Tagline:
"Ketika Pahlawan jatuh ke Neraka, dia tidak berdoa untuk diselamatkan. Dia bersiap untuk mengambil alih Tahta."
Sinopsis Cerita:
Ye Chen, sang penyelamat Alam Roh Sejati, telah membayar harga termahal demi menyelamatkan dunia dari kehancuran. Akibat memaksakan kekuatan Lima Kunci dan menahan jatuhnya Pulau Langit,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hakim2501, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5: Chimera Baja dan Hancurnya Pedang Karat
Matahari merah di langit Alam Iblis mencapai titik tertingginya, membakar pasir di Colosseum Darah hingga terasa seperti berjalan di atas bara api.
Ribuan iblis dari berbagai ras—Orc, Goblin, Iblis Sayap, hingga Bangsawan Iblis Tinggi—memadati tribun. Suara teriakan mereka bergemuruh, menuntut darah. Hari ini adalah Turnamen Besar, hari di mana budak terbaik diadu dengan binatang buas kebanggaan Raja Zagan.
Di tengah arena, Ye Chen berdiri sendirian. Dia mengenakan celana kulit sederhana dan bertelanjang dada, memperlihatkan tubuhnya yang penuh otot padat dan bekas luka samar yang memancarkan kilau keemasan di bawah cahaya matahari.
Di tangannya, dia hanya memegang sebilah pedang besi berkarat yang diberikan penjaga.
"Hadirin sekalian!" suara penyiar bergema sihir. "Sambutlah mainan baru Raja kita! Sang Manusia Gila... 9527!"
Sorakan mengejek terdengar.
"Dan lawannya... mimpi buruk dari Hutan Besi... CHIMERA BAJA HITAM (Black Steel Chimera)!"
KREAAAK... DUM!
Gerbang raksasa di seberang arena terbuka. Rantai-rantai penahan ditarik putus.
Sesosok monster setinggi enam meter melompat keluar. Makhluk itu memiliki tubuh singa yang dilapisi pelat baja alami berwarna hitam, ekor berupa ular piton berbisa, dan kepala kambing di punggungnya yang menyemburkan api hijau.
Aura yang dipancarkannya: Binatang Iblis Tingkat 3 Awal (Setara Inti Emas Puncak / Nascent Soul Awal).
Tekanan spiritual dari binatang itu membuat pasir di sekitarnya berterbangan.
Di tribun VIP, Raja Iblis Zagan tertawa sambil memeluk dua pelayan wanita. "Lihat itu! Kulit Chimera itu kebal terhadap senjata biasa. Manusia itu akan dicabik-cabik dalam sepuluh detik."
Di sebelahnya, Lilith menatap Ye Chen dengan mata menyipit. "Tunjukkan padaku, Ye Chen. Apakah investasiku padamu berharga?"
Di Arena.
Chimera itu mengaum. Kepala singanya memancarkan gelombang sonik, sementara kepala kambingnya menembakkan bola api hijau.
BOOM!
Bola api menghantam tempat Ye Chen berdiri. Ledakan terjadi.
"Mati?" tanya penonton.
Debu menipis. Ye Chen tidak ada di sana.
"Di atas!"
Ye Chen melompat tinggi ke udara, menghindari ledakan. Dia memegang pedang berkaratnya dengan dua tangan, menebas ke arah leher singa Chimera.
TING!
Suara logam beradu yang menyakitkan telinga.
Pedang berkarat itu menghantam leher baja Chimera. Tapi bukannya memotong, pedang itu malah hancur berkeping-keping. Pecahannya berhamburan.
"Sialan, besi rongsokan," umpat Ye Chen di udara.
Chimera itu tidak terluka sedikitpun. Ekor ularnya melesat secepat kilat, membelit pinggang Ye Chen di udara.
"Dapat!" Zagan bersorak.
Ular itu meremas Ye Chen, mencoba meremukkan tulang rusuknya, sambil menancapkan taring beracun ke perut Ye Chen.
JLEB!
Taring ular menembus kulit. Racun korosif disuntikkan.
Tapi Ye Chen tidak menjerit.
"Hanya segitu?" Ye Chen menatap mata ular itu.
Tulang Emas Ye Chen menahan tekanan remasan itu. Racun yang masuk langsung dimakan oleh Mutiara Penelan Surga.
Ye Chen melepaskan gagang pedang yang patah. Tangan kanannya mencengkeram leher ular itu.
"Kau melilitku? Salah. Kau memberiku pegangan."
Ye Chen menarik leher ular itu, menggunakan tubuh Chimera sebagai tumpuan untuk menarik dirinya sendiri mendekat ke punggung monster itu.
Dia mendarat di punggung baja Chimera, tepat di antara kepala singa dan kepala kambing.
Kepala kambing itu panik, memutar lehernya untuk menyemburkan api ke Ye Chen dari jarak nol.
Ye Chen tidak punya senjata.
"Kalau begitu, aku pakai senjata milikmu."
Ye Chen menendang kepala kambing itu tepat saat ia membuka mulut.
DUM!
Rahang kambing itu tertutup paksa. Api yang hendak dimuntahkan meledak di dalam mulutnya sendiri.
BOMM!
Kepala kambing itu hancur dari dalam. Asap hitam keluar dari telinganya.
Chimera itu meraung kesakitan, berguling-guling di tanah berusaha menjatuhkan Ye Chen.
Ye Chen melompat turun sebelum tertindih. Dia berdiri di pasir, tangan kosong.
"Kulitnya terlalu tebal untuk tangan kosong," analisis Ye Chen. "Aku butuh pembuka kaleng."
Dia menatap ke arah tribun VIP, tepat ke mata Zagan.
"Raja Zagan!" teriak Ye Chen. "Apakah kau terlalu miskin untuk memberiku pedang yang layak?!"
Zagan murka. "Bocah lancang! Kau mau pedang? Ambil ini!"
Zagan melempar tombak emas miliknya sendiri ke arena. Tombak itu senjata Tingkat Bumi.
Tapi Ye Chen menggelengkan kepala. "Tidak butuh sampahmu."
Ye Chen mengangkat tangan kirinya. Cincin besi di jarinya (penyamaran Cincin Awan Putih) bersinar.
"Aku bawa sendiri."
WUUUUUNG!
Aura hitam pekat dan dingin meledak dari tangan Ye Chen, membuat suhu arena turun drastis.
Sebuah pedang hitam raksasa sepanjang dua meter muncul dalam genggamannya. Bilahnya yang hitam legam menyerap cahaya matahari merah, urat-urat merah di permukaannya berdenyut lapar.
Pedang Naga Langit (Sky Dragon Sword).
Meskipun roh pedangnya masih tidur, ketajaman fisiknya sebagai artefak Tingkat Langit tetap tak tertandingi.
Berat 800 kilogram.
Zagan terbelalak. "Dari mana dia dapat pedang itu?! Itu Artefak Tingkat Tinggi!"
Lilith tersenyum lebar. "Itu dia."
Chimera yang terluka (kepala kambingnya hancur) bangkit lagi. Kepala singanya meraung, matanya merah gila. Ia menerjang Ye Chen dengan kecepatan penuh, berniat menabraknya.
Ye Chen memegang pedang raksasanya dengan satu tangan, menyeretnya di pasir.
"Makan malam."
Ye Chen berlari menyongsong tabrakan itu.
Saat jarak mereka tinggal satu meter...
Ye Chen mengayunkan pedangnya dari bawah ke atas.
Tanpa Qi yang besar. Hanya kekuatan fisik Tulang Emas + Berat Pedang.
TEBASAN BELAH GUNUNG!
SHIIING!
Pedang hitam itu membelah udara, membelah pasir, dan membelah pelat baja di dada Chimera.
Seperti pisau panas memotong mentega.
CRASS!
Tubuh Chimera terbelah vertikal dari dada hingga ke ekor.
Darah hitam dan organ dalam tumpah ruah membanjiri arena.
Momentum lari Chimera membuatnya terbelah dua melewati sisi kiri dan kanan Ye Chen.
Ye Chen berdiri di tengah, tidak terkena setetes darah pun.
Hening.
Ribuan iblis penonton terdiam. Mulut mereka menganga.
Binatang Tingkat 3... dengan pertahanan baja... dibelah satu kali tebas oleh manusia Pemadatan Qi Tingkat 7?
Ye Chen tidak membuang waktu. Dia berbalik, menancapkan pedangnya ke jantung Chimera yang masih berdenyut di tanah.
"Mutiara Penelan Surga... Pesta."
Pusaran hitam muncul.
Esensi darah, jiwa binatang, dan Inti Iblis Chimera itu disedot habis-habisan.
Tubuh Ye Chen bersinar merah. Otot-ototnya membesar sedikit, lalu memadat kembali.
Pemadatan Qi Tingkat 7... Puncak.
Tingkat 8... Awal!
Tingkat 8... Menengah!
Energi Nascent Soul dari binatang itu sangat besar. Ye Chen menyerap semuanya tanpa sisa. Bangkai Chimera itu layu menjadi kulit kering.
Ye Chen mencabut pedangnya. Dia merasa jauh lebih kuat.
Dia mendongak menatap Zagan.
"Binatangmu lemah, Raja Iblis," kata Ye Chen, suaranya tenang tapi menggema. "Ada lagi?"
Zagan gemetar karena marah dan... sedikit rasa takut. Dia merasakan aura pedang di tangan Ye Chen. Itu bukan senjata biasa. Itu senjata pembunuh dewa.
"BUNUH DIA! SEMUA PENJAGA, TURUN KE ARENA! BUNUH BUDAK PEMBERONTAK ITU!" teriak Zagan.
Lima puluh penjaga iblis bersenjata lengkap melompat turun ke arena.
Ye Chen menyeringai. Gigi putihnya terlihat kontras dengan suasana berdarah itu.
Dia memutar lehernya. Krak.
"Bagus. Aku masih lapar."
Pertarungan satu lawan satu berubah menjadi pembantaian massal.
Ye Chen menerjang ke arah kerumunan penjaga. Pedang Naga Langit menari, memotong zirah, memotong tulang, memotong harapan.
Di tribun, Lilith berdiri. Dia memberi sinyal tangan pada pelayannya.
"Siapkan pasukan bayanganku," bisik Lilith. "Saat Zagan turun tangan sendiri... kita tusuk dia dari belakang."
Kudeta di Colosseum dimulai.
(akhir - Bab 5)