NovelToon NovelToon
Teman Hidup, Bukan Pasangan Hidup?

Teman Hidup, Bukan Pasangan Hidup?

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Cintapertama / Penyesalan Suami
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: AkeilanaTZ

Hari pernikahan adalah momen paling membahagiakan bagi seorang wanita.
Setidaknya, itulah yang selalu kupercaya.
Aku menikah dengan pria yang kupikir telah kupahami.
Ia baik, bertanggung jawab, dan tidak pernah menyakitiku.
Namun sejak malam pertama, ada jarak yang tak mampu kujelaskan.
Kami berbagi rumah, berbagi meja makan, bahkan berbagi ranjang—
tetapi tidak pernah benar-benar berbagi kedekatan.
Ia tidak pernah bersikap kasar.
Ia hanya. terlalu hati-hati.
Terlalu jauh.
Dalam diam, aku mulai bertanya:
apakah aku istrinya,
atau hanya teman hidup yang kebetulan ia nikahi?
Dan ketika pernikahan ini hampir kehilangan maknanya,
ia harus memutuskan—
tetap berjalan setengah hati,
atau belajar mencinta dengan utuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AkeilanaTZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sikecil Aluna Nirmala

Tangisan kecil itu masih terngiang di telingaku bahkan setelah semuanya selesai.

Suara yang tipis, rapuh, namun terasa sangat kuat.

Seolah suara itu membawa sesuatu yang benar-benar baru ke dalam hidup kami.

Aku masih berbaring di tempat tidur rumah sakit ketika perawat akhirnya membawa bayi kami kembali ke kamar.

Tubuhku terasa lelah.

Bahkan sedikit pusing.

Namun ketika melihat wajah kecil yang terbungkus selimut putih itu, semua rasa lelah seolah berubah menjadi sesuatu yang hangat.

Perawat meletakkannya dengan hati-hati di dekatku.

“Bayi perempuan yang sehat,” katanya lembut.

Aku menatap wajah kecil itu.

Hidungnya kecil.

Matanya masih terpejam.

Dan tangannya yang mungil bergerak sedikit seperti sedang mencari sesuatu.

Aku hampir tidak percaya bahwa bayi itu benar-benar anakku.

Anak kami.

Beberapa detik kemudian pintu kamar terbuka.

Ashar masuk dengan langkah yang sedikit terburu-buru.

Wajahnya terlihat campuran antara bahagia dan panik.

“Apa dia sudah bangun?” tanyanya.

Aku menahan tawa kecil.

“Dia bayi, Ashar. Dia memang bangun.”

Ia mendekat perlahan.

Lalu berhenti tepat di samping tempat tidur.

Matanya menatap bayi kecil itu dengan ekspresi yang benar-benar baru kulihat.

Lembut.

Hati-hati.

Seperti seseorang yang takut membuat kesalahan sekecil apa pun.

“Itu… dia?”

Aku mengangguk.

“Iya.”

Ashar terlihat menelan ludah.

“Aku boleh menggendongnya?”

Aku tersenyum.

“Tentu.”

Namun ketika ia mencoba mengangkat bayi itu, gerakannya terlihat sangat kaku.

Seolah ia sedang memegang sesuatu yang sangat mahal dan sangat rapuh.

Aku hampir tertawa melihat wajahnya yang begitu serius.

“Ashar.”

“Iya?”

“Kamu terlihat seperti memegang bom.”

Ia menatapku dengan panik.

“Apakah aku salah memegangnya?”

Aku tertawa kecil.

“Tidak. Kamu hanya terlalu tegang.”

Ia menarik napas panjang.

Namun akhirnya berhasil menggendong bayi kecil itu dengan lebih tenang.

Dan untuk beberapa detik, ia hanya berdiri di sana sambil menatap wajah anaknya.

Matanya terlihat sedikit berkaca-kaca.

Tidak lama kemudian pintu kamar kembali terbuka.

Kakek dan paman Ashar masuk dengan wajah yang penuh rasa ingin tahu.

“Kami mendengar tangisannya,” kata kakek sambil tersenyum lebar.

Paman berdiri di belakangnya sambil melihat ke arah bayi yang sedang digendong Ashar.

“Jadi ini cucu sekaligus cicit pertama keluarga kita.”

Ashar terlihat masih agak kaku.

“Dia sangat kecil.”

Kakek tertawa.

“Semua bayi memang kecil.”

Paman kemudian berkata dengan nada santai,

“Apakah kamu sudah mengumandangkan adzan?”

Ashar langsung terlihat terkejut.

“Adzan?”

Aku menatapnya.

“Kamu lupa?”

Ia terlihat benar-benar panik.

“Aku… aku tidak lupa.”

Namun jelas sekali ia lupa.

Kakek tertawa pelan.

“Cepat lakukan sebelum kamu lupa lagi.”

Ashar menelan ludah.

Lalu mendekatkan bayi kecil itu ke dadanya.

Ia menarik napas panjang.

Dan mulai membuka mulut.

Namun yang keluar dari mulutnya justru kalimat yang membuat semua orang di ruangan itu terdiam beberapa detik.

“Allahu akbar… Allahu akbar…”

Aku langsung menutup mulut menahan tawa.

Paman mengangkat alis.

“Kamu sedang mengumandangkan adzan atau memulai shalat?”

Ashar membeku.

“Bukankah itu bagian dari adzan?”

Kakek tertawa keras.

“Itu takbir, bukan pembukaan adzan.”

Ashar terlihat semakin panik.

“Oh ya, Aku terlalu gugup.”

Paman akhirnya mendekat.

“Baiklah, tarik napas dulu.”

Ashar mengangguk cepat.

Paman kemudian membantu membisikkan kalimat adzan dengan pelan.

Kakek berdiri di samping mereka sambil tersenyum bangga.

Kali ini Ashar mencoba lagi.

Suaranya masih sedikit gemetar.

Namun akhirnya ia berhasil menyelesaikan adzan di telinga bayi kecil itu dengan benar.

Ketika selesai, ia terlihat seperti seseorang yang baru saja menyelesaikan ujian paling sulit dalam hidupnya.

Aku tidak bisa menahan tawa kecil.

“Ashar.”

“Iya?”

“Itu adzan paling gugup yang pernah kudengar.”

Ia menghela napas panjang.

“Setidaknya aku berhasil.”

Kakek menepuk bahunya.

“Cukup bagus untuk ayah baru.”

Beberapa saat kemudian suasana kamar menjadi jauh lebih santai.

Paman duduk di kursi sambil memperhatikan bayi kecil itu.

“Kalian sudah memutuskan namanya?”

Ashar menoleh padaku.

Aku tersenyum.

“Kita sudah membicarakannya.”

Ia mengangguk.

Kemudian berkata dengan pelan,

“Namanya… Aluna Nirmala.”

Kakek mengangguk perlahan.

“Itu nama yang indah.”

Paman juga tersenyum.

“Apa artinya?”

Aku menjawab pelan,

“Aluna berarti kelembutan dan ketenangan.”

Ashar melanjutkan,

“Dan Nirmala berarti kemurnian.”

Kakek menatap bayi kecil itu dengan penuh perhatian.

“Nama yang baik untuk seorang putri.”

Namun kebahagiaan itu juga datang dengan sedikit kekhawatiran.

Dokter akhirnya mengatakan bahwa aku harus dirawat selama tiga hari di rumah sakit.

Tubuhku masih terlalu lemah setelah proses persalinan.

Ketika dokter mengatakan itu, Ashar langsung terlihat sangat serius.

“Tiga hari?”

Dokter mengangguk.

“Ini hanya untuk memastikan kondisi ibu benar-benar stabil.”

Ashar langsung mengangguk cepat.

“Baik.”

Setelah dokter pergi, ia langsung mengeluarkan ponselnya.

Aku menatapnya.

“Apa yang kamu lakukan?”

“Mengirim pesan.”

“Kepada siapa?”

“Klien.”

Aku mengerutkan kening.

“Kenapa?”

Ia mengetik dengan sangat cepat.

“Aku menjadwal ulang semua pertemuan minggu ini.”

Aku terkejut.

“Ashar, kamu tidak perlu—”

Ia langsung menggeleng.

“Aku perlu.”

“Tapi pekerjaanmu?”

Ia menatapku dengan serius.

“Tidak ada yang lebih penting dari kalian sekarang.”

Kalimat itu membuat dadaku terasa hangat.

Malam itu kamar rumah sakit terasa tenang.

Lampu diredupkan.

Aluna kecil tertidur di boks bayi di samping tempat tidurku.

Ashar duduk di kursi dekat ranjang sambil menatapnya tanpa berkedip.

“Ashar,” kataku pelan.

“Iya?”

“Kamu sudah menatapnya selama lima belas menit.”

Ia mengangguk.

“Aku tahu.”

“Kenapa?”

Ia tersenyum kecil.

“Aku masih tidak percaya dia benar-benar ada.”

Aku menatap bayi kecil itu.

Perasaan hangat memenuhi dadaku.

Perjalanan panjang kami akhirnya membawa kami ke titik ini.

Seorang bayi kecil.

Seorang putri kecil.

Yang kini tertidur dengan tenang di antara kami.

Ashar menggenggam tanganku perlahan.

“Mala.”

“Hm?”

“Terima kasih.”

Aku menoleh.

“Untuk apa?”

“Untuk keluarga ini.”

Aku tersenyum.

Dan malam itu terasa begitu damai.

Karena untuk pertama kalinya…

kami benar-benar menjadi sebuah keluarga kecil yang utuh.

Dengan seorang putri kecil bernama Aluna Nirmala yang baru saja memulai kisahnya di dunia.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!