Min Ara wanita yang di jodohkan dengan Jeon Jason, lelaki tampan yang mempunyai kharisma kuat yang merupakan seorang putra tunggal dari keluarga Jeon.
Sebagai syarat lelaki itu mendapatkan seluruh hak warisnya, Jason harus menikah dengan Ara.
Ara mengira kehidupannya akan bahagia dengan menjadi istri Jeon Jason, tetapi semua itu hanya ada dalam angannya saja. Jason yang berstatus suaminya itu, tidak lebih dari seorang iblis yang selalu menyakiti hatinya.
Ara tidak bisa mengelak perasaannya yang mulai terjebak di dalam lingkaran yang di buat Jason, tetapi itu semua adalah sebuah kesalahan besar baginya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MTMH18, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26| Kejujuran
“Kita sudah sampai!” kata Marten yang membuat Ara langsung melihat sekitar.
Wanita itu sangat terkejut saat mengetahui Marten membawanya ke tempat yang sangat indah.
“Pasar malam?” tanya Ara dengan senyuman lebar di wajah cantiknya.
“Iya, apa kau menyukainya?” tanya Marten.
“Sangat! Aku sangat menyukai pasar malam!” seru Ara yang langsung keluar dari mobil Marten.
“Ara hati-hati! Kau akan terjatuh kalau berlari sepert itu!” teriak Marten yang diabaikan oleh Ara.
Wanita itu terus berlari dengan antusias dan tidak menyadari jalannya sedikit berlubang sehingga ia hampir terjatuh kalau saja Marten tidak segara menahan pinggangnya.
Mereka seperti sedang berpelukan dan mata mereka saling mengunci satu sama lain, mereka tidak menyadari ada seseorang yang tak sengaja melihat mereka dan orang itu mengepalkan tangannya.
“Jason, kau mau ke mana?” Heori menahan Jason yang hendak meninggalkannya.
“Kau pulang sendiri, aku ada urusan penting!” kata Jason sambil menghempaskan tangan Heori yang menahannya.
Jason melangkahkan dengan langkah lebar, ia terus menatap tajam tangan Marten yang masih memeluk pinggang Ara.
“Ara!” suara dingin Jason menyadarkan kedua, Marten segera melepas tangannya dan membuat Ara hampir terjatuh kembali, tapi Jason segera memeluk pinggangnya dengan erat.
“Jas—,” ucapan Ara terpotong.
“Ayo kita pulang!” Jason menarik Ara, meninggalkan Marten yang hanya bisa menatap kepergian mereka dengan senyuman mirisnya.
“Kau bukan takdirku,” gumam Marten memilih kembali ke dalam mobilnya.
...***...
“Kenapa kau bisa bersama Marten?” tanya Jason dengan suara dinginnya, Ara hanya tersenyum samar mendengarnya.
Ara memalingkan wajahnya, menatap ke arah Jason yang sedang mengemudi di sebelahnya. Ara terus memandangi wajah tampan yang di terpa cahaya minim dari luar.
“Tadi tidak sengaja bertemu dengannya di Kafe, lalu Marten mengajakku ke pasar malam,” jawab Ara yang di balas dengan helaan napas kasar dari sang suami.
Jason mengalihkan pandangannya saat lampu lalu lintas berwarna merah, ia menatap ke arah mata Ara.
“Bukannya kau mengatakan kepadaku kalau keluar bersama temanmu, Nara itu!” serunya menatap Ara dengan tajam, bukannya takut Ara malah tidak bisa menahan tawanya membuat Jason mengubah mimik wajahnya, karena bingung dengan perilaku Ara.
“Kenapa kau malah tertawa seperti itu?” tanya Jason.
“Tidak ada, aku hanya ingin tertawa saja,” jawab Ara singkat.
“Iya, aku memang dengan Nara tadi. Tapi, Nara ada urusan penting sehingga fia pulang lebih dulu,” jelas Ara yang dibalas anggukan kecil oleh Jason.
“Kenapa kau tidak pulang juga saat Nara pulang?” tanya Jason dengan kembali menjalankan mobilnya setelah lampu lalu lintas berubah warna.
“Aku hanya merasa kesepian di rumah, makanya aku ingin menghabiskan waktu lebih lama di Kafe,” jujur Ara.
Ia memang selalu merasakan sepi di rumah, tidak seperti saat ia berada di apartemennya.
Jason hanya terdiam mendengar perkataan Ara, sekarang di dalam mobil sangat sunyi. Ara yang kembali bernostalgia dengan kenangannya di tempat tingal sebelumnya dan Jason tidak tahu dengan perasaannya sekarang, ia tidak bisa mengatakan kata yang ada di otaknya, bibirnya terasa kaku dan ia tidak bisa membukanya, seperti ada lem perekat yang sangat kuat di bibirnya.
“Kenapa kau bisa ada di pasar malam tadi?” tanya Ara setelah cukup lama mereka saling terdiam, Jason mengusap lehernya dengan satu tangannya.
“Aku tidak sengaja lewat sana dan mampir sebentar untuk lihat-lihat,” jawab Jason dengan suara sedikit gugup.
Ara mengalihkan pandangannya ke jendela dan ia tersenyum miris. Ara menatap pantulan wajahnya di jendela, di sana ia juga dapat melihat bagaimana wajah Jasob yang sedang fokus mengemudi.
Hanya dengan cara seperti ini Ara bisa melihat lebih lama wajah Jason yang tidak begitu jelas. Tangan Ara terangkat dan mengusap jendela mobil, tangannya seolah mengusap wajah Jason.
“Aku benci dengan pembohong, termasuk diriku sendiri,” ucap pelan Ara sebelum keluar dari mobil Jason.
Ara melangkah cepat masuk ke dalam rumah meninggalkan Jason yang masih terdiam di dalam mobil, lelaki itu masih meresapi perkataan Ara tadi. Meskipun itu pelan, tapi ia mendengarnya begitu jelas, ada sedikit rasa sakit di dadanya saat mendengar bibir Ara berucap seperti itu.
“Kenapa dengannya? Kenapa perkataannya selalu tereka ulang di kepalaku?” gumam Jason sambil memegangi kepalanya.
Jason menyusul Ara ke dalam rumahnya, ia memarkirkan mobil dengan sembarangan. Jason mencari keberadaan Ara di ruang tengah, kamar dan dapur. Namun, ia tidak menemukannya.
Jason melangkahkan kakinya menuju ke halaman belakang dan ia melihat Ara terduduk di lantai kolam dengan kedua kakinya di masukkan ke dalam kolam renang. Lelaki itu memelankan langkahnya dan tangannya memegang sesuatu yang akan ia berikan kepada Ara.
“Kenapa kau melamun di sini?” tanya Jason yang duduk di sebelah Ara, satu tangannya ia sembunyikan untuk menyembunyikan hadiah untuk Ara dan satu tangannya lagi mengusap puncak kepala Ara.
Ara menoleh sekilas ke arahnya dan kembali menatap ke arah air di dalam kolam renang.
“Ini untukmu!” Jason memberikan Ara sebuah paperbag cukup besar.
Ara menatapnya dan perlahan tangannya mulai menerimanya. Ara menatap ke arah nama yang tertera di sana, ia tersenyum samar dan menahan dadanya yang mulai kembali terasa sesak itu.
“Ini apa?” tanya Ara yang masih enggan membukanya.
Jason tersenyum dan merangkul pundaknya.
“Kau harus membukanya agar bisa tahu jawabannya,” jawab Jason.
Perlahan Ara mulai membukanya, Jason menahan senyumnya, ia sangat penasaran dengan reaksi Ara saat mengetahui hadiah yang ia berikan.
Tapi, apa yang di bayangkan Jason itu tidak terjadi. Ara hanya mengernyitkan dahinya menatap aneh ke arah hadiah yang ia berikan. Ara melihat label yang masih menempel di hadiahnya dan ia hanya menggelengkan kepalanya.
“Tas ini sangat mahal!” seru Ara sambil menatap ke arah Jason.
“Tentunya, apa kau menyukainya?” tanya Jason menunggu jawaban dari Ara.
Ara hanya tertawa kecil dan menyimpan kembali tas tersebut ke dalam paperbag. Jason hanya terdiam melihatnya, ia bingung dengan apa yang di lihatnya.
“Kenapa kau memasukkannya lagi?” bingung Jason.
“Tumben sekali kau memberiku seperti ini?” tanya balik Ara membuat Jason mengembangkan senyumnya.
“Apakah ada larangan seorang suami memberi istrinya hadiah?”
Ara menggelengkan kepalanya menjawab pertanyaan sang suami.
“Kapan kau membelinya? Bukannya kau ada pekerjaan di kantor?” tanya Ara mencoba untuk mengetahui jawaban dari Jason, ia berharap sang suami akan menjawabnya dengan jujur.
“Itu aku minta salah satu teman lamaku untuk memilihkannya untukmu, tadi dia bilang kalau sedang ada tas baru yang sangat bagus. Oleh sebab itu, aku berinisiatif untuk memberi hadiah ini,” jelas Jason dengan cukup lancar.
“Siapa temanmu? Perempuan apa lelaki?” pertanyaan Ara itu membuat Jason sedikit terkejut.
“Lelaki, tapi ia di temani kekasihnya,” jawab Jason.
“Aku suka dengan hadiahnya, titip terima kasih untuk teman lamamu itu sudah bersusah payah memilihkanku tas bagus ini. Kalau boleh ku beritahu sedikit tentangku, aku tidak begitu suka dengan barang-barang seperti ini, aku lebih suka kalau uangnya di tabung untuk disumbangkan daripada di habiskan dengan barang yang tidak terlalu aku butuhkan. Aku sudah ngantuk, aku tidur dulu,” pamit Ara meninggalkan Jason dengan hadiahnya.
Lelaki itu menatap punggung Ara yang semakin menjauh, lalu ia menatap tas di pangkuannya.
Bersambung...