bangkit kembali di dunia game, nama Arka adalah puncak dari segala kekuatan. Sebagai pemain peringkat satu berjuluk Void King, ia memiliki segalanya, namun terjebak dalam realitas game yang kini menjadi nyata setelah game tutup server.
Demi mewujudkan impian hidup tenang dengan menyembunyikan kekuatannya, Arka secara "tidak sengaja" memungut tiga petualang pemula. Elara, Kael, dan Jiro. Dengan niat egois agar ada orang lain yang bisa mengerjakan "tugas sulit" dan urusan merepotkan lainnya, Arka melatih mereka dengan metode neraka hingga mereka melampaui batas manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dhanis rio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18.RUNTUHNYA KEHORMATAN GROTTO DAN KEDIAMAN BARU
Gemuruh yang meruntuhkan Grotto of Silence tidak hanya menggetarkan tanah di bawah kaki mereka, tetapi juga mengirimkan gelombang kejut mana yang merambat melalui urat bumi hingga mencapai menara-menara pengawas di Ibukota Kerajaan Aethelgard. Langit yang tadinya cerah mendadak tertutup awan debu abu-abu yang pekat, seolah-olah alam sedang memasang tabir duka atas hilangnya sebuah situs kuno dari peta sejarah.
Di luar reruntuhan gerbang yang hancur, Alaric berdiri tegak dengan postur yang tak tergoyahkan. Di belakangnya, ketiga murid Arka mulai sadar, mencoba mengumpulkan kesadaran yang tercerai-berai akibat tekanan mana yang luar biasa. Dari kejauhan, derap langkah kuda perang terdengar mendekat, pasukan elit Prajurit Suci dari divisi penegak hukum kerajaan telah tiba dengan wajah-wajah yang memucat.
"Komandan Alaric!" teriak seorang perwira tinggi, melompat dari kudanya bahkan sebelum hewan itu berhenti sepenuhnya. "Apa yang terjadi? Aura menyeramkan tadi... kami pikir sebuah portal neraka baru saja terbuka! Dan Anda—"
Langkah perwira itu terhenti seketika. Ia jatuh berlutut, bukan karena perintah, melainkan karena ia secara tidak sengaja menabrak "tembok" aura emas yang secara alami terpancar dari tubuh Alaric. Sang Komandan lupa menekan kekuatannya yang kini telah berevolusi.
"Peringkat... SS?" bisik perwira itu, matanya melebar hingga hampir keluar. "Anda berhasil menembus batas legendaris itu, Komandan?"
Para prajurit suci di belakangnya serentak bersujud. Di kerajaan Aethelgard, seorang Peringkat SS bukan lagi sekadar prajurit; mereka adalah aset strategis nasional yang kekuatannya setara dengan seluruh divisi tentara. Namun, Alaric tidak merasakan kebanggaan itu. Matanya tetap tertuju pada kepulan asap kelabu di reruntuhan dungeon. Ia tahu, kekuatan SS-nya hanyalah lilin kecil di depan matahari abadi yang baru saja ia saksikan bertarung.
...
Di tengah keheningan yang mencekam itu, sebuah bayangan muncul dari balik tirai debu. Sosok itu berjalan pelan, langkahnya terasa berat seolah memikul beban yang tak terlihat. Arka keluar dengan pakaian yang compang-camping, rambutnya yang acak-adakan tertutup abu kelabu, membuatnya tampak seperti hantu dari masa lalu.
Di tangan kanannya, ia memegang sebuah senjata yang tampak menyakitkan untuk dilihat, bilahnya berkedip-kedip tidak stabil antara wujud nyata dan piksel hitam yang tajam. Itu adalah pedang milik Abandoned Account yang baru saja ia taklukkan.
Arka menatap senjata itu dengan tatapan yang sangat sayu. Sebuah kesedihan yang purba terpancar dari matanya. Bagi orang lain, itu mungkin jarahan tingkat dewa, namun bagi Arka, itu adalah nisan terakhir dari seorang kawan yang ia kenal di era di mana dunia ini masih merupakan sebuah permainan yang menyenangkan. Ia menyentuh bilahnya yang dingin, merasakan sisa-sisa eksistensi yang kini telah benar-benar terhapus.
"Beristirahatlah, Kawan. Maaf aku harus melakukannya," bisik Arka hampir tak terdengar.
Dengan jentikan jari yang lesu, ia memasukkan senjata glitchy itu ke dalam inventory-nya. Ia menyimpannya di sudut terdalam. Begitu senjata itu hilang, Arka menarik napas panjang, bahunya merosot, dan wajah malasnya kembali terpasang, sebuah topeng sempurna untuk menutupi duka yang meluap-luap.
...
"Arka!" Alaric menghampirinya dengan cepat, mengabaikan tatapan bingung anak buahnya. "Anda selamat."
Arka hanya menguap, seolah-olah pertarungan tingkat dewa tadi hanyalah gangguan saat ia sedang tidur siang. "Ya, ya. Tempat itu sangat berdebu. Aku butuh mandi air hangat dan tempat tidur yang tidak terbuat dari marmer keras."
Alaric mendekat, memastikan suaranya hanya terdengar oleh Arka. "Guru... aku tahu terima kasih tidak akan pernah cukup. Anda telah menyelamatkanku dan memberikan kekuatan SS ini. Secara pribadi, aku telah mengatur segalanya. Aku telah menyiapkan sebuah Mansion mewah di pinggiran kota Ovelia, lengkap dengan pelayan dan peti-peti emas di dalamnya."
Arka menaikkan alisnya sebelah. "Mansion? Kau ingin aku membayar pajak properti yang mahal?"
Alaric tersenyum kecil. "Tidak perlu khawatir. Semua sudah diatur. Aku sengaja memilihkan kediaman di Ovelia agar lebih mudah bagiku untuk bertemu dan meminta bimbingan Anda di masa depan tanpa menarik perhatian kerajaan. Mansion itu adalah milik Anda sepenuhnya."
Arka menggaruk kepalanya. "Yah, setidaknya aku tidak perlu berbagi kamar dengan Jiro lagi. Baiklah, aku terima."
Alaric segera menyediakan kereta kuda termewah dengan lambang ksatria suci untuk membawa mereka kembali. Kereta yang ditarik oleh empat ekor kuda Wind-Runner itu melesat menjauhi Grotto. Dengan pengawalan Alaric dan pasukannya Hanya butuh waktu dua hari, perjalanan yang biasanya memakan waktu seminggu pun tuntas.
...
Saat kereta kuda itu memasuki gerbang kota Ovelia, suasana riuh menyambut mereka. Kabar tentang kembalinya tim investigasi telah mendahului mereka melalui merpati sihir. Kereta berhenti tepat di depan Guild Petualang, jantung dari kehidupan para petarung di kota itu.
Ketua Guild Baros berdiri di depan pintu dengan tangan bersedekap, wajahnya yang garang tampak sangat tegang. Di sekelilingnya, puluhan petualang berkumpul. Semua orang ingat bagaimana ketiga murid Arka dikirim atas perintah Dewan Kerajaan untuk tes kekuatan, sebuah tes yang jika gagal, akan berujung pada eksekusi karena dianggap menggunakan artefak ilegal.
Pintu kereta terbuka. Jiro melompat keluar pertama kali dengan tawa lebar, disusul oleh Kael dan Elara.
"Ketua Baros! Lihat ini!" Jiro menunjuk pin perak di dadanya.
Keheningan pecah. Baros terpaku melihat pin Peringkat B. Ketiga bocah yang dulunya hanya porter (tukang angkut barang) yang sering dihina dan dianggap sampah, kini pulang dengan peringkat yang hanya bisa diraih oleh petualang veteran dalam hitungan tahun.
"Kalian... kalian benar-benar berhasil?" suara Baros bergetar hebat. Ia memeluk Jiro begitu kuat hingga terdengar suara tulang yang berderak. "Demi dewa! Aku akan menyerang markas Dewan jika kalian tidak pernah kembali!"
Para petualang lain bersorak-sorai. Mereka yang dulunya mengejek Arka kini mendekat dengan rasa hormat yang tulus. Kepulangan mereka bukan hanya kemenangan pribadi, tapi bukti bahwa petualang kota pinggiran bisa melampaui ekspektasi sombong para dewan di pusat.
Arka keluar terakhir dari kereta, masih dengan gaya malasnya yang khas. Ia melihat tumpukan emas pemberian Alaric di dalam inventory-nya dan memutuskan bahwa malam ini adalah saat yang tepat untuk memanjakan komunitas yang telah menerimanya selama ini.
"Hei, orang tua," panggil Arka pada Baros. "Jangan menangis di depan umum, itu membuat birnya terasa asin."
Arka kemudian berdiri di atas podium kecil di aula guild. Ia menarik napas, lalu berteriak dengan nada malas yang menjangkau setiap sudut ruangan.
"Dengarkan semuanya! Malam ini, tidak ada yang boleh pulang dengan tenggorokan kering! Aku baru saja mendapat 'hadiah' dari Komandan Alaric karena telah menyelamatkan martabat ksatria sucinya di dungeon. Jadi... malam ini semuanya aku traktir! Makan dan minumlah sepuas kalian, semua tagihan hari aku yang bayar!"
Aula Guild Petualang meledak dalam kegembiraan yang luar biasa. Bir mengalir deras, daging panggang dihidangkan dalam porsi raksasa, dan gelak tawa memenuhi ruangan hingga larut malam. Alaric, yang menyaksikan dari sudut ruangan, hanya bisa menggelengkan kepala melihat bagaimana seorang Level 999 bisa merasa begitu bahagia hanya dengan mentraktir sekelompok petualang kelas rendah.
Di tengah pesta, Arka menghampiri ketiga muridnya yang sedang dikerumuni rekan-rekan mereka. Ia menepuk pundak mereka satu per satu dengan senyum yang tidak biasanya.
"Bersenang-senanglah malam ini," ucap Arka. "Tertawalah sekeras yang kalian bisa dan isilah perut kalian sampai penuh."
"Tentu, Guru! Terima kasih banyak!" jawab Jiro sambil mengangkat gelasnya.
"Sebab," lanjut Arka, "mulai besok pagi, kalian akan merindukan kedamaian ini. Aku baru saja mendapatkan kunci mansion baru dari Alaric, dan halaman belakangnya cukup luas untuk menjadi neraka latihan kalian yang baru. Aku tidak ingin murid Arkaelus level 999 kalah oleh monster kelas teri di masa depan."
Mendengar itu, Jiro, Kael, dan Elara tidak merasa takut. Sebaliknya, mata mereka berbinar penuh semangat. Mereka tidak lagi melihat latihan Arka sebagai siksaan, melainkan sebagai tangga menuju puncak dunia. Mereka merayakan malam itu dengan bahagia, menyadari bahwa di bawah bimbingan guru mereka yang malas, masa depan mereka tidak lagi memiliki batas.