Randy, mahasiswa Teknik Mesin semester dua, punya segalanya: tinggi menjulang, senyum manis, motor Kawasaki Ninja yang gagah, dan kamera DSLR yang setia menemaninya berburu foto di sudut-sudut kota. Tapi di balik pesona itu, Randy tetap jomblo—lebih suka memotret penjual cilok atau suasana kumuh daripada nongkrong romantis. Cewek-cewek kampus gemas, tapi Randy selalu jaim, seolah menutup pintu hatinya.
Suatu malam, hidupnya berubah. Dalam mimpi yang terasa terlalu nyata, ia bertemu Ki Suromenggolo—kakek buyut tabib sakti yang mewariskan ilmu penyembuhan legendaris. Randy bangun dengan dada hangat dan perasaan aneh, seakan membawa kekuatan baru.
Di tengah hiruk-pikuk kota, persahabatan, godaan cinta, dan bahaya yang mengintai, Randy akan belajar bahwa menjadi “tabib tampan” bukan sekadar gelar. Ini adalah perjalanan tentang keberanian, tanggung jawab, dan hati yang selalu diuji oleh banyak perempuan yang diam-diam jatuh hati padanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jeffc, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Harapan dan Senyuman di Petak Sembilan
“Mereka jujur soal ilmu yang bisa musnah kalau dikomersialkan itu,” kata Pak Cokro dalam hati setelah mendengar percakapan Randy dan papanya di coffee shop yang dipasangi alat penyadap itu. “Jadi aku harus memikirkan cara lain.”
“Rand, kita pulang sekarang yok,” ajak papanya Randy. “Kayaknya sudah nggak ada urusan lagi di sini.”
“Papa pulang sendiri aja, Randy naik ojol ke Petak Sembilan,” ujar Randy. “Mau berburu foto di sana, siapa tahu ada yang menarik.”
“Papa anterin aja ke sana, pulangnya baru naik ojol,” kata papanya.
“Ya udah, namanya dipaksa, siapa bisa nolak?” sahut Randy dengan tertawanya yang khas. “Uang buat ojol nanti Randy buat beliin oleh-oleh buat papa yang baik.”
“Uih, siapa yang maksa?” tanya papa Randy sambil tersenyum.
Bapak dan anak itu kemudian meluncur ke Petak Sembilan, yang mungkin bisa ditempuh dalam waktu setengah jam kalau hari Minggu begini.
“Thanks, ya pa, nanti Randy cari oleh-oleh dari Petak Sembilan,” kata Randy sesampainya di Petak Sembilan.
Suasana Petak Sembilan hidup dan penuh orang dengan berbagai kesibukan, dengan lorong-lorong sempit yang dipenuhi kios obat tradisional China yang khas, toko herbal, pedagang hio (dupa China), sampai penjual kuliner khas Tionghoa yang aromanya langsung menyergap begitu masuk. Bau campuran rempah-rempah, minyak wijen, dan asap masakan yang pekat menggantung di udara, sementara terdengar suara tawar-menawar dalam bahasa Indonesia, Hokkien, hingga Mandarin, kadang ada suara klakson motor yang sesekali maksa masuk gang, dan ditambah percakapan dalam berbagai bahasa tadi yang menciptakan hiruk-pikuk khas. Lampion merah bergelantungan di beberapa sudut, memberi nuansa klasik yang kontras dengan keramaian modern, dan orang-orang berlalu-lalang tanpa henti dengan berbagai tujuan, ada yang belanja, cari makanan khas, atau sekadar cuci mata atau bernostalgia.
Sepintas Randy merasa seakan bukan di Indonesia lagi. Dia berkeliling sambil mengabadikan beberapa spot yang tampaknya menarik. Pandangannya fokus pada lapak pedagang panganan khas China, dan Randy langsung mengambil beberapa foto lapak itu.
Tapi dia tertarik pada seorang lelaki setengah baya yang menunggu lapak itu dengan wajah murung. Kira-kira kenapa ya gerangan? Apakah karena tidak laku? Ke mana istrinya? Randy kemudian membeli mimpan, jajanan jadul dari tepung beras, disajikan dengan kecap manis dan bawang putih goreng, memberikan rasa gurih manis.
“Beli lima om, jadi berapa?” tanya Randy untuk membuka perkenalan.
“Lima puluh ribu aja, totalnya,” jawab si penjual makanan itu.
“Bisa bayar pakai QRIS?” tanya Randy lagi.
“Bisa,” jawab bapak itu sembari menunjukkan QR code lapak milik dia. Randy segera membuka ponselnya dan memindai QR code tersebut untuk melakukan pembayaran.
“Omong-omong, cuma jualan sendirian, om?” tanya Randy pelan.
“Biasanya sama istri, tapi belum lama ini dia divonis oleh dokter terserang tumor otak,” jawab bapak penjual itu.
“Oh, di mana dia sekarang?” tanya Randy prihatin.
“Sekarang dia sedang terbaring di rumah, bersama anak,” jawab sang bapak penjual dengan sedih.
“Omong-omong nama saya Randy,” kata Randy sambil mengulurkan tangannya.
“Nama saya Cu Niang,” kata bapak penjual makanan itu sambil mengulurkan tangan, menyambut perkenalan Randy.
“Nanti kalau toko sudah tutup, saya boleh mampir ke rumah om?” kata Randy. “Siapa tahu bisa membantu tante yang sedang sakit.”
“Oh, silakan, silakan,” jawab Cu Niang dengan sedikit kegembiraan. “Sekarang pun bisa, lapak sedang sepi, bisa saya tutup sekarang.”
“Terserah om saja,” kata Randy sambil mengambil foto dari beberapa makanan di lapak milik Cu Niang itu. “Izin ambil foto-foto sebentar ya, Om. Saya hobi fotografi soalnya.”
“O, silakan aja,” kata Cu Niang sembari menutup lapaknya. “Rumah om nggak jauh dari sini, sekitar sepuluh menit aja.”
Setelah puas mengambil beberapa foto dan Cu Niang sudah mengunci lapaknya, mereka berjalan ke rumah Cu Niang yang terletak di salah satu gang dekat lapak itu. Sambil berjalan, Randy sibuk mengambil beberapa objek foto yang menarik hatinya. Sampai akhirnya mereka tiba di sebuah rumah kecil yang berhimpitan dengan rumah lain di gang.
“Ini rumah saya, maaf berantakan,” kata Cu Niang. “Lan, buatkan minum untuk tamu papa dan mama ini.”
Dari dalam kamar terdengar suara wanita yang cukup merdu, “Iya, pa.”
Lalu keluar seorang gadis berwajah oriental namun cukup manis walau hanya mengenakan kaos sederhana dan celana pendek setinggi lutut. Entah kenapa Randy yang biasanya cuek terhadap cewek-cewek kampus entah secantik dan semanis apa pun itu, kali ini merasa tertarik dengan gadis yang sederhana itu.
“Mama nggak ngeluh apa-apa seharian ini?” tanya Cu Niang.
“Nggak pa. Cuma sebentar-sebentar ngeluh kepalanya pusing,” jawab gadis itu. “Mulan sudah kasih koyok di pelipisnya dan kasih makan bubur tadi.”
“Oya, Lan, kenalin ini Randy, kenalan papa,” kata Cu Niang.
Gadis oriental yang manis itu segera menyodorkan tangannya ke arah Randy sambil memperkenalkan dirinya. “Mulan.”
Randy juga menyodorkan tangannya. “Randy.” Entah kenapa jabat tangan itu terasa beda, ada sensasi aneh yang nggak bisa digambarkan. Cukup lama Randy menggenggam tangan Mulan yang putih dan halus itu.
“Ayo kalau mau menengok istri saya,” kata Cu Niang yang membuat Randy tersentak.
Kemudian dia mengikuti Cu Niang yang masuk ke kamar tempat istrinya terbaring. Seorang wanita setengah baya dan pucat tampak tergolek lemah di kamar yang sempit dan berantakan itu. Dari raut wajahnya yang kurus dan pucat, Randy bisa menduga bahwa wanita setengah baya ini pada mudanya dulu adalah seorang wanita yang cantik.
“Selamat siang, tante, bagaimana rasanya?” tanya Randy sambil duduk di kursi di sebelah ranjang tempat istri Cu Niang terbaring. “Saya Randy, teman om Cu Niang.”
Randy lalu menggenggam tangan istri Cu Niang yang terlalu lemah untuk diangkat. Mulutnya berkomat-kamit hendak mengucapkan sesuatu, tapi suaranya tak keluar.
“Dokter menyuruh melakukan kemoterapi,” kata Cu Niang sedih. “Tapi badannya terlalu lemah untuk melakukan kemo.”
Randy mengangguk tanda mengerti dan kemudian matanya dipejamkan untuk berkonsentrasi. Tangannya diletakkan di atas dahi istri Cu Niang. Dekat, dekat sekali namun tanpa menyentuh. Sensasi hangat dan ribuan setrum kecil-kecil merayap ke sekujur telapak tangan kanannya tersebut.
Mulan dan Cu Niang tampak terkesima melihat perubahan warna pada telapak tangan Randy yang berubah bersemu kemerahan. Ada beberapa detik, Randy melakukan ritual tersebut dan kemudian membuka matanya.
“Sekarang apa yang dirasakan, tante?” tanya Randy.
“Kok tiba-tiba pusingnya hilang, ya?” tanya istri Cu Niang yang keheranan dan tiba-tiba bisa mengeluarkan suara, walau masih lemah itu.
“Jangan banyak bergerak dulu, tante,” kata Randy. “Besok periksa aja dulu ke rumah sakit bagaimana kondisi tumor di kepala tante.”
Cu Niang yang berdiri di belakang Randy tak kuasa menahan air matanya yang meleleh jatuh ke pipi, diikuti Mulan dengan mata cantiknya yang basah oleh air mata yang meleleh ke pipinya yang putih itu.
“Nggak tahu, om harus bilang apa ke Randy,” kata Cu Niang.
“Nggak perlu bilang apa-apa dulu om,” kata Randy. “Lagian harus diperiksa di rumah sakit dulu, apakah ini sembuh tumornya beneran atau efek placebo saja.”
Apapun hasilnya, Randy telah menumbuhkan harapan pada keluarga sederhana yang baru dikenalnya tersebut.
“Mulan, bawain teh oolong buat Randy beberapa bungkus,” kata Cu Niang menyuruh anaknya memberikan teh China yang baru dibelinya kemarin itu.
“Nggak usah, jangan repot-repot, Lan,” sergah Randy.
“Nggak apa-apa, cuma ini yang kami punya,” kata Cu Niang.
Mulan kemudian memberikan tas plastik yang berisi beberapa bungkus teh oolong kepada Randy sambil tersenyum. Senyum yang terasa spesial dan indah di mata Randy.
Setelah ngobrol sejenak, Randy berpamitan untuk segera pulang.
Saat keluar dari rumah kecil itu Randy bertemu beberapa anak muda yang sedang ngobrol di depan rumah Cu Niang dan Mulan.
“Siapa kamu, dan kenapa lihat-lihat?”