Di antara aroma aspal basah setelah hujan dan asap sate maranggi di pinggiran jalur Cisaat, Adella Veranza Tan hanya ingin menjalani hidup normal sebagai mahasiswi hobi motoran.
Bersama Sasha Eliana Wijaya, sahabatnya yang terobsesi pada kuliner hits Instagram, Della membelah kabut Sukabumi dengan Scoopy krem kesayangannya.
Namun, bagi Della, spion motor bukan sekadar alat pantau lalu lintas. Sejak kunjungan ke sebuah kedai kopi "tersembunyi" di lereng gunung, spion kirinya tak lagi menampilkan aspal yang kosong.
Ada sosok yang betah duduk di jok belakang, tepat di belakang Sasha yang tak menyadari apa pun.
Gerian Liemantoro, mekanik andalan sekaligus sahabat masa kecilnya, mulai curiga saat mesin motor Della sering kali "berat" tanpa alasan teknis.
Ada sesuatu yang ikut berboncengan.
"Loe ngerasa motor gue berat nggak, Sha?"
"Enggak ah, Del. Perasaan loe aja kali, atau sate tadi emang bikin kenyang bego?"
Della melirik spion kiri, Sosok itu kini balas menatapnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nhatvyo24, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17: Suara di Dalam Blok Mesin
Minggu pagi di Sukabumi biasanya menjadi waktu favorit Della untuk memanaskan mesin Scoopy-nya sambil menikmati udara yang belum tercemar asap angkot.
Namun, pagi ini, ada perasaan berat yang menggelayuti dadanya. Suara bisikan di garasi semalam masih terngiang, membuat Della ragu untuk memutar kunci kontak.
Saat ia akhirnya memberanikan diri, mesin motor itu menyala hanya dalam satu kali sentuhan ringan. Suaranya bukan lagi brem-brem khas mesin 110cc, melainkan dengungan rendah yang stabil, mirip suara mesin listrik tapi dengan vibrasi yang lebih mistis.
"Nggak mungkin..." gumam Della.
Ia melirik indikator bensin, Jarumnya menunjukkan posisi Empty (kosong) karena kemarin ia lupa mengisi bensin saat pulang dari Goalpara. Namun, mesin tetap hidup dengan tenang. Jarum speedometer masih bergetar di angka 20, seolah-olah motor ini memiliki dunianya sendiri yang menolak hukum fisika.
Della segera meluncur ke bengkel Geri. Sepanjang jalan, ia merasa tidak perlu menarik gas terlalu dalam. Motor itu melaju konstan, seakan ada dorongan tak terlihat dari belakang.
Geri sudah menunggu di depan bengkelnya, sedang memegang baut kuningan yang ia temukan kemarin. Wajahnya tampak kurang tidur.
"Ger, cek oli gue," kata Della begitu sampai. "Mesinnya bunyi aneh semalam, dan sekarang dia jalan tanpa bensin."
Geri mengerutkan kening, tidak percaya. Ia segera mengambil bak penampung oli dan membuka baut pembuangan oli di bawah mesin Scoopy Della. Begitu baut terbuka, keduanya terbelalak.
Cairan yang keluar bukan oli hitam pekat yang kotor, melainkan cairan kental berwarna perak mengkilap seperti merkuri. Cairan itu memantulkan cahaya lampu neon bengkel dengan sangat tajam, dan anehnya, tidak terasa panas meskipun mesin baru saja digunakan.
"Ini bukan oli, Del..." Geri menyentuh pinggiran bak dengan obeng. "Ini cairannya mirip sama pantulan yang ada di spion loe."
Geri kemudian mencoba membuka blok mesin bagian kiri (CVT). Saat baut-bautnya terlepas, sebuah suara tok... tok... tok... kembali terdengar dari dalam. Begitu bak CVT terbuka, mereka menemukan sesuatu yang mustahil: Di sela-sela van belt motor, tumbuh serat-serat halus berwarna merah marun yang menyatu dengan kabel-kabel mesin.
Serat itu berdenyut.
"Ini kayak saraf, Ger," bisik Della ngeri.
"Motor lo bukan lagi sekadar mesin, Del. Dia mulai bermetamorfosis, Baut kuningan yang gue pegang ini... dia bereaksi tiap kali gue deketin ke blok mesin loe." Geri mendekatkan baut kuningan itu, dan seketika serat merah di dalam mesin menggeliat, seolah-olah mencoba menyapa baut tersebut.
Tiba-tiba, bengkel Geri menjadi gelap gulita. Padahal saat itu masih jam sepuluh pagi dan matahari bersinar terik di luar. Kegelapan itu hanya menyelimuti area bengkel, seolah-olah ada kubah hitam yang turun dari langit.
Della melihat ke arah spion kirinya yang kini terbuka tanpa timah. Tujuh retakan di sana mulai memancarkan cahaya merah marun.
Di dalam pantulan kaca, Della melihat Geri sedang memegang jantung manusia yang terbuat dari logam, sementara di belakang Geri, sosok Kakek Tan berdiri sambil memegang kunci pas yang berlumuran cairan perak.
"Jangan takut pada perubahan fisik, Cucu," suara itu terdengar langsung di dalam kepala Della, lebih jelas dari sebelumnya. "Mesin ini butuh wadah yang lebih kuat untuk menampung 'dia' yang akan datang. Berikan baut itu pada tempatnya."
"Del, tangan loe!" teriak Geri.
Garis merah marun di pergelangan tangan Della bercahaya. Secara otomatis, Della mengambil baut kuningan dari tangan Geri dan memasukkannya ke sebuah lubang kecil yang tiba-tiba muncul di blok mesin lubang yang sebelumnya tidak pernah ada di struktur mesin Scoopy standar.
KLIK.
Suara itu terdengar sangat memuaskan, seperti potongan puzzle terakhir yang terpasang. Seketika, kegelapan di bengkel sirna. Suara mesin motor yang tadi "bisu" di sudut bengkel (milik pelanggan Geri) tiba-tiba kembali terdengar.
"Suaranya... suara motor yang lain balik lagi," kata Geri, nafasnya terengah-engah.
Della menatap Scoopy-nya. Mesinnya kini tampak lebih "padat". Getaran ketukan itu menghilang, diganti dengan perasaan tenang yang aneh. Namun, ia menyadari satu hal: di spion kirinya, kini muncul retakan kedelapan.
Retakan itu berbentuk seperti pintu yang sedikit terbuka.
Geri menyeka cairan perak yang tersisa di jarinya ke kain majun, tapi noda itu tidak mau hilang. Cairan itu justru menyerap ke dalam pori-pori kulitnya, meninggalkan sensasi dingin yang menjalar sampai ke siku.
"Del, ini nggak bener," Geri menatap baut kuningan yang kini sudah tertanam sempurna di blok mesin. "Baut itu bukan cuma pengunci. Itu kayak... bypass.
Dia nyambungin mesin motor loe ke sesuatu yang nggak ada di buku manual mana pun."
Della tidak menjawab.
Ia sedang menatap jarum speedometer yang perlahan kembali ke angka nol, namun jarum odometer (penunjuk jarak tempuh) mulai berputar mundur dengan sendirinya. Angkanya berubah cepat, melewati angka ribuan, ratusan, hingga berhenti di sebuah koordinat angka yang aneh: **19-9-8**.
"**1998**," bisik Della. "Tahun kerusuhan. Tahun saat Kakek Tan hilang."
Della memutuskan untuk membawa motor itu keluar dari bengkel, Ia butuh ruang terbuka untuk merasakan apa yang sebenarnya telah berubah. Geri mengikuti dari belakang dengan motor trail-nya, menjaga jarak aman seolah-olah Scoopy itu adalah bom waktu yang siap meledak.
Saat memasuki jalur Lingkar Selatan yang luas, Della memacu motornya. Di sinilah keanehan fisik itu mulai memuncak.
Della melihat ke arah aspal di bawah sinar matahari siang. Bayangan Scoopy-nya terlihat jelas, tapi bayangan dirinya sendiri tidak ada di atas motor itu. Di aspal, motor Scoopy itu tampak melaju sendirian, tanpa pengendara.
"Ger! Lo liat bayangan gue nggak?!" teriak Della lewat intercom.
"Liat, Del! Tapi... tunggu..." suara Geri terdengar panik. "Bayangan loe nggak di motor, Del! Lo liat ke arah trotoar!"
Della melirik ke sebelah kiri.
Di sana, di atas trotoar semen yang panjang, bayangannya sedang berlari. Bayangan itu berbentuk siluet hitam Della, namun ia tidak sedang duduk di motor. Siluet itu berlari dengan kecepatan luar biasa, menyamai kecepatan motornya, dan sesekali siluet itu menoleh ke arah Della dengan gerakan kepala yang patah-patah.
Della merinding hebat. Ia mencoba mengerem, tapi bayangan di trotoar itu justru berhenti lebih dulu dan menunjuk ke arah spion kiri Della.
Krak.
Retakan kedelapan di spion itu semakin lebar.
Di dalamnya, fragmen pantulan menunjukkan sebuah pemandangan: **Sasha sedang berdiri di depan rumahnya, menatap sebuah paket yang terbungkus kain kafan di depan pintu**.
Della segera memutar balik motornya tanpa mempedulikan rambu lalu lintas. Bayangan di trotoar itu seketika melompat kembali ke bawah motornya, menyatu dengan bayangan Scoopy, namun posisinya terbalik kepala bayangan Della berada di bagian belakang motor.
"Kita ke rumah Sasha, Ger! Sekarang!"
Sepanjang jalan, Della merasa motornya tidak lagi menyentuh aspal. Rasanya seperti melayang di atas lapisan udara tipis. Setiap kali ia melewati genangan air, air itu tidak menciprat, melainkan tersedot masuk ke arah mesin, seolah motor itu haus akan segala jenis cairan.
Sesampainya di rumah Sasha, mereka menemukan Sasha sedang mematung di teras. Benar saja, ada sebuah paket kecil berbentuk kotak di depan kakinya.
"Jangan dibuka, Sha!" teriak Della sambil melompat turun dari motor.
Sasha menoleh, wajahnya bingung. "Barusan ada kurir... tapi dia nggak pake seragam. Dia cuma bilang ini 'titipan dari masa lalu' buat temennya Della."
Della mendekati paket itu, Bau mawar kering yang tajam kembali tercium. Saat Della menyentuh bungkusan itu, garis merah marun di tangannya bersinar terang.
Di dalam paket itu bukan bom atau benda berbahaya lainnya, melainkan sebuah sisir rambut kuno dari perak dan sepucuk surat dengan tulisan tangan yang rapi:
*"Mata sudah kembali, suara sudah dicuri, baut sudah terkunci. Sekarang, berikan dia rambutnya agar dia bisa menyisir kenangan yang kusut*."
Della menatap sisir itu, lalu melirik ke arah spion kirinya.
Di retakan kedelapan, sosok wanita berbaju putih yang selama ini wajahnya tertutup kabut, kini mulai mengulurkan tangan... meminta sisir tersebut.