Isya adalah anak yatim piatu yang hidup sederhana bersama nenek dan adiknya. Sejak kecil ia dibekali ilmu agama, dan ketika kehilangan datang, ia dipaksa dewasa sebelum waktunya.
Ia sekolah sambil bekerja. Ia menjadi kakak, sekaligus ibu di rumah kecil yang penuh keterbatasan.
Banyak yang terpikat oleh wajahnya.
Namun yang membuat orang benar-benar jatuh hati adalah akhlaknya.
Ia tidak mudah didekati.
Bukan harta, bukan popularitas yang bisa mendapatkannya.
Hanya satu jalan.
Temukan dia dengan Bismillah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Namira Ahsya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 1 — Pagi yang Kacau
Clikkk… clikkk… clikkk…
Suara jam dinding terdengar jelas di dalam kamar yang masih redup.
Tiba-tiba—
“WAAAHHH!”
Isya terbangun dengan mata membelalak. Napasnya memburu ketika ia menoleh ke arah jam.
06.34.
Ia membeku selama dua detik.
Lalu panik.
“Astaga! Aku kesiangan!”
Tanpa pikir panjang, Isya melompat turun dari tempat tidur dan berlari keluar kamar. Handuk yang masih tergantung di jemuran langsung ia tarik begitu saja.
Saat berlari tergesa-gesa menuju kamar mandi, ia melewati kamar adiknya yang masih tertutup setengah.
Ba'daa.
Anak itu masih tertidur pulas.
Isya sempat berhenti.
Ia mundur beberapa langkah, lalu membuka pintu kamar adiknya lebar-lebar.
“Heeeeee! Ba'daaaaaa! Bangun! Sekolahhhh!”
Tidak ada reaksi.
Ba'daa tetap tidur dengan posisi miring, selimut menutupi hampir seluruh tubuhnya.
Isya mendecih kesal.
Ia melangkah masuk, mengambil guling di samping adiknya, lalu berdiri dengan posisi seperti hendak bertarung.
“Bangunnnnnn!”
Pluk!
Guling itu mendarat di badan Ba'daa.
Ba'daa tersentak bangun. Matanya masih setengah tertutup, rambutnya berantakan. Ia menatap kakaknya yang berdiri dengan wajah kesal dan rambut acak-acakan.
Dalam pandangannya yang masih buram, Isya terlihat seperti sosok nenek lampir yang sedang mengamuk.
Isya mengomel seperti ibu-ibu.
“Heh, ampun ini anak! Dari dulu susah banget bangunnya!”
Ia menggetok pelan kepala Ba'daa.
“Lihat ini sudah jam berapa!”
Isya menoleh ke arah jam di dinding kamar.
06.40.
“Wahhhhh!”
Ia kembali panik.
Tanpa berkata apa-apa lagi, Isya berlari menuju kamar mandi.
Sementara itu Ba'daa hanya menguap panjang. Berbeda jauh dengan kakaknya yang rajin dan selalu terburu-buru, ia justru santai seolah keterlambatan bukan masalah besar.
Beberapa menit kemudian, Isya sudah selesai mandi dan telah menggunakan pakaian seragam sekolahnya beserta jilbabnya. Rambutnya masih sedikit basah, dengan tas yang sudah tersampir di bahu.
Ia berlari keluar rumah.
“Ba'daaaaaa! Awas kalau nggak sekolah!”
Teriaknya sebelum benar-benar pergi.
Begitu pintu tertutup, terdengar balasan dari dalam rumah.
“Ihhh dasar nenek lampir!”
Isya yang sudah berlari tentu tidak mendengarnya.
------------------------------------------------------------------------
Di jalan menuju sekolah, ia terus menatap jam di tangannya.
06.55.
Jantungnya berdegup makin cepat.
Jika pukul 07.00 gerbang ditutup, tamat sudah riwayatnya. Apalagi hari ini ada upacara bendera. Datang terlambat berarti harus berdiri sendiri di depan gerbang.
Malu sekali.
Akhirnya gerbang sekolah mulai terlihat di kejauhan.
Isya menghela napas lega.
Sepertinya masih sempat—
Tiba-tiba—
Buaakkk!
Sebuah bola melayang cepat dan menghantam tubuhnya.
Isya terjatuh.
“Aduh! Ahh! Orang gila mana sih main bola pagi-pagi!”
Dari arah lapangan terdengar suara panik.
“Aduh kamu gimana sih nendang bolanya sampai keluar!”
“Iya, iya, maaf! Aku ambil!”
Seorang laki-laki memanjat tembok pembatas lapangan. Setengah badannya terlihat ketika ia mengintip ke luar.
Ia melihat Isya yang memegang bola dengan wajah kesal.
“Ah… maaf. Itu bola kami.”
Isya melotot.
“Hey! Bukannya nanya keadaan orang gimana, malah nanya bola!”
Ia berdiri sambil mengibaskan rok seragamnya.
“Kamu tahu nggak rasanya kena bola? Sakit tau!”
Di atas tembok, laki-laki itu tampak kikuk.
“Hei, Aksan! Ngapain lama-lama di tembok? Cari bolanya!”
teriak temannya dari dalam lapangan.
Aksan tersenyum canggung pada Isya.
Isya menghela napas panjang.
“Lain kali hati-hati. Kamu nggak tahu rasanya kena bola. Itu sakit.”
Ia melempar bola itu kembali.
Aksan menangkapnya, masih dengan senyum kecil yang sulit dijelaskan. Entah merasa bersalah, atau justru merasa kejadian itu lucu.
Saat Isya berjalan menjauh menuju gerbang, Aksan memperhatikannya dari atas tembok.
Ada sesuatu yang membuatnya tersenyum dan kagum.
------------------------------------------------------------------------
Isya hampir sampai di gerbang.
Langkahnya melambat.
Tiba-tiba ia merasa ada yang aneh.
Ia berhenti.
Sunyi.
Beberapa detik berlalu.
Lalu matanya membesar.
Jam!
Ia menoleh cepat ke pergelangan tangannya.
06.59.
Wajahnya memucat.
“WAAAAAHHHHHHH!”
Dan akhirnya dia kembali berlari sekuat tenaga.
^^^---Namira Ahsya__^^^
. 𝚖𝚊𝚜𝚒𝚑 𝚒𝚗𝚐𝚊𝚝 𝚊𝚓𝚓 𝚛𝚞𝚙𝚊-𝙽𝚢𝚊𝚊 ,, 𝚢𝚊𝚗𝚐 𝚔𝚊𝚝𝚊𝚗𝚢𝚊 𝚗𝚍𝚊𝚔 𝚙𝚎𝚛𝚗𝚊𝚑 𝚕𝚒𝚊𝚝 ,, 𝚙𝚛𝚎𝚎𝚎𝚝 .
. 𝑖𝑡𝑢-𝐿𝑎ℎℎ 𝑚𝑎𝑛𝑢𝑠𝑖𝑎 ,, 𝑠𝑎𝑚𝑎 𝑑𝑖𝑟𝑖 𝑠𝑒𝑛𝑑𝑖𝑟𝑖 𝑎𝑗𝑗 𝑛𝑑𝑎𝑘 𝑚𝑎𝑢𝑢 𝑛𝑔𝑎𝑘𝑢𝑖𝑛 𝑎𝑝𝑎𝑙𝑎𝑔𝑖 𝑠𝑎𝑚𝑎 𝑜𝑟𝑎𝑛𝑔 𝑙𝑎𝑖𝑛𝑛 ..
𝑠𝑒𝑏𝑎𝑖𝑘-𝑏𝑎𝑖𝑘 𝑁𝑦𝑎𝑎𝑎 𝑤𝑎𝑛𝑖𝑡𝑎 𝑑𝑦𝑎𝑎-𝐿𝑎ℎℎ 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑝𝑢𝑛𝑦𝑎 𝑟𝑎𝑠𝑎 𝑚𝑎𝑙𝑢𝑢 ..
. 𝑠𝑒𝑏𝑎𝑖𝑘-𝑏𝑎𝑖𝑘 𝑁𝑦𝑎𝑎𝑎 𝐿𝑎𝑘𝑖-𝑙𝑎𝑘𝑖 𝑑𝑦𝑎𝑎-𝐿𝑎ℎℎ 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑚𝑒𝑛𝑢𝑛𝑑𝑢𝑘-𝐾𝑎𝑛𝑛 𝑝𝑎𝑛𝑑𝑎𝑛𝑔𝑎𝑛-𝑁𝑦𝑎𝑎𝑎𝑎 ..
𝐛𝐢𝐬𝐚 𝐛𝐚𝐜𝐚 𝐧𝐨𝐯𝐞𝐥 𝐬𝐚𝐦𝐛𝐢𝐥 𝐦𝐞𝐧𝐜𝐚𝐫𝐢 𝐢𝐥𝐦𝐮 ..
. 𝑠𝑢𝑘𝑎 𝑛𝑜𝑣𝑒𝑙-𝑁𝑦𝑎𝑎𝑎 . 😘
. 𝑚𝑒𝑠𝑘𝑖 𝑠𝑎𝑙𝑎ℎ ,, 𝑡𝑖𝑑𝑎𝑘 𝑚𝑒𝑛𝑔ℎ𝑎𝑘𝑖𝑚𝑖 𝑡𝑎𝑝𝑖 𝑡𝑒𝑡𝑎𝑝 𝑑𝑖 𝑎𝑗𝑎𝑟𝑘𝑎𝑛 𝑑𝑒𝑛𝑔𝑎𝑛 𝑏𝑒𝑛𝑎𝑟 ..
. 𝑘𝑎𝑟𝑒𝑛𝑎 𝑘𝑒𝑠𝑎𝑙𝑎ℎ𝑎𝑛 𝑎𝑑𝑎 𝑏𝑢𝑘𝑎𝑛 𝑢𝑛𝑡𝑢𝑘 𝑑𝑖 𝑏𝑒𝑛𝑎𝑟𝑘𝑎ℎ 𝑡𝑎𝑝𝑖 𝑢𝑛𝑡𝑢𝑘 𝑑𝑖 𝑝𝑒𝑟𝑏𝑎𝑖𝑘𝑖 ..
. 𝐬𝐞𝐝𝐢𝐡 𝐛𝐚𝐜𝐚-𝐍𝐲𝐚𝐚𝐚𝐚𝐚 ..
. 𝐊𝐞𝐬𝐚𝐲𝐚𝐧𝐠-𝐍𝐲𝐚𝐚𝐚𝐚 𝐚𝐤𝐮𝐮𝐮 ,, 𝐬𝐞𝐦𝐮𝐭-𝐊𝐮𝐮𝐮 ------ 𝐧𝐨𝐧𝐠-𝐍𝐲𝐚𝐚𝐚 𝐭𝐲 .
. 𝐍𝐚𝐦𝐮𝐧 𝐬𝐞𝐤𝐚𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐬𝐮𝐫𝐚𝐡 𝐢𝐧𝐢 𝐦𝐞𝐧𝐣𝐚𝐝𝐢 𝐀𝐥𝐚𝐫𝐦 𝐡𝐢𝐝𝐮𝐩-𝐊𝐮𝐮𝐮𝐮 ..
. 𝐝𝐢 𝐭𝐮𝐧𝐠𝐠𝐮 𝐥𝐚𝐧𝐣𝐮𝐭𝐚𝐧-𝐍𝐲𝐚𝐚
. 𝐊𝐚𝐫𝐞𝐧𝐚 𝐝𝐢 𝐬𝐚𝐧𝐚-𝐋𝐚𝐡𝐡𝐡 𝐛𝐚𝐢𝐭-𝐛𝐚𝐢𝐭 𝐝𝐨'𝐚 𝐜𝐢𝐧𝐭𝐚-𝐊𝐮𝐮 𝐭𝐮𝐦𝐛𝐮𝐡 𝐮𝐧𝐭𝐮𝐤-𝐌𝐮𝐮𝐮 ..
. 𝐍𝐚𝐦𝐢𝐫𝐚 𝐀𝐡𝐬𝐲𝐚 . 🤭😘