NovelToon NovelToon
Operasi Sandi Kala

Operasi Sandi Kala

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan Tentara / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: NP (Naika Permata)

Di pedalaman hutan belantara, sebuah kuil kuno yang lama terkubur ternyata menyimpan rahasia mematikan incaran sindikat teroris internasional. Kolonel Rayyan Aksara, Komandan elit Black Ops yang dingin, kaku, dan tak kenal kompromi, ditugaskan memimpin misi infiltrasi untuk menetralkan ancaman tersebut. Baginya, misi ini hanyalah tugas mematikan biasa—sampai pihak intelijen memaksanya membawa seorang “beban”. Dr. Lyra Andini adalah arkeolog jenius bertubuh mungil yang kemampuannya memecahkan sandi kuno hanya bisa ditandingi oleh kecerobohannya. Lyra lebih sering menjatuhkan barang, tersandung kakinya sendiri, dan membuat kacamata tebalnya melorot daripada berdiri tegak. Kehadirannya menguji batas kesabaran Rayyan hingga ke titik maksimal. Namun, di dalam labirin kuil yang dipenuhi jebakan mematikan dan desingan peluru musuh, kecerdasan Lyra menjadi satu-satunya kunci keselamatan mereka. Rayyan segera menyadari bahwa melindungi Lyra dari peluru musuh adalah satu hal, tetapi melindungi hatinya sendiri dari pesona kekacauan gadis itu adalah misi yang jauh lebih berbahaya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NP (Naika Permata), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kompas Buta & Jejak Makara

Hutan hujan tropis di sepertiga malam bukanlah tempat untuk manusia. Udara terasa setebal sup hangat yang diisi dengan aroma daun busuk, lumpur basah, dan bahaya yang tak kasat mata. Kanopi pohon raksasa meredam cahaya bulan sepenuhnya, menciptakan kegelapan absolut yang terasa menekan gendang telinga.

Bagi Tim Black Ops Alpha, kegelapan adalah teman lama. Dengan Night Vision Goggles (NVG) yang memancarkan cahaya hijau pendar di mata mereka, para prajurit itu bergerak lincah menembus akar gantung dan semak berduri tanpa suara. Formasi mereka rapat dan mematikan.

Bagi Dr. Lyra Andaini, ini adalah neraka reumatik dan kardiovaskular.

Lyra tidak memiliki NVG. Ia hanya dibekali senter taktis kecil bersinar merah yang dijepitkan di kerah rompinya agar tidak memancing perhatian penembak jitu. Sinar redup itu hanya mampu menerangi jarak setengah meter di depannya—cukup untuk membuatnya melihat betapa mengerikannya medan yang ia injak, tetapi tidak cukup untuk membuatnya tersandung.

Sudah dua jam mereka berjalan tanpa henti sejak penyergapan di landasan darurat. Napas Lyra terdengar seperti peluit rusak. Ransel di punggungnya—berisi pemindai liar, baterai cadangan, dan buku referensi—terasa seberat batu giling. Tali kanvas ransel itu tanpa ampun mengiris pundaknya, sementara rompi kevlar membatasi oksigen yang masuk ke paru-parunya.

Di depannya, bayangan hitam Kolonel Rayyan bergerak dengan keheningan predator. Pria itu menyingkirkan sulur berduri dengan popor senapannya dan melangkah melewati akar pohon raksasa yang licin tanpa sedikit pun kehilangan keseimbangan. Rayyan bahkan tidak terdengar terengah-engah.

Lyra mencoba mengikuti jejak sepatu bot Rayyan. Ia mengangkat kakinya yang gemetar untuk melangkahi akar berlumut yang sama. Namun, ujung sepatunya tersangkut.

Tubuh Lyra oleng ke depan. Ia bersiap menyambut rasa sakit di wajahnya, merutuki kecerobohannya untuk yang keseratus kalinya malam ini.

Tetapi, sebelum ia jatuh, sebuah tangan bersarung tangan nomex yang kokoh mencengkeram lengan atasnya dengan cengkeraman baja. Rayyan menariknya kembali ke posisi berdiri hanya dengan satu sentakan halus, tanpa menoleh, tanpa melepaskan pandangannya dari sektor depan.

“Angkat kakimu lima sentimeter lebih tinggi saat melangkah, Dokter,” bisik Rayyan pelan, suaranya nyaris tenggelam oleh suara jangkrik hutan. Pria itu melepaskan lengan Lyra segera setelah gadis itu kembali seimbang.

Lyra hanya bisa mengangguk menahan malu, pipinya memanas. “Terima kasih,” cicitnya.

Rayyan tiba-tiba mengangkat kepalan tangannya ke udara. Seketika, seluruh anggota Tim Alpha membeku di tempat, berjongkok tanpa suara. Rayyan menoleh ke belakang, memberikan isyarat dua jari ke arah matanya, lalu menunjuk ke bawah. Perhatikan langkahmu, merunduk.

Lyra buru-buru berjongkok di balik punggung lebar Rayyan, lututnya menghantam lumpur basah.

Letnan Jati merayap mendekat ke arah Rayyan. Wajah garangnya yang dihiasi cat kamuflase tampak tegang. “Kolonel, kita punya masalah,” bisik Jati. Ia menyodorkan perangkat GPS taktis layar sentuhnya.

Lyra mengintip dari balik bahu Rayyan. Titik koordinat di layar perangkat militer bernilai puluhan juta itu berputar liar. Arah utara terus bergeser setiap detiknya, membuat layar itu sama tidak bergunanya dengan batu bata.

“Interferensi magnetik,” gumam Rayyan dingin, matanya memicing menatap layar. “Kanopi terlalu tebal, atau ada deposit bijih besi masih di bawah kita. Kita berputar-putar di sektor yang sama selama dua puluh menit terakhir.”

“Kompas analog juga anjlok, Kolonel. Jarumnya tidak mau diam,” tambah Jati frustasi. “Sindikat itu pasti memasang jammer sinyal di sekitar kuil, atau… anomali alam. Jika kita terus bergerak buta, kita akan masuk ke zona rawan mematikan di timur.”

Rayyan menghela napas panjang, sebuah tanda kekesalan yang sangat jarang ia tunjukkan. Misi ini berpacu dengan waktu. Jika mereka tidak mencapai bunker sebelum fajar, musuh akan memindahkan senyawa biokimia purba itu atau menghancurkan situsnya.

“Kita rehat tiga menit. Jati, coba cari elevasi yang lebih tinggi untuk mencari sinyal satelit. Tim, pertahankan perimeter.”

Saat para prajurit menyebar membentuk lingkaran pertahanan, Rayyan memutar tubuhnya menghadap Lyra. Ia menyarungkan senapannya ke dada, lalu tanpa aba-aba, pria itu melangkah maju hingga ujung sepatu botnya bersentuhan dengan sepatu Lyra.

Lyra mendongak kaget, jantungnya melonjak menatap wajah dingin Rayyan yang sangat dekat di bawah cahaya merah senternya.

“Balik badan,” perintah Rayyan datar.

“A-apa?”

“Balik badan, Dr. Andini.”

Lyra menurut dengan patuh, memunggungi pria itu. Ia bisa merasakan kehangatan tubuh Rayyan di belakangnya. Tiba-tiba, tangan besar Rayyan menyentuh bahunya. Jari-jari pria itu bergerak cekatan melonggarkan gesper tali ransel Lyra yang tadinya mencekik, lalu menarik tali penyeimbang di bagian pinggang dan mengencangkannya dengan bunyi klik yang mantap.

Seketika, beban seberat belasan kilogram yang menyiksa bahu Lyra berpindah ke panggulnya, membuat dadanya terasa jauh lebih ringan. Ia bisa menarik napas panjang untuk pertama kalinya malam itu.

“Tali bahu hanya untuk menahan posisi, bukan menanggung beban,” suara bariton Rayyan terdengar tepat di atas kepala Lyra, getarannya merambat turun ke tulang belakang gadis itu. “Jika kau membiarkan titik beratmu di atas, kau akan terus jatuh dan tersandung.”

Rayyan melangkah memutar, kembali berhadapan dengan Lyra. Ia mencabut sebuah kantong air minum (çanteen) dari sabuk taktisnya dan menyodorkannya ke dada Lyra.

“Minum.”

Lyra menerima botol alumunium itu dengan tangan gemetar. Ujung jarinya tak sengaja menyapu buku-buku jari Rayyan yang kasar. Aliran listrik aneh kembali menyengat ujung sarafnya. Ia meneguk air dingin itu dengan rakus, merasakan kelegaan luar biasa di tenggorokannya yang mengering.

“Terima kasih,” bisik Lyra, menyerahkan kembali botol itu. Matanya memberanikan diri menatap iris obsidian Rayyan. Pria itu tampak menakutkan, mematikan, tetapi ada perlindungan absolut dalam setiap gerakannya yang cekatan.

Rayyan tidak menjawab. Ia mengambil botol itu dan hendak berbalik untuk memeriksa peta fisik, ketika Lyra tiba-tiba memicingkan mata, menatap ke arah gundukan batu besar di belakang Rayyan yang tertutup lumut tebal dan akar pohon beringin.

Otak akademis Lyra yang sempat beku oleh kelelahan dan ketakutan mendadak menyala terang. Lelah di kakinya menguap begitu saja.

“Kolonel, tunggu sebentar,” ucap Lyra cepat. Tanpa sadar, ia mencengkeram pergelangan tangan Rayyan.

Rayyan menegang. Tidak ada yang pernah menyentuhnya secara tiba-tiba di lapangan seperti itu tanpa berakhir dengan tangan terpelintir. Namun, melihat sorot mata Lyra yang tiba-tiba berubah—dari gadis rapuh yang ketakutan menjadi seorang ilmuwan yang sedang melihat kepingan puzzle berharga—Rayyan menahan refleks tempurnya.

Lyra melepaskan tangan Rayyan, menyalakan senter taktisnya ke tingkat paling terang, dan melangkah mendekati gundukan batu setinggi dada itu. Dengan jari-jarinya yang mungil, ia mulai mengikis lumut tebal berlendir yang menutupi permukaannya.

“Dokter, jangan menyentuh formasi alam sembarangan. Ular derik sering bersarang di sana,” peringat Rayyan tajam, melangkah mendekat dengan senapan siaga.

Lyra mengabaikannya. Ia terus menggosok batu itu hingga sebuah ukiran kuno muncul dari balik tanah dan lumut. Itu bukan batu biasa. Itu adalah tugu batu andesit yang dipahat membentuk makhluk mitologi dengan mulut terbuka lebar.

“Ini bukan bentukan alam,” Lyra berbalik menatap Rayyan, matanya berbinar cerdas di balik kacamata yang kotor. Napasnya memburu bukan karena lelah, melainkan karena kegembiraan intelektual. “Ini ukiran kepala Makara. Bintang mitologi dari era Hindu-Budha.”

Rayyan menautkan alisnya. “Batu tua. Apa hubungannya dengan GPS kita yang mati?”

“Semuanya, Kolonel!” Lyra merogoh kantongnya dan mengeluarkan kompas analog kecil peninggalan ayahnya. Jarum kompas itu berputar liar tak terkendali. “Makara adalah simbol air. Pembangunan kuil ini menyembunyikan bunker biokimia tersebut di bawah tanah dengan memanfaatkan aliran sungai bawah tanah sebagai pendingin dan mekanisme hidrolik pintunya, bukan?”

Rayyan mengangguk perlahan, mulai menangkap arah pemikiran gadis itu. “Itu yang dilaporkan intelijen.”

“Para pendeta kuno tidak memiliki GPS, Kolonel. Mereka tahu wilayah ini memiliki anomali magnetik dari bijih besi. Jadi, mereka menggunakan sistem waypoint manual,” Lyra menunjuk ke arah mulut batu Makara yang menganga, yang dipahat dengan sudut kemiringan aneh. “Mulut Makara tidak pernah menunjuk ke utara. Makara menelan air. Moncong ini… secara asimetris menunjuk langsung ke arah hulu sungai bawah tanah yang membelah kuil utama.”

Lyra mencondongkan tubuhnya ke depan, menyejajarkan arah pandangannya dengan ukiran mulut batu tersebut. Ia menunjuk lurus menembus kegelapan gulita hutan, ke arah yang melenceng sekitar 45 derajat dari rute yang sebelumnya diambil Tim Alpha.

“Tim Anda berputar-putar karena Anda mengandalkan satelit dan magnet bumi yang dikacaukan oleh anomali bukit ini,” ucap Lyra penuh percaya diri, menatap lurus ke mata Rayyan. Canggung dan kikuknya sirna seketika di hadapan sejarah yang ia kuasai. “Ikuti arah moncong Makara ini. Jika saya benar, kita akan menemukan batu petunjuk kedua dalam jarak lima ratus meter, dan kuil itu berada di ujung garis lurusnya.”

Hening sejenak. Anggota Tim Alpha yang lain saling berpandangan skeptis. Menggantungkan nyawa dan arah misi pada batu berlumut ratusan tahun terasa seperti lelucon. Jati menatap Rayyan, menunggu perintah.

Rayyan menatap ukiran batu itu, lalu kembali menatap Lyra. Ia melihat perubahan postur gadis itu. Lyra tidak lagi gemetar. Ia berdiri tegak, memancarkan otoritas seorang ahli di bidangya.

Di tengah neraka hijau yang tidak masuk akal ini, kecerdasan gadis mungil berkacamata ini adalah satu-satunya senjata yang bisa menembus jalan buntu. Sesuatu yang tak kasat mata bergeser di dalam dada Rayyan—sebuah pengakuan. Rasa hormat.

Rayyan mengangkat tangannya, memberikan sinyal tangan kepada pasukannya untuk mengubar arah formasi.

“Jati, kita ubah arah sejajar dengan batu ini,” perintah Rayyan memecah kesunyian.

Jati terbelalak. “Kolonel, Anda serius? Kita mengikuti insting tanpa kompas?”

Rayyan memutar tubuhnya, menatap wakilnya dengan tatapan obsidian yang tak terbantahkan. “Dia bukan sekedar sipil, Jati. Dia kompas kita sekarang.”

Rayyan melangkah mendekati Lyra, berdiri sangat dekat hingga Lyra harus mendongakkan kepalanya secara maksimal. Pria itu menyentuhkan dua jari ke pelipisnya sendiri, sebuah gestur salut militer kasual yang sangat jarang ia berikan kepada siapa pun.

“Anda memimpin jalannya, Dr. Andini,” ucap Rayyan rendah, sebuah seringai samar dan mematikan muncul di sudut bibirnya. “Tapi Anda tetap berdiri tepat di belakang saya. Jika tebakan Anda salah dan kita masuk ke sarang musuh, saya yang akan menembak paling depan.”

Jantung Lyra berdebar gila-gilaan, dan kali ini, ia tahu persis itu bukan karena kelelahan fisik.

1
nur atika
♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️
nur atika
🥰🥰🥰up trus ya thorr mangattttt
nur atika
🥰🥰🥰
NP: 🥰🥰🥰🥰😍
total 1 replies
nur atika
lanjut author
NP: Inshaallah makasih semangatnya 🥰
total 1 replies
Lutfiah Tunnissa
kerenn Thor
NP: Makasih ya kak, ikuti terus ceritanya ya🥰
total 1 replies
nur atika
😍😍😍
nur atika
🤭🤭🤭🤭🤭
𝗝𝗔𝗧𝗜ᴾᵁᵀᴿᴼ
debar2 cinta
NP
Mas Rayyan, melindungi Lyra banget😍
Akbar Aulia
lyra kamu sangat beruntung dilindungi mas rayan
Akbar Aulia
beruntung lyra kamu direkrut jadi tim alpha,
Akbar Aulia
mungil mungil si cabe rawit tapi pedas rasanya,awas mas Rayyan nanti kamu tersepona
Akbar Aulia
aih...sepatu kesayangan mas Rayyan kena kopi,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!