NovelToon NovelToon
Rian Sang Anomali Sihir

Rian Sang Anomali Sihir

Status: sedang berlangsung
Genre:Dunia Lain
Popularitas:69
Nilai: 5
Nama Author: alghazalibms 19980223

Hidupku sedang berada di titik terendah. Menganggur selama enam bulan dan baru saja ditinggalkan tunanganku membuat masa depan terasa gelap. Namun sebuah pertemuan sederhana dengan penjual kopi di pinggir jalan malam itu sedikit mengubah cara pandangku tentang hidup. Aku pikir masalahku sudah cukup berat—sampai akhirnya sesuatu yang jauh lebih aneh dan mustahil terjadi. Ketika aku terbangun di tempat asing dan secara tak sengaja membangkitkan seorang wanita bangsawan dari kematian, hidupku yang biasa berubah menjadi awal dari perjalanan misterius di dunia yang sama sekali tidak kukenal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon alghazalibms 19980223, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

8. Mimpi Terindah yang Mematikan

"Sial, ini dia," gumamku sendiri, menatap dinding kabut putih yang semakin dekat. Suasana di sekitar sudah berubah; udara menjadi dingin menusuk dan air laut yang semula biru jernih berubah menjadi kelabu dan tenang secara tidak wajar. Seperti ada yang menahan napas.

Aku menarik napas dalam, memutar tubuhku untuk menghadap Eveline yang berdiri tegak di buritan. Wajahku serius.

"Eveline, dengarkan baik-baik," ucapku, suaraku tegas meski jantung berdebar kencang. "Begitu kita masuk ke dalam kabut itu, aku tidak tahu apa yang akan kita hadapi. Aku memerintahkanmu: keluarkan semua kekuatan tempurmu. Lindungi diriku dengan segala cara, bahkan jika itu berarti menghancurkan apapun yang mengancam. Bunuh jika harus. Kau mengerti? Nyawaku adalah prioritas utamamu."

Ini perintah yang kuhindari sejak kejadian dengan para bandit. Tapi di sini, di ambang ketidakpastian mutlak, aku tidak bisa mengambil risiko.

Eveline mengangguk perlahan. "Dimengerti, Tuanku. Mengaktifkan mode pertempuran penuh."

Lalu, sesuatu yang belum pernah kulihat terjadi.

Bukan hanya sikapnya yang berubah. Matanya yang biru pucat itu tiba-tiba berpendar, lalu berubah menjadi merah darah yang menyala-nyala, seperti bara api di kegelapan. Aura dingin dan kaku yang biasa dipancarkannya berubah menjadi hawa mematikan yang hampir fisik, membuat bulu kudukku berdiri.

"T-Tunggu," ujarku spontan, langkahku mundur sedikit. "Matamu... kenapa jadi merah?"

Dia menoleh kepadaku, dan untuk pertama kalinya, ada nada yang hampir seperti... intensitas dalam suaranya yang biasanya datar. "Ini adalah wujud saat semua batasan dilepaskan. Kekuatanku tidak terbatas oleh hukum manusia normal. Ini adalah mode penghancuran."

Akhirnya aku mengerti, batinku, sambil teringat kekejamannya melumat para bandit dengan mudah. Saat itu, dia bahkan belum menunjukkan wujud ini. Rasa ngeri dan sekaligus lega bercampur di dadaku. Aku semakin takut padanya, tapi juga sedikit lebih aman.

"Baik," kataku, mencoba menenangkan diri. "Pertahankan mode itu sampai kita keluar dari tempat ini atau sampai kau kuperintahkan untuk berhenti."

Dia mengangguk, dan sorot mata merahnya itu kembali menatap tajam ke arah kabut.

Dengan hati yang berdebar kencang, kukemudikan "Si Bandel" memasuki dinding kabut putih itu.

Dan dunia berubah.

Begitu melewati batas kabut, suara dan cahaya seakan lenyap tertelan. Yang tersisa hanyalah kesunyian yang mencekik dan visibilitas yang tidak lebih dari dua meter di depan perahu. Udara terasa berat dan basah, berbau anyir dan... kematian.

Lalu, dalam cahaya redup yang menembus kabut, aku mulai melihatnya.

Pecahan-pecahan kayu kapal berserakan di air yang kelabu. Bukan hanya satu atau dua, tapi puluhan, mungkin ratusan. Beberapa masih memiliki bentuk lambung kapal, yang lainnya hanyalah serpihan belaka. Dan di antara pecahan-pecahan itu, mengambang pelan, adalah mayat-mayat.

Beberapa masih terlihat utuh meski pucat dan membengkak, mengenakan pakaian dari berbagai zaman—ada yang jubah penyihir, baju zirah tua, hingga pakaian pelaut modern. Yang lain sudah menjadi kerangka, tulang-belulang yang berserakan di atas papan yang lapuk. Beberapa mayat terlihat seperti baru beberapa hari, yang lain sudah hancur dimakan waktu.

Pemandangan itu membuat perutku mual dan ingin muntah. Ini bukan lagi sekadar legenda. Ini kuburan massal. Bukti nyata dari setiap nyawa yang pernah nekat memasuki tempat ini dan gagal.

Tapi di balik rasa jijik dan takut yang mendalam, sebuah tekad membara dalam diriku. Aku harus terus maju. Di antara semua mayat dan kehancuran ini, pasti ada jawaban. Nasib Ivan si pembuat emas, Jim si pemanggil air, Ahmad si peramal, dan Budi si pencipta benda... semuanya mungkin berakhir di sini. Atau, mungkin, ada yang berhasil melangkah lebih jauh.

"Terus maju, Eveline," perintahku, suara bergetar tapi penuh tekad. "Awasilah sekeliling kita."

Dengan perahu tua kami yang terasa sangat kecil dan rapuh, kami menyusuri labirin kuburan kapal dan mayat ini, menyelami lebih dalam misteri Pulau Yang Terlupakan, sementara sorot mata merah Eveline bagai lentera di tengah kabut maut, siap menghancurkan apapun yang mengancam dari dalam kesunyian yang menyesakkan.

Perahu "Si Bandel" nyaris tidak bergerak. Layarnya mengempas lemas, tanpa setitik angin pun yang berhembus. Laut di dalam kabut ini seperti minyak kental, hitam dan statis. Aku terpaksa mengambil dayung darurat dan mulai mendayung dengan tenaga yang seadanya. Setiap kayuhan terasa berat, seolah airnya sendiri menahan laju perahu.

Lalu, datanglah bisikan-bisikan itu.

Awalnya samar, seperti desir angin yang salah arah. Tapi semakin lama, semakin jelas. Sebuah suara wanita, lembut namun penuh keputusasaan, berbisik tepat di telingaku.

"Pergilah... jangan lanjutkan..."

"Ini bukan tempat untuk yang hidup... pulanglah..."

"Kematian menanti......"

Bisikan itu mengalun berulang-ulang, menusuk langsung ke dalam pikiranku. Aku memicingkan mata, berusaha mengabaikannya, fokus pada dayungan. Tapi suara itu terus mendesak, semakin menjadi-jadi, seolah ratusan orang berbisik bersamaan.

"Lihat sekelilingmu... ini adalah akhir dari semua pencarian..."

"Kau akan tersesat selamanya... seperti mereka..."

"TIDAK ADA JALAN PULANG!"

Eveline tetap dalam mode tempur, matanya merah menyala, terus waspada. Tapi dia tidak bereaksi pada bisikan-bisikan itu. Sepertinya hanya aku yang bisa mendengarnya.

Tekanan di kepalaku semakin menjadi. Bayangan mayat-mayat yang kulihat sebelumnya seolah hidup kembali dalam pikiranku. Rasa putus asa mulai merayap.

"CUKUP!" akhirnya aku berteriak, suaraku pecah memecah kesunyian yang mencekik. Tanganku berhenti mendayung. "Aku dengar kamu! Tapi aku tidak akan pergi!"

Aku berdiri, menatap kosong ke dalam kabut, berbicara pada entitas yang tak kasat mata. "Aku bukan datang untuk cari gara-gara! Aku bukan pahlawan atau penakluk! Aku cuma orang biasa yang tersesat! Aku cuma ingin pulang! Ke rumahku! Apakah itu salah?!"

Suaraku bergema, lalu lenyap ditelan kabut. Untuk sesaat, bisikan-bisikan itu menghilang. Lalu, berganti dengan sesuatu yang lebih menyayat hati: tangisan.

Sebuah isakan perempuan, begitu sedih dan pilu, mengisi ruang di sekelilingku. Tangisan yang penuh penyesalan dan kerinduan, seolah menangisi sesuatu yang hilang selamanya. Tangisan itu membuat dadaku sesak, seolah aku bisa merasakan penderitaannya.

Dengan perasaan berat, aku kembali mendayung. Dayunganku kali ini lebih pelan, dibayangi oleh tangisan yang menyertai. Aku tidak tahu lagi siapa atau apa itu. Apakah hantu dari para korban? Atau penjaga tempat ini?

Tak lama kemudian, dayunganku terhenti oleh sebuah benturan keras. Krak!

Perahu "Si Bandel" bergetar, lalu berhenti. Aku terlempar sedikit ke depan. Kulanjutkan pandanganku. Kabut masih tebal, tapi di bawah perahu, bukan lagi air—tapi pasir.

Kita sudah mendarat.

Jantungku berdebar kencang. Aku melompat keluar dari perahu, kaki-kakiku tenggelam dalam pasir kehitaman yang dingin. Eveline mengikutiku, melompat dengan anggun, matanya yang merah masih menyala, siap menghadapi apapun.

"Kita sudah sampai di suatu tempat," bisikku, mencoba menembus kabut dengan pandangan. "Tetaplah waspada."

Tangisan wanita itu perlahan-lahan mereda, seolah mengizinkan kami untuk melangkah. Di depan, hanya ada kabut dan ketidakpastian. Tapi setidaknya, kami telah sampai di daratan. Apapun yang menanti di pulau ini—jawaban, kematian, atau jalan pulang—semuanya dimulai dari sini. Dengan napas berat dan tekad yang tertempa oleh keputusasaan, aku melangkah maju, meninggalkan perahu tua itu di pantai, memasuki misteri Pulau Yang Terlupakan.

Kabut putih itu tetap menyelimuti segalanya, membatasi pandanganku hanya dalam radius lima hingga delapan meter. Suara tangisan gadis itu semakin jelas, menggiring langkah kami menyusuri jalan setapak yang nyaris hilang tertutup lumut dan akar-akar pohon raksasa. Di sekeliling, bayangan reruntuhan bangunan tua bermaterial batu mulai terlihat. Ini seperti bekas permukiman yang telah ditinggalkan selama berabad-abad, diselimuti kabut dan kesunyian yang mencekam.

"Suaranya dari sana," bisikku pada Eveline yang tak sepenggal pun lengah, sorot mata merahnya menerawang ke arah sumber tangisan.

Kami berbelok di sudut sebuah bangunan yang roboh separuh. Dan di sana, di atas sebuah batu pualam yang retak, duduk seorang gadis dengan gaun putih yang lusuh. Kepalanya tertunduk, bahunya terguncang oleh isak tangis yang memilukan.

"Hey... kamu tidak apa-apa?" tanyaku, hati-hati mendekat.

Sang gadis mengangkat kepalanya. Wajahnya... sangat cantik, namun dipenuhi kesedihan yang tak terbendung. Tapi yang membuatku membeku adalah senyum tiba-tiba yang merekah di bibirnya, sebuah senyum yang tidak sesuai dengan air matanya.

"Akhirnya," ucapnya, suaranya berubah dari pilu menjadi semacam kemenangan yang menusuk. "Kau masuk perangkapku."

Sebelum aku atau Eveline sempat bereaksi, dunia di sekeliling kami berubah secara brutal.

Segalanya menjadi hitam legam.

Bukan gelap biasa, tapi kegelapan yang pekat dan padat, seolah kain kafan yang menutupi mata dan jiwa. Aku tidak bisa melihat apa-apa, bahkan tidak bisa melihat tanganku sendiri. Yang lebih mengerikan, aku tidak bisa merasakan kehadiran Eveline. Ikatan kami, yang selalu kurasakan seperti benang halus, terputus sama sekali.

"EVELINE!" teriakku, tapi suaraku seolah tenggelam dalam kekosongan.

Lalu, suara gadis itu kembali, bergema di dalam kepalaku. "Selamat datang dalam bayangan keinginanmu sendiri. Di sini, kau akan mati perlahan, dikubur oleh mimpi terindah yang justru akan menjadi peti matimu."

Rasanya seperti tenggelam. Kesadaranku memudar, diseret arus yang tak terlihat.

"Rian! Bangun! Istirahat sudah hampir selesai!"

Suara kasar itu membangunkanku. Aku mengangkat kepala dari meja kayu yang penuh coretan dan bekas lem. Aroma minyak mesin dan plastik panas memenuhi udara. Aku mengenali tempat ini. Ini adalah ruang istirahat di pabrik tempatku bekerja sebagai buruh. Di depanku, teman kerjaku, Andi, sedang berdiri sambil memegang gelas kopi.

"Lagi mimpi indah ya? Ngiler aja lu," candanya.

Aku mengusap wajah, masih bingung. Rasanya aneh. Sangat aneh.

Itu... mimpi? Perjalanan panjang ke dunia fantasi, Eveline, kekuatanku... semuanya mimpi?

Tiba-tiba, teleponku bergetar. Nama yang terpampang di layar membuat jantungku berhenti: Yuni.

Dengan tangan gemetar, aku mengangkatnya. "Halo?"

"Rian," suara Yuni, manis seperti yang kuingat, tapi kali ini terdengar berbeda. Lebih lembut. Penuh penyesalan. "Aku... aku mau minta maaf. Aku sadar, ternyata aku masih cinta sama kamu. Aku... aku mau nerima lamaran nikah kamu dulu. Kapan kita ketemuan buat bahas resepsinya?"

Dunia seolah berhenti berputar. Ini yang selama ini kuidam-idamkan. Kembali ke kehidupan normal, dengan Yuni, jauh dari semua kegilaan dunia fantasi itu.

"B... beneran, Yun? Ini bukan mimpi?" tanyaku, suara serak.

"Ini bukan mimpi, sayang," jawabnya lembut. "Ini kenyataan. Aku serius."

Sukacita yang meluap-luap membanjiriku. Segala kebingungan dan rasa aneh tadi seolah lenyap. Inilah yang kumau! Akhirnya!

"O... oke! Aku seneng banget denger itu! Kapan kamu bisa ketemu? Kita langsung urus semuanya, ya!" kataku, antusias.

Di balik sukacita yang buta itu, ada sesuatu yang kecil di sudut pikiran ku, sebuah peringatan yang hampir tak terdengar: "...kau akan mati perlahan, dikubur oleh mimpi terindah yang justru akan menjadi peti matimu."

Tapi suara itu tenggelam oleh janji kebahagiaan dari Yuni. Aku tergenggam erat dalam pelukan "kenyataan" yang sempurna ini, tidak menyadari bahwa ini mungkin adalah jerat paling berbahaya yang pernah kuhadapi.

Hari-hari berlalu dalam sebuah ritme yang sempurna, terlalu sempurna. Setiap pagi aku berangkat ke pabrik, siangnya istirahat sebentar, lalu pulang ke kontrakan kecil yang rapi. Dan yang paling membahagiakan, Yuni selalu ada. Dia yang menjemputku sepulang kerja dengan senyumannya, memasakkan makan malam, dan mendengarkanku bercerita tentang hari-hariku dengan perhatian yang tak pernah luntur.

Inilah kehidupan yang selalu kuidam-idamkan. Kebahagiaan yang sederhana, bersama wanita yang kucintai.

Tapi, ada sesuatu yang mengganjal. Sebuah rasa asing yang samar, seperti lapisan tipis kabut di sudut mataku yang tak pernah benar-benar hilang. Terkadang, di tengah tawa Yuni, atau saat aku menatapnya yang sedang asyik memasak di dapur, kepalaku tiba-tiba pening. Sebuah bisikan sangat halus, seperti angin lalu, berdesis di benakku: "Ini cuma mimpi."

Aku menggeleng, mengusir perasaan itu. Tidak. Ini nyata. Lihatlah dia. Dia nyata. Sentuhannya nyata. Aromanya nyata.

Aku terus bergulat, mencengkeram erat "kenyataan" ini. Aku melakukan semua aktivitas yang dulu hanya bisa kubayangkan bersama Yuni: menonton film, jalan-jalan ke mall, bahkan sekadar duduk diam di taman. Tapi semakin kucoba meyakinkan diri, semakin besar rasa kehilangan yang tak bisa kujelaskan. Kebahagiaan ini terasa... kosong.

Puncaknya terjadi suatu sore. Kami sedang duduk di balkon kontrakan, menikmati matahari terbenam. Yuni sedang bercerita dengan semangat tentang rencana pernikahan kami, tentang gaun pengantin yang dia pilih, tentang dekorasi yang dia inginkan.

"Aku udah bayangin, Ri," ujarnya, matanya berbinar. "Kita akan punya rumah kecil, dengan taman yang asri. Dan... mungkin sebentar lagi kita bisa punya bayi."

Dia tersenyum padaku, senyuman yang dulu selalu bisa melelehkan hatiku. Tapi kali ini, senyuman itu justru membuat dadaku sesak. Air matamu tanpa kusadari menetes.

"Rian? Kenapa kamu nangis?" tanyanya, wajahnya berkerut penuh kekhawatiran.

Aku menarik napas dalam-dalam, getir. "Aku... aku seneng banget denger semua ini, Yun. Benar-benar seneng." Suaraku tercekat. "Tapi... ini bukan yang kuingat. Kejadian ini... tidak seperti ini."

Yuni tampak bingung. "Apa maksudmu? Ini aku, Yuni. Aku sayang kamu. Kita akan menikah. Ini kenyataan, Rian."

"Bukan," bisikku, sambil menggenggam tangannya yang hangat. "Kamu... kamu bukan lagi milikku. Bukan seperti ini caranya." Aku memandangi wajahnya yang cantik, mencoba mengukirnya dalam ingatanku untuk terakhir kali. "Cukup. Cukup. Ini hanyalah khayalanku... khayalan terindah yang pernah kubuat untuk diriku sendiri."

Tangisku pecah. Aku menangis bukan karena sedih, tapi karena kelegaan yang pahit. Aku akhirnya menerima kebenaran yang selama ini kutolak.

Yuni dalam mimpiku itu masih mencoba meyakinkanku, wajahnya panik. Tapi suaranya mulai terdengar sayup, gambarnya mulai memudar, seperti sinyal televisi yang terganggu.

Aku memejamkan mata, melepaskan genggamanku pada ilusi itu. "Aku harus kembali."

Saat aku membuka mata kembali, kegelapan pekat yang tak berbentuk kembali menyambutku. Tapi kali ini, aku bisa merasakan seutas benang halus yang terhubung lagi ke diriku. Ikatan dengan Eveline.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!