pikiran mereka yang sangat berat mengenai masa depan mereka nanti. Saat mereka sampai di depan pintu masuk stasiun Hana melihat sebuah berita besar yang sedang ditayangkan di layar televisi raksasa.
Berita tersebut mengabarkan bahwa menteri pendidikan baru saja mengundurkan diri secara mendadak karena sebuah skandal yang sangat besar. Namun wajah yang muncul sebagai menteri pendidikan pengganti adalah sosok yang sangat mereka kenal dan juga sangat mereka benci.
Sosok itu adalah paman dari Kaito Fujiwara yang dikenal jauh lebih kejam dan juga jauh lebih licik daripada ayahnya Kaito. Sang menteri baru tersebut langsung memberikan pernyataan pers bahwa dia akan melakukan pembersihan terhadap elemen-elemen subversif di sekolah.
Dia menyebutkan nama sekolah Hana Tanaka sebagai salah satu sarang bagi para remaja yang ingin merusak stabilitas nasional Jepang. Hana merasakan sebuah firasat yang sangat buruk kembali muncul di dalam hatinya yang sedang sangat rapuh dan lelah. Dia melihat ke arah Kaito dan dia melihat wajah Kaito menjadi sangat pucat seperti wajah seorang mayat yang sudah lama dingin.
Di tengah kerumunan orang yang sedang terburu-buru itu Hana merasakan ada seseorang yang sedang memperhatikan mereka dari kejauhan. Seseorang itu mengenakan jas hujan hitam dan dia sedang memegang sebuah kamera dengan lensa panjang yang sangat mahal.
Hana Tanaka menyadari bahwa mereka sekarang sedang diburu oleh sebuah kekuatan yang jauh lebih besar dari sekadar pihak keamanan sekolah. Mereka sudah masuk ke dalam pusaran konflik politik nasional yang sangat berbahaya bagi nyawa mereka berlima saat ini.
Hana menggenggam erat tas ranselnya dan dia memberikan tanda kepada teman-temannya untuk segera masuk ke dalam kereta sekarang juga. Mereka harus menghilang dari pantauan orang-orang tersebut sebelum sesuatu yang jauh lebih buruk menimpa mereka berlima secara mendadak.
Di dalam gerbong kereta yang sangat sesak Hana melihat pantulan wajahnya di kaca jendela yang sedang terkena air hujan. Dia melihat seorang gadis yang tidak lagi memiliki rasa takut namun dia melihat seorang gadis yang siap untuk terbakar.
Pertempuran yang sesungguhnya baru saja dimulai dan mereka tidak memiliki jalan untuk kembali ke masa lalu yang tenang lagi.
akane mungkin gak terlalu terdampak, tapi hana kan bergantung sama beasiswa untuk sekolah.
masa depan mereka udah di setting semulus jalan tol
negara defisit, pajak dinaikin, yang kaya tambah kaya, yang miskin tambah miskin😂, si hana juga, kemiskinan bukan aib, jangan terlalu takut dulu, dia pasti ngiranya ga ada yang mau temenan sama dia kalo tau dia miskin🤭😭