Trauma sang Letnan akan masa lalunya bersama seorang wanita untuk kesekian kalinya, membuatnya tidak ingin lagi berurusan dengan makhluk berjenis wanita.
Rasa sakit di hatinya membuatnya betah 'melajang', bahkan sampai rekan letting dan juniornya banyak yang memiliki momongan.
Namun, cara Tuhan mempertemukan manusia dengan jodohnya memang sangatlah adil. Ia sangat tidak menyukai gadis ini tapi.............
KONFLIK TINGKAT TINGGI. SKIP bagi yang tidak bisa membaca alur cerita berkonflik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bojone_Batman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
7. Pusing mendadak.
Malam itu, usai berkemas. Pak Herliz menatap wajah putrinya yang penuh kelegaan. Meskipun ada rasa kecewa tapi sikap netral Anye saat berhadapan dengan Letnan Rinto tadi sudah cukup membuatnya tenang.
"Apakah alasanmu hanya karena rambut, ndhuk??" Tanya Pak Herliz pada Anye Nadanya mencoba lembut agar bisa masuk dalam perasaan putrinya.
"Sebenarnya, Anye suka sama seseorang yah, tentara juga. Hanya saja pangkatnya balok, Anye takut tidak bisa bersamanya." Kata Anye.
"Balok?? Kamu pernah bertemu dengannya?? Setau Ayah, kamu tidak pernah bertemu dengan laki-laki tanpa pengawalan."
"Anye kenal lewat sosial media. Anye tau dia laki-laki yang baik............"
"Anyeee.. Itu modus penipuan. Ayah nggak masalah kamu kenal dengan laki-laki manapun, pangkat apapun dan pekerjaan apapun, tapi kamu harus kenal orangnya dulu. Setidaknya pertemukan dengan ayah." Tegur Pak Herliz sampai memotong jawaban putrinya.
"Kenapa ayah nggak percaya sama Anye. Dia nggak pernah macam-macam, yah." Ujar Anye.
"Bagaimana kalau dia sudah beristri dan punya anak???? Kesetiaan itu sifat, tidak semua kata yang halus juga baik."
Anye terdiam mendengarnya. Lelehan tangisnya tiba-tiba mengucur menetes di pipi. Pak Herliz pun menjadi jengah di buatnya.
"Daripada kamu bertemu dengan laki-laki yang tidak jelas, lebih baik kamu ayah nikahkan saja sama Letnan Rinto. Biar saja Ayah menjilat ludah sendiri dan di anggap sinting, yang penting Ayah tau orangnya." Bentak Pak Herliz.
"Tapi Anye nggak cinta sama Bang Rinto. Anye maunya sama Black Mamba. Bang Rinto itu galak, tidak bisa lembut sama perempuan." Pekik Anye.
"Anyeeeeeee....!!!!!!!!!!! Gara-gara si ular kadut itu, kamu melawan Ayah???? Jangan-jangan kamu sudah kena guna-guna????"
Anye terdiam, wajahnya mendadak murung. Pak Herliz lalu mengangkat tas besar milik Anye karena mereka akan terbang menggunakan pesawat terakhir di malam ini.
"Lupakan dia..!!!!"
...
Di waktu yang sama, Bang Rinto berdiri tidak jauh dari Pak Herliz dan juga Anye. Ia pun melaksanakan terbang malam karena harus kembali pada wilayah dinas asal.
Sesekali Pak Herliz melirik Letnan Rinto yang sedari tadi menjauh tapi sibuk dengan ponselnya.
Setelah suasana lebih landai, Pak Herliz mendekati Bang Rinto.
"Rin..!!"
"Siap.. Ijin arahan, Kadis??" Jawab Bang Rinto formal.
"Duduk..!! Saya mau bicara empat mata sama kamu, mumpung Anye sedang jalan-jalan dan sibuk sendiri di bandara." Kata Pak Herliz.
"Siap.. Petunjuk, Kadis..!!" Tanya Bang Rinto.
"Hmm.. Begini................."
...
Pandangan Bang Rinto terus mengamati Anye yang tidur sambil bersandar pada bahu ayahnya. Tak lama ia mengurut pangkal hidungnya.
"Astaghfirullah hal adzim..!!" Gumamnya lirih.
Banyaknya pikiran dan lelahnya hari ini membuatnya langsung tertidur meskipun perjalanan udara hanya beberapa jam saja.
***
Setibanya di bandara, Prada Tegar sudah menunggu Dantonnya di area penjemputan. Tapi saat melihat ada Kadis disana, beliau segera memberi salam.
"Selamat pagi, Kadis..!!"
"Selamat pagi." Jawab Pak Herliz karena hari memang sudah masuk jam pagi. Tatapan mata Pak Herliz beralih pada Letnan Rinto. "Saya tunggu kedatanganmu..!!"
"Siap, Kadis..!!"
~
Bang Rinto masih saja mengurut keningnya. Di dalam mobil dirinya lebih banyak diam seakan banyak beban pikiran yang belum teruraikan.
"Sakit kepala, Dan?" Tanya Prada Tegar mencemaskan Dantonnya.
"Nggak, saya hanya bingung. Melamar perempuan harus bawa apa ya, Gar?" Jawab Bang Rinto.
"Danton mau menikah??" Tanya Prada Tegar lagi.
"Iya, Gar."
"Ijin, Dan. Tiba-tiba sekali." Prada Tegar sampai kaget mendengar jawaban Dantonnya.
"Yaaa.. Mungkin sudah waktunya saya nikah juga. Besok saya akan lapor Danki untuk pengajuan nikah." Kata Bang Rinto. "Saya besok minta tolong fotocopy berkasnya Anyelir, ya. Datanya saya kirimkan besok."
"Si_ap.. Namanya Anyelir, Danton?? Si ketua geng??? Gadis yang waktu itu tawuran??" Prada Tegar semakin memperjelas rasa penasarannya.
"Hmm.. Ya dia itu istri saya."
"Haahh??? Astaghfirullah.. Kok bisa, Danton??" Prada Tegar syok bukan main mengetahui calon istri Dantonnya adalah seorang gadis yang bahkan usianya jauh di bawahnya. "Danton kena jebak?? Atau kena pelet??"
"Cckk.. Sudahlah, kau ini malah buat kepala saya semakin sakit." Jawab Bang Rinto. "Lamaran harus bawa apa sih??" Gumamnya sambil terus berpikir keras.
.
.
.
.
memang rumit, percayakan kisah sesuai alur yang diinginkan othornya
semangat Thor.....sukses selalu
💪💪