Lin Fan, seorang pekerja kantoran yang tewas karena kelelahan bekerja (tipes dan lembur), bereinkarnasi ke Benua Langit Azure sebagai murid rendahan di Sekte Awan Mengalir. Saat dia bersumpah untuk tidak pernah bekerja keras lagi di kehidupan keduanya, "Sistem Kemunculan Pemalas" aktif. Semakin malas dan santai dia, semakin kuat kultivasinya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irzad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7: Diagnosa Tabib Tua
Angin utara melolong ganas, mencambuki dinding-dinding batu Puncak Teratai Salju dengan badai salju abadi. Di dalam Paviliun Penyembuhan Seribu Daun yang terletak di tebing tertinggi, udara dipenuhi oleh aroma tajam dari ginseng api yang direbus dan campuran herbal penenang jiwa.
Su Qingxue melangkah melewati ambang pintu melingkar paviliun tersebut. Wajah pualamnya kini sepucat kertas beras, dan setiap langkahnya meninggalkan jejak embun beku tipis di atas lantai papan kayu mahoni. Jubah sutra birunya berkibar pelan, bukan karena angin dari luar, melainkan karena fluktuasi energi es di dalam tubuhnya yang mulai kehilangan kendali. Dia memeluk erat kotak kayu cendana hitam di dadanya, menekan kotak itu tepat di atas simpul meridiannya yang berdenyut menyakitkan.
Di tengah ruangan, duduk bersila di atas bantal tenun emas, adalah Tetua Sun. Pria tua dengan janggut putih sepanjang dada itu sedang menutup matanya, mengalirkan Qi ke dalam tungku pil perunggu di depannya. Saat dia mendengar langkah kaki yang gontai, matanya terbuka, menampakkan pupil abu-abu yang memancarkan kebijaksanaan berabad-abad.
"Qingxue?" Suara Tetua Sun bergetar, memancarkan keterkejutan saat melihat kondisi murid kesayangan sekte tersebut. Dia segera bangkit, mengibaskan lengan bajunya hingga tungku pil perunggunya meredup. "Meridian es-mu... fasenya maju lebih cepat dari dugaanku! Duduklah! Aku akan menyalurkan Qi Yang untuk menekan..."
"Tidak perlu, Tetua," potong Su Qingxue dengan napas terengah. Dia melangkah maju dan meletakkan kotak kayu cendana itu di atas meja batu giok di antara mereka. Tangan kanannya gemetar saat dia membuka tutupnya. "Aku... aku mendapatkan obatnya. Urat Naga Tanah tingkat lima. Tolong... segera racik sup penstabilnya."
Tetua Sun mengerutkan keningnya. Alis putihnya yang tebal menyatu. "Qingxue, bukankah sudah kukatakan? Urat naga itu terlalu keras. Dapur Dalam tidak sanggup memotongnya tanpa merusak struktur energinya. Jika direbus utuh, racun bumi di dalamnya tidak akan menguap dan justru akan menghancurkan organ dalammu. Kau..."
Kata-kata Tetua Sun terhenti di tenggorokannya. Matanya yang tua dan rabun mendadak membelalak lebar, memantulkan cahaya kemerahan yang lembut dari dalam kotak.
Di atas bantalan sutra di dalam kotak itu, seratus delapan irisan daging transparan tersusun rapi, berdenyut dengan energi bumi yang sangat murni dan stabil. Tidak ada satu pun jalur urat energi mikroskopis di dalam potongan daging itu yang terputus atau rusak. Setiap irisan memiliki ketebalan yang identik, setipis sayap jangkrik di musim panas.
"Ini..." Tangan keriput Tetua Sun terulur, jari-jarinya bergetar hebat di udara tanpa berani menyentuh daging itu. Dia mencondongkan wajahnya hingga hidungnya nyaris menyentuh irisan daging. "Sempurna... Tidak, ini lebih dari sempurna. Ini adalah karya seni surgawi! Siapa... siapa grandmaster pedang yang memotong ini? Tetua Puncak Pedang Ketujuh? Tidak, bahkan dia tidak memiliki kendali sehalus ini!"
Su Qingxue menelan darah yang kembali naik ke kerongkongannya. Dia duduk bersila di lantai, berusaha menstabilkan napasnya.
"Aku yang memotongnya, Tetua," jawab Su Qingxue pelan.
Tetua Sun menatapnya dengan raut wajah tidak percaya. "Kau? Omong kosong. Niat pedangmu dipenuhi oleh badai salju dan ambisi menembus langit. Pedangmu terlalu kaku untuk melakukan pekerjaan yang membutuhkan kelembutan air mengalir seperti ini."
"Anda benar," Su Qingxue menundukkan kepalanya, membayangkan kembali pemuda berjubah kumal yang menguap di atas bangku dapur. "Pedangku memang kaku. Namun... seorang senior yang menyembunyikan identitasnya di Dapur Luar menuntunku. Dia hanya menggunakan sebatang sumpit kayu dan ketukan jarinya. Dia memberitahuku untuk tidak membelah sungai, melainkan menebas di antara celah airnya. Dia mengajariku... Dao Kekosongan. Membuang ego, dan membiarkan alam yang memotongnya."
Udara di Paviliun Penyembuhan mendadak terasa hampa. Tetua Sun mundur selangkah, kakinya tersandung bantal emasnya sendiri. Janggut putihnya bergetar liar.
"Dapur... Luar?" bisik Tetua Sun parau. "Seorang pertapa agung bersembunyi di antara para pelayan rendahan? Dan dia membimbingmu mencapai pencerahan Alam Alami hanya dengan sebatang sumpit?!"
Su Qingxue mengangguk lemah, matanya memancarkan rasa hormat yang absolut. "Aku mencoba mengundangnya ke puncak ini, menawarkan posisi dan sumber daya. Namun dia menolaknya dengan tegas. Dia berkata... gunung ini terlalu dingin, dan dia lebih memilih kehangatan tungku dapur dan tidur di atas tumpukan sayuran. Kesombonganku hampir saja menyinggung ketenangannya."
Tetua Sun menarik napas dalam-dalam, sebuah embusan yang dipenuhi kekaguman spiritual yang mendalam. Dia mengelus janggutnya yang gemetar.
"Naga sejati menyembunyikan wujudnya di perairan dangkal," gumam Tetua Sun, matanya menerawang jauh. "Dia menolak kemewahan duniawi demi menyatu dengan kehidupan fana. Itu adalah tingkat kultivasi yang hanya bisa kita impikan, Qingxue! Ingat baik-baik, jangan pernah mengganggunya dengan urusan sepele sekte. Jika kau ingin membalas budinya, lakukanlah dengan cara yang alami, jangan memaksanya!"
Su Qingxue mengangguk pelan, rasa sakit di dadanya sedikit mereda oleh tekad baru yang menyala di matanya. "Aku mengerti, Tetua. Aku telah meninggalkan lencana giok utamaku di sana sebagai tanda penghormatan."
"Bagus, sangat bagus. Sekarang, telan pil pelindung ini. Aku akan segera merebus daging ini. Dengan kualitas potongan tingkat dewa ini, bukan hanya meridianmu yang akan sembuh, kau bahkan mungkin akan menembus kemacetan kultivasimu!"
---
Sementara Puncak Teratai Salju sedang diguncang oleh kesalahpahaman tingkat tinggi tentang seorang 'pertapa agung', sang pertapa agung itu sendiri sedang asyik memproduksi gelembung ingus dari lubang hidungnya.
Sinar matahari sore yang berwarna jingga kemerahan menyusup masuk melalui celah-celah ventilasi kayu di atap Dapur Luar, menyoroti debu-debu yang menari di udara. Waktu telah berlalu selama empat jam sejak Su Qingxue pergi.
Selama empat jam itu pula, Dapur Luar telah berubah menjadi zona anomali paling mengerikan di seluruh Sekte Awan Mengalir.
Tiga ribu porsi makan siang telah selesai dimasak dan dikirim ke aula luar. Namun, proses pembuatannya memakan korban fisik yang luar biasa. Kepala Koki Wang Ta berdiri di sudut ruangan, kakinya bergetar hebat. Betisnya kram parah akibat terus-menerus berjalan berjinjit agar sepatu botnya tidak berbunyi. Keringat membasahi seluruh celemeknya, namun dia tidak berani menghembuskan napas lega.
Di sekitar meja jagal, para pemotong daging terlihat seperti mayat hidup. Mata mereka cekung, tangan mereka gemetar karena kelelahan menahan berat pisau agar tidak menghantam talenan dengan keras. Salah satu dari mereka bahkan sempat menjatuhkan sendok sayur besi; beruntung, koki di sebelahnya dengan reflek setara macan kumbang berhasil menangkap sendok itu dengan kaki telanjangnya sebelum menyentuh lantai, meski hal itu membuat jempol kakinya memar biru.
Semua pengorbanan berdarah dan air mata itu dilakukan demi satu tujuan: menjaga ketenangan di sudut meja jagal, tempat Lin Fan tidur terbungkus jubah linen putih bak seorang kaisar yang sedang beristirahat di paviliun musim panas.
*Krrrrk... krrrrk...*
Suara dengkuran pelan Lin Fan adalah satu-satunya ritme yang mengatur detak jantung seluruh penghuni dapur.
Zhao Er berjongkok di samping bangku, memegang sebuah daun talas raksasa. Dia mengipasi Lin Fan dengan gerakan yang sangat konstan dan terukur, memastikan anginnya tidak terlalu kencang namun cukup untuk mengusir hawa panas tungku yang tersisa. Lengan kurus Zhao Er sudah mati rasa sejak dua jam yang lalu, tapi senyum penuh pengabdian tak pernah lepas dari bibirnya yang pecah-pecah.
Tiba-tiba, dengkuran Lin Fan terhenti.
Alis pemuda itu berkerut sedikit. Gelembung kecil di hidungnya pecah. Dengan gerakan lambat yang khas, dia menarik jubah linen putih yang menutupi wajahnya, menguap lebar hingga rahangnya berderak, dan meregangkan kedua lengannya ke udara. Tulang punggungnya menghasilkan bunyi *krek-krek-krek* yang memuaskan.
Efek 'Aura Bantalan Awan' perlahan memudar seiring dengan bangkitnya kesadaran Lin Fan, mengembalikan sensasi kayu keras ke punggungnya. Namun, empat jam tidur tanpa gangguan di dunia kultivasi ini adalah rekor kemewahan yang tak tertandingi.
"Hoammm..." Lin Fan mengucek matanya yang lengket. "Berapa lama aku tidur? Perutku berbunyi. Apa makan siang sudah siap?"
Begitu suara seraknya memecah keheningan, seluruh Dapur Luar seolah-olah ditekan tombol jeda.
Ratusan murid pelayan yang sedang membersihkan wajan membeku di tempat. Mereka menahan napas serentak. Kepala Koki Wang Ta, dengan kecepatan yang mengabaikan hukum fisika untuk pria berbobot dua ratus pon, melesat melintasi ruangan sejauh dua puluh meter dalam sekejap mata.
*Syuuuutt!*
Wang Ta berhenti tepat dua langkah di depan bangku Lin Fan. Tubuh gempalnya membungkuk sembilan puluh derajat, sangat rendah hingga dagu berlipatnya nyaris menempel ke ikat pinggangnya sendiri. Tangannya yang gemetar menyodorkan sebuah nampan kayu berlapis sutra merah. Di atas nampan itu, mengepul asap tipis dari sebuah cangkir porselen putih yang elegan, sangat kontras dengan mangkuk-mangkuk kayu kasar yang biasa digunakan di Dapur Luar.
"Tuan Lin... Tuan Lin sudah bangun," suara Wang Ta mendayu-dayu, dipenuhi oleh rasa hormat yang begitu tebal hingga terdengar seperti rayuan maut. Dia bahkan mengganti panggilan 'sampah' menjadi 'Tuan'. "Hamba... maksud saya, saya melihat Tuan tidur sangat nyenyak, jadi saya memerintahkan anak-anak bodoh ini untuk menahan napas mereka agar tidak mengganggu kultivasi Tuan. Ini... ini adalah Teh Embun Spiritual Musim Semi. Saya menyimpannya selama tiga tahun, khusus untuk menyegarkan tenggorokan Tuan setelah berlatih keras di alam mimpi."
Lin Fan mengerjap. Dia memiringkan kepalanya, menatap Wang Ta yang membungkuk padanya, lalu melirik ke sekeliling ruangan. Ratusan pasang mata menatapnya dengan campuran antara teror, kekaguman, dan pengabdian yang buta. Zhao Er di sampingnya masih terus mengipasinya dengan daun talas meski tangannya sudah gemetar hebat.
Kondisi dapur itu bersih tak wajar. Bahkan tidak ada noda darah segar di meja jagal.
Pikiran Lin Fan, yang masih setengah tertidur, mencerna situasi ini dengan cara yang paling sederhana dan logis menurut standar seorang pemalas absolut.
*Apakah aku secara tidak sengaja mengaktifkan sistem genjutsu (ilusi)?* batinnya, menggaruk pelipisnya. *Tidak, sistemku hanya sistem pemalas. Mereka pasti ketakutan karena insiden dengan Murid Inti es batu tadi. Koki Wang mengira aku punya backing-an kuat.*
Dalam situasi normal, protagonis novel kultivasi akan memanfaatkan momen ini untuk menghukum Koki Wang, menampar wajahnya beberapa kali untuk membalas dendam atas siksaan masa lalu, lalu memberikan pidato inspirasional kepada para pelayan.
Namun, Lin Fan adalah antitesis dari protagonis normal. Menampar wajah butuh ayunan otot lengan. Berpidato butuh volume paru-paru yang besar. Keduanya membakar kalori yang tidak perlu.
*Yah, terserahlah,* pikir Lin Fan santai. *Jika menjadi 'Tuan Lin' berarti aku tidak perlu lagi memotong sayur dan ada orang yang menyuguhkanku teh, kenapa aku harus merusak ilusi mereka? Ini adalah pendelegasian tingkat tertinggi.*
Dengan gerakan lambat yang dipenuhi aura keengganan alami, Lin Fan mengulurkan tangannya dan mengambil cangkir porselen itu. Aroma teh yang menenangkan menyapu hidungnya, sangat kontras dengan bau bawang putih yang biasanya menempel di udara. Dia meniup pelan permukaan teh, lalu menyesapnya.
*Slruupp...*
Bunyi seruputan itu bergema keras. Wang Ta menelan ludah, menatap wajah Lin Fan dengan penuh harap, seolah nyawanya bergantung pada rasa teh tersebut.
"Lumayan," komentar Lin Fan datar, menurunkan cangkir itu. Dia kembali bersandar ke dinding, menempatkan cangkir tehnya di atas paha. "Meski airnya terlalu panas lima derajat. Mengingatkanku pada dispenser air di kantin kantorku dulu."
Wang Ta tidak paham apa itu 'dispenser' atau 'kantor', tapi mendengar kata 'lumayan' keluar dari mulut sang dewa Dapur Luar, kakinya seketika lemas karena lega. Dia hampir saja menangis bahagia.
"Te-terima kasih, Tuan Lin! Saya akan memastikan suhu airnya sempurna di masa depan!" seru Wang Ta, masih dalam posisi membungkuk. Dia lalu melirik sedikit ke arah talenan kayu di sebelah Lin Fan. "Tuan... apakah Anda memiliki instruksi mengenai... benda suci itu?"
Lin Fan mengikuti arah pandangan Wang Ta. Di atas talenan, bersanding dengan sisa-sisa lemak babi yang sudah mengering, tergeletak lencana giok putih berbentuk teratai milik Su Qingxue. Lencana itu masih memancarkan hawa sejuk dan cahaya keperakan yang mengintimidasi.
"Oh, benda itu," gumam Lin Fan acuh tak acuh. Dia menjulurkan tangan kirinya, meraih lencana giok yang sangat dihormati oleh seluruh sekte luar itu seolah-olah dia sedang memungut batu kerikil di pinggir jalan.
Wang Ta dan Zhao Er menahan napas saat Lin Fan membolak-balik lencana itu. Bagi mereka, lencana Murid Inti adalah benda yang jika disentuh tanpa izin, bisa membuat tangan mereka dipotong.
"Dinginnya lumayan untuk kompres mata kalau aku kurang tidur," Lin Fan bergumam pelan pada dirinya sendiri. Dia lalu menatap Wang Ta, menguap kecil. "Koki Wang, apakah benda ini bisa digadaikan di pasar sekte luar? Kudengar bantal bulu rubah salju sangat nyaman. Kayu bangku ini mulai melukai tulang ekorku meski aku sudah punya bantalan pasif."
Mata Wang Ta membelalak hingga nyaris keluar dari rongganya. Menggadaikan lencana Murid Inti?! Itu sama saja dengan menjual surat perintah kaisar di pasar loak! Itu adalah kejahatan pengkhianatan tingkat tinggi yang hukumannya adalah direbus dalam kawah belerang!
"Tu... Tuan Lin sedang bercanda, bukan?" Wang Ta memaksakan sebuah tawa yang terdengar seperti babi tercekik, keringat dingin membasahi punggungnya lagi. "Hahaha... selera humor Tuan benar-benar mendalam. Tentu saja benda suci itu tidak bisa dijual. Namun, mengenai bantal bulu rubah salju... Tuan tidak perlu khawatir! Saya... saya kebetulan memiliki kasur bulu angsa kualitas premium di kamar saya! Saya belum pernah memakainya! Saya akan menyuruh anak-anak memindahkannya ke sudut ini sekarang juga!"
Mata Lin Fan yang sayu tiba-tiba sedikit melebar. Kasur bulu angsa? Di sudut ruangan yang hangat? Dibawakan langsung tanpa dia harus bergerak?
Sudut bibir Lin Fan melengkung membentuk sebuah senyuman yang sangat langka, sebuah senyuman yang benar-benar tulus dan tidak dibuat-buat. Dia mengangkat cangkir tehnya ke arah Wang Ta seolah sedang bersulang.
"Koki Wang," ucap Lin Fan dengan nada yang tiba-tiba dipenuhi oleh kehangatan seorang teman lama. "Kau benar-benar pria yang peka. Kau sangat memahami seni dari kenyamanan. Bawakan kasurnya. Pastikan bantalnya empuk. Dan ya, tolong bawakan aku sepiring tumis daging babi hutan tadi. Mengunyah juga bagian dari kultivasi, kau tahu?"
Wang Ta mengangguk dengan semangat yang menyala-nyala, merasa seolah dia baru saja menerima wahyu dari langit. "Segera dilaksanakan, Tuan Lin! Zhao Er, berhenti mengipas dan pergi ambil kasurku! Kalian semua yang di sana, siapkan porsi terbaik daging babi hutan untuk Tuan Lin! Bergerak dengan tenang!"
Lin Fan bersandar kembali ke dinding, menyesap tehnya yang hangat sambil mengawasi ratusan orang yang bergegas melayaninya dalam kebisuan yang teratur. Di dalam hatinya, dia menyematkan medali emas pada 'Sistem Pemalas Absolut'.
*Dunia kultivasi tidaklah kejam,* batin Lin Fan puas, matanya kembali tertutup pelan. *Kau hanya perlu tahu cara yang tepat untuk tidak melakukan apa-apa.*