sepuluh tahun lalu,Aldric veynheart kehilangan segalanya
ia kehilangan ayahnya di singgasana dengan pedang patah ditangan.
Ia kehilangan ibunya yang ditikam dari belakang saat berlindung.ia kehilangan adiknya - Liana enam tahun yang dilempar dari menara tertinggi.
dan dimalam yang sana,dibalik tirai,ia melihat Elera ,istri yang dinikahinya sebulan lalu,bersandar mesra di dada Darius veynheart ,Kaka tirinya.
senyum Elera,saat menatap Darius adalah paku terakhir di peti mati hati Aldric sebelum ia sempat berteriak,sebelum tendangan menghantam punggungnya.
Tubuhnya meluncur ke jurang maut - jurang tak berdasar di bawah istana ,tempat ribuan monster dan roh penasaran bercokol. Tempat tak seorangpun kembali tapi Aldric bisa kembali
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KEONG_BALAP, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23: PINTU AIR
Tiga hari perjalanan melewati padang rumput dan perbukitan membawa mereka ke tepi sungai besar yang membelah ibu kota. Dari kejauhan, samar-samar terlihat puncak menara Istana Veynheart—rumah yang dulu hangat, kini berubah menjadi benteng musuh.
Aldric menghentikan kudanya di balik rumpun bambu tinggi. Matanya yang tajam mengamati sekeliling—tiang-tiang asap dari perkampungan, para petani yang bekerja di sawah, dan di kejauhan, patroli kerajaan yang melintas di jalan utama.
"Kita tidak bisa lewat jalan biasa," bisiknya. "Terlalu banyak penjaga."
Elara mengangguk, wajahnya tegang. Selama tiga hari perjalanan, ia hampir tidak bicara—matanya terus menatap ke arah istana, mungkin membayangkan apa yang menanti mereka di dalam.
Sera menggendong Ren yang tertidur. Anak itu semakin sering tidur akhir-akhir ini, mungkin karena sering digunakan sebagai saluran Varyn. Tapi setidaknya ia tidak rewel.
"Arahkan kuda ke sungai," perintah Aldric. "Kita ikuti aliran sampai ke pintu air."
Sungai itu lebar dan dalam, airnya keruh membawa lumpur dari hulu. Mereka menyusuri tepian yang berbatu, melewati semak-semak rapat, menghindari area terbuka. Semakin dekat ke kota, semakin banyak sampah dan kotoran terapung di air—tanda bahwa mereka sudah mendekati pemukiman.
Akhirnya, setelah berjam-jam berjalan, Aldric menghentikan kudanya di depan sebuah struktur batu tua yang hampir tertutup semak belukar.
Pintu air.
Bangunan itu seperti bunker kecil dari batu hitam, dengan pintu besi berkarat yang setengah tertutup lumut. Di sekelilingnya, air sungai mengalir deras menuju saluran bawah tanah—sistem pembuangan kuno yang sudah tidak digunakan sejak seratus tahun lalu.
"Ini dia," gumam Aldric.
Ia turun dari kuda, mendekati pintu besi itu. Karat tebal menutupi hampir seluruh permukaan, tapi ia masih bisa melihat ukiran-ukiran samar—simbol Veynheart, singa bersayap yang sama dengan lambang kerajaan.
"Kau yakin ini masih bisa dibuka?" tanya Elara cemas.
Aldric mencoba mendorong. Pintu itu tidak bergerak. Ia mengerahkan kekuatan setengah iblis—urat hitam di lengannya berdenyut—dan mendorong lagi.
Kreeeek...
Pintu besi itu membuka perlahan, mengeluarkan suara memekik yang membuat bulu kuduk merinding. Bau busuk langsung menyembur dari dalam—bau lumpur, bau bangkai, bau sesuatu yang sudah mati lama.
Sera menutup hidung Ren yang mulai terbangun. "Dewa-dewa..."
Aldric mengintip ke dalam. Lorong gelap terbentang di depan, dengan air kotor setinggi mata kaki mengalir perlahan. Di dinding-dinding, lumut bercahaya tumbuh subur, memberi sedikit penerangan.
"Aku masuk duluan," katanya. "Kalian tunggu di sini. Jika dalam sepuluh menit aku tidak kembali—"
"Kami ikut." Elara memotong tegas. "Kita sudah sampai sejauh ini bersama. Aku tidak akan menunggumu mati sendirian di dalam sana."
Aldric ingin membantah, tapi dilihatnya mata Elara—tegas, tidak bisa digoyahkan. Ia menghela napas.
"Baik. Tapi kalian harus di belakangku. Dan jangan menyentuh apa pun."
Mereka masuk ke dalam kegelapan.
Lorong bawah tanah itu seperti memasuki raksasa yang sudah mati.
Dinding-dindingnya terbuat dari batu hitam yang sama dengan pintu, tapi di beberapa tempat sudah retak dan ditumbuhi akar-akar pohon. Air kotor mengalir pelan di bawah kaki, kadang membawa benda-benda yang tidak ingin mereka kenali. Bau busuk semakin menyengat seiring mereka masuk lebih dalam.
Ren terbangun, mengendus-endus. "Om... bau apa itu?"
"Bau yang tidak enak, Nak. Tutup hidung."
Anak itu menurut, menyembunyikan wajah di leher ibunya.
Setelah berjalan sekitar lima belas menit, lorong mulai melebar. Mereka tiba di sebuah ruangan besar—mungkin persimpangan utama sistem pembuangan. Di sini, air berkumpul di kolam dangkal sebelum dialirkan ke cabang-cabang lain.
Dan di tepi kolam itu, sesuatu tergeletak.
Aldric mengangkat tangan, memberi isyarat berhenti. Ia mendekat perlahan, belati terhunus.
Sesosok tubuh manusia—atau bekas manusia—tergeletak di lantai batu. Pakaiannya compang-camping, wajahnya membusuk, tapi masih bisa dikenali sebagai perempuan. Di dadanya, luka tusukan menganga—masih basah.
Darah segar.
Aldric menajamkan indra. Bau darah ini baru—mungkin beberapa jam. Ia mendongak, mengamati sekeliling.
Dari salah satu lorong cabang, samar-samar terdengar suara. Suara tangis—pelan, tertahan, seperti orang yang berusaha tidak bersuara tapi tidak sanggup menahan sakit.
"Ada orang di sana," bisik Elara.
Aldric mengangguk. "Kalian di sini. Aku periksa."
"Aldric—"
"Diam." Ia sudah melesat pergi.
Lorong cabang itu lebih sempit, lebih gelap. Aldric merayap cepat, mengikuti sumber suara. Setiap beberapa langkah, ia menemukan jejak darah—percikan di dinding, genangan kecil di lantai.
Suara tangis semakin jelas. Dan di ujung lorong, ia melihatnya.
Seorang wanita muda—mungkin dua puluhan—duduk bersandar di dinding. Bajunya robek, tubuhnya penuh luka, dan di tangannya, ia memeluk sesuatu erat-erat. Sebuah boneka kain lusuh.
Aldric mendekat pelan, tidak ingin mengejutkannya. Tapi wanita itu sudah melihatnya. Matanya—lebar, penuh ketakutan—menatapnya dengan ngeri.
"Jangan... jangan bunuh aku..." bisiknya, suara serak. "Aku... aku tidak akan lapor..."
Aldric berjongkok di depannya, menjaga jarak. "Aku tidak akan menyakitimu. Siapa namamu?"
Wanita itu gemetar hebat. "L-Lila... aku pelayan di istana..."
"Apa yang terjadi padamu?"
Lila menangis—tangis pilu yang membuat hati siapa pun hancur. "Mereka... mereka tahu aku membantu seseorang kabur... Mira... mereka tahu aku kenal Mira..."
Dunia Aldric berhenti.
"Mira?" Ia meraih bahu wanita itu. "Mira bagaimana? Apa yang terjadi padanya?"
Lila terisak-isak. "Mereka... mereka menangkapnya. Tiga hari lalu. Disiksa... dipaksa ngaku... aku... aku coba bantu dia kabur, tapi ketahuan..." Ia memeluk bonekanya erat. "Mira... Mira titip ini... buat... buat Pangeran Aldric..."
Boneka kain lusuh.
Boneka kelinci.
Boneka milik Liana.
Aldric mengambil boneka itu dengan tangan gemetar. Kainnya kotor, berdarah, tapi ia mengenalinya. Boneka yang selalu menemani Liana tidur. Boneka yang ia berikan pada adiknya dua tahun lalu.
Mira menyimpannya. Mira menjaganya. Dan sekarang—
"Mira... di mana dia sekarang?" Suara Aldric serak, hampir tidak terdengar.
Lila menggeleng lemah. "Aku... aku tidak tahu. Mereka bawa dia... ke ruang bawah tanah... kata mereka... kata mereka akan jadikan contoh..." Napasnya tersengal. "Maaf... maaf aku gagal..."
"Kau tidak gagal." Aldric menggenggam boneka itu erat. "Kau sudah berusaha. Sekarang, kau harus keluar dari sini."
"Aku... aku tidak bisa jalan..."
Dari belakang, suara Elara. "Aldric! Kau di mana?"
Aldric berbalik. Elara, Sera, dan Ren muncul di ujung lorong. Begitu melihat Lila, Elara terkesiap.
"Dia pelayan istana," kata Aldric singkat. "Mira ditangkap. Kita harus selamatkan dia."
"Mira?" Elara wajahnya pucat. "Mira yang—"
"Ya."
Sera maju, melihat kondisi Lila. "Dia butuh pertolongan segera. Luka-lukanya parah."
Aldric berpikir cepat. Mereka tidak bisa membawa Lila—terlalu berat, terlalu lambat. Tapi mereka juga tidak bisa meninggalkannya mati di sini.
"Bawa dia ke luar," katanya akhirnya. "Ke tempat kuda-kuda. Kalian tunggu di sana."
"Lalu kau?" tanya Elara.
"Aku masuk ke istana. Cari Mira."
"Aku ikut."
"Tidak." Aldric menatap Elara tegas. "Ini terlalu berbahaya. Aku sendiri lebih cepat, lebih lincah."
"Aku tidak peduli—"
"Aku peduli." Aldric memegang wajahnya. "Aku tidak mau kehilanganmu. Tolong, tunggu di sini. Jaga mereka. Aku akan kembali dengan Mira."
Elara ingin membantah, tapi dilihatnya mata Aldric—mata yang penuh tekad, tapi juga penuh ketakutan—ketakutan kehilangan lagi. Ia menghela napas.
"Kau janji akan kembali?"
"Aku janji."
Mereka berpelukan singkat. Lalu Aldric melepaskan diri, menatap Sera. "Bawa mereka keluar. Cepat."
Sera mengangguk. "Hati-hati."
Aldric melesat pergi, menghilang dalam kegelapan lorong.
Elara dan Sera menggotong Lila keluar dari sistem pembuangan. Perjalanan terasa lebih lama dan lebih berat dengan beban tambahan, tapi akhirnya mereka berhasil mencapai pintu air. Udara segar menyambut mereka—lega yang tak terkira.
Mereka membaringkan Lila di rerumputan, membersihkan luka-lukanya sebisanya dengan air sungai. Wanita itu setengah sadar, menggigil hebat.
Ren duduk di samping Lila, menatapnya dengan mata sedih. "Kasihan..." bisiknya. "Tante sakit..."
Tiba-tiba, mata Lila terbuka lebar. Ia menatap Ren, lalu meraih tangannya.
"Kau... kau anak yang diramalkan..." bisiknya, napas tersengal. "Mira... Mira bilang... kau penting... kau bisa selamatkan mereka..."
Sera menarik Ren cemas. "Apa maksudnya?"
Lila tersenyum—lemah, tapi damai. "Mira... punya mata-mata... di istana... dia tahu... tentang rencana Darius... tentang Kael..." Batuk-batuk. "Dia titip pesan... katakan pada Pangeran... Soulrender... tidak cukup... kau butuh hati yang rela berkorban..."
"Apa?"
Tapi Lila sudah tidak sadar lagi.
Elara dan Sera saling pandang. Pesan Mira—pesan dari dalam penjara—sampai juga.
Di dalam sistem pembuangan, Aldric berlari cepat mengikuti petunjuk Lila. Ruang bawah tanah—tempat penyiksaan—terletak di bawah sayap barat, dekat dapur lama.
Ia melewati persimpangan demi persimpangan, mengandalkan ingatan masa kecilnya tentang denah istana. Bau darah semakin kuat—dan di beberapa tempat, ia menemukan lebih banyak mayat. Pelayan-pelayan yang tidak beruntung.
Mira... bertahanlah...
Akhirnya, ia tiba di sebuah pintu besi—pintu terakhir sebelum ruang bawah tanah. Dari baliknya, terdengar suara—suara cambuk, suara jeritan, suara tawa keji.
Aldric mengepalkan tangan. Urat hitam di sekujur tubuhnya bersinar merah.
Ia membuka pintu itu.
--- BERSAMBUNG KE BAB 24:
Di balik pintu besi, pemandangan mengerikan menanti. Ruang bawah tanah istana telah berubah menjadi ruang penyiksaan. Para pelayan yang setia pada keluarga lama digantung, disiksa, dijadikan tontonan.
Dan di tengah ruangan, terikat di tiang penyiksaan, tergantung sesosok tubuh yang dikenali Aldric.
Mira.
Wanita itu sudah tidak sadar, tubuhnya penuh luka, darah mengalir dari sekujur tubuhnya. Tapi ia masih hidup—masih bernapas.
Di sampingnya, dua algojo dengan topeng besi sedang mempersiapkan alat-alat penyiksaan baru.
Aldric merasakan amarah yang membutakan. Iblis di dalamnya berteriak, minta dilepaskan.
Tapi ia harus tetap tenang. Harus menyelamatkan Mira.
Di sudut ruangan, bayangan hitam mulai terbentuk—penjaga tambahan, mungkin prajurit elite, mungkin pemburu iblis.
Pertempuran kecil akan segera dimulai.
Dan di ujung lorong, langkah kaki bergema—lebih banyak musuh datang.