Chandra Baswara lahir pada malam yang indah di bawah cahaya rembulan, tetapi kebahagiaan itu retak sejak awal ketika ayahnya menolak dirinya hanya karena tanda lahir besar di wajahnya. Sejak kecil Chandra tumbuh dengan kasih sayang ibunya, namun dunia di sekitarnya tidak selalu sebaik itu. Tatapan aneh, bisikan, dan ejekan membuatnya terbiasa menyendiri dan perlahan menutup hatinya dari orang lain. Baginya, hidup sendiri terasa lebih aman daripada harus kembali merasakan penolakan. Namun semuanya mulai berubah ketika seseorang hadir tanpa memandang kekurangannya, sementara sebuah rahasia yang selama ini disembunyikan keluarganya perlahan terungkap. Di tengah luka, penerimaan, dan pencarian jati diri, Chandra harus belajar memahami bahwa manusia tidak selalu sekejam yang ia bayangkan, dan bahwa nilai dirinya jauh lebih besar daripada apa yang terlihat di wajahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yikkii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB XII—RENCANA PART II
Hari semakin sore, langit semakin jingga dan sekolah semakin sepi. Baskara dan Arka yang masih dalam dalam ruangan ekstra tak merasakan waktu telah berjalan lama oleh perbincangan mereka berdua. Antusias dapat terlihat dalam pembicaraan mereka entah dari sisi yang bercerita ataupun dari sisi yang mendengarkan dan perbincangan mereka memuncak pada waktu ini.
“Aku tak menyangka dunia sungguh jahat pada Chandra” Ujar Arka sambil menatap ubin ruangan.
“Ceritaku hanya dari sudut pandangku saja…aku tak pernah tahu apa yang ada dalam pikiran maupun hatinya…mungkin akan terasa lebih gelap jika ia sendiri yang bercerita” Ungkap Baskara lirih.
“Tapi kak, apa mereka yang telah kamu pukuli itu tak penah menggangu Chandra kembali?”
“Tak ada satupun setiap anak yang telah aku hajar, mereka tak berani lagi dengan Chandra, tapi itu bukan hal baik bagi Chandra.”
“Loh kenapa?.”
Baskara melirik kearah Arka “Mereka yang aku hajar tak berani mendekat ke Chandra bahkan mereka yang tak pernah aku sentuhpun melakukan demikian juga. Karena tindakan bodohku itu membuat Chandra semakin menghadapi keterasingan yang mendalam dan aku sebagai seorang kakak hanya bisa membuat kesalahan dan berakhir pada kegagalan untuknya yang dimana hal itu baru aku sadari saat aku duduk di bangku SMP kelas 3.”
Lanjutnya “Bukankah aku terlalu bodoh menjadi seorang kakak, benar kata ayahku bahwa namaku seharusnya di ganti saja menjadi kakak yang bodoh saja kan?” Lirih ucapnya dengan penuh penyesalan.
Arka menepuk pundak Baskara dengan pelan “Kak Kara mungkin melakukan kesalahan bahkan kegagalan tapi dari segi cerita kakak aku tahu bahwa kakak sendiri punya cara tersendiri untuk melindunginya kan? Setidaknya jika cara kakak salah, tapi kakak melakukan cara tersebut dengan tulus sepenuh hati untuknya, bukankah begitu Kak?.”
Baskara tersenyum lalu mengalihkan senyumannya ke arah bawah “Ya kau benar.”
“Kan? Hahaha…Aku sekarang tahu tujuan sebenarnya kakak menemuiku, kakak ingin aku menjadi temannya kan?” Tebak Arka
“Ya kau benar”
“Kau gak datang ke orang yang salah kak tapi…” Ucap Arka yang terpotong karena ragu
“Tapi apa?”
“Tapi aku terlanjur canggung padanya”
“Aku sudah sok tahu dengan deritanya, hingga membuatnya marah dan akhirnya canggung seperti ini” Lanjut Arka dengan sesal yang dibawa.
“Itu masalah yang gampang biar aku urus”
Dada Arka membuncah seakan rasa senang tumpah dari sana “YANG BENAR KAK?”
“Ya”
“Sip deh kalau begitu, tapi apa cuma aku yang ada dalam rencana?”
“Ya siapa lagi aku ga punya yang lain lagi untuk aku masukan kedalam rencanaku” Ujarnya dengan fikiran yang tak bisa memikir apapun lagi
“Aku ada” Kata Arka
“Loh…Siapa? Kenalin ke aku sini biar ku temui anak itu sekarang kalau belum pulang dari sekolah. Kalau sudah pulang berikan aku alamat rumahnya dan aku akan kesana sekarang” Semangat Baskara keluar dengan api di matanya.
“Ya sudah pulang dong kalau sekarang, ga sabaran banget sih. Kata ayahku rencana yang matang itu rencana yang di lakukan dengan hati yang tenang dan pertimbangan yang mendalam tahu.” Tutur Arka menggunakan tutur ayahnya sebagai landasan.
“Yaelah sok mengajari aku, sialan” Sangkalnya
“Tenang lah Kak, kalem”
“Ya…ya….tapi siapa anak itu?” Ujar Baskara dengan wajah datar menghilangkan semangat yang berapi tadi.
“Nama anak itu Alera, adik sepupu aku sendiri.”
“Loh cewe? aku kira laki-laki”
“Iya kak ada yang salah?”
“Tidak-tidak, tapi kenapa kamu ingin anak itu masuk dalam rencanaku apa anak itu juga sudah kenal dengan Chandra? Pasti belum kan? Kau tahu sendiri kan jika Chandra tak mudah di dekati dengan siapapun bahkan kamu sendiri saja ga bisa.” Sahutnya Baskara dengan cepat.
“Ya aku tahu pastinya….tapi mereka sudah kenal bahkan emmm…” Ucap Arka terpotong ragu untuk melanjutkan
“Si kaya ini lagi-lagi delay emmm…apa ga ada hal lain apa” Ejek Baskara
“Emmm….mungkin. Ini mungkin loh ya belum pasti”
Baskara mengangguk-angguk penasaran dengan lanjutan omongan dari Arka, wajahnya penuh tanda tanya di dalamnya, matanya seakan hanya terfokus pada Arka seorang dan saat Arka ingin membuka mulut untuk melanjutkan perkataannya Baskara menelan ludah.
“Mungkin…Adikku suka sama Chandra”
“Eh…adikmu menyukai adikku? Yang bener? Pasti bohong kan?”
Arka menggelengkan kepala perlahan.
“HAH, yakin? Coba ceritakan kenapa kamu bisa menyimpulkan adikmu suka Chandra” Suruh Baskara menggebu-gebu.
“Aku tak tahu pastinya, tapi adikku selalu menanyakan kabar Chandra padaku walau dari kelas 10 sejak aku dan Chandra canggung ia tetap menanyakannya, padahal dia tak pernah menanyakan kabarku…hiks” Ungkap Arka dengan gerutuan pelan diakhir.
“Ehhhh…menarik lalu bagaimana lagi?”
“Kau tahu. Adikku itu sudah gila…dia selalu mondar-mandir tanpa tujuan di depan kelasku dan masuk keluar ke dalam kelasku juga dengan alasan menemuiku tapi kau tahu apa yang di tuju? Ya benar mata Chandra” Ucap Arka dengan gelengan kepala berkali-kali.
“Edan, kenapa gak langsung saja bicara pada Chandra kenapa harus curi pandang segala hahaha”
“Ya karena dia juga ikut canggung tentang permasalahanku dengan Chandra, makanya dia tak bicara juga dengan Chandra katanya sih takut bikin Chandra tambah ilfeel.”
“Jadi bagaimana mau di masukin rencana?” lanjutnya bertanya.
“Ya pastilah temukan aku dengannya besok”
“Iya…iya tapi apa boleh aku bicara dengannya dulu, berbicara tentang masalalu Chandra? Aku ga asal langsung memasukan dia ke rencana mu? Jika memang Alera mau aku akan mempertemukan kalian entah besok atau lusa, DEAL?” Jelas Arka sambil menyodorkan tangan kanan untuk salaman pada Baskara
Baskara mendengus “HUH, Boleh juga kau” Tangan kanannya meraih tangan Arka dengan erat.
“DEAL”
Mereka berdua saling bersalaman menadakan kesepakatan telah di setujui bersama tentang rencana amburadul tersebut mereka saling tersenyum masing-masing.
“Loh heh…Sudah jam berapa ini? Loh jam setengah 7, waduh aku pulang
“Dasar si kaya bodoh” Ujar Baskara dengan senyum senang.
Baskara pun segera memberesi barang-barangnya. Perbincangan dengan Arka membuat hatinya setengah lega, ia beranggapan dengan begini, jika dia pergi semua akan berjalan baik-baik saja. Dia pun pulang kerumah.