NovelToon NovelToon
Vessel Of Eternity

Vessel Of Eternity

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Reinkarnasi / Cinta Terlarang / Iblis / Kutukan / Romansa
Popularitas:352
Nilai: 5
Nama Author: amuntuyu

Kisah seorang The Constant, sang pengelana waktu yang hidup empat ratus tahun. Bertemu dengan seseorang dari kaum Aethern, dewa cahaya yang hidup dalam keabadian. Awalnya mereka berpikir bahwa pertemuan itu hanyalah kebetulan. Namun, dibalik pertemuan itu, sebuah benang sudah terikat sejak ratusan tahun yang lalu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon amuntuyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 14

Sinar matahari sore yang pucat menerobos masuk melalui jendela-jendela tinggi perpustakaan Arcandale, menyinari partikel debu yang menari di udara yang pengap oleh aroma kertas tua dan tinta. Di sebuah meja kayu besar yang terisolasi di sudut ruang belajar, Kenzie duduk dengan tenang. Tangannya yang lentik membalik halaman buku sejarah tebal tentang era Revolusi Prancis. Sebuah era yang sebenarnya tidak perlu ia pelajari, karena ia pernah mencium aroma bubuk mesiu dan mendengar teriakan liberte secara langsung.

Di sampingnya, Hallen tampak seperti cacing kepanasan. Laki-laki itu tidak bisa diam lebih dari lima menit. Hallen terus-menerus mengetukkan pulpennya ke meja, menggoyang-goyangkan kakinya dan mulutnya tidak berhenti mengoceh.

"Kenzie, kau tahu tidak? Pak Joshua bilang ujian sejarah besok akan mencakup tentang silsilah raja-raja yang kepalanya dipenggal. Maksudku, kenapa kita harus menghafal nama orang-orang mati yang gagal menjaga leher mereka sendiri?" Hallen tertawa, mencoba menarik perhatian Kenzie yang masih terpaku pada buku.

Kenzie tidak mendongak. "Karena sejarah adalah cara dunia mengingatkan kita agar tidak melakukan kesalahan yang sama, Hallen. Dan jika kau tidak menghafalnya, kau akan melakukan kesalahan yang sama, tidak lulus ujian."

Lyana yang duduk di seberang mereka tertawa kecil. Ia mengenakan bando mutiara yang membuatnya tampak sangat polos, namun matanya terus mengawasi gerak-gerik Kenzie dengan intensitas yang sulit diartikan. "Hallen benar, Kenzie. Kau terlalu serius. Sejarah memang membosankan jika kita hanya membacanya. Tapi bagimu, sepertinya buku-buku ini yang bicara padamu, ya?"

Kenzie melirik Lyana sekilas. Ia tahu itu adalah sindiran halus tentang keabadiannya. "Aku hanya memiliki daya ingat yang baik, Lyana. Mari kita fokus. Di bagian ini, dijelaskan tentang bagaimana kebangsawan lama runtuh karena mereka terlalu sombong dengan status mereka."

Kenzie mulai menjelaskan dengan detail yang sangat akurat. Cara ia mendeskripsikan suasana pasar di Paris abad ke-16 begitu hidup, seolah-olah ia bisa merasakan tekstur batu jalanannya. Hallen menatap Kenzie dengan kagum, sementara Lyana mendengarkan sambil mencatat atau sepertinya berpura-pura mencatat di buku tulisnya.

Tiba-tiba, suara langkah kaki yang mantap terdengar mendekat. Bunyi sepatu pantofel yang menghantam lantai menciptakan irama yang sangat dikenal oleh Kenzie.

Julian muncul dari balik rak buku besar, lengan seragamnya digulung hingga siku, menonjolkan urat-urat di lengannya yang pucat. Ekspresinya datar, namun matanya yang biru berkilat tajam saat melihat Hallen duduk sangat dekat dengan Kenzie.

"Boleh aku bergabung?" tanya Julian tanpa basa-basi. Suaranya rendah dan memiliki otoritas yang membuat Hallen langsung duduk tegak.

"Julian? Tidak biasanya kau ingin berbaur dengan orang lain. Biasanya kau terlihat sangat acuh dan menganggap semua manusia di sekitarmu adalah orang mati." sahut Hallen dengan ekspresi wajah yang terlihat mengejek. "Tapi, boleh saja. Mungkin akhirnya kau sadar kau butuh teman di hidupmu yang membosankan itu kan?"

Julian menarik kursi tepat di sebelah Kenzie, secara efektif memblokir akses Hallen ke sisi kanan gadis itu. "Aku juga butuh bantuan untuk bagian sejarah Eropa. Guru bilang aku agak lemah di bagian itu."

Kenzie tahu itu bohong besar. Julian ada di sana pada masa itu, dia mungkin mengenal orang-orang yang namanya tertulis di buku itu. Julian datang untuk satu alasan: Pengawasan.

"Kita butuh referensi tambahan tentang perjanjian Westphalia." ucap Kenzie setelah tiga puluh menit belajar yang penuh ketegangan. Ia berdiri, merasa perlu menjauh sejenak dari aura Julian yang menyesakkan.

"Aku akan bantu cari!" Hallen langsung berdiri, tidak mau kalah.

Mereka berdua berjalan menuju rak buku paling ujung yang tertutup bayangan. Rak itu sangat tinggi dan penuh dengan ensiklopedia berat. Kenzie berjinjit, mencoba meraih sebuah buku bersampul kulit merah di rak teratas.

"Sini, biar aku saja." Hallen mendekat, berdiri tepat di belakang Kenzie. Ia mengulurkan tangannya yang lebih panjang untuk meraih buku itu.

Namun, lantai di bagian itu ternyata sedikit licin karena baru saja dipel. Saat Kenzie sedikit bergeser untuk memberi ruang bagi Hallen, tumit sepatunya tergelincir.

"Ah!" Kenzie tersentak, tubuhnya limbung ke belakang.

Dengan refleks atletis yang luar biasa, Hallen segera melingkarkan tangannya ke pinggang Kenzie. Ia menarik tubuh gadis itu agar tidak menghantam lantai yang keras. Dalam sekejap, Kenzie berada dalam pelukan Hallen. Punggungnya menempel erat pada dada Hallen dan wajah laki-laki itu hanya berjarak beberapa inci dari samping wajah Kenzie.

Hallen tertegun. Aroma parfum Kenzie yang lembut seperti mawar bercampur hujan menyerbu indra penciumannya. Ia bisa merasakan kehangatan atau justru ketiadaan panas dari tubuh Kenzie yang mungil. Jantung Hallen berdegup kencang, suaranya terdengar seperti drum di telinganya sendiri. Semburat merah padam menjalar cepat dari leher hingga ke pipinya.

"Kau... kau tidak apa-apa?" bisik Hallen, suaranya sedikit pecah karena gugup. Ia lupa untuk melepaskan pelukannya.

Di meja belajar, Julian yang menyaksikan adegan itu dari jauh mendadak berdiri. Tangannya mengepal kuat di atas meja hingga buku jari-jarinya memutih. Matanya berkilat dengan amarah yang dingin, sebuah kecemburuan lampau yang tidak bisa ia sembunyikan. Baginya, melihat Hallen menyentuh Kenzie seperti itu adalah sebuah penghinaan terhadap sejarah panjang gadis itu.

"Hallen." suara Julian menggelegar di perpustakaan yang sepi itu, tajam seperti belati.

Hallen tersentak dan segera melepaskan Kenzie. Wajahnya semakin merah seperti kepiting rebus. "Maaf! Lantainya licin sekali. Aku tidak mau Kenzie terluka seperti saat itu."

Kenzie mencoba menenangkan diri, merapikan sweater yang membungkus seragamnya yang sedikit berantakan. Ia bisa merasakan tatapan Julian yang seolah-olah ingin membakar Hallen hidup-hidup.

Julian berjalan mendekat dengan langkah cepat, menyambar buku merah yang tadi dicari Kenzie dengan kasar. "Lain kali, jika kau tidak bisa menjaga keseimbanganmu, mintalah bantuan pada orang yang lebih kompeten, bukan pada orang yang bahkan tidak bisa memegang pulpen dengan benar."

Hallen mengerutkan kening, merasa tersinggung dengan nada bicara Julian. "Hei, aku baru saja menyelamatkannya dari jatuh, Julian!"

Julian tidak menjawab, ia hanya menatap Hallen dengan tatapan mengancam yang membuat nyali laki-laki itu menciut.

Lyana yang sejak tadi mengamati dari meja, berdiri dan menghampiri mereka. Ia melipat tangannya di dada, matanya menatap Julian dengan tatapan mengejek namun ada kilatan sakit di sana.

"Wah, wah." Lyana bersuara, nadanya sarkastik. "Sepertinya suasana belajarnya berubah jadi drama romantis. Julian, kau terlihat sangat kesal. Apa kau cemburu karena Hallen lebih sigap menjaga Kenzie daripada kau?"

Julian menoleh pada Lyana, rahangnya mengeras. "Jangan bicara sembarangan, Lyana."

Lyana tertawa getir, matanya kini berkaca-kaca, entah sebuah akting atau mungkin perasaan jujur dari seorang anak yang merasa ayahnya lebih peduli pada orang asing. "Oh, aku tidak bicara sembarangan. Aku cemburu, Julian! Aku cemburu melihat bagaimana kau menatapnya seolah dia adalah duniamu, sementara kau bahkan tidak pernah menatapku sebagai putrimu sendiri di dunia ini!"

Hallen ternganga. "Putri? Apa maksudmu, Lyana?"

Kenzie segera menarik napas panjang. Situasi menjadi tidak terkendali. Rahasia Julian berada di ambang kehancuran karena ledakan emosi Lyana dan kecemburuan Julian yang tidak pada tempatnya.

"Lyana hanya sedang stres karena ujian, Hallen." sela Kenzie cepat, mencoba memperbaiki keadaan. Ia menatap Julian dengan tatapan peringatan agar laki-laki itu bisa mengontrol emosinya. "Mari kita selesaikan belajar ini di tempat lain. Suasana di sini mulai tidak kondusif."

Julian memejamkan mata sesaat, mencoba meredam api di dadanya. Ia tahu ia hampir saja menghancurkan penyamaran ratusan tahun karena egonya.

Di sudut perpustakaan, di balik bayang-bayang rak buku yang paling gelap, sepasang mata berwarna perak yang berkilau mengawasi mereka semua. Seseorang itu tersenyum melihat kekacauan itu. Benang-benang penderitaan yang ia rajut mulai menunjukkan hasilnya.

...•••...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!