Bagi Azzalia Caesarea, mencintai Regas Adhitama adalah sebuah keberanian sekaligus kesalahan. Regas adalah sang "Pangeran Teknik" yang sempurna, sementara Lia hanyalah mahasiswi Sastra pemegang beasiswa yang hidup sebatang kara.
Saat restu orang tua Regas menjadi dinding tinggi yang tak mungkin dipanjat, Lia memilih mundur. Ia meletakkan tanda titik pada kisah mereka, menolak lamaran Regas, dan pergi mengejar mimpinya ke luar negeri demi harga diri yang sempat diinjak-injak.
Tahun-tahun berlalu, Lia kembali sebagai sosok wanita yang baru dan sukses. Namun, semesta memang senang bercanda. Di sekolah internasional tempatnya mengajar, ia kembali dipertemukan dengan mata tegas itu. Regas berdiri di sana, tetap mempesona, namun dengan satu kejutan yang menyesakkan napas: seorang putri kecil yang memanggilnya "Papa".
Siapkah Lia membuka kembali buku lama yang sudah ia tutup rapat?Dan rahasia apa yang sebenarnya disimpan Regas selama bertahun-tahun kepergian Lia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
setelah perdebatanya dengan regas azzalia melangkah masuk ke area sekolah , koridor sekolah terasa jauh lebih sempit bagi Lia. Baru saja ia hendak memasuki ruang guru setelah kelas usai, sesosok wanita sudah menunggunya di dekat pilar. Elena berdiri di sana, tanpa Ghea, tanpa senyum ramah yang ia tunjukkan kemarin. Wajahnya yang cantik tampak tegang, dan jemarinya mencengkeram tas tangan bermerek dengan sangat kuat.
"Bisa kita bicara? Di tempat yang tidak ada telinga kecil yang mendengar," suara Elena terdengar rendah namun tajam.
Lia menghela napas, mencoba tetap tenang. "Saya hanya punya waktu sepuluh menit sebelum rapat guru, Nyonya Adhitama."
Mereka berjalan menuju taman belakang sekolah yang sepi. Elena berhenti tepat di bawah pohon mahoni, berbalik, dan menatap Lia dengan sorot mata yang penuh pertahanan.
"Aku tahu siapa kamu, Azzalia. Aku tahu kamu adalah masa lalu yang hampir membuat Regas menghancurkan masa depannya sendiri," Elena memulai tanpa basa-basi. "Tapi itu lima tahun lalu. Sekarang, tolong... menjauhlah dari suami saya."
Lia melipat tangan di dada, mencoba menahan getaran di hatinya. "Saya tidak pernah mendekatinya. Dia yang muncul di sekolah ini, dan dia yang—"
"Aku tidak peduli siapa yang memulai!" potong Elena, suaranya mulai bergetar karena emosi. "Yang aku tahu, selama lima tahun ini aku sudah bersusah payah membangun rumah tangga ini. Aku yang ada di sampingnya saat dia terpuruk karena kepergianmu. Aku yang memberinya keluarga, dan sekarang aku sedang mengandung ahli warisnya."
Elena melangkah mendekat, matanya berkaca-kaca namun penuh ancaman. "Jangan hancurkan apa yang sudah aku susun rapi hanya karena kamu ingin membalas dendam. Kamu sarjana sastra yang pintar, kan? Carilah panggung lain untuk puisimu. Jangan jadikan suamiku sebagai tokoh utamamu lagi. Regas sudah memilihku dan keluarganya lima tahun lalu, dan fakta bahwa aku hamil adalah bukti bahwa dia sudah melupakanmu."
Lia merasa setiap kata Elena seperti siraman air raksa di atas lukanya yang belum kering. "Nyonya Adhitama, Anda salah alamat. Saya kembali ke sini untuk karier saya, bukan untuk merebut pria yang sudah membuang saya demi harta keluarganya. Silakan bawa suami Anda pulang, pastikan dia tidak lagi muncul di depan pintu apartemen saya."
Elena tertegun mendengar kalimat terakhir Lia. Wajahnya memucat. "Apa maksudmu? Apartemen?"
Lia menyadari ia baru saja melepaskan bom informasi yang tidak diketahui Elena. Namun, sebelum ia sempat menjelaskan, Elena tertawa getir dengan air mata yang akhirnya jatuh. "Ternyata benar... dia menyewa unit di sana. Jadi itu sebabnya dia tidak pulang semalam "
Elena menatap Lia dengan kebencian yang lebih dalam. "Jika kamu punya harga diri, Azzalia... pergi dari sekolah ini. Pergi dari hidup kami sebelum aku menggunakan cara yang lebih kasar untuk melindungi bayiku."
Tanpa menunggu balasan, Elena berbalik pergi dengan langkah yang goyah. Lia berdiri mematung di taman itu, merasa sangat kotor dan bersalah, meski ia adalah korban dalam drama ini.
Lia melangkah meninggalkan taman dengan lutut yang terasa lemas. Ancaman Elena menggantung di udara seperti kabut beracun yang menyesakkan dada. Ia menarik napas dalam-dalam, berusaha menormalkan detak jantungnya sebelum mendorong pintu ruang guru yang berat.
Di dalam, suasana riuh rendah khas jam istirahat menyambutnya. Aroma kopi dan bunyi ketukan papan tik para guru sejenak membuat Lia merasa terlindungi oleh realita pekerjaannya. Namun, saat ia duduk di kursinya, bayangan Elena yang menangis dan perut buncit wanita itu terus terbayang.
“Pergi dari hidup kami...” Kalimat itu terus bergema.
Lia menatap tumpukan buku tugas murid-muridnya, termasuk buku milik Ghea. Ia merasa terjepit di antara dua dunia: profesionalitasnya sebagai guru dan masa lalunya yang menolak untuk mati. Ia merasa kotor karena tanpa sengaja telah menjadi alasan hancurnya ketenangan wanita hamil itu, meski bukan ia yang memulainya.
"Bu Lia? Wajahmu pucat sekali. Apa kamu sakit?" tanya Bu Ratna, guru senior yang duduk di sebelahnya.
Lia tersentak, lalu memaksakan senyum tipis. "Hanya kurang tidur, Bu. Tugas koreksi agak banyak semalam."
"Jangan terlalu memaksakan diri. Oh ya, tadi ada kurir yang menitipkan ini untukmu di lobi," Bu Ratna menyodorkan sebuah amplop putih tanpa nama pengirim.
Lia membukanya dengan ragu. Di dalamnya tidak ada surat, hanya sebuah kunci cadangan dengan gantungan berbentuk miniatur menara jam London—persis seperti hadiah yang pernah ia berikan pada Regas sebelum ia berangkat beasiswa lima tahun lalu.
Ada secarik kertas kecil yang terjatuh dari dalam amplop:
"Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakitimu lagi, termasuk keluargaku sendiri. Unit sebelah akan selalu terbuka jika kamu butuh tempat untuk bicara. - R"
Lia meremas kertas itu hingga hancur. Regas benar-benar gila. Tindakannya bukan lagi bentuk perhatian, melainkan obsesi yang membahayakan posisi Lia di sekolah ini. Jika Elena tahu tentang kunci ini, karier yang dibangun Lia dengan darah dan air mata di London akan hancur dalam sekejap di Jakarta.
Bel masuk berbunyi. Lia berdiri, memasukkan kunci itu jauh ke dalam laci mejanya yang paling dalam. Ia tidak akan memakainya. Ia harus fokus. Namun, saat ia berjalan menuju kelas, ia melihat Pak Baskoro, kepala sekolah, sedang berbicara dengan seorang pria berpakaian rapi di ujung koridor yang menunjuk-nunjuk ke arah kelasnya.