Demi warisan ibunya, Zelia nekat menikahi tukang parkir bernama Arelion—pria asing yang pernah menyelamatkannya.
Malam sebelum pernikahan impiannya, ia memergoki tunangannya selingkuh dengan adik tirinya, dan ayahnya ternyata ikut merencanakan perebutan perusahaan.
Pernikahan kontrak ini adalah balas dendam sekaligus pelindung terakhirnya.
Tapi di balik sikap dingin dan penampilan sederhana Arelion, tersimpan rahasia besar yang akan mengubah segalanya... termasuk hati Zelia yang sudah hancur..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
1. Kontrak Nikah dengan Tukang Parkir
Zelia menekan password apartemen Fero. Namun langkahnya melambat ketika melihat sepatu wanita, jas, dan ikat pinggang yang berceceran di lantai menuju kamar sang tunangan. Degup jantungnya tiba-tiba tak beraturan.
"Ah..ahh... Faster.. Baby..."
"F-fero... Ahh..."
Suara itu terdengar samar dari balik pintu yang setengah terbuka.
Napas Zelia tercekat. Dadanya naik turun, tubuhnya terasa berat seolah digantungi sesuatu yang tak terlihat.
Dengan tangan gemetar, ia menutup mulutnya. Dari celah pintu, ia melihat dengan jelas, Desti, adik tirinya, berada di atas tubuh Fero.
Dunia seakan berhenti.
“Nggak… nggak mungkin…”
Matanya buram. Air mata jatuh tanpa suara ketika tubuhnya merosot bersandar di dinding. suara lengu han panjang terdengar menusuk dan menjijikan di telinga Zelia.
“Kamu memang selalu paling bisa membuatku senang,” suara Fero terdengar puas.
“Jelas,” sahut Desti manja. “Aku bukan Zelia yang sok suci itu.”
Jantung Zelia terasa diremas.
“Tunggu saja sampai hartanya jatuh ke tangan kita,” lanjut Fero dingin.
Saat itu juga, sesuatu dalam diri Zelia hancur berkeping-keping, dan di saat yang sama, sesuatu yang lain mulai bangkit.
Dari dalam kamar, suara Desti terdengar jelas.
“Selama ini aku dan Mama sudah muak padanya. Kami cuma pura-pura manis setiap menerima tas, pakaian, dan perhiasan darinya.”
“Sebentar lagi kamu nggak perlu berpura-pura lagi, Baby,” sahut Fero santai.
“Kau benar,” jawab Desti puas.
Lalu suara tawa mereka kembali terdengar. Tawa yang terasa seperti pisau di telinga Zelia.
"Menjijikkan."
Zelia berbalik pergi dengan langkah goyah. Dadanya sesak, seolah ada sesuatu yang diremas tanpa ampun. Ia keluar dari apartemen itu dengan hati yang hancur.
Di dalam mobil, pandangannya kabur.
"Tidak. Aku nggak boleh hancur. Aku nggak akan membiarkan mereka menguasai harta Mama."
Ia mengusap wajahnya kasar, mencoba menahan gemetar di tangannya.
"Aku harus memberi mereka pelajaran."
Namun jalan di depannya mulai buram.
Tiba-tiba sebuah motor muncul dari arah berlawanan, menyalip bus dengan berbahaya.
“Tiin—!”
Refleks, Zelia membanting setir.
BRAK!
Mobilnya menghantam tiang listrik. Suara kendaraan dan klakson terasa menjauh.
Napasnya tercekat. Lampu mobil masih menyala, mesin berdengung pelan.
Zelia hanya duduk diam, seolah otaknya belum mampu memproses apa yang baru saja terjadi.
Tok. Tok. Tok.
Ketukan di kaca membuatnya tersentak.
“Hei! Kamu baik-baik saja?” suara pria terdengar dari luar. “Buka pintunya!”
Zelia menekan kunci otomatis, tapi tetap tidak membuka pintu. Tubuhnya masih kaku, pikirannya kosong.
Beberapa detik kemudian, pintu mobil terbuka dari luar.
“Kamu lagi,” ujar pria gondrong dan brewok mengenakan topi.
Dengan hati-hati ia membantu Zelia keluar, lalu mendudukkannya di bangku depan minimarket. Setelah itu, ia memindahkan mobil Zelia ke area parkir. Tak lama ia sudah kembali ke sisi Zelia.
“Minum dulu.” Ia menyodorkan botol air mineral yang baru dibukanya.
Zelia menerimanya dan meneguk perlahan, mencoba menenangkan napasnya.
“Masih syok?”
Ia tak menjawab.
Pria itu duduk di sebelahnya, menghela napas pendek. “Kemarin nyebrang hampir ketabrak, sekarang nabrak tiang listrik. Serius, otakmu ketinggalan di rumah, ya?”
Nada suaranya terdengar ketus, tapi sorot matanya penuh kekhawatiran.
Zelia menoleh. Ia ingat pria ini. Orang yang pernah menyelamatkannya saat hampir dilecehkan. Ia tak pernah meminta imbalan, tak pernah mencoba mendekat, hanya muncul lalu pergi.
"Kenapa justru orang asing yang selalu menolongku?"
Hening beberapa detik diantara mereka.
Lalu, sebelum sempat berpikir lebih jauh, Zelia berkata pelan. “Maukah kamu menikah denganku?”
Are, tukang parkir minimarket di area pertokoan pinggir jalan yang selalu ramai itu, refleks menoleh. Satu alisnya terangkat.
“Apa kepalamu kejedot setir? Otakmu geser?”
“Aku serius,” ucap Zelia lirih. “Menikahlah denganku. Besok.”
Are tertawa pendek. “Kau gadis paling aneh yang pernah aku kenal. Baru patah hati?” tebaknya.
Zelia tak peduli nada ketusnya. “Kalau kamu mau jadi suamiku, aku akan menafkahimu. Aku bisa kasih kamu modal usaha. Kamu nggak perlu jadi tukang parkir lagi. Satu tahun. Kita nikah kontrak.”
Senyum Are akhirnya terbit, sinis. “Kau memang nggak waras.”
Zelia meraih tangannya. “Kumohon… perusahaan ibuku akan dikuasai para pengkhianat itu kalau besok aku nggak menikah.”
“Lepas.” Are menepis tangannya. “Nikah kontrak? Kau pikir aku apa? Cari aja pria lain.”
“Aku nggak akan pergi kalau kamu nggak mau menikah denganku.”
“Aku nggak mau.” Are berbalik hendak pergi.
Namun Zelia tiba-tiba bersimpuh, memeluk kakinya. “Aku mohon…”
Are mengusap wajahnya kasar. Orang-orang yang keluar masuk minimarket mulai melirik penasaran.
Tiba-tiba suara langkah cepat terdengar.
“Are! Are!”
Seorang pria cungkring berlari tergopoh menghampiri.
“Ada apa?” tanya Are.
“Ibu… ibumu…” napasnya tersengal.
Jantung Are seakan berhenti. “Kenapa dengan ibuku?”
“Kecelakaan… tabrak lari… parah…”
“Apa?!”
“Ibumu sudah dibawa ambulans ke Rumah Sakit Harapan,” ujar Jaka terengah.
Tanpa menunggu lagi, Are langsung melangkah cepat.
“Tunggu!” Zelia berlari mengejarnya. “Pakai mobilku biar lebih cepat.”
Tanpa banyak bicara, Are masuk ke kursi pengemudi. Zelia dan Jaka menyusul.
“Pakai sabuk pengaman,” ucap Are datar sambil menyalakan mesin. “Aku nggak jamin kalian selamat tanpa itu.”
Nada suaranya membuat Zelia dan Jaka refleks menurut.
Klik.
Belum sempat mereka bernapas lega—
Brumm!
Mobil melesat masuk ke jalan raya.
“Akhh!” pekik Zelia spontan.
“Kampret! Pelan-pelan, Are!” teriak Jaka panik.
Lampu jalan dan deretan kendaraan seperti garis kabur di mata mereka. Are menyalip mobil demi mobil dengan presisi yang membuat napas keduanya tercekat.
Zelia mencengkeram sabuk pengaman dan handle pintu erat.
“Are… aku nggak mau mati. Mereka bakal senang kalau aku mati dan hartaku jatuh ke tangan mereka…”
“Kalau begini caranya, bukan cuma ibumu yang masuk rumah sakit,” kata Jaka dengan suara gemetar. “Kita bisa masuk kubur duluan!”
Namun wajah Are tetap tenang, matanya fokus ke jalan, tangannya mantap di setir seolah situasi ini bukan hal baru baginya.
Mobil terus melaju menembus malam. Hingga akhirnya memasuki area parkir rumah sakit.
Wajah Zelia pucat setelah perjalanan menegangkan itu.
Jaka turun sambil memegangi kepalanya yang terasa berputar, perutnya mual.
“Aku mabuk tanpa minum,” gumamnya sambil berpegangan pada bodi mobil agar tidak jatuh.
Namun Are sudah berjalan cepat menuju UGD tanpa menoleh.
Zelia dan Jaka menyusul meski kaki mereka masih terasa lemas.
“Suster, saya keluarga Bu Wina,” ucap Are saat melihat seorang perawat keluar.
“Kebetulan,” kata perawat itu serius. “Ibu Anda mengalami perdarahan di kepala dan harus segera dioperasi.”
Jantung Are seperti di pukul telak.
“Kami butuh persetujuan keluarga dan deposit awal sekitar seratus juta rupiah sebelum operasi bisa dilakukan.”
Are terdiam. Angka itu terasa seperti palu yang menghantam kepalanya.
"Aku gak punya uang sebanyak itu. Tapi ibu harus diselamatkan."
Tangannya mengepal, rahangnya mengeras.
Saat itulah suara Zelia terdengar pelan di sampingnya.
“Kalau kamu mau menikah denganku besok… aku akan bayar semua biaya rumah sakit ibumu.”
Are menoleh. Tatapan mereka bertemu. Beberapa detik terasa begitu panjang. Akhirnya Are mengangguk pelan.
“Demi ibuku,” ucapnya lirih.
“Mulai besok, kau suamiku.”
...✨“Dia menikah demi ibunya. Aku menikah demi balas dendam.”...
...“Kontrak satu tahun. Tapi takdir tidak pernah punya batas waktu.”✨...
.
To be continued
Percaya diri seperti kalian yang mudah di jatuhkan
Dan....
apa ya kira²?
author yang tahu