Di bawah terik matahari dan topi caping warna-warni yang merendahkan harga diri, Dewi Laras tak menyangka hari pertama ospek justru mempertemukannya dengan lima orang paling “ajaib” dalam hidupnya. Bagas si santai penuh akal, Juna yang cemas setengah mati, Gia si logis tanpa takut, Rhea si penyelundup biskuit profesional, dan Eno si dramatis penyelamat semut.
Sebuah hukuman kecil karena ponsel dan kekacauan konyol menjadi awal dari persahabatan yang tak terduga. Dari bangku kuliah hingga perjuangan skripsi, dari tawa karena dompet kosong hingga rahasia hati yang perlahan tumbuh, mereka berenam belajar bahwa takdir sering kali dimulai dari hal paling memalukan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertaruhan di lobi dan kartu as profesor
Profesor Wijaya menghentikan langkahnya tepat di depan pintu otomatis hotel. Beliau adalah pria paruh baya dengan kacamata tebal dan aura intelektual yang sangat kuat. Tatapannya beralih dari tablet Juna ke wajah-wajah lelah enam mahasiswa di hadapannya.
"Diskualifikasi? Saya baru saja membaca berkas finalis tadi pagi dan nama 'Resimen Hijau' masih ada di sana," kata Profesor Wijaya dengan dahi berkerut.
"Sistem di meja registrasi bilang kami dicoret karena laporan Global Eco-Tech, Prof," sahut Gia Kirana dengan nada bicara yang tegas meski suaranya sedikit gemetar. "Ini sabotase. Mereka mencoba menghentikan kami sebelum kami naik panggung."
Juna Pratama dengan cepat menggeser layar tabletnya, menunjukkan perbandingan source code dan data log pengerjaan yang sudah ia siapkan. "Prof, silakan lihat sendiri. Kami punya bukti kalau mereka yang mencoba menjiplak logika mesin kami. Kami bukan cuma mahasiswa yang cari hadiah, kami ingin solusi ini beneran sampai ke pasar."
Profesor Wijaya diam selama beberapa detik yang terasa seperti berjam-jam bagi mereka. Beliau mengambil tablet itu, menaikkan kacamatanya, dan menelusuri data Juna.
"Menarik," gumam beliau. "Kalian menggunakan algoritma penyesuaian pH otomatis berdasarkan suhu udara lokal? Ini bukan sesuatu yang bisa didapat dari sekadar menyalin jurnal luar negeri."
"Betul, Prof. Itu hasil riset mandiri Juna selama tiga minggu di garasi yang panasnya minta ampun," celetuk Eno Surya yang langsung disikut oleh Rhea.
Tiba-tiba, seorang pria berjas rapi—yang Laras kenal sebagai salah satu panitia penyelenggara—datang menghampiri dengan wajah panik. "Maaf, Profesor, mobil Anda sudah siap. Dan untuk adik-adik ini, tolong jangan mengganggu tamu juri..."
"Mereka tidak mengganggu, Pak Hadi," potong Profesor Wijaya dengan suara tenang namun berwibawa. "Justru saya yang sedang terganggu dengan sistem pendaftaran Anda. Kenapa tim ini didiskualifikasi tanpa tanda tangan saya sebagai ketua dewan juri?"
Si panitia itu tampak berkeringat dingin. "Itu... itu instruksi dari pihak sponsor utama, Prof. Karena ada isu legalitas..."
"Sponsor tidak punya hak untuk menentukan siapa yang layak secara sains di kompetisi ini," tegas Profesor Wijaya. Beliau mengembalikan tablet ke Juna lalu menatap Bagas dan Laras. "Bawa mesin kalian ke ruang pameran sekarang. Saya yang akan menjamin kalian tetap masuk ke babak final besok pagi. Tapi ingat, kalau mesin kalian macet saat demo, saya tidak bisa menolong lebih jauh."
"Siap, Prof! Kami jamin mesin ini bakal lancar jaya!" seru Bagas dengan semangat yang kembali membara.
Malam itu, mereka tidak tidur. Kamar hotel yang seharusnya jadi tempat istirahat berubah jadi bengkel darurat. Mesin 'Resimen Hijau' dibongkar total untuk pembersihan terakhir.
"Oke, Juna cek sensornya sekali lagi. Rhea, pastiin botol sampel pupuknya bersih, jangan sampai ada bakteri luar yang ganggu hasil uji. Eno, lo cari lakban item yang kuat, ada bagian plat yang masih tajam di pinggir," perintah Gia.
Laras duduk di sudut kamar, sedang mengetik naskah presentasi di laptopnya. Tiba-tiba, Bagas duduk di sampingnya sambil membawakan segelas kopi hangat dari fasilitas hotel.
"Gemetar ya?" tanya Bagas pelan melihat jemari Laras yang kaku di atas keyboard.
"Sedikit, Gas. Besok bukan cuma soal UKT lagi. Besok itu pembuktian kalau kita bisa menang melawan orang-orang kayak bokap gue dengan cara yang benar," jawab Laras.
Bagas menggenggam tangan Laras. "Lo udah hebat sejauh ini, Ras. Dari cewek yang takut sama bayangan papanya, sekarang jadi singa betina yang mimpin tim ini di Jakarta. Gue bangga sama lo."
Laras tersenyum, menyandarkan kepalanya di bahu Bagas. "Gue juga bangga sama tim ini. Lihat Eno, dia bahkan lupa caranya ngelawak karena serius benerin turbin."
Keesokan paginya, auditorium utama Jakarta Convention Center sudah penuh sesak. Media nasional hadir, dan di barisan depan, duduk para direksi dari berbagai perusahaan teknologi, termasuk beberapa orang dari Global Eco-Tech yang tampak terkejut melihat tim Resimen Hijau berdiri di samping mesin mereka di atas panggung.
Saat nama mereka dipanggil, Laras melangkah ke depan mikrofon.
"Nama saya Dewi Laras, dan kami dari tim Resimen Hijau. Kami di sini bukan untuk menjual teknologi mahal yang hanya bisa dibeli oleh korporasi. Kami di sini untuk memberikan kembali kemandirian kepada pedagang pasar dan petani kecil."
Demo dimulai. Eno memasukkan satu ember besar limbah sayur busuk yang mereka beli dari pasar induk subuh tadi. Mesin menderu pelan. Juna memantau lewat tablet yang terhubung ke proyektor, memperlihatkan proses degradasi limbah secara real-time kepada penonton.
Lima menit berlalu. Tiba-tiba, mesin itu mengeluarkan bunyi tek... tek... tek... yang aneh. Asap tipis mulai keluar dari bagian belakang.
Penonton mulai berbisik. Wajah para juri berubah cemas. Bagas yang berdiri di samping mesin langsung pucat.
"Gas, ada kabel yang kendor di bagian dalam!" bisik Juna panik melalui earpiece. "Korslet kecil karena getarannya terlalu kencang!"
Eno, dengan insting 'tukang' dadakannya, langsung mengambil langkah gila. Dia berdiri di belakang mesin, menghalangi pandangan penonton, dan memasukkan tangannya ke celah mesin yang panas tanpa sarung tangan untuk menahan kabel yang lepas itu tetap pada tempatnya.
"Aduh... panas banget... tapi tahan... demi tujuh puluh dua juta!" gumam Eno sambil meringis kesakitan yang ia tutupi dengan senyum lebar ke arah kamera.
Laras yang melihat itu tetap melanjutkan presentasinya dengan tenang, meski hatinya hancur melihat Eno kesakitan. "Dan seperti yang Anda lihat, sistem pembuangan panas kami sedang bekerja maksimal..."
Tepat di menit kesepuluh, cairan pupuk organik keluar dengan sempurna. Jernih, tidak bau, dan hasil uji pH di layar menunjukkan angka 6.8—sempurna untuk tanaman.
Auditorium meledak dalam tepuk tangan. Profesor Wijaya berdiri pertama kali dan memberikan standing ovation.
Saat mereka turun dari panggung, Eno langsung melepaskan tangannya yang memerah dan melepuh. Rhea langsung memegang tangan Eno dengan mata berkaca-kaca.
"Lo gila ya, No? Tangan lo melepuh gini!" omel Rhea sambil mengompres tangan Eno dengan air dingin.
"Gila mana sama kalau kita semua putus kuliah, Rhe?" sahut Eno sambil nyengir meski matanya berair karena sakit. "Lagian, sekarang gue punya alasan buat disuapin lo selama seminggu ke depan."
Rhea tidak membalas dengan omelan kali ini. Dia hanya menunduk, wajahnya memerah, dan tetap memegang tangan Eno dengan lembut.
Di sisi lain, Gia menghampiri tim Global Eco-Tech yang hendak meninggalkan ruangan. "Jangan lupa cek berita sore nanti ya, Pak. Saya baru saja mengirimkan rekaman percobaan intimidasi kalian ke beberapa rekan jurnalis di sini."
Kemenangan sudah di depan mata. Namun, mereka belum tahu bahwa hasil pengumuman nanti akan membawa mereka ke sebuah tawaran yang jauh lebih rumit daripada sekadar uang hadiah.
Happy reading sayang...
Baca juga cerita bebu yang lain...
Annyeong love...