Satu malam karena pengaruh alkohol, Arkananta Mahendra merenggut segalanya dari Zevanya Adistira, seorang pelayan hotel Arkan pergi tanpa tahu wajah wanita itu, meninggalkan Zevanya dengan janin yang tumbuh di rahimnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nia Rmdhn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Petunjuk yang Bisu
Arkananta masih berdiri terpaku di trotoar,
menatap punggung wanita itu yang menghilang dengan cepat di balik kerumunan.
saat ia menunduk,
melihat sebuah kartu plastik yang terjatuh tepat di tempat wanita itu tadi terjatuh
Arkan memungutnya. Ia menaikan alis nya.
"Apa ini? Kartu hotel?" gumam Arkan
Kartu itu berwarna putih polos. Tidak ada nama, tidak ada foto, bahkan tidak ada nomor kamar.
Hanya ada logo kecil sebuah hotel di sudut bawahnya,
hotel yang sama tempat Arkan
menginap di malam waktu ia mabuk beberapa minggu lalu.
Arkan membolak-balik kartu itu, berharap menemukan setitik petunjuk.
Tapi hasilnya nihil. Kartu itu benar-benar kosong,
seolah tidak ada pemiliknya.
Arkan berdiri mematung di pinggir jalan sambil memegang kartu itu.
Kartu hotel polos di tangannya terasa dingin.
"Kenapa dia bisa punya kartu hotel tempat aku menginap?
Pertanyaan itu terus berputar di kepalanya.
Ia sempat ingin melangkah, ingin mengejar sosok wanita yang berlari ketakutan itu.
Namun, saat ia baru melangkah dua kali, wanita itu sudah hilang di balik kerumunan.
dan masuk ke dalam angkutan umum yang melaju menjauh.
Arkan menghentikan langkahnya. Ia menarik napas panjang,
mencoba menenangkan jantungnya yang berdegup tidak keruan.
Bayangan kotak vitamin kehamilan yang berhamburan tadi muncul di benaknya.
"Wanita itu... dia membeli vitamin kehamilan.
Apa dia sedang hamil?"
Satu detik, Arkan merasa ada ikatan yang kuat dengan aroma parfum wanita itu.
Aroma nya seperti wanita yang ia paksa masuk di kamar hotel saat dia mabuk.
Namun detik berikutnya, logikanya yang dingin kembali mengambil alih.
Ia teringat akan posisinya sebagai calon pewaris tunggal Mahendra.
Ia teringat akan Clarissa yang kini sudah berada di kantornya,
dan ayahnya yang terus menekan dia untuk menikah.
"Ah, sudahlah. Aku tidak usah memikirkan ini,"
ucap Arkan pada dirinya sendiri.
Ia memasukkan kartu polos itu ke dalam saku jasnya dengan gerakan kasar.
"Mungkin dia hanya pengunjung yang lupa mengembalikan kartu.
Dan soal kehamilan itu... itu bukan urusanku. Banyak wanita hamil di kota ini.
Kenapa aku harus repot-repot memikirkannya?"
Arkan membalikkan badan,
berjalan kembali menuju gedung pencakar langit miliknya dengan langkah angkuh.
Ia mencoba meyakinkan dirinya bahwa pertemuan tadi hanyalah kebetulan yang tidak berarti apa-apa.
Namun, Arkan berbohong pada dirinya sendiri.
Sepanjang jalan kembali ke ruangan kantornya,
aroma parfum mawar yang samar-samar,
tertinggal di jasnya saat mereka bertabrakan tadi.
Aroma yang sama dengan wanita malam itu di hotel.
Aroma yang tidak bisa ia usir,
sekeras apa pun ia mencoba melupakannya.
Arkan menutup pintu mobil sedan mewahnya dengan kasar.
Ia menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi,
memejamkan mata sejenak sambil mengatur napasnya yang masih terasa berat.
Ia merogoh saku jasnya,
mengeluarkan kartu hotel putih polos yang tadi ia temukan.
Di bawah lampu kabin mobil yang remang-remang,
ia membolak-balik kartu itu, mencari tanda sekecil apa pun
"Siapa dia sebenarnya? wanginya sama dengan wanita malam itu, tapi mungkin aroma parfum seperti iu siapapun bisa memakai nya"
gumam Arkan dengan suara rendah.
Ia menatap ke luar jendela mobil, ke arah trotoar tempat wanita itu menghilang tadi.
"Aku ingin mengejarnya... tapi dia sudah menghilang secepat itu."
Arkan memukul kemudi mobilnya dengan kesal, dan membuang kartu itu.